MOVIE REVIEW: CREEPSHOW (1982)


CREEPSHOW
Sutradara: George A. Romero
USA (1982)

Review oleh Tremor

Betapa penasarannya saya saat beberapa bulan lalu membaca pengumuman di sebuah media online, bahwa jaringan televisi Amerika AMC akan membangkitkan kembali salah satu film antologi horor favorit saya dari kubur, sebagai sebuah serial TV. Namun kabar tersebut masih berupa rencana saja pada saat itu, dan sayapun tidak mengikuti lagi perkembangannya. Hingga sekitar satu minggu yang lalu, berbagai akun horor di instagram memviralkan foto sesosok “hantu” yang mengintip dari balik jendela. Foto tersebut pertama kali diunggah oleh Greg Nicotero (seorang ahli special effect/make-up sekaligus produser serial The Walking Dead sejak 2013) sebelum kemudian diviralkan oleh banyak sekali akun horor. Sosok dalam foto tersebut tak lain adalah the Creeper, sesosok hantu berkain putih dan berwajah seram yang merupakan ikon dari film antologi horor berjudul Creepshow (1982). Sementara Greg Nicotero sendiri adalah orang yang ditunjuk oleh AMC untuk memproduseri, menyutradarai, sekaligus supervisi serial Creepshow yang sedang diproduksi ini. Diunggahnya foto tersebut merupakan selebrasi dari Nicotero yang menandakan bahwa episode pilot Creepshow sudah rangkum. Hal ini sekaligus menjawab penantian para penggemar film horor, bahwa serial Creepshow sudah dipastikan akan segera tayang -secara ekslusif- lewat sebuah jasa streaming khusus horor bernama Shudder milik AMC. Saat itu juga saya tahu bahwa saya harus menulis review dari Creepshow (1982). Agar tidak membingungkan, mulai dari kalimat ini semua yang kata “Creepshow” yang saya ketik mengacu pada film antologi yang dirilis pada tahun 1982, dan bukan mengacu pada Creepshow versi serial TV milik Shudder/AMC.

Creepshow (1982) adalah sebuah antologi film horor ringan yang menurut saya cukup penting dalam legasi kultur horor dunia. Disutradarai oleh seorang sutradara yang sudah tidak asing lagi: George Romero (RIP), sang bapak zombie, yang sangat dikenal lewat film-film seperti “Trilogy of the Dead”: Night of the Living Dead (1968), Dawn of the Dead (1978), dan Day of the Dead (1985), serta beberapa film horor non-zombie seperti The Crazies (1973) dan Martin (1978). Dalam Creepshow, ia berkolaborasi dengan seseorang penulis yang bukan sembarang penulis. Ia adalah sang raja horor sendiri: Stephen King. Stephen King adalah penulis fiksi favorit saya (dan mungkin favorit semua orang). Hampir semua novel buatan King yang kemudian dijadikan film, kebanyakan berujung dengan kesuksesan besar. Sebut saja beberapa film yang mengadaptasi novel-novel King seperti Carrie (1976), The Shining (1980), The Dead Zone (1983), Pet Sematary (1989), miniseri It (1990), Misery (1990), hingga beberapa yang paling baru seperti It (2017), Gerald’s Game (2017) dan 1922 (2017). Belum lagi film-film non-horor seperti Stand By Me (1986), The Shawshank Redemption (1994) yang menduduki rating tertinggi di IMDB, dan The Green Mile (1999). Nah, kalau biasanya novel atau cerpen buatan Stephen King kemudian diadaptasi menjadi film, dalam Creepshow untuk pertama kalinya Stephen King justru menulis secara khusus UNTUK dijadikan film, dan ini sekaligus menjadi debutnya menulis screenplay. Selain George Romero dan Stephen King, ada nama lain di balik tim pembuat Creepshow yang sama-sama tidak asing, minimal untuk para penggila film horor 80-an, era sebelum CGI (efek special buatan komputer) merajarela dalam film horor; era dimana efek-efek dalam film horor masih banyak dibuat menggunakan make-up, boneka, darah palsu, hingga robot. Ia adalah Tom Savini, seorang ahli special effect paling jenius dalam dunia film horor pada masanya, dan namanya menjadi legenda tersendiri bagi para pencinta film horor. Savini adalah orang yang bertanggung jawab atas semua penerapan practical effect zombie, kepala pecah, rahang lepas, isi perut terburai, dan lain sebagainya dalam beberapa film horor 80-an. Karyanya bisa dilihat dalam film-film seperti Martin (1978), Friday The 13th (1980), Maniac (1980), The Prowler (1981),  hingga semua tubuh manusia yang terpisah dan semua zombie dalam Day of the Dead (1985). Karena Tom Savini pulalah, saya menjadi seorang pengapresiasi film-film horor yang masih menggunakan efek-efek praktikal/prostetik, dan bukan CGI. Kalau kalian penasaran dengan wajahnya, kalian bisa lihat Tom Savini sebagai cameo dalam epilog Creepshow, dimana ia berperan sebagai salah satu pengangkut sampah.

