MOVIE REVIEW : BRAINDEAD / DEAD ALIVE (1992)


BRAINDEAD / DEAD ALIVE
Sutradara: Peter Jackson
New Zealand (1992)

Review oleh Tremor

Dead Alive adalah sebuah film splatter-gore komedi yang diproduksi dan disutradarai oleh Peter Jackson. Film ini sangat dikenal di kalangan penggemar film horor dan memiliki pamor sebagai salah satu film paling gore, sekaligus horor komedi paling lucu yang pernah ada. Peter Jackson? Ya kalian benar, Peter Jackson yang itu. Beberapa tahun sebelum dipercaya untuk membuat trilogi Lord Of The Rings (2001-2003), King Kong (2005), hingga trilogi The Hobbit (2012-2014), Peter Jackson memulai karirnya dengan film horor komedi. Film pertamanya yang berjudul Bad Taste (1987), ia buat bersama teman-temannya dengan bajet seadanya. Sudah jelas ini adalah sebuah proyek just for fun. Bad Taste yang merupakan film sci-fi komedi horor menceritakan tentang serangan alien ke bumi yang hendak beternak manusia agar bisa memasok daging ke jaringan franchise fast-food antar galaksi. Dari ide ceritanya, sudah bisa dibayangkan betapa konyol sekaligus briliannya Bad Taste. Brilian, karena siapa pula yang pernah membayangkan adanya jaringan fast-food antar galaksi? Sesuai dengan judulnya, Bad Taste yang secara harafiah artinya mungkin adalah: selera buruk, memang cukup jelek di banyak sisi, dari mulai bentuk alien, special effect hingga plotnya. Bagi saya, Bad Taste masuk ke dalam kategori So Bad, It’s Good, sebuah kiasan yang sulit untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, tapi kira-kira artinya adalah film jelek yang menyenangkan untuk ditonton. Walaupun jelek, Bad Taste memang sangat menghibur. Sejak film tersebut dirilis, tanpa diduga bahkan oleh Peter Jackson sendiri, Bad Taste dengan cepat memperoleh status cult di hati para penggemar horor hingga hari ini. Film horor komedi berikutnya yang ia buat, adalah Dead Alive pada tahun 1992 yang mungkin adalah salah satu film horror Peter Jackson yang paling terkenal yang pernah ia buat. Judul asli film ini sebenarnya adalah BrainDead, tetapi sudah ada film horor lain yang menggunakan judul tersebut, sehingga dipilihlah Dead Alive sebagai judul resminya, walaupun di banyak sekali rilisan masih menggunakan judul BrainDead. Dari segi kualitas produksi dan special effect, Dead Alive jauh lebih bagus, lebih sadis, sekaligus lebih lucu dibandingkan Bad Taste.

Alur cerita film ini sebenarnya cukup sederhana dan tidak rumit. Dead Alive dibuka dengan sebuah ekspedisi pencarian hewan langka yang buas di pulau Sumatra. Makhluk legendaris yang mendiami sebuah pulau misterius di Indonesia tersebut berbentuk setengah monyet, setengah tikus. Tentu saja hewan ini adalah hewan fiktif. Dan jangan harap bakal ada cast orang Indonesia, karena film ini bukanlah film yang seserius itu. Dibantu oleh beberapa orang lokal (yang tidak diperankan oleh aktor Indonesia), hewan monyet-tikus tersebut akhirnya ditemukan dan berhasil ditangkap. Dalam perjalanan, hewan buas itu mengigit tangan sang pemimpin ekspedisi. Para penduduk lokal yang ikut dalam tim ekspedisi pun panik ketakutan, dan segera mengamputasi tangan yang terkena gigitan tersebut. Tentu saja ada yang tidak beres dengan gigitan mahluk itu, yang sudah pasti diketahui oleh para penduduk lokal. Tapi monyet-tikus tersebut akhirnya tetap dikirim ke negara pusat ekspedisi tersebut: New Zealand, ke sebuah kebun binatang yang berlokasi di Wellington.

Kita kemudian diperkenalkan dengan karakter Lionel Cosgrove yang jatuh cinta dengan putri penjaga toko bernama Paquita Maria Sanchez. Lionel adalah seorang pemuda baik-baik yang tinggal berdua saja dengan ibunya yang menyebalkan, sombong dan gila kuasa, di sebuah rumah besar dengan halaman rumput yang terpangkas rapi. Perlu dicatat, ibu Lionel adalah sosok ibu yang dominan, sementara Lionel sangat takut (sekaligus sangat cinta) pada ibunya. Paquita memiliki  nenek yang juga seorang peramal. Sebelum berjumpa dengan Lionel, nenek Paquita meramalkan kalau akan ada cinta sejati yang memasuki kehidupan Paquita, tidak lama lagi. Tentu saja setelah tampak beberapa pertanda yang harafiah pada kehadiran Lionel, Paquita sangat yakin kalau Lionel adalah pangeran yang telah diramalkan. Paquita pun mulai mendekati Lionel, dan memberi ide untuk berkencan ke kebun binatang. Ibu Lionel yang tak suka anaknya dekat-dekat dengan perempuan, diam-diam membuntuti mereka berdua ke kebun binatang. Dalam proses memata-matai itulah ibu Lionel kemudian digigit oleh monyet-tikus asal Sumatra. Sang ibu pun akhirnya dibawa pulang ke rumah, dan luka gigitan di tangannya mulai dirawat. Dalam semalam, perilaku serta fisik sang ibu pun mulai berubah menjadi agak janggal, dan semakin janggal. Di sinilah berbagai momen yang tak terlupakan dari film Dead Alive dimulai, dari plot-plot lucu hingga pesta zombie, isi perut dan darah.

