MOVIE REVIEW: 1922 (2017)


1922
Sutradara: Zak Hilditch
USA (2017)

Review oleh Tremor

Netflix memproduksi banyak sekali serial dan film bagus, dan 1922 adalah salah satunya. Film drama horror ini diadaptasi langsung dari novella karya rajanya penulis horror, Stephen King. Novella sendiri adalah sebuah istilah untuk karya sastra berupa novel pendek, atau cerita pendek yang panjang, dan kalau kamu penasaran ingin membacanya, kalian bisa temukan novella asli 1922 di buku kumpulan novella Stephen King yang berjudul “Full Dark, No Stars” (2010). Mungkin saya sudah tidak perlu memperkenalkan lagi siapa itu Stephen King, yang pasti ini bukan pertama kalinya saya menulis review film yang diadaptasi dari karya King.

Bintang utama dalam 1922 yang sangat pantas diacungi banyak jempol adalah aktor Thomas Jane, yang juga pernah bermain di adaptasi cerita Stephen King lainnya yang berjudul The Mist (2007). Dalam 1922, secara impresif Jane berperan sebagai seorang petani di wilayah Nebraska yang hidup di tahun 1922 bernama Wilfred James. Wilfred adalah seorang petani sejati. Ia adalah seorang pekerja keras, penuh dedikasi dan bahagia dengan pekerjaannya sebagai petani. Lewat narasi di awal film, penonton diberi sebuah gambaran, bahwa pada tahun 1922, kebanggaan seorang pria adalah tanah lahan. Tanah lahan adalah segalanya, dan Wilfred memiliki lahan yang cukup untuk dijadikan sebuah kebanggaan. Wilfred dan istrinya, Arlette, memiliki seorang anak laki-laki berumur 14 tahun yang bernama Henry. Ia mengajari segalanya pada Henry agar bisa menjadi petani tulen seperti dirinya suatu hari nanti saat tiba waktunya tanah tersebut bisa diwariskan pada Henry. Masalahnya, tanah tersebut bukanlah seutuhnya milik dia. Secara sah, tanah sebesar 180 hektar yang sangat Wilfred banggakan itu adalah milik Arlette, yang merupakan warisan dari ayah Arlette sendiri.

Rupanya, tidak semua dari mereka yang bahagia dengan kehidupan pedesaan sebagai petani. Arlette sangat merasa hidupnya hampa dan memiliki mimpi lain. Ia ingin pindah ke kota dan membuka sebuah butik. Suatu malam, Arlette akhirnya menyampaikan keinginannya untuk menjual seluruh tanahnya dan pindah ke kota. Tentu saja Wilfred tidak setuju. Baginya keputusan tersebut adalah hal terkonyol yang akan dilakukan oleh keluarga petani. Ia tidak rela kalau Arlette menjual lahannya yang selalu bisa diolah dan mendatangkan kemakmuran ini. Baginya, kota adalah tempat orang-orang bodoh. Henry anak mereka juga tidak setuju. Bukan hanya karena Henry adalah calon petani seperti ayahnya, tetapi karena Henry jatuh cinta pada anak perempuan dari salah satu tetangga mereka, Shannon, dan ia tidak rela harus meninggalkan kekasihnya hanya karena ibunya ingin pindah ke kota. Tapi tidak ada yang bisa mereka perbuat. Tanah itu adalah milik Arlette secara legal. Bahkan Arlette sudah membuat keputusannya sendiri dengan cara menghubungi langsung ke calon pembeli sebelum mendiskusikannya terlebih dahulu dengan suaminya. Wilfred putus asa membayangkan kehidupan tanpa lahan, dan diharuskan bekerja di kota mengabdi pada orang.

