MOVIE REVIEW : BIG BAD WOLVES (2014)


BIG BAD WOLVES
Sutradara: Aharon Keshales
dan Navot Papushado
Israel (2014)

Review oleh Tremor

Big Bad Wolves adalah sebuah film thriller asal Israel yang dibumbui dengan black comedy pada beberapa titik. Jujur, saya sama sekali tidak familiar dengan industri film Israel, terutama dari scene horor maupun thriller-nya. Big Bad Wolves adalah film Israel pertama yang saya tonton, dan saya tidak menyesalinya sama sekali. Pernyataan “best film of the year” yang dilontarkan oleh seorang Quentin Tarantino soal film ini rupanya bukan sekedar strategi pemasaran yang mengada-ngada belaka. Film ini masuk ke dalam daftar fillm favorit Tarantino dan setelah menontonnya, saya bisa memahaminya. Dan kalau boleh menebak, saya pikir alasan mengapa Tarantino begitu memuji Big Bad Wolves adalah karena pengaruh Tarantino memang cukup terasa dalam plot film ini. Mungkin ia merasa film ini mewakili apa yang ia suka dari sebuah film, dan mungkin, Tarantino juga merasa bahagia dan tersanjung setelah menontonnya. Tapi bukan berarti film ini adalah sebuah karya yang 100% menjiplak gaya Tarantino, karena memang bukan seperti itu. Big Bad Wolves ditulis dan disutradarai oleh dua orang yang bernama Aahron Keshales dan Navot Papushudo, yang ternyata sebelumnya pernah membuat film horor berjudul The Rabies (2012). Setelah cukup terhibur dengan Big Bad Wolves, mungkin saya perlu menonton The Rabies suatu hari nanti.

Big Bad Wolves dibuka dengan adegan tiga anak kecil yang sedang bermain petak umpet di sebuah rumah kosong. Diiringi dengan alunan musik yang dramatis, adegan petak umpet ini digambarkan secara slow-motion bersamaan dengan berjalannya opening credit. Dari adegan slow-motion ini, kita semua akan bisa menebak bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi setidaknya pada salah satu dari mereka. Dan benar saja, bahkan sebelum judul film muncul di layar, kita diperlihatkan bahwa salah satu gadis yang bersembunyi di dalam lemari telah hilang. Dan film inipun dimulai.

Seorang polisi bernama Micki sangat yakin bahwa seorang guru di sekolah setempat yang bernama Dror, bertanggung jawab atas hilangnya gadis tersebut. Micki dan kedua anak buahnya menggunakan metode yang “kotor”, yaitu menghadang dan menyiksa Dror di sebuah bangunan kosong agar Dror mengakui perbuatannya. Mereka memaksa Dror untuk mengatakan dimana ia sembunyikan gadis yang hilang tersebut. Dror tampak seperti seseorang yang tidak bersalah dan tentu saja ia mengaku tidak mengetahui apapun soal hilangnya gadis yang dimaksud. Atasan Micki yang berada di kantor, sangat ingin menjaga nama baik polisi. Ia hanya menugaskan Micki untuk memata-matai, bukan untuk menyiksa. Lagipula belum ada bukti nyata kalau Dror memang pelakunya. Lewat panggilan telepon, atasan Micki bersikeras agar “interogasi” tersebut segera dihentikan. Dengan berat hati Micki pun membebaskan Dror. Yang mereka tidak ketahui adalah, ada seorang remaja yang tidak sengaja sedang berada di bangunan tua tersebut merekam aksi “interogasi” yang dilakukan anak buah Micki dengan smart phone-nya.

Beberapa hari kemudian, setelah menerima info lewat panggilan telepon anonim, akhirnya polisi menemukan mayat gadis yang hilang tersebut di sebuah hutan. Kondisinya sangat mengenaskan, terikat pada sebuah kursi dengan badan penuh luka dan tanpa kepala. Gadis tersebut disiksa setelah sebelumnya diperkosa oleh penculik sekaligus pembunuhnya. Keberadaan kepala si gadis pun menjadi sebuah misteri baru bagi kepolisian. Mereka bukan hanya harus mencari pembunuh gadis tersebut, tetapi juga kepalanya.

Video “interogasi” Micki atas Dror kemudian berakhir di Youtube, menjadi viral, dan menimbulkan kehebohan tersendiri di antara para penduduk kota tersebut, dan tentu saja sesuatu yang viral akan melahirkan banyak gosip dan pergunjingan. Walaupun tidak ada bukti kalau Dror adalah pelakunya, namun namanya menjadi buruk karena desas-desus tentang Dror sebagai pedophil sekaligus pembunuh anak mulai menjangkiti para murid, orang tua murid hingga staf di sekolah tempat ia bekerja. Dampak buruk dari video yang viral tersebut tidak hanya berdampak pada Dror saja, tetapi juga pada pihak kepolisian. Nama kepolisian rusak karena adegan interogasi dengan kekerasan tersebut, dan Micki akhirnya dipecat. Tapi Micki yang sudah terlanjur terobsesi dengan kasus tersebut masih sangat yakin kalau dugaannya benar bahwa Dror lah pelakunya. Dengan nekat, Micki berencana untuk bermain hakim sendiri dengan cara menculik dan “menekan” Dror dengan lebih keras lagi agar ia mengakui perbuatannya sekaligus membeberkan informasi dimana kepala korbannya disembunyikan. Micki berharap kalau ia bisa membuat Dror mengaku, maka nama dan karirnya juga akan ikut terselamatkan.