Satu lagi hal yang perlu dicatat, Creepshow adalah sebuah homage yang dipersembahkan pada kultur komik horor pulp tahun 50-an seperti seri Tales From The Crypt dan Vault of Horror, dimana pada jamannya komik horor semacam itu dianggap murahan, tidak berbudaya, tidak mendidik dan dianggap sampah oleh kebanyakan orang tua. Komik-komik seperti itu biasanya berisikan beberapa cerita pendek horor lintas genre yang memiliki ke-khas-an tersendiri, dan seringkali dibuka oleh satu (atau lebih) “host” yang berfungsi sebagai pengantar cerita. Host dalam komik-komik horor ini biasanya berwujud seram, dari mulai nenek sihir sampai hantu. Dalam Creepshow, host-nya adalah sosok yang sudah saya sebut sebelumnya: the Creeper yang ikonik. Ia tidak memiliki dialog, dan hanya berperan sebagai pengantar cerita saja di setiap segmen dalam Creepshow. Tak hanya itu, pengaruh kuat gaya komik juga bisa kita lihat dalam beberapa adegan di Creepshow.

Creepshow yang berisi 5 segmen cerita pendek ini, dibuka dengan sebuah prolog dimana seorang laki-laki bernama Stan sedang memarahi sambil menyita sebuah komik horor milik anaknya yang bernama Billy (diperankan oleh anak kandung Stephen King bernama Joe Hill , yang juga berprofesi sebagai penulis fiksi sekarang). Buku komik yang berjudul Creepshow itu kemudian dibuang ke dalam tong sampah oleh Stan. Tentu saja Billy tidak menyukai tindakan ayahnya tersebut. Saat Billy yang masih kesal duduk sendirian dalam kamarnya, petir menyambar-nyambar di luar. Saat itulah sosok The Creeper mengetuk kaca jendela kamar dan kedatangannya membuat Billy kegirangan. Tentu saja ia mengenali the Creeper dari komik Creepshow yang baru dibuang oleh ayahnya. Mulai dari sini, the Creeper mengantar penonton memasuki satu persatu cerita dalam “komik” Creepshow.

Cerita pertama yang berjudul “Father’s Day”, adalah cerita original yang ditulis oleh Stephen King khusus untuk Creepshow, yang menceritakan tentang seorang kepala keluarga yang bernama Nathan Grantham yang telah lama meninggal dan dimakamkan. Ia bangkit dari kubur pada “hari ayah” untuk melihat apakah ia bisa mendapatkan kue “hari ayah” dari keluarganya, termasuk dari anak perempuannya, Bedelia. Segmen pertama ini adalah sebuah permulaan yang sempurna untuk memperlihatkan bahwa Creepshow adalah film antologi yang fun dan tidak perlu dianggap terlalu serius.

Merupakan sebuah tradisi dimana Stephen King sendiri seringkali menjadi cameo dalam beberapa film yang melibatkan namanya. Dalam cerita kedua yang berjudul “The Lonesome Death of Jordy Verrill”, Stephen King berperan dengan sangat komikal sebagai seorang petani lugu yang menemukan sebuah meteorit jatuh di halaman belakangnya. Tanpa disadari, meteorit tersebut kemudian menginfeksi sang petani. Tubuhnya mulai bertransformasi secara perlahan. Cerita ini diangkat dari cerpen Stephen King yang berjudul asli “Weeds” (diterbitkan dalam sebuah majalah pada tahun 1976). Wajah Leslie Nielsen (pemeran utama dalam film komedi Naked Gun) bisa kita jumpai dalam cerita ketiga yang berjudul “Something to Tide You Over”. Leslie berperan sebagai Richard Vickers, seorang psikopat kaya raya yang diselingkuhi oleh istrinya. Ia kemudian membalas dendam dengan cara mengubur tubuh istrinya hidup-hidup hingga sebatas leher di pinggir pantai pribadi miliknya. Richard pun memasang CCTV agar bisa merekam bagaimana istrinya mati ditenggelamkan oleh pasang laut, dan memperlihatkan rekaman tersebut pada kekasih gelap istrinya yang juga ia kubur hingga batas leher di pantai. Namun itu hanya permulaan saja, karena kedua korban Vickers kemudian bangkit dari kematian dalam bentuk variasi mayat hidup yang rasanya belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah film horor.

