MOVIE REVIEW: BLACK SUNDAY (1960)


BLACK SUNDAY
Sutradara: Mario Bava
Italia (1960)

Review oleh Tremor

Para penggemar film horror tentu tidak akan merasa asing ketika mendengar nama Mario Bava (1914-1980). Ia adalah seorang pembuat film asal Italia, yang mana karya-karyanya sangat memberi pengaruh besar pada banyak sutradara modern dari mulai Francis Ford Coppola hingga Quentin Tarantino. Sejak awal karirnya, Mario Bava memang sudah dekat dengan dunia perfilman. Ia pertama kali bekerja mengikuti jejak ayahnya: sebagai sinematografer. Namun baru tahun 1960 lah untuk pertama kalinya Bava nekad menyutradarai sebuah film: Black Sunday (judul asli: “La Maschera Del Demonio”) yang juga dikenal dengan judul lain “The Mask of Satan” dan “Revenge of the Vampire”. Black Sunday adalah sebuah adaptasi lepas dari karya klasik berjudul “Viy” yang ditulis oleh seorang penulis Rusia bernama Nikolai Gogol. Sebagai sebuah karya pertamanya, Black Sunday bukan saja bagus, tetapi juga bisa dibilang sangat sukses dan memberi pengaruh besar pada genre horror setelahnya. Lewat Black Sunday-lah dunia pertama kali diperkenalkan dengan kejeniusan Mario Bava sang maestro. Selepas membuat Black Sunday, ia juga bertanggung jawab dengan film-film horor klasik lainnya seperti Black Sabbath (1963), Blood and Black Lace (1964), Kill, Baby, Kill (1966), Baron Blood (1972) hingga Lisa and the Devil (1974). Bukan hanya memperkenalkan Mario Bava, Black Sunday juga adalah film debut bagi sang aktris, Barbara Steele, dimana kemudian dia menjadi sosok ikonik dalam dunia perfilman horror hingga dua dekade berikutnya.

Prolog film ini sangatlah efektif dan tidak banyak berbasa basi. Black Sunday dibuka dengan setting tahun 1700an di Romania dimana sekelompok orang berkumpul di hutan untuk melakukan ritual penghukuman dan penyucian terhadap seorang putri bangsawan yang bernama Asa (diperankan oleh Barbara Steele) beserta kekasihnya Javutich, karena mereka berdua dituduh telah melakukan praktek sihir hitam. Proses “penyucian” yang saya maksud bukanlah hal bagus. Putri Asa diikat dan sesuai tradisi yang berlaku, seorang penyihir harus dipasangi topeng “setan” terlebih dahulu sebelum kemudian dibakar. Tidak main-main, topeng setan bukanlah topeng biasa, karena terdapat banyak paku di dalam topeng tersebut, dan harus dipasangkan dengan cara dipalu pada wajah sang korban. Lelaki yang menjatuhi hukuman dan memimpin proses eksekusi pada putri Asa tak lain adalah saudaranya sendiri. Baru beberapa menit film ini berjalan, kita sudah disuguhi sebuah adegan klasik: topeng setan penuh paku dipalu pada wajah putri Asa oleh seorang algojo dengan menggunakan gada besar. Namun sesaat sebelum topeng itu dipasang, putri Asa sudah terlebih dahulu mengutuk saudaranya. Ia berjanji akan kembali untuk membalas dendam pada seluruh keturunan saudaranya. Setelah topeng terpasang dengan menyakitkan, mereka semua bersiap untuk membakar Asa. Namun sepertinya setan berada di pihak Asa. Hujan lebat turun dan memadamkan semua api. Akhirnya, karena gagal membakar Asa, merekapun menaruh jasad Asa di dalam sarkofago (peti mati batu) dan diletakan dalam ruang kuburan di bawah tanah kastil keluarga putri Asa.