Namun bukan hanya Micki saja yang ingin menculik Dror. Terpengaruh dengan desas desus akibat video youtube yang viral, ayah dari sang korban yang bernama Gidi diam-diam juga ikut memburu Dror. Gidi akhirnya berhasil menculik Dror (sekaligus Micki), mengikatnya di ruang bawah tanah, dan siap untuk mencari jawaban mengenai keberadaan kepala anaknya. Tentu saja sebuah kursi usang dengan pengikat kaki dan tangan, seperangkat alat pertukangan berkarat di atas meja, dan ruang bawah tanah yang kedap suara tidak akan membuat proses “interogasi” terhadap Dror menjadi menyenangkan. Rencana Gidi adalah menyiksa Dror dengan cara yang sama seperti cara anak gadisnya disiksa, dimulai dari jari-jari tangan yang patah, hingga kuku yang dicabuti, setidaknya sampai Dror memberitahu dimana ia menyembunyikan kepala anak gadis Gidi. Saya akan berhenti disini, karena menulis lebih banyak tentang plot film ini berpotensi akan merusak pengalaman kalian yang belum sempat menontonnya.

Walaupun dalam paragraf di atas saya sudah memastikan bahwa akan ada beberapa adegan penyiksaan dalam Big Bad Wolves, namun tenang saja, film ini bukanlah film torture porn / splatter yang akan memperlihatkan adegan-adegan penyiksaan dengan gamblang. Beberapa adegan memang terkesan sadis, tapi bukan berarti kalian akan melihat usus terburai atau mata yang dicongkel.

Film ini memang terdengar memiliki kemiripan ide dengan film Prisoners (2013), mungkin karena sama-sama berhubungan dengan kasus anak yang hilang serta orang tua yang mulai kehilangan akal sehat demi mencari jawaban, menjadi bringas dan kemudian melakukan aksi balas dendam. Setelah saya pikir-pikir, The Prisoners adalah film yang membosankan kalau dibandingkan dengan Big Bad Wolves. Selain karena memiliki ending yang menurut saya lebih baik, Big Bad Wolves juga adalah sebuah film yang jauh lebih fun untuk ditonton, walaupun ide ceritanya sama sekali jauh dari rasa fun dan enjoyable. Seperti sudah saya tulis di awal, Big Bad Wolves juga dibumbui dengan unsur black comedy dan satir di sana sini. Sebelumnya, saya tidak menyangka kalau saya bisa tersenyum geli di banyak adegan saat menonton sebuah film dengan ide cerita yang tragis seperti ini. Ide dasarnya saja sudah disturbing (skenario seputar pembunuhan dan pemerkosaan terhadap gadis kecil akan selalu disturbing bagi saya). Tetapi film ini memang lucu di beberapa adegan dan dialog.

Pertanyaan yang terus ada di benak saya selama film berlangsung adalah: Apakah Dror benar-benar bertanggung jawab atas kejahatan yang dituduhkan kepadanya? Bagaimana kalau Gidi dan Micki menangkap orang yang salah? Apakah Gidi akan mendapatkan apa yang ia cari dengan cara menyiksa Dror? Dan yang paling mengganggu pikiran saya adalah, kalau sampai ternyata Dror benar-benar tidak bersalah, maka pedophil sesungguhnya sedang berkeliaran dengan bebas. Saya sendiri sangat menyukai bagaimana film ini membuat saya terus bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi hingga menit terakhir di penutup film. Apresiasi tinggi saya berikan kepada ketiga pemeran utama dalam film ini, yang memberikan performa masing-masing dengan sangat meyakinkan. Dialog dalam film ini juga merupakan aspek yang patut puji: tidak ada satupun dialog yang terasa dipaksakan atau terdengar dibuat-buat. Semua terasa sangat natural keluar begitu saja dari mulut para pemerannya. Sebuah penggabungan dari penulisan yang baik dan kemampuan acting yang mumpuni. Pemeran dari Gidi adalah yang paling mencuri perhatian. Saya memang tidak memiliki anak. Tetapi saya bisa membayangkan betapa putus asanya seorang orang tua kalau sampai kehilangan anaknya. Dan keputusasaan seperti itu bisa menyetir seseorang untuk melewati batas normal, menjadi kejam demi mendapatkan jawaban, seperti Gidi.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com

 

 

 


Posted at : Thu, 25 April 2019
Category : Review