ALBUM REVIEW: NINE INCH NAILS – THE DOWNWARD SPIRAL


NINE INCH NAILS

The Downward Spiral

(Nothing/Interscope, 1994)

Trent Reznor adalah jenius, dan Nine Inch Nails adalah salah satu band yang bertanggung jawab bagi saya hingga menoleh ke ranah musik industrial. Dan album yang menurut saya sangat influensial dan fenomenal dari katalog Nine Inch Nails adalah ‘The Downward Spiral’ bukan hanya karena ianya mendapat pengakuan dari beragam media musik besar dan kritikus musik tapi karena secara sonikal ianya salah satu titik puncak dari ranah musik industrial di era 1990-an dan menempatkan Nine Inch Nails sebagai salah satu sosok musikal yang berpengaruh dari era itu. Terutama dengan formulasi ajaibnya yang melebur musik elektronik, rock industrial dan metal. Dan, ‘The Downward Spiral’ bukan album yang bisa dicerna dengan sekali lewat, karena setiap didengarkan akan selalu ada elemen dan nuansa “baru” yang akan kita temukan, sebuah peleburan antara kekacauan, disonansi, emosi dan kolase musikal yang menciptakan keindahan. Trent Reznor sungguh mendorong dan melibas batasan dengan eksplorasi musikalnya di album itu yang melahirkan banyak grup yang mencoba meniru apa yang dilakukannya pasca ‘The Downward Spiral’.

Di album kedua Nine Inch Nails itu, Trent Reznor – sebagai penulis lagu – bersama pemain drum Nine Inch Nails – kala itu – Chris Vrenna berkolaborasi dengan gitaris King Crimson, Adrian Belew dan mantan pemain drum Jane’s Addiction dan Porno for Pyros, Stephen Perkins juga Andy Kubiszweski dan programmer Charlie Louser serta gitaris Danny Lohner untuk pengerjaannya. Usaha eksplorasi yang terdengar sekali berusaha melepaskan diri dari batas kekangan genre yang berusaha merekam bermain emosi nuansa hati, ruang dan tekstur musik secara keseluruhan tanpa adanya instrumentasi konvensional yang menonjol menunjukkan penguasaan ajaib Trent Reznor dalam teknologi digital dengan komputer pada masa itu dan sentuhan analog yang manusiawi.Album konseptual akan seorang yang tenggelam dalam palung kehidupan yang depresif, represif dan destruktif, nihilisme dalam kendali dan kekacauan; sebuah usaha mencari harmoni dalam ketidakteraturan. Mungkin semacam cermin pribadi Trent Reznor, ‘The Downward Spiral’ mengeksplor seks, relasi kekuasaan, kebencian, agama yang terorganisir, adiksi narkotika.

Dengan sample dari “THX 1138” film sains fiksi dystopia yang disutradarai oleh George Lucas – yang notabene salah satu film favorit saya – sebagai awalan dari lagu “Mr. Self Destruct” adalah awalan tepat yang membuka dengan energi penuh dalam energi penuh, didinginkan dengan “Piggy” dengan isian drumnya yang sruntulan. Dilanjutkan dengan hantaman terhadap agama terorganisir dengan “Heresy” dan bait liriknya “You god is dead and no one cares ..”. Untuk kemudian dilanjutkan dengan nomer terkeras di ‘The Downward Spiral’ yaitu “March of the Pig” nomer buruk rupa yang dengan cantik menyelipkan bagian kecil keheningan sesaat dengan piano. “Closer” nomer ikonik yang akan memaksa Anda menggoyangkan badan dan meneriakkan lirik “I want to fuck you like an animal .. you get me closer to god”. Dan memang selain musiknya jelas lirik yang ditulis Reznor memiliki kekuatan yang melengkapi, bukan sekedar pelengkap tapi juga esensial, yang menyentak kesadaran Anda seperti senjata penyembur api. “Ruiner” menyemburkan skeptisisme akan kekuasaan manipulatif ketuhanan dan agama.

Pertikaian batin muram dalam “The Becoming” juga terekam dalam “I Do Not Want This” nomer pelan yang meledak dalam kebisingan di bagian akhir. Ketika sekarang mendengarkan “Big Man With A Big Gun” yang terbayang adalah Amerika Serikat di bawah New Founding Fathers of America dalam dunia fiksional film franchise “The Purge”. “A Warm Place” adalah nomer ambient yang macam oase penyejuk ditengah semua kekacauan. Untuk dilanjutkan dengan nomer “Eraser” yang menghentak, dan seolah terjalin back to back dengan “Reptile”, nomer favorit mengisahkan kelam dunia prostitusi dengan glamorifikasi gelap yang indah. Lagu “The Downward Spiral” dengan berisi spoken words yang semacam suicide notes dari tokoh dalam album konsep ini. Tiada akhir yang bahagia di album kedua Nine Inch Nails itu, semuanya adalah konflik getir yang ditutup dengan nomer kontemplatif “Hurt” yang menjadi lagu yang menemani saya di kala masih dalam cengkraman adiksi narkotika; sakit dan penuh keperihan sebuah fragmen pahit yang juga mungkin dirasakan oleh Trent Reznor pada masa itu; sebuah lagu yang kemudian digubah ulang oleh Johnny Cash sebelum beliau mangkat.

Mendengarkan kembali ‘The Downward Spiral’ seolah mempertegas bahwa tak ada hal yang baru di musik era sekarang semuanya sudah pernah dilakukan secara revolusioner di era sebelumnya. ‘The Downward Spiral’ jelas membawa Nine Inch Nails ke ranah baru untuk kesuksesan karir musik juga popularitas yang diperkuat dengan tur dan aksi panggung yang destruktif dengan Woodstock 1994 sebagai salah satu momen historikalnya. Dan, angka penjualan album yang tak bisa dianggap enteng dengan tercatat empat kali sertifikasi platinum dan menjadi album dengan penjualan terbesar dalam katalog Nine Inch Nails. [Farid Amriansyah]


Posted at : Wed, 28 March 2018
Category : Review