ALBUM REVIEW: MOTÖRHEAD – ACE OF SPADES


MOTÖRHEAD

Ace of Spades

(Bronze/Mercury/Castle Communication/Sanctuary Records, 1980)

Bila harus menyebutkan salah satu nama dari sekian band heavy metal legendaris yang paling influensial, prolifik dan dihormati sepanjang masa maka ianya jelas adalah Motörhead. Mereka punya musik dan sikap kelakuan yang melengkapi citra mereka sebagai band rock yang maha bajingan dan ugal-ugalan.Melebur batasan dengan dicintai oleh dua kubu, punk dan metal, perjalanan karirnya dimulai dengan diremehkan dan cemoohan dengan memenangkan jajak pendapat sebagai “The Best Worst Band in the World” pada tahun 1976 oleh majalah musik Inggris, NME. Menjelang akhir 1970-an mulai menarik perhatian dengan album ‘Bomber’ dan ‘Overkill’ yang cukup sukses, namun yang melejitkan nama mereka adalah album keempatnya yaitu ‘Ace of Spades’ yang berhasil menembus UK Album Chart di posisi nomer 4 dan meraih sertifikasi Gold pada tahun 1981. Sebuah album yang tetap terdengar segar di telinga walau  dirilis hampir empat dekade lalu yang didalam nadinya mengalir denyut seks, drugs dan rock’n’roll tegangan tinggi.

Dibanding album yang dirilis sebelumnya secara sound Motörhead di ‘Ace of Spades’ jelas terdengar lebih fokus dan solid dengan Vic Maile sebagai produsernya. Yang jelas menunjukkan kekuatan Motörhead dalam menulis lagu yang bisa diapreasiasi luas tanpa perlu mengkompromikan agresi dan energi mereka agar bisa diterima publik. Dibuka dengan lagu “Ace of Spades” yang bisa didaulat sebagai anthem nomer satu Motörhead dengan riff khasnya, formula ganas dari kecepatan, agresi, blues dan rock’n’roll berbahan bakar amfetamin. Lagu-lagu dalam album ini sangat dan kuat secara individual juga secara keseluruhan sebagai album bisa dibilang tanpa cacat karena Motörhead bermain jujur tanpa basa-basi mereka hanya merekam apa yang mereka tulis tanpa pretensi. Selain nomer pembuka yang ikonik, kekuatannya juga ditunjukkan dengan lagu seperti “Love Me Like A Reptile”, “Shoot You In the Back”, “Bite the Bullet”, “Fast and Loose”, “(We Are) The Road Crew”, “The Hammer” dan “The Chase Is Better Than the Catch” adalah beberapa nomer yang bisa dibilang cukup menonjol, juga favorit saya pastinya.

16654 073

Permainan drums Phil Taylor yang sloppy tapi bertenaga dan efisien, gitar Eddie Tayloryang merentang dari blues hingga rock menuju metal mewarnainya dengan solo hingga bising feedback, dan Lemmy Kilmister dengan bass distortif dan vokalnya yang khas hingga tidak ada deskripsi atau eksplanasi yang lebih baik kecuali bahwa materi di album ini adalah berdaya ledak yang memancing sing along, hip shaking, head banging, fist pumping dengan ganas.

Dengan foto grup super badass ala koboi bandit film spaghetti western yang menjadi sampul albumnya secara simbolik ‘Ace of Spades’ seolah menjadi pengukuhan citra maha bajingan dari Motörhead terutama sosok ikoniknya Lemmy Kilmister, sosok yang penuh mitos dan misteri namun dihormati oleh rekan-rekan musisi juga fansnya dengan sepenuh jiwa raga.

Akan ada perdebatan manakah album terbaik dari Motörhead tapi menurut hemat saya ‘Ace of Spades’ adalah album klasik yang legendaris dari grup itu. Apa yang dilakukan oleh Motörhead dengan line-up klasiknya, Lemmy Kilmister, Fast Eddie Clarke dan Phil Taylor di ‘Ace of Spades’ menggaung melintas generasi, sehingga walau kini mereka bertiga sudah mangkat warisan musikal yang ditinggalkan meninggalkan jejak yang mendalam secara musikal juga sikap, Hail Motörhead!  [Farid Amriansyah]

 


Posted at : Wed, 28 February 2018
Category : Review