MOVIE REVIEW : BOOK OF BLOOD (2009)


BOOK OF BLOOD
Sutradara: John Harrison
Inggris Raya (2009)

Review oleh Tremor

“Mereka yang telah mati memiliki jalan rayanya sendiri melewati gurun, layaknya lalu lintas tanpa akhir bagi jiwa-jiwa yang telah tiada. Suara-suara mereka bisa terdengar di berbagai tempat di dunia kita, melalui retakan yang terbentuk lewat kekejaman, kekerasan, dan kebobrokan. Mereka memiliki rambu-rambu, jalan raya, perempatan, dan persimpangan, dan pada persimpangan-persimpangan inilah mereka yang telah mati berbaur, dan kadang memasuki dunia kita.”

Begitulah kira-kira narasi yang menjadi prolog dari film Book of Blood, yang mengeksplorasi pandangan yang cukup menarik mengenai kehidupan setelah mati. Menurut saya, narasi tersebut cukup sulit untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Mungkin karena saya bukan seorang penerjemah handal, atau memang kata-kata yang dirangkai oleh Clive Barker sang penulis, akan lebih bagus dalam bahasa aslinya, bahasa Inggris.

Clive Barker adalah salah satu penulis novel yang sangat dikenal dalam dunia horor. Walaupun nama Clive Barker sudah identik dengan horor, namun novel-novel yang ia buat sebenarnya cukup bervariatif, mengeksplorasi dari mulai fabel untuk dewasa, cerita fantasi, hingga tentu saja, horor. Tidak salah kalau Stephen King pernah mengungkapkan: “Saya melihat masa depan dunia horor, namanya adalah Clive Barker.” Dengan latar belakang seorang penulis novel yang memasuki dunia perfilman, ia mampu menelurkan beberapa film ternama. Salah satunya adalah Hellraiser (1987) yang diadaptasi dari novel karyanya sendiri berjudul The Hellbound Heart. Hellraiser yang memperkenalkan karakter yang cukup ikonik dalam dunia film horor (Pinhead dan pasukan Cenobite-nya) ini, kemudian menjadi franchise tersendiri. Tak hanya membuahkan satu ikon horor, film lainnya berjudul Candyman (1992) yang diadaptasi dari cerpen Clive Barker berjudul “The Forbidden”, juga memperkenalkan ikon lainnya, yaitu sosok Candyman. Belum lagi beberapa film lainnya yang juga diadaptasi dari karya Clive Barker seperti Nightbreed (1990) dan Lord of Illusions (1995). Imajinasi Clive Barker selalu membuat saya terpesona. Salah satu karya terbesar Barker adalah sebuah kumpulan cerpen berjudul “Books of Blood” yang dibagi ke dalam 6 volume buku yang pertama kali dirilis antara tahun 1984-1986. Dari beberapa novel dan cerpen horor karya Clive Barker yang pernah saya baca, ditambah dengan film-film adaptasi dari novel-novelnya, sudah jelas seperti apa “dunia” Clive Barker: neraka, kematian, arwah, seksualitas, rasa sakit, penyiksaan, darah, kutukan, iblis, dunia roh, dan penderitaan abadi. Dan film Book of Blood ini berhasil menangkap beberapa elemen yang “Clive-Barker-banget” tersebut.

Sesosok anak muda yang misterius dengan wajah rusak dan kulit penuh bekas sayatan, menjadi korban penculikan. Si penculik mengaku bahwa banyak kolektor yang memesan jasanya memiliki ketertarikan “tak biasa”, dan ia hanya menjalani pesanan saja. Apa yang dipesan oleh salah satu klien-nya kali ini adalah kulit utuh dari tubuh anak muda yang ia culik tersebut. Setelah mengikat korbannya pada sebuah meja khusus dan siap menguliti korbannya, sang penculik kemudian melihat dengan jelas bahwa bukan hanya pada wajah saja, tetapi sekujur tubuh anak muda tersebut penuh dengan sayatan berbentuk tulisan dengan berbagai macam bentuk alfabet. Anak tersebut adalah “Book of Blood”. Sang penculik yang penasaran memaksa korbannya untuk menceritakan tentang tulisan-tulisan pada tubuhnya tersebut. Dari sini, kita dibawa ke awal mula cerita ini melalui flashback.

Rumah Tollington adalah sebuah rumah tua yang cukup legendaris karena banyak kisah mengerikan pernah terjadi di dalamnya. Beberapa orang pernah terbunuh dengan kejam dengan tidak wajar di dalam kamar tidur lantai atas, membuat rumah itu terkenal “berhantu”, dan akhirnya susah untuk dijual atau disewakan. Sepertinya rumah Tollington lebih dari sekedar “berhantu”. Kemisteriusan rumah tersebut akhirnya menarik minat Mary Florescu, seorang profesor parapsychology (ahli yang mempelajari fenomena-fenomena paranormal) asal Amerika yang mengajar di Edinburgh, Skotlandia. Ia juga merupakan seorang penulis buku non-fiksi bertema paranormal yang cukup sukses, dan memiliki ambisi besar untuk mengungkap bukti keberadaan alam supranatural dan dunia roh. Karena rumah Tollington sepertinya memiliki potensi untuk membantu Mary dalam mengungkap misteri dimensi lain, iapun memutuskan untuk melakukan investigasi dan penelitian dalam rumah itu. Mary meminta bantuan asistennya yang pragmatis dan skeptis bernama Reg Fuller untuk menjadi operator berbagai peralatan canggih yang akan digunakannya. Reg yang sepertinya menyukai Mary sejak awal, langsung setuju. Suatu hari kelas Mary kedatangan murid pindahan baru yang pendiam dan misterius, bernama Simon McNeal. Sejak hari pertama kedatangannya, rupanya sosok Simon cukup menarik perhatian Mary. Suatu malam, Simon seakan memprediksi kalau akan terjadi sesuatu pada ban mobil Mary. Benar saja, di dalam perjalanan pulang, ban mobil Mary pecah. Saat itulah Mary menjadi semakin penasaran dengan Simon dan mengajaknya berbicara. Pada Mary, Simon mengaku sebagai anak indigo. Saat masih kecil, Simon pernah meramalkan sebuah kecelakaan mobil yang akan menewaskan kakaknya dengan tragis, dan ramalannya benar terjadi. Mary yang kemudian sangat yakin kalau Simon benar-benar memiliki kemampuan paranormal sejati akhirnya mengajak Simon untuk bergabung dalam tim investigasinya. Mary percaya, Simon bisa menjadi “jembatan” antara dunia orang mati dengan dunia kita.