Beberapa hari kemudian mereka membicarakan hal ini lagi. Dengan tekad bulat Arlette menawari Wilfred sebagian dari uang hasil penjualan tanahnya, meminta perceraian dan akan mengambil hak asuh atas Henry. Wilfred semakin putus asa. Ia bukan hanya akan kehilangan mata pencaharian kebanggaannya, tetapi juga anak laki satu-satunya, harapannya, penerusnya. Suatu hari saat sedang bersama-sama bekerja di ladang, akhirnya Wilfred mulai memanipulasi Henry, membuat Henry berpikir bahwa ia akan kehilangan masa depannya sebagai petani sekaligus akan kehilangan ayah dan pacarnya. Setelah Henry ikut putus asa, Wilfred pun memanipulasi Henry ke titik yang lebih jauh, bahwa satu-satunya cara supaya mereka berdua bisa tetap hidup seperti sekarang adalah dengan cara melenyapkan Arlette. Membunuhnya. Henry yang awalnya agak ragu, akhirnya setuju dengan rencana tersebut setelah ayahnya meyakinkan bahwa ibunya akan hidup bahagia di surga.

Suatu malam saat Arlette mabuk setelah minum-minum, Wilfred pun membunuhnya dengan dibantu Henry. Adegan pembunuhan ini diambil dari berbagai angle dan cut, dengan visual kekerasan yang minim ala Psycho (1960), namun hasilnya sangat kejam. Dalam pembunuhan ini, Arlette pun tidak mati dengan cepat. Ia masih berusaha melawan hingga pada akhirnya lehernya digorok. Mayat Arlette-pun dibuang ke dalam sumur di belakang rumah mereka. Tak lama setelah kejadian ini, dalam narasinya Wilfred menjelaskan kepada penonton bahwa penyesalan terpahit dalam hidupnya bukanlah karena ia membunuh istrinya, namun semua yang terjadi setelah itu. Dari sinilah horor dalam 1922 bermula.

1922 bercerita mengenai penyesalan dan perasaan bersalah. Kisah ini juga mengisahkan dualitas dalam diri manusia, sisi gelap dan sisi terang, dimana terkadang orang-orang yang baik bisa dengan mudah jatuh ke sisi tergelapnya. Walaupun film ini tidak terlalu gore, namun tentu saja ada banyak adegan kekerasan. Dan itu terjadi secara tiba-tiba dan penuh darah. Kalian juga akan melihat banyak sekali tikus dalam 1922. Saya tidak tahu mengapa tikus sering muncul dalam beberapa kisah karya Stephen King. Kalian yang pernah menonton The Green Mile tentu saja akan teringat dengan tikus. Tidak itu saja, hewan pengerat ini sering muncul dalam novel-novel King lainnya walaupun hanya sekelibat, seperti dalam Shawshank Redemption, Salem’s Lot, hingga Carrie. Namun rasanya, sejauh saya pernah membaca buku-buku King, kemunculan tikus dalam kisah-kisah Stephen King belum ada yang sebegitu efektifnya seperti dalam 1922. Hal yang paling mencengangkan adalah, saat saya mengetahui bahwa tidak ada satupun tikus dalam film 1922 yang merupakan hasil rekayasa komputer. Semuanya adalah tikus asli.

Penuturan Wilfred mengenai pembunuhan yang ia lakukan, ditambah dengan adanya tikus, membuat film 1922 sepintas seperti sebuah karya yang ditulis oleh Edgar Allan Poe namun dalam versi lebih modern dan lebih menyeramkan. Walaupun bisa dikatakan sebagai sebuah film drama, namun 1922 penuh dengan imaji yang disturbing dan cukup menghantui untuk mereka yang tidak terbiasa menonton film horor. Dan kesemua itu justru jauh lebih efektif dibandingkan penggunaan trik-trik jump-scare yang biasa ditemui di film-film horor modern. Saya berterima kasih pada sang sutradara Zak Hilditch karena sepertinya ia justru menghindari penggunaan jump-scare. Bukan karena saya mudah kaget, tapi saya muak dengan film horror yang hanya bermodalkan jump-scare saja.

Dari segi scoring, orang yang bertanggung jawab atas terbangunnya setting dan mood dalam film ini adalah Mike Patton (frontman dari Faith No More, Mr. Bungle, Fantomas dan masih banyak lagi). Saya rasa film ini akan terasa berbeda tanpa adanya sound effect yang begitu menyayat seperti yang Mike Patton buat.

Sangat sulit untuk menemukan film horor dengan cerita yang bagus sekarang ini, dan 1922 menurut saya adalah film dengan cerita yang bagus dan solid.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com

 


Posted at : Thu, 08 March 2018
Category : Review