ALBUM REVIEW: NE OBLIVISCARIS – URN


Ne Obliviscaris ‘Urn’ REVIEW
October 27, 2017. Season of Mist
Progressive metal/Extreme metal

Ketika ‘Portal of I’ dirilis tahun 2012 lalu, saya adalah salah satu yang terpana dengan racikan yang mengawinkan Progressive metal dengan unsur technical death metal, black metal dan melodic death metal yang kental dengan bumbu mulai dari classical, flamenco hingga jazz. Tak ayal banyak metalhead dan kritikus saat itu yang langsung menggadang-gadang Ne Obliviscaris (NeO) sebagai “The New Opeth’, titel  yang agak pretensius sebenarnya mengingat Opeth masih aktif saat itu, walau sudah menanggalkan death metal di album Heritage (2011), saat manggung Mikael Åkerfeldt dkk masih rajin bawain lagu-lagu keras dari diskografi mereka. Dan tentunya secara konten memang jauh beda dibanding Opeth yang lebih dark dan foreboding. NeO menawarkan komposisi yang lebih megah dan eksotis, dengan karakter vokal sekaligus penggesek biola, Tim Charles yang cenderung mirip tipikal vokalis Power metal dibandingkan mamang Mikael tarikan vokal clean-nya lebih mirip rocker-rocker era 70’an.

Tiga tahun setelah Citadel, yang entah kenapa bagi saya sedikit mengecewakan dan meleset dari ekspektasi awal, dengan materi yang terasa setengah matang, terlalu ambisius dan formula yang terlalu bertele-tele. Grup asal Melbourne, Australia ini langsung mencoba menepis kritik pedas yang menganggap NeO sebagai ”one hit wonder”  dengan album penuh ketiga yang bertajuk ‘Urn’. Lagu pembuka ‘Saturnine Spheres’ langsung terdengar bahwa materi di album ini digarap lebih matang, komposisi yang lebih padat, hook yang cepet ngena, dan kontribusi pemain bass session Robin Zielhorst (ex Cynic, Exivious) dengan gaya fusion khasnya  yang sedikit memberikan warna baru kedalam album. Dibandikan materi terdahulu, durasi ke-enam lagu dalam ‘Urn’ memang terasa lebih pendek, hanya lagu epik ‘Eyrie’ yang menembus batas 10-menitan. Tapi jangan ditanya trademark lagu NeO yang kompleks, banyak transisi antara bagian melodius dengan bagian keras, permainan biola yang menggetarkan qolbu hingga interplay dinamis antara Xenoyr (harsh vocal) dan Tim Charles (clean vokal) yangmasih berseliweran disana-sini. Semua lagu juga terdengar lebih memorable  dan tentunya less bolated, lagu ‘Inter Venus’ misalnya walau hanya berdurasi 7 menitan, NeO berhasil menciptakan komposisi cathy yang menggabungkan semua elemen yang sudah menjadi ciri khas mereka lalu memadatkanya kedalam struktur lagu yang lebih konvensional.

 

Memang secara overall masih belum bisa mengalahkan daya gedor dan kompleksitas materi dari album debut mereka, namun secara kualitas album ini sudah lebih dari bagus, dengan lagu-lagu yang lebih gampang dicerna tanpa harus menjual diri, struktur tiap-tiap lagu yang lebih terfokus dengan kualitas rekaman yang lebih terdengar organik, alhasil saya rasa ‘Urn’ merupakan album yang cukup accessible dan mudah di pasarkan kepada pengengar yang awam dengan style Extreme Progressive metal, dan saya rasa tak salah sih memang kalau banyak yang menempatkan Ne Obliviscaris sebagai salah satu garda depan scene Progressive metal saat ini. (Peanhead)

8,1 out of 10

https://neobliviscarissom.bandcamp.com/album/urn

 


Posted at : Tue, 19 February 2019
Category : Review