ALBUM REVIEW: HORRENDOUS – IDOL


HORRENDOUS ‘IDOL’ REVIEW

Season of Mist, September 28th, 2018

Progressive Death metal

Tiga tahun selepas album ke-3 mereka ‘Anareta’ dirilis yang mendapatkan apresiasi luar biasa baik dari kritikus dan penggemar, sebagai salah satu album terbaik di tahun era 2010’an, HORRENDOUS melanjutkan lagi perjalanan musical mereka setelah hijrah ke records label asal Perancis, Season of Mist. Mengikuti jejak kesuksesan album ‘Anareta’ bukan hal gampang, mengingat album tersebut merupakan batu loncatan monumental dalam sejarah grup, menanggalkan style Swedish death metal ala Nihilist/Carnage pada album ‘The Chills’, HORRENDOUS bertransformasi pelan tapi pasti menuju ranah progressive death metal, mengambil inspirasi dari grup-grup death metal visioner pada masanya seperti Death, Cynic, Atheist dan Pestilence. Hal tersebut tentu membuat core fanbase yang memang sudah terlanjur kesemsem dengan style album pertama yang kotor nan primitive ataupun ‘Ecdysis’ yang kental pengaruh death n’ roll/melodic death metal agak geleng-geleng kepala. Menukarkan formulasi yang dahulu lempeng-lempeng aja, dengan komposisi dan struktur lagu yang lebih kompleks dengan pendekatan lebih pada eksplorasi teknikal.

‘Idol’ dibuka dengan intro yang memperkenalkan suntikan darah baru pada departemen bass yaitu  Alex Kulick, mengingat sebelumnya part bass biasanya direkam oleh duo gitaris Damian Herring dan Matt Knox, permainan Alex Kulick di album ini berhasil memberikan warnanya tersendiri dengan betotan frettless bassnya yang ciamik dan vibe jazz fusion yang cukup terasa, di bandingkan album sebelumnya ‘Idol’ terasa lebih padat dan klaustrophobik, elemen-elemen melodic death metal yang cukup ketara sebagai pemberi nafas pada pendengar di album-album sebelumnya hamper sama sekali absen, malah bias dibilang Damian Herring dkk lebih membidik keranah technical death metal kali ini, dengan permainan instrumen yang lebih rumit, abstrak, penuh transisi segmen dan pergantian tempo lagu yang makin nyeleneh, ditambah sedikit bumbu thrash metal macam Voivod atau Watchtower di beberapa bagian. Walaupun begitu masing-masing lagu dialbum ini tidak terasa robotik, layaknya 90% grup technical death metal kebanyakan. Corak rekamanya pun masih terasa organik dan dinamis tak terdengar kaku atau melelahkan.

Hal yang membuat HORRENDOUS berbeda dibandingkan band death metal kebanyakan adalah penolakan mereka pada dikotomi old school death metal dan modern death metal, meleburkan keduanya dan berhasil mencapai titik keseimbangan antara eksperimentasi teknikal dengan songwriting yang mumpuni, terbukti walau semua lagu dalam album ini sangat kompleks, tiap-tiap trek punya karakter tersendiri  dan mampu menyampaikan emosi yang terkandung dalam ruh lagu, disaat musisi-musisi lain banyak yang masih terjebak jadi blatant rip-off grup jadul tanpa berani berinovasi atau tenggelam dalam ajang pamer skill yang melelahkan untuk di dengar. Meskipun masih belum mencapai level yang sama dengan ‘Anareta’ khususnya dari daya gedor, ‘Idol’ tetap menjadi pencapaian luar biasa dalam karir HORRENDOUS, dan sebagai pembuktian bahwa mereka masih pantas berada dalam jajaran elit diantara jutaan band lainya yang mengusung bendera death metal.(Peanhead)

Overall Score 8.7 out of 10

 

 


Posted at : Tue, 05 February 2019
Category : Review