MOVIE REVIEW : DRAG ME TO HELL (2009)


DRAG ME TO HELL
Sutradara: Sam Raimi
USA (2009)

Review oleh Tremor

Setelah sibuk dengan megaproyek trilogi Spiderman (2002-2007), pada tahun 2009 sutradara Sam Raimi kembali ke sesuatu yang sanggup ia lakukan dengan sangat baik: menghibur kita lewat sebuah perpaduan antara horor menjijikkan dengan komedi, yang mengingatkan kita semua pada awal karir Raimi, yaitu Trilogi Evil Dead (1981-1992). Bersama kakaknya, Ivan Raimi, Sam Raimi membuat film yang akan menjadi calon film horor klasik baru yang akan terus ditonton ulang oleh para penggemar horror di masa mendatang, sebuah film horor yang sangat fun berjudul Drag Me To Hell, yang merupakan hal terbaik yang dilakukan Sam Raimi sejak The Evil Dead.

Drag Me To Hell bercerita tentang seorang petugas bank bagian pinjaman yang bernama Christine. Dia adalah gadis yang cerdas dan ambisius, walaupun sedikit demi sedikit kita akan mengetahui bahwa Christine adalah karakter yang sangat insecure dengan masa lalunya sebagai gadis petani dari desa, namun ia selalu terlihat sebagai sosok yang percaya diri dan optimis di depan umum. Christine juga memiliki kekasih yang sempurna dan baik hati bernama Clay, seorang profesor psikologi muda yang cerdas, selalu mendukungnya di berbagai kesempatan, dan sangat mencintainya. Christine memiliki karir yang cemerlang, hingga ia sangat yakin bahwa dirinya akan segera dipromosikan untuk naik jabatan sebagai asisten manajer. Namun ternyata ia memiliki pesaing di tempat kerjanya, seorang pekerja baru bernama Stu yang senang mencari muka ke atasannya. Kepada Christine, sang manajer mengatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan salah satu dari Stu dan Christine untuk menjadi asisten manajer. Alasan mengapa atasannya tersebut ikut mempertimbangkan Stu adalah karena walaupun baru bekerja disitu, Stu dinilai sebagai orang yang sanggup mengambil keputusan sulit, sementara kita tahu, Stu adalah seorang penjilat. Merasa tertantang dan ingin mengalahkan Stu dalam persaingan ini, Christine meyakinkan manajernya bahwa ia pun bisa mengambil keputusan sulit. Tak butuh waktu lama hingga kesempatan untuk membuktikan hal tersebut datang.

Seorang nenek gipsi tua setengah buta yang tampak menyeramkan, bernama nyonya Ganush, duduk di depan meja Christine. Rupanya rumah dan harta benda nyonya Ganush akan segera disita oleh bank karena ia memiliki tunggakan utang yang belum dibayar. Kepada Christine, nyonya Ganush meminta tolong agar bisa diberikan keringanan penambahan tenggang waktu. Keputusan untuk membantu nyonya Ganush sepenuhnya ada di tangan Christine, namun kita semua bisa menebak apa keputusan yang akan ia ambil. Sebenarnya Christine adalah orang yang berhati baik. Ia merasa iba dan ingin membantu nyonya Ganush. Tapi Christine memiliki ambisi: membuktikan kepada manajernya bahwa dirinya sanggup mengambil keputusan sulit sama seperti Stu. Tak ada alasan lain bagi atasannya itu untuk tidak memberikan posisi asisten manajer kepada Christine. Tak ingin terlihat lunak di depan manajernya, akhirnya Christine menolak membantu hingga nyonya Ganush berlutut dan memohon. Namun Christine tidak menyerah. Karena kemudian Nyonya Ganush membuat kegaduhan, pihak keamanan bank pun meminta nenek itu untuk pergi, dan ia sangat marah besar karena merasa sudah dipermalukan di depan umum oleh Christine. Bank tempatnya bekerja akan mendapat keuntungan besar lewat penyitaan rumah, sang manajer akan bangga pada dirinya, dan akan memberikan posisi asisten manajer pada dirinya. Begitu pikir Christine. Tapi ia akan segera menyesali keputusannya tersebut.

Yang tidak Christine ketahui adalah, nyonya Ganush adalah seorang nenek gipsi yang gemar mengutuk. Kaum Gipsi memang kadang identik dengan ilmu hitam dan kutukan, minimal itulah stereotip yang sering kali disematkan pada kaum gipsi di berbagai film dan buku. Sakit hati merasa sudah dipermalukan di depan umum, ditambah frustrasi akan kehilangan tempat tinggal, nyonya Ganush pun mendatangi dan menyerang Christine di tempat parkir bawah tanah. Christine tidak tinggal diam, ia melawan sekuat tenaga, hingga akhirnya nyonya Ganush mengutuk Christine, menjanjikan bahwa Christine akan menderita dan dalam waktu dekat Christine akan datang kepadanya untuk balik memohon pertolongan. Lalu Christine pingsan tak sadarkan diri.

Hari berikutnya, Christine mulai mendengar suara-suara dan melihat hal-hal aneh serta mengerikan. Kekasihnya, Clay yang adalah seorang psikolog sekaligus seorang skeptis, tidak mempercayainya. Clay berusaha menjelaskan dengan logika bahwa apa yang dialami Christine adalah bentuk trauma pasca diserang yang dilakukan nyonya Ganush. Tapi Christine tahu bahwa yang ia rasakan adalah lebih dari itu. Christine tidak gila. Hingga akhirnya Christine bertemu dengan seorang paranormal berdarah India bernama Rham Jas yang tiba-tiba ketakutan saat hendak membaca garis tangannya. Karena penasaran dengan semua gangguan yang ia alami, Christine pun kembali kepada Rham Jas dan memohon agar ia mau menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kutukan gipsi