Cerita berikutnya, “The Crate”, diangkat dari cerpen Stephen King lainnya yang juga hanya diterbitkan dalam sebuah majalah pada tahun 1979. Dalam segmen ini, diceritakan tentang seorang penjaga kebersihan kampus bernama Mike yang secara tidak sengaja menemukan sebuah peti kayu tua bertuliskan “Arctic Expedition June 1834” tersembunyi di salah satu pojok gelap bangunan kampus. Setelah melaporkan penemuannya pada salah satu profesor di kampus tersebut, peti itupun mereka buka. Sesuatu yang selama ini terperangkap di dalam peti kemudian melahap Mike.

Cerita ke-lima, “They’re Creeping Up on You”, merupakan segmen penutup yang sempurna. Segmen ini adalah yang paling berkesan, paling sulit untuk dilupakan, sekaligus menjadi bukti kehebatan Stephen King, George Romero dan Tom Savini dalam hal menakut-nakuti penonton dengan cara yang paling sederhana. Upson Pratt adalah seorang pengusaha lalim, bengis dan selalu berpikiran negatif yang memiliki phobia terhadap kontaminasi dan kuman. Karena rasa takutnya tersebut, ia sangat terobsesi dengan kehigenisan. Pratt yang selalu mengenakan sarung tangan dan selop ini tinggal dalam sebuah apartemen penthouse yang sangat ia jaga kebersihannya dengan berbagai alat kendali yang canggih dan serba elektronik agar apartemennya tetap steril dari hal-hal yang menurutnya menjijikan. Hingga suatu malam, gedung tempat ia tinggal mengalami padam listrik yang ikut mematikan semua sistem keamanannya. Tentu saja yang terjadi kemudian adalah Pratt harus menghadapi rasa takutnya yang paling besar, serangan kontaminasi yang diwakili oleh ribuan ekor jenis serangga yang paling dianggap “menjijikkan” oleh kebanyakan orang: kecoa. Segmen ini ditutup dengan sebuah adegan yang paling mudah untuk dikenang dan sangat cocok untuk dijadikan sebagai terapi bagi mereka yang takut dengan kecoa.

Masing-masing cerita dalam Creepshow sangat berbeda satu sama lain, dan kesemuanya sama-sama fun dan ringan untuk ditonton. Jangan membayangkan menonton Creepshow seperti menonton film The Excorcist atau Suspiria. Tagline Creepshow yang berbunyi “The most fun you’ll ever have being scared” tidaklah berlebihan, karena memang perasaan fun itulah yang ditawarkan layaknya membaca buku komik horor 50an. Creepshow juga membuktikan betapa bertalentanya Stephen King sebagai penulis. Ia tidak hanya sanggup menulis cerita drama sebagus Shawshank Redemption, cerita horor murni seseram Pet Sematary dan IT, ataupun cerita horor psikologis seperti The Shinning, tetapi ia juga sanggup menulis cerita-cerita ringan yang bisa membawa perasaan riang setelahnya seperti yang ia tulis untuk Creepshow. Screenplay yang ditulis oleh King sanggup menggabungkan humor dengan horor, sementara penyutradaraan Romero sanggup menerjemahkan kekuatan screenplay ke bentuk visual. Ditambah dengan pencahayaan  beserta efek latar dramatis yang sureal dan penuh warna ala buku komik, menjadikan Creepshow memiliki atmosfer horornya sendiri yang berbeda dari film horor lain. Layaknya makanan ringan, Creepshow adalah sebuah sajian horor ringan dimana kedua ikon dunia hiburan horor (Romero – King) berkesempatan untuk memberikan penghargaan tertinggi mereka pada komik-komik horor yang mungkin pernah menemani masa remaja mereka berdua. Hal menarik dan memang sudah sewajarnya dilakukan adalah, tak lama setelah film ini dirilis adaptasi film Creepshow dalam bentuk komikpun ikut dirilis, menjadikannya sebuah buku komik yang banyak dicari dan pantas untuk dikoleksi bagi para penggemar kultur horor.

Kembali ke soal rasa penasaran saya pada kebangkitan Creepshow menjadi serial TV, sejujurnya saya tidak ingin menaruh harapan terlalu tinggi pada serial TV yang akan dirilis tersebut. Dilihat dari foto The Creeper yang baru, saya rasa AMC ingin menjadikan Creepshow sebuah serial horor serius yang benar-benar menawarkan horor tanpa fun. Saya tidak masalah dengan itu. Kita tunggu saja. Bagaimanapun, antologi horor berisi cerita-cerita pendek dengan tema yang bervariasi tentunya akan tetap menarik dan menghibur untuk disimak.

 

 

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com


Posted at : Thu, 21 February 2019
Category : Review