Dua ratus tahun kemudian, sepasang dokter yang sedang dalam perjalanan mengalami kerusakan pada kereta kudanya tepat di depan kuburan Asa. Dokter yang lebih tua pun menemukan sarkofago putri Asa. Sebagai seorang ilmuwan, tentu saja ia dipenuhi rasa penasaran, serta tidak percaya pada praktek sihir dan hal-hal berbau mistis. Menurutnya, orang mati tetaplah orang mati. Namun ia tidak buta sejarah. Karena rasa penasaran, sang dokter membuka sarcofago Asa dan melepaskan topeng setan pada jasad Asa hanya untuk menemukan bahwa jasad Asa si penyihir tampak masih segar walaupun sudah 200 tahun lamanya ia diletakkan disini. Secara tak sadar, dokter tersebut telah mematahkan kekuatan magis topeng setan, sekaligus membangkitkan sang penyihir. Kebangkitan Asa pun menandai dimulainya aksi balas dendamnya.

Untuk standar sosial pada tahun 1960-an, film ini dianggap cukup sadis hingga akhirnya dilarang diputar di Inggris selama beberapa tahun. Selain itu film ini juga terpaksa mengalami banyak sensor di Amerika, terutama pada adegan-adegan sadisnya. Ya, saya bisa membayangkan bagaimana mengerikannya adegan memalu sebuah topeng penuh paku pada wajah seseorang bagi para penonton di tahun 1960. Dan itu bukanlah satu-satunya adegan sadis dalam Black Sunday (sadis pada jamannya, tentu saja.) Belum lagi saat wajah sang penyihir saat topeng tersebut dibuka 200 tahun kemudian, dimana wajahnya penuh lubang, dan rongga matanya yang bolong dan dipenuhi dengan serangga.

Saat banyak film terasa sangat buruk saat ditonton ulang 20 atau 30 tahun setelah tahun pembuatannya, Black Sunday bisa saya anggap lulus menghadapi ujian terhadap waktu karena masih terasa bagus dan mencekam walaupun dibuat tahun 1960 dan ditonton ulang pada tahun 2017. Beberapa tahun sebelum menuliskan review ini saya bahkan sudah menonton Black Sunday sebanyak dua hingga tiga kali, dan penilaian saya terhadap film ini tetaplah sama. Saya rasa atmosfer mencekam yang sangat kuat dalam film ini tak lain adalah karena film ini merupakan film hitam putih, dimana teknik pencahayaan sangat memberi peran besar. Disinilah kita bisa menyaksikan bagaimana pintarnya Mario Bava menggambarkan kegelapan. Film dengan warna hitam putih memang sangat efektif untuk digunakan dalam film horor kalau diolah orang yang tepat. Kesan dramatis bisa dibentuk lewat pencahayaan yang kontras antara bayangan gelap dengan cahaya. Kalian bisa bayangkan betapa mengerikannya wajah seseorang yang berada dalam ruangan gelap hanya disorot senter dari arah bawah. Kira-kira seperti itulah efektifnya pencahayaan hitam putih dalam membangun sebuah atmosfer. Saya pribadi suka sekali dengan film-film yang mengeksplorasi pencahayaan seperti ini. Atmosfer kuat bukan hanya karena baiknya pencahayaan pada para pemeran film saja, namun juga pada semua hal seperti dahan pohon, kabut, asap, hingga interior kastil. Bukan hanya teknik pencahayaan, teknik kamera dan special effect juga merupakan elemen kunci dalam keberhasilan film ini. Black Sunday adalah karya horror gothic klasik yang difilmkan dengan sangat indah.

Jadi kalau kamu tertarik dengan film horor klasik yang menjadi salah satu cetak biru wajib pada genre ini, dan menyukai tema-tema penyihir, sepertinya Black Sunday harus dimasukkan ke dalam daftar film yang wajib kamu simak.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat@yahoo.com

 


Posted at : Thu, 30 November 2017
Category : Review