MOVIE REVIEW: BONE TOMAHAWK (2015)


BONE TOMAHAWK
Sutradara:
S. Craig Zahler
USA (2015)

Review oleh Tremor

Bone Tomahawk adalah sebuah film horor adventure yang dicampur dengan tema western / koboy dan tema kanibal. Mencampurkan dua template dari dua genre yang berbeda membuat film ini menjadi sangat menarik! Film ini merupakan film perdana dari seorang sineas pendatang baru bernama S. Craig Zahler. Untuk sebuah film perdana, film ini sangat impresif. Dibintangi oleh seorang aktor yang sudah tidak asing lagi di dunia perfilman action dan western: Kurt Russel.

Suatu malam, sebuah kota kecil bernama Bright Hope diserang secara diam-diam oleh kelompok misterius. Mereka mencuri beberapa kuda, serta menculik seorang dokter perempuan bernama Samantha, seorang deputi dan seorang tahanan dari kantor sherif. Namun karena serangan tersebut sangat senyap, baru keesokan harinya lah warga Bright Hope menyadari mengenai hilangnya beberapa kuda dan tiga warga mereka. Satu-satunya petunjuk adalah sebuah anak panah dengan mata yang terbuat dari tulang, menancap di tiang kantor sherif. Sang sherif yang bernama Hunt langsung memanggil beberapa penduduk di kota Bright Hope untuk segera melakukan rapat untuk membahas apa yang harus mereka lakukan. Salah satu warga yang hadir disitu adalah seorang profesor yang juga merupakan keturunan indian. Sherif Hunt pun bertanya kepada profesor apakah ia mengenali dari suku mana anak panah tersebut berasal. Namun ternyata menurut profesor, suku tersebut tidaklah memiliki nama. Ia bahkan ragu untuk menyebut kelompok misterius tersebut sebagai bagian dari suku indian. Kelompok tersebut tidak memiliki bahasa, dan perilaku mereka sangat ganas. Sang profesor menyatakan kelompok tersebut adalah sebuah ras manusia gua pra-sejarah atau troglodyte, yang kebetulan memiliki kecenderungan kanibalistik dan memang sangat brutal. Bukan suku indian pada umumnya, melainkan manusia gua yang buas dan mungkin sekali sekaligus hibrida monster.

Sherif Hunt pun akhirnya memutuskan untuk melakukan misi penyelamatan. Namun sang profesor agak ragu bahwa rencana tersebut akan berhasil, terutama karena kelompok kanibal itu sangat kuat, jahat, dan buas. Mereka juga terkenal cukup sulit dilacak keberadaannya. Setelah didesak oleh sherif Hunt, akhirnya sang profesor mengakui adanya perkiraan mengenai dimana lokasi tempat kelompok kanibal tersebut tinggal, yaitu di dalam sebuah goa di sebuah lembah yg bernama The Valley of the Starving Man.

Dibentuklah regu kecil penyelamatan yang hanya beranggotakan 4 orang saja dengan sherif Hunt sebagai pemimpinnya. Tidak banyak orang yang berani di kota yang sangat kecil tersebut. Arthur, seorang koboy (penggembala ternak) yang merupakan suami dari Samantha (dokter yang menjadi korban penculikan) memaksakan diri untuk ikut walaupun kakinya sedang cidera parah akibat jatuh saat sedang membetulkan dari atap rumahnya. Selain Arthur dan Hunt, seorang perlente yang sangat lihai menembak dengan pistol bernama Brooder, dan seorang kakek tua yang merupakan wakil deputi bernama Chicory juga bergabung dalam tim penyelamatan. Keempat tokoh ini  memiliki karakter yang berbeda-beda dan dibangun dengan cukup apik di sepanjang film ini. Sherif Hunt adalah karakter yang sangat tegas dan karismatik, seorang sherif yang penuh tanggung jawab dan sosok pelindung bagi kota kecilnya. Si kakek tua Chicory sepertinya adalah orang yang mendapat posisi sebagai wakil deputi hanya karena sherif merasa iba kepadanya. Namun ia memiliki semangat kerja dan determinasi yang sangat tinggi, dan sanggup menjalankan tugas dengan sepenuh hati. Brooder adalah seorang rasis yang sangat membenci indian, karakter yang cukup bengis dan brengsek. Ia sangat terobsesi untuk membunuh sebanyak mungkin indian dalam hidupnya, dan kebetulan Brooder memang orang yang paling lihai menembak. Ia merasa tak ada yang sepintar dan semenarik dia di kota Bright Hope. Dan anggota terakhir adalah Arthur, yang memiliki karakter tipikal suami ideal, sangat mencintai istrinya dan rela melakukan apapun demi menyelamatkannya dari tangan kelompok kanibal misterius yang paling brutal di barat.

