ALBUM REVIEW: IN FlAMES – I, THE MASK


IN FlAMES ‘I, The Mask’

Nuclear Blast Records (Worldwide)/Eleven Seven Records (US). March 1st, 2019

Alternative Metal

Setiap momen perilisan album baru sudah jadi kepastian kalau IN FLAMES bakal dicecar penggemar lama mereka, apalagi oleh yang pertama kali mengenal mereka melalui album melodic death metal legendaris dan masterpiece seperti ‘Lunar Strain’, ‘The Jester Race’ dan ‘Colony’, yang punya andil besar dalam mempengaruhi jutaan grup metalcore selama dekade 2000’an. Jelas bila dibandingkan materi lagu lima album pertama, materi setelah ‘Clayman’ hingga saat ini lebih condong ke arah Alternative metal/modern rock. Tapi saya rasa sudah saatnya para penggemar gelombang awal dan elitist untuk segera move-on, mengingat sudah cukup lama Anders Fridén, Björn Gelotte dkk beralih mengejar hingar bingar pasar mainstream Amerika tepatnya melalui album ‘Reroute to Remain’ yang dirilis tahun 2002 silam. Namun bukan berarti selama hampir dua puluh tahun IN FLAMES tak mampu merilis materi bagus, buktinya melalui album back-to-the roots (yang setengah hati) ‘Come Clarity’ dan album ‘A Sense of Purpose’,
berhasil mengukuhkan grup musik asal Gothenburg, Swedia ini sebagai salah satu band metal paling besar saat ini.
Dua tahun lebih setelah ‘Battles’, yang sempat jadi bulan-bulanan kritikus sebagai album terburuk dalam karir mereka, album nomor tiga belas yang bertajuk ‘I, The Mask’ ini masih di pegang produser ternama Howard Benson (MY CHEMICAL ROMANCE, HOOBASTANK, P.O.D), IN FLAMES tetap teguh berpegang kearah penulisan lagu-lagu yang gampang dicerna, chorus besar yang mengajak audiens live untuk ber-sing along, dan kualitas rekaman yang super bersih ala Billboard Top 40, tapi bila dibandingkan dengan beberapa album sebelumnya , ‘I, The Mask’ punya kans besar menggaet pendengar yang sempat kabur dengan materi album pasca cabut-nya Jesper Strömblad di tahun 2010. Penulisan aransemen gitar kali ini digarap lebih serius, duo Björn Gelotte dan Niclas Engelin kali ini lebih banyak unjuk gigi dengan komposisi yang cukup menarik dan memorable, dengan melodi-melodi gitar dan petikan akustik khas IN FLAMES yang di semenjak ‘Sounds of a Playground Fading’ sedikit agak tersisihkan sekarang kembali berserakan dalam dua belas lagu yang ada. Performa vokal Anders Fridén jelas jauh lebih bagus, walau sepertinya banyak di bantu software ketok mejik studio rekaman. Hal yang sebenarnya cukup disayangkan adalah instrumen bass seperti terkubur dalam mixing dan tak bertaji, dan posisi penggebuk drum yang kini di isi oleh Tanner Wayne (CHIODOS, SCARY KIDS SCARING KIDS) masih terdengar sangat kaku, lembek dan, tak bernyawa.

Sebenarnya album ‘I, The Mask’ cukup lumayan, walaupun entah kenapa lagu medioker dan super cheesy semacam ‘In This Life’ dan salah satu lagu terburuk sepanjang karir mereka ‘(This is Our) House’ semestinya di buang saja, Padahal album ke-13 ini dibuka dengan cukup memuaskan dengan lima lagu yang cukup oke dan ultra-catchy, khususnya title track, ‘Call My Name’ dan ‘I Am Above’ yang sedikit mengembalikan lagi keliaran riff gitar gaya Gothenburg. Lagu mid-tempo penuh pengaruh dari CHEVELLE dan BREAKING BENJAMIN seperti ‘Follow me’ dan ‘We Will Remember’ juga masih cukup nyaman dan layak di telinga, bahkan dua lagu power ballad di akhir album yaitu ‘All The Pain’ dan ‘Stay with Me’ dengan walau tak terdengar seperti IN FLAMES, terdengar jauh lebih kompeten dari kebanyakan lagu mellow dipasaran saat ini. Bagi yang masih saja berharap setelah hampir dua dekade, agar raksasa metal Swedish metal ini untuk kembali lagi menelurkan ‘The Jester Race’ Part 2, saya rasa sudah saatnya pindah kelain hati toh masih banyak grup melodic death metal yang berbahaya di jagat permetalan. ‘I, The Mask’ meskipun harus jadi korban standar industri musik menstrim kekinian dengan kualitas produksi overpolished yang terlalu steril, dan masih di cekcoki beberapa filler dan lagu-lagu generik yg terdengar biasa macam ‘Voices’ dan ‘Burn’, tapi bisa dibilang album ini merupakan kumpulan lagu paling mendingan IN FLAMES semenjak ‘A Sense of Purpose’ (atau bahkan ’Come Clarity’) yang di rilis lebih dari 10 tahun lalu. (Peanhead)
6,7 out of 10

 


Posted at : Tue, 14 May 2019
Category : Review