ALBUM REVIEW: WIRE – PINK FLAG


WIRE

Pink Flag

(Harvest Records, 1977)

1977 adalah tahun yang penting bagi gelombang pertama punk di Britania Raya. Beberapa album grup punk yang dirilis pada tahun itu menjadi pijakan yang mengubah wajah rock’n’roll dan mendapat predikat sebagai album terbaik sepanjang masa karena pengaruhnya terhadap musik yang kita kenal sekarang. Salah satu yang eksplorasi musikalnya paling menarik adalah apa yang dilakukan oleh grup asal London, Wire, yang menutup tahun 1977 dengan album debutnya ‘Pink Flag’.

Album debut dari Wire pada masa itu bisa dibilang sangat inventif – tanpa menyebutnya unik – karena ketika band punk lain dari era itu menggunakan jurus yang menelanjangi rock’n’roll kebentuknya yang paling mentah, Wire melangkah lebih jauh dengan menempatkan punk rock kedalam palet musikal dan cawan petri eksperimentasi yang terbuka dengan beragam kemungkinan. Eksplorasi brilian yang tak mengindahkan struktur atau komposisi lagu konvensional juga dalam durasi lagu; pendekatan nyeni dengan energi dan attitude punk,` yang luar biasanya adalah masih bisa dinikmati. Yang pasti romantisme dengan album ‘Pink Flag’ bagi saya pribadi salah satunya adalah pemecah kekakuan ketika saya mewawancara Fat Mike dari NOFX, ketika saya membuka tas penyimpan cakram padatnya dan album itu berada di bagian paling depan hingga menjadi bahasan pembuka.

Susah untuk tidak membahas album ini lagu perlagu karena tiap lagunya punya distingsi tersendiri, dan alih-alih dibuka dengan nomer yang gempita, ‘Pink Flag’ dimulai dengan “Reuters” nomer favorit yang merambat dingin getir, menyawa lagu tentang reportase konflik. Penuh kejutan yang tak terduga sesudah nya adalah “Field Day for the Sundays” lagu enerjik yang berdurasi 28 detik. “Ex-Lion Tamer” catchy dengan cerdik berbicara tentang televisi sebelum orang sibuk dengan Hari Tanpa Televisi. Nomermalas “Lowdown” dinyanyikan ala spoken words adalah salah satu favorit saya,  terutama ketika over dub gitar bisingnya masuk. Aura punk rock yang cukup jelas ada di “Start To Move”, “Brazil”, “It’s So Obvious”, “Straight Line”, “106 Beats That”, “Different To Me”. “Surgeon’s Girl” dengan selipan perkusi yang canggung. Gitar fuzzy “Pink Flag” yang merambat malas untuk meledak dalam disonansi dan kekacauan menuju akhirlagu. Entah tak peduli atau sangat niat, “The Commercial” adalah nomer instrumental yang bila ditilik dari judulnya sepertinya kritik akan dunia periklanan atau kultur pop dalam durasi 49 detik. “Mannequin” yang super catchy cukup eksepsional, juga “Champs” dengan isian tepukan tangan kompulsif yang entah kenapa saya suka sekali dengan lagu itu, mungkin karena intro gitarnya. Wire bermain manis di “Feeling Called Love” yang diakhiri dalam durasi pas sebelum menjadi membosankan. Dan salah satu favorit saya adalah “12XU” dengan agresi yang ditahan dan dilepaskan oleh gitarnya.

Album debut Wire mungkin tidak sukses secara angka penjualan tapi pengakuan terhadap album ‘Pink Flag’ diberikan antara lain oleh Rolling Stone, NME, Pitchfork dan beragam publikasi musik yang memasukkan album itu dalam daftar – bukan hanya sebagai album punk tapi juga – album musik terbaik sepanjang masanya. Karena apa yang dilakukan Wire – terutama di album debut nya itu – sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan punk menuju post-punk, art punk, hardcore dan alternative rock. Mulai dari Minor Threat, My Bloody Valentine hingga R.E.M yang membawakan gubah ulang lagu dari ‘Pink Flag’ hingga Elastica yang lagu “Connection”- nya mirip dengan lagu “Three Girl Rhumba”. Perlu sedikit konsentrasi untuk mendengarkan ‘Pink Flag” yang berdiri antara minimalistik, sensibilitas melodis dan kakofoni, dengan keberanian yang membedakan dengan rekan seangkatannya; Wire seems to knows from the beginning that pink is the new black.

[FaridAmriansyah]


Posted at : Wed, 06 December 2017
Category : Review