ALBUM REVIEW: SIGH – ‘絶望を受け継ぐもの’ (Heir to Despair)


SIGH  ‘絶望を受け継ぐもの’ (Heir to Despair)

Spinefarm Records. November 16th. 2018

Avant-garde metal/Progressive Black metal

Bagi penggemar musik Black metal nama SIGH semestinya bukan asing lagi, Grup asal Tokyo, Japan ini merupakan salah satu generasi awal scene ‘Black metal gelombang kedua’ bersama nama-nama besar seperti Darkthrone, Burzum, Immortal, Enslaved dll walaupun bermarkas di 8400 Km dari Oslo. Debut album penuh mereka ‘Scorn Defeat’ bahkan sempat dirilis melalui Deathlike Silence Productions milik Euronymous pada tahun 1993.

Heir to Despair sendiri merupakan album kesebelas Orkes Black metal nyentrik besutan Mirai Kawashima, yang merupakan babak pamungkas dari Tetralogi ketiga dari Sigh yang dimulai dari ’Scenes from Hell’ yang dirilis delapan tahun sebelumnya. Dibuka dengan lagu ‘Aletheia’, You Oshima menyajikan riff-riff heavy metal mid-tempo gurih di iringi oleh permainan instrument tradisional jepang dengan permainan flute ciamik Mirai Kawashima yang gak kalah memikat dibanding Ian Anderson  ataupun Thijs van Leer sekalipun, pada trek selanjutnya ‘Homo Homini Lupus’ Mirai K. dkk menaikan tempo dua kali lipat lebih cepat dengan struktur lagu lebih straightforward namun catchy as fukk, penuh pengaruh kental dari legenda New Wave of British Heavy metal seperti Iron Maiden, Diamond Head hingga Judas Priest, formulasi tersebut juga dipertahankan di lagu berikutnya  ‘Hunters Not Horned’ yang cukup groovy dengan bumbu nyeleneh khas ala SIGH tentunya. Bagi yang sudah menungu kegilaan yang sudah jadi trademark grup ini jangan khawatir ‘In Memories Delusional’ dijamin bakal memuaskan hasrat anda melalui suguhan Black metal progresif penuh belokan tajam dan komposisi yang cukup ramai dengan harmonisasi vokal, shred solo dan instrument tradisionil jepang macam  Shamisen dan Taishōgoto yang bercecaran tiap beberapa bar.

Setelah kegilaan di lagu sebelumnya SIGH sekali lagi memberikan umpan berbelok melalui trilogy Heresy, berisikan tiga buah lagu bertempo pelan penuh layer synthesizer, sampling, dan glitch yang mengakusisi elemen musikal dari trip-hop, ambient, dub hingga industrial. Secara konseptual sendiri trifekta Heresy bisa dibilang merupakan momen ketenangan sebelum badai datang, sejalan dengan tema album yang mengeksplorasi betapa rapuh dan tipis nya garis yang memisahkan realitas dengan delusi ataupun kewarasan (sanity) dengna kegilaan (insanity) dimana glitch yang kadang muncul dalam lagu sedikit member kisi-kisi akan kegilaan yang akan datang berikutnya.  Dan kegilaan tersebutpun dijawab dengan dua lagu epic ‘Hands Of The String Puller’  dan epilog ‘Heir to Despair’ yang menggabungkan semua elemen dari kedelapan lagu sebelumnya, menuangkanya kedalam 10-menit penuh kekacuan dan kegilaan.

Bagi saya pribadi ‘Heir to Despair’ merupakan album terbaik SIGH semenjak ‘Imaginary Sonicscape’ yang dirilis 2001 silam. Dengan komposisi yang lebih down-to-earth tanpa menghilangkan trademark SIGH yang berani mengoplos Black metal dengan berbagai macam sub-genre mulai dari traditional heavy metal, progressive rock, musik tradisional jepang, krautrock, neo-psychedelia, ambient hingga trip-hop, namu masih memorable dan mudah dicerna dan tidak terdengar hanya sebagai kekacauan tanpa arah yang jelas.

 

9.5 out of 10


Posted at : Thu, 24 January 2019
Category : Review