Tim investigasi Mary kemudian  tinggal di dalam rumah Tollington untuk memulai kegiatan pemantauan dan investigasi. Reg memasang berbagai kamera pengintai, alat pengukur frekuensi dan lain sebagainya, sementara Simon yang secara batin memiliki sensitifitas tinggi diminta untuk mendiami kamar di lantai atas, ruangan dimana semua kejadian mengerikan di masa lalu pernah terjadi. Ruangan tersebut diyakini sebagai pusat dari semua gangguan supranatural yang terjadi pada rumah tersebut. Pada malam pertama tinggal di rumah Tollington, gangguan supranatural langsung terjadi. Kamera pengawas di kamar Simon tiba-tiba mati, dan terdengar suara Simon berteriak-teriak dari dalam kamar. Mary dan Reg yang buru-buru lari ke kamar atas, mendobrak pintu kamar dan menemui isi kamar sudah berantakan dengan Simon menangis ketakutan. Terdapat beberapa luka sayatan pada tubuhnya, dan sebuah tulisan tertulis pada dinding: “I serve hell, and in its turn hell serves me.” Tak lama setelah ditemukan, tulisan tersebut langsung terbakar. Mary sangat percaya kepada Simon, tapi Reg yakin bahwa Simon hanyalah seorang penipu. Jujur saja, sayapun sepemikiran dengan Reg sejak karakter Simon muncul. Saya rasa Simon hanya ingin mencuri hati dosennya. Reg yang curiga bahwa Simon melakukan trik-trik khusus akhirnya mengambil sampel dari tulisan tersebut dan meminta Mary untuk memeriksanya ke lab forensik. Saat hubungan Mary dan Simon tampak makin dekat, Reg semakin yakin bahwa Simon hanyalah seorang penipu yang memperdaya agar Mary jatuh hati. Namun seiring berjalannya waktu, menjadi semakin jelas bahwa memang ada sesuatu yang sangat kuat di dalam rumah Tollington. Tak lama kemudian, investigasi tersebut menjadi semakin tidak terkendali.

Kembali pada narasi awal dalam film ini, rumah ini rupanya merupakan sebuah “persimpangan” dunia orang mati. Mereka yang sudah mati memiliki banyak kisah untuk diceritakan, dan mereka hanya ingin didengar. Roh-roh dari dunia kematian akhirnya memasuki dunia kita lewat Simon, dan mereka menuliskan kisahnya masing-masing lewat sayatan-sayatan tajam tanpa henti di atas tubuh Simon, menjadikannya sebuah buku hidup, book of blood. Kisah-kisah yang mereka tuliskan pada tubuh Simon bisa kita temukan dalam cerpen-cerpen Clive Barker di dalam “Books of Blood” versi buku.

Film ini adalah bentuk adaptasi yang cukup nekat dan beresiko. Bagaimana tidak, dalam buku aslinya, cerita yang diadaptasi menjadi film ini hanyalah merupakan chapter pembuka (chapter berjudul “The Book of Blood”) yang mengambil porsi 12 halaman buku saja, yang dicampur dengan chapter yang berjudul “On Jerusalem Street (A Postcript)”, yang merupakan chapter penutup dari keseluruhan antologi. Kedua chapter tersebut adalah “tulang punggung” dari seri buku antologi cerpen Books of Blood, dimana di antara kedua bab tersebutlah sebanyak 28 cerpen karya brilian Clive Barker diceritakan: kisah-kisah yang disayatkan di atas tubuh Simon. Namun rupanya sang sutradara John Harrison cukup pandai dalam menyulap dan menyatukan dua buah cerita pembuka dan penutup sebuah buku antologi, menjadi satu cerita yang bisa berdiri sendiri. Memang ada beberapa kekurangan dalam film ini, yang saya yakin sangat berhubungan dengan terbatasnya bajet. Tapi ini bukan film jelek. Film Book of Blood memiliki banyak potensi, yang seandainya diolah dengan lebih baik lagi, mungkin akan mendapat apresiasi yang setara dengan Hellraiser.  Seandainya beberapa drama tidak penting antara Mary dan Simon memiliki durasi yang lebih pendek, dan sang sutradara lebih memfokuskan diri pada terbukanya pintu dunia orang mati dalam cerita ini, Book of Blood akan menjadi karya horor yang bakal dikenang oleh para penggemar horor. Film-film adaptasi novel Clive Barker memang bervariasi dalam segi kualitas. Dari mulai yang buruk seperti film Rawhead Rex (1998), hingga yang sangat brilian seperti Hellraiser. Film Book of Blood ini ada di tengah-tengah. Bukan sebuah masterpiece, tetapi bukan juga sampah. Film ini wajib ditonton bagi para penggemar Clive Barker, atau mereka yang ingin mengenal lebih dekat dunia horor Clive Barker.

Trailer:

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com


Posted at : Fri, 08 March 2019
Category : Review