ALBUM REVIEW: SLAYER – REIGN IN BLOOD


SLAYER

Reign in Blood

(Def Jam, 1986)

Bagi fans berat Slayer tahun 2018 ini adalah tahun yang menyesakkan dada karena setelah hampir 40 tahun eksis band thrash metal kelas berat itu memutuskan untuk membubarkan diri setelah melangsungkan tur terakhir sebagai perpisahan. Untuk itu maka saya mengulas album klasik fenomenal dari Slayer yaitu ‘Reign in Blood’. Album influensial yang menentukan dari thrash metal sebagai genre dan pastinya musik metal yang muncul sesudahnya secara keseluruhan, dan meraih rekognisi sebagai salah satu rilisan metal terbaik sepanjang masa dari beragam media musik ternama. Dan, pastinya ‘Reign in Blood’ adalah rilisan thrash metal yang paling heavy diantara rilisan thrash metal lainnya di era 1986. Yang juga memaksa arus musik utama menolehkan kepala, ‘Reign in Blood’ adalah album pertama Slayer yang berhasil menembus Billboard 200 dan mendapatkan sertifikasi Gold. Yang jelas adalah thrash metal intensitas maksimum dalam 29 menit; ganas, cepat, padat dan brutal.

Dengan Rick Rubin sebagai produser Slayer di ‘Reign in Blood’ menempuh jalan kesederhanaan untuk mengasah keganasan musikalnya. Membuang elemen yang tak perlu dan memanen kesempurnaan dalam agresifitasnya dengan produksi yang jernih dibanding rilisan mereka sebelumnya. Membangun jembatan dan mengambil elemen hardcore punk untuk meleburnya dengan thrash metal. Sebuah langkah yang kalau saya bayangkan pada masa itu bisa dibilang penuh keberanian, karena tak ada yang terdengar seperti ‘Reign in Blood’ sebelumnya secara tata suara. Sepuluh lagu didalamnya dibangun dengan permainan gitar maut dari Jeff Hanneman dan Kerry King yang seperti gergaji mesin berbahan bakar avtur dengan solo gitar yang abstrak dan gila, dengan Dave Lombardo membangun pondasi tempo dengan permainan drum super ngebutnya bersama Tom Araya dengan permainan bass dan teriakan vokalnya yang menggigit menggelontorkan lirik- lirik tajam brilian dengan tema yang membelalakkan mata dari Josef Mengele, kecenderungan sosiopatik hingga satanisme.

Susah bagi saya untuk menilai mana lagu yang terbaik di album ‘Reign in Blood’ karena dengan sangat subyektif sebagai fan saya akan bilang suka semuanya secara keseluruhan, walau bukan berarti album ini sempurna. Dari “Angel of Death” hingga “Raining in Blood” adalah soundtrack untuk headbanging non-stop, yang ketika saya kecil saya nikmati dengan memutar kencang di cassette tape player combo di volume maksimum dan lompat-lompatan di kamar hingga ibu menyuruh saya mengecilkan volumenya. Yang pasti setelah lebih dari tiga dekade masih selalu tak pernah bosan dan selalu berhasil membangkitkan agresi.

Yang menjadi pencuri perhatian juga adalah ilustrasi sampul album ‘Reign in Blood’ yang cantik namun mengerikan yang dibuat oleh Larry Carroll, yang biasa mengerjakan ilustrasi politik untuk beberapa media cetak di Amerika Serikat. Gaya ilustrasi yang membedakan ‘Reign in Blood’ dengan rilisan metal lain pada masa itu yang cenderung bergaya kartun-isque. Ilustrasi yang juga kontroversial hingga menyebabkan rilis ‘Reign in Blood’ sempat tertunda, melengkapi citra provokatif dari album tersebut selain lirik lagu-lagunya dan mitos negatif yang menyelimutinya.

Sedikit romantisme, beruntung bagi saya karena sempat melihat formasi terbaiknya di tahun 2006 lalu ketika mereka menyambangi Singapura; dan terlepas dari niat Slayer untuk membubarkan diri, banyak warisan musikal yang mereka tinggalkan untuk ranah metal yang kita kenal sekarang, Slayer-huakbaar!  [Farid Amriansyah]


Posted at : Wed, 14 March 2018
Category : Review