ALBUM REVIEW: DEADLY WEAPON – HELL OR HIGH WATER


DEADLY WEAPON ‘HELL OR HIGH WATER EP’

January 12th, 2019. Disaster Records

Grindcore

Saya masih ingat betul beberapa tahun lalu tepatnya akhir tahun 2010, saat dimana lagi kecanduan Heavy Breathing-nya Black Breath, dan debut full length Nails, Unsilent Death. Dengan raungan gitar kotor dan becek dari efek distrorsi Boss Heavy Metal-2 (HM-2) ala album jebolan Sunlight Studios. Dua album garapan produser Kurt Ballou (Converge, Kid Kilowatt) itu tentu saja seperti menendang bokong ke Stockholm era awal 90’an yang kala itu penuh album-album brengsek macam ‘Like an Everflowing Stream’ dan ‘Clandestine’, Selain itu corak rekaman yang cukup raw dan abrasif tersebut tentunya cukup menjadi angin segar, mengingat dekade sebelumnya, gaya rekaman ultra-clean dan polished ala Andy Sneap/Jason Suecof lebih banyak mendominasi rilisan-rilisan cadas era tersebut. Di Indonesia sendiri tak lama saya harus mengunggu grup musik yang memainkan Hardcore/Grindcore dengan corak tersebut, penantian itu terjawab dengan ‘Disillusional Blurs‘ dari Deadly Weapon di tahun 2013 yang sontak langsung saya pesan tanpa pikir panjang tepat di hari perilisan, lewat album tersebut band yan dimotori Jay (Vokal), Made (Gitar), Aryo (Drum) dan Sandra (Bass) ini berhasil jadi tolak ukur style grindcore/hardcore baru (dan Haul yang pada tahun sebelumnya dengan ‘Rima Penghitam Cakrawala’), yang kemudian hari akhirnya meledak di scene Indonesia khususnya pada pertengahan 2010-an. Lima tahun puasa mencetak materi baru, akhirnya kwartet asal Yogyakarta ini kembali lagi dengan mini-album bertajuk ‘Hell or High Water’, yang tentunya sudah dinanti para pendengar yang sudah terlanjur kesengsem dengan album pertama mereka.

 

Berisikan tujuh buah lagu baru, hal pertama yang menarik perhatiaan saya adalah judul lagu seperti pada title track, ‘Only Lovers Left Alive‘, dan ‘E.S.O.T.S.M‘ (Eternal Sunshine of the Spotless Mind) yang terinsipirasi dari film layar lebar. Dari sisi musik Deadly Weapon masih mempertahankan grindcore terinspirasi Misery Index, Nasum dan Rotten Sound yang agresif, langsung tanpa basa-basi dan kompromi untuk memanaskan sound system ataupun moshpit. Gaya penulisan lirik Jay yang lebih banyak terinspirasi permasalahan personal juga masih dipertahankan dalam lagu-lagu yang mayoritas selesai dibawah 120 detik ini. Dengan durasi yang terbilang cukup pendek, sekitar 7 menit-an. ‘Hell or High Water‘ lebih terdengar seperti santapan pembuka yang sedikit memberikan kisi-kisi akan serangan berikutnya, sebuah pemasan sebelum album penuh kedua yang akan datang, dan semoga saja kelanjutan mini-album ini tidak memerlukan waktu lama untuk segera di kumandangkan pada khalayak. (Peanhead)

7.4 out of 10

 

 

Bandcamp: https://deadlyweapon.bandcamp.com/


Posted at : Tue, 12 March 2019
Category : Review