Jarak menuju The Valley of the Starving Man tidaklah dekat. Mereka harus menempuh perjalanan selama tiga hari melewati padang pasir dan bukit-bukit bebatuan menggunakan kuda dengan kecepatan semaksimal mungkin, dengan harapan ketiga penduduk kota yang ditawan masih hidup saat mereka tiba disana. Namun mereka menghadapi beberapa masalah di sepanjang perjalan yang sulit tersebut. Mulai dari konflik di antara mereka sendiri, ancaman para pencuri kuda yang berkeliaran saat mereka beristirahat di malam hari, hingga kondisi kaki Arthur yang semakin parah. Perjalanan mereka pun tidak terasa bertele-tele bagi penonton. Dan pada saat mereka tiba di tujuan, penonton pun akhirnya diperlihatkan langsung tentang betapa kejam dan gesitnya troglodyte kanibal yang tinggal disana. Memang kelompok troglodyte tersebut hanyalah kelompok kecil, diperkirakan hanya beranggotakan 12 laki-laki dewasa dan 2 perempuan hamil (yang sebenarnya adalah korban kebrutalan kelompok ini juga), tapi harus saya akui kalau mereka memang sangat brutal. Tak hanya itu, serangan mereka sangat akurat, dan mereka pintar mengendap-ngendap.

Film Bone Tomahawk bukanlah film eksploitasi kanibal seperti Cannibal Holocaust (1980), Cannibal Ferox (1981) atau juga Green Inferno (2013), jadi kalian tidak akan disuguhi adegan-adegan berdurasi panjang yang dipenuhi proses-proses amputasi atau penyembelihan manusia lainnya dengan sangat detail. Tapi bagi kalian yang tidak kuat dengan adegan kekerasan dan darah, mungkin akan sedikit menutup mata dalam beberapa bagian di film ini karena film ini memiliki beberapa adegan yang sangat sadis. Bahkan film ini dibuka langsung dengan sebuah adegan penggorokan. Saya tidak akan menceritakan kesemua adegannya disini, namun saya cukup terperanjat dengan kesadisan yang ada di dalam film ini. Terutama saat kita diperlihatkan bagaimana cara kelompok troglodyte kanibal ini mengeksekusi tawanannya. Saya mengapresiasi cara sang sutradara menggambarkan adegan sadis, tidak diperlihatkan secara detail, namun terasa ngilu dan menyakitkannya.

Judul film ini diambil dari nama senjata yang digunakan oleh kelompok troglodyte dalam film ini, yang memang terbuat dari tulang benulang yang diasah menjadi tajam. Untuk yang belum tahu, tomahawk adalah kampak tradisional milik suku indian. Saya pribadi bukanlah penonton setia film-film bertema western, tapi saya sangat menikmati Bone Tomahawk, terutama karena plotnya yang tidak bertele-tele dan cast yang sangat sempurna. Seperti umumnya film kanibal, sepintas kelompok kanibal dalam Bone Tomahawk digambarkan sebagai sekelompok manusia “primitif” yang tinggal jauh dari peradaban modern. Bagi beberapa orang, hal tersebut bisa dibilang sebagai sebuah stigma rasialis, yang menganggap suku pedalaman adalah manusia-manusia barbar dan terbelakang. Namun, Bone Tomahawk membawa pendekatan yang berbeda, yang bisa dibilang menanggalkan stigma tersebut, karena kelompok kanibal dalam film ini tampaknya bukan seutuhnya manusia. Mereka bagaikan hibrida antara manusia dengan monster, atau mungkin juga mutan seperti yang bisa kita temui dalam film-film post-apocalypse seperti The Hills Have Eyes  (1977), namun dengan tema western. Sangat jelas penegasan dalam film ini bahwa kelompok cro-magnon ini bukanlah suku indian. Kelompok ini bahkan berkomunikasi dengan sesamanya hanya lewat lolongan yang sangat menyeramkan dan lebih terdengar seperti lolongan monster. Mungkin mereka memang bukan manusia.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com

 


Posted at : Thu, 12 April 2018
Category : Review