ALBUM REVIEW: BRING ME THE HORIZON – AMO


BRING ME THE HORIZON ‘AMO’

JANUARY 25th, 2019 (RCA/Colombia/Sony)

Alternative rock/Pop rock/Electropop

Perkenalan saya dengan BRING ME THE HORIZON sebenarnya sudah semenjak album pertama ‘Count Your Blessing’ karena dirilis salah satu label Extreme metal legendaris Earache Records di tahun 2006, jujur kala itu saya cuek bebek, karena saya rasa style deathcore/metalcore yang mereka bawakan terdengar biasa saja, apalagi kalau dibandingkan dengan THE RED CHORD, ANIMOSITY dan ION DISSONANCE. Dua album setelahnya pun saya emoh mendengarkanya karena setelah memutar beberapa single yang dilepas cenderung medioker. Justru setelah grup dari Sheffield, UK ini memutuskan hijrah ke major label dan mencetak ‘Sempiternal’, yang lebih condong bermain di ranah rock alternatif ber-breakdown dengan sedikit memasukan elemen electronica, ambient dan post-rock. Dari pada memaksakan bermain di ranah musik keras tapi sedikit nanggung, keputusan Oliver Skyes, Lee Maila, dan Jordan Fish untuk menulis lagu lebih mellow tapi masih menyisakan bagian heavy dan penulisan lirik yang berfokus pada masalah personal yang dipengaruhi masa rehabilitasi sang vokalis dari ketamine, saya rasa tepat dan terdengar lebih dewasa dibandingkan lirk-lirik cheesy dikarya mereka sebelumnya. Sayangnya semuanya buyar ketika album ‘That’s The Spirit’ yang mencoba eksporasi lebih jauh ke ranah yang lebih radio-friendly, malah terdengar seperti imitator hits alt-metal/emo 2000’an, alhasil walau sukses secara komersil, secar kualitas bagi saya album tersebut bisa dibilang mengecewakan.
Ketika ‘MANTRA’, yang merupakan lagu pertama dari album ‘amo’ yang dilepas ke khalayak, saya langsung skeptis, karena terdengar seperti lagu buangan sesi rekaman ‘Hybird Theory’. Untungnya
setelah memberikan kesempatan memberikan kesempatan untuk mendengarkan album tersebut secara utuh, lagu-lagu yang lain ternyata layak untuk dikonsumsi. ‘amo’ melanjutkan perjalanan BRING ME THE HORIZON sebagai sebuah unit yang selalu merestrukturisasi sound mereka di tiap-tiap album, kali ini evolusi musikal mereka tak tanggung-tanggung, walau riff-riff berdistorsi masih berserakan di beberapa lagi khusus nya di ‘wonderful life’ (yang mengundang Dani Filth of Cradle of Flith untuk mengisi bagian spoken word dan backing vokal), ‘sugar honey ice & tea’, dan ‘heavy metal’, mayoritas lagu yang ada di album ke-6 mereka ini, lebih bermain nyaman di area pop rock dan electropop seperti pada single ‘Medicine’ dan ‘Mother Tounge’ (yang bagian chorus-nya seperti dicuri langsung dari lagu LOSTPROPHETS berjudul ‘Rooftops’), kontribusi Jordan Fish, yang masuk di era rekaman ‘Sempiternal’ terasa semakin dominan disini, elemen electronica dalam ‘amo’ terasa cukup kental di setiap lagu. Eksperimentasi di album ini juga tak tanggung-tanggung meminjam pengaruh dari EDM (‘nihilist blues’), trap & dubstep (‘why you gotta kick me when i’m down?’), hip hop, uk garage (‘ouch’) hingga house music (‘fresh bruises’).

Jelas album yang berdurasi 50 menit-an ini sudah pasti jadi album yang cukup kontroversial, apalagi bagi mereka yang sok ‘purist’ yang menganggap BRING ME THE HORIZON telah sellout karena sudah menganggalkan style metalcore yang dulu berhasil mempopulerkan mereka, hal yang lucu sebenarnya mengingat sedari dulu grup ini bisa dibilang memang tak sekeras dan se-heavy band lain seangkatanya, dan ironisnya mereka yang kini sok ‘purist’ dan teriak sellout adalah mereka yang dahulu diberi label ‘poser’ dan ‘scenester’ oleh para metalhead. ‘amo’ memang harus dicerna dengan pikiran terbuka untuk bisa menikmatinya, tapi bukanya album album ini tanpa kekurangan, songwriting-nya terasa terlalu one dimensional, agak repetitif dan kadang inkonsisten. Lagu ‘MANTRA’ dan ‘mother tounge’ terdengar seperti rip-off LINKIN PARK dan LOSTPROPHETS. Tapi overall ‘amo’ sudah cukup enjoyable untuk di dengar, apalagi setelah album flop bernama ‘That’s The Spirit’, dan saya rasa di saat band metalcore yang naik daun bersamaan dengan mereka seperti BULLET FOR MY VALENTINE dan ASKING ALEXANDRIA terseok-seok untuk mencari relevansi di era sekarang yang di dominasi musisi trap, hip-hop dan R&B, BMTH sudah berhasil mengejar visi musikal mereka sendiri tanpa peduli amat para penggemar buta yang butthurt, dan mengutip track ke-12 dari ‘amo’ “And I keep picking petals. I’m afraid you don’t love me anymore. ‘Cause a kid on the ‘gram said he used to be a fan. But this shit ain’t heavy metal”. (Peanhead)

6.7 out of 10

 


Posted at : Wed, 10 April 2019
Category : Review