Selama sisa film ini, kita disuguhi dengan peleburan sebuah genre komedi, yang digabungkan dengan tema infeksi zombie, hingga pada klimaks film ini yang penuh dengan kekacauan. Dead Alive bukanlah film zombie dengan plot yang standar itu-itu saja, dan bukan pula film komedi yang mengandalkan kekonyolan slapstik belaka. Mungkin itulah sebabnya mengapa saya sangat menyukai film ini dan akan selalu merekomendasikannya kepada siapapun berulang kali. Saya pribadi bukan penggemar film komedi berjenis slapstick, apalagi komedi yang hanya mengandalkan mimik wajah tolol. Ambil contoh, Evil Dead II (1987) dan sekuelnya Army of Darkness (1992). Kedua film tersebut adalah film horor komedi dengan unsur slapstik yang sangat kuat. Saya sangat menyukai trilogi Evil Dead, tapi saya tidak pernah menganggap aksi Ash terpeleset ala Charlie Chaplin, beserta mimik-mimik konyol Ash itu lucu. Beruntung, Dead Alive memiliki pendekatan komedi yang jauh lebih lucu karena tidak terlalu didominasi dengan unsur slapstik, tetapi juga mengandalkan dialog beserta rentetan kejadian yang tak kalah lucu. Bagi saya pribadi, itu adalah hal yang brilian dalam film komedi. Membuat orang tertawa bukan hanya lewat adegan terpeleset atau mimik dungu, adalah cerdas. Tak hanya lucu, banyak dari dialog dalam Dead Alive juga sangat memorable. Kalau dipikir-pikir, film ini jauh lebih mengundang tawa dibandingkan dengan Evil Dead II digabungkan dengan Army of Darkness sekaligus.

Ada terlalu banyak adegan ikonik dalam film ini, dari yang paling menjijikan hingga yang paling lucu. Terlalu banyak untuk diringkas dalam satu ulasan saja. Dari mulai potongan telinga yang jatuh ke dalam semangkuk bubur, dokter nazi sinting, bayi zombie, zombie yang diblender, zombie tersedak sendok, hingga usus pembunuh, film ini melampaui harapan siapapun soal film gore, dan film komedi. Dengan bajet yang cukup murah, Dead Alive sama sekali tidak memiliki kekurangan di bidang special effect-nya. Peter Jackson menggunakan bermacam-macam bahan sintetis dan prostetik untuk mencapai efek gore yang sangat realistis dan organik, sesuatu yang saya sangat suka dari film horor. Untuk mengimbangi efek gore realistis lewat prostetik, ia juga menggunakan efek-efek stop-motion dan boneka (puppet) untuk memperkuat sisi konyolnya.

Dead Alive memang dibuat bukan dengan tujuan untuk menakut-nakuti penontonnya. Dengan sengaja Peter Jackson mencampurkan komedi dengan darah dan isi perut; aspek humor dengan elemen menjijikan; kekonyolan dengan hal menyeramkan. Darah, nanah, tubuh-tubuh terputus, dan adegan-adegan gore ala film-film Herschell Gordon Lewis, dicampur dengan komedi, membuat perpaduan ini menjadi seperti hidangan yang kaya akan rasa.  Selama menonton film ini, kalian mungkin harus menahan mual sambil menahan tawa secara bersamaan. Akhir kata, Dead Alive adalah sebuah karya yang cerdas, ultra-violent, lucu, sekaligus menjijikkan.

Entah sudah berapa kali saya menonton ulang Dead Alive, dan saya tetap tertawa di banyak adegan, sambil ikut mengucap ulang beberapa dialog ikonik dalam film ini. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Kalian akan tertawa, tersenyum, merasa sedikit jijik, tetapi pada akhirnya (semoga) kalian bisa ketagihan. Saya pribadi (dan mungkin juga semua penggemar horor) sangat mengharapkan suatu hari Peter Jackson kembali ke genre ini walaupun untuk sekedar iseng. Kalau Sam Raimi bisa membuat Drag Me To Hell setelah sukses dengan film-film Spiderman, mengapa Peter Jackson tidak bisa? Cara terbaik untuk menonton Dead Alive adalah menontonnya beramai-ramai dengan sekelompok teman, karena memang berbagi “sensasi Dead Alive” bersama teman-teman dekat akan jauh lebih menyenangkan. Dead Alive adalah salah satu film horor yang selalu saya rekomendasikan pada siapapun, dan selalu ada dalam daftar top ten film horor favorit saya.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com


Posted at : Thu, 02 May 2019
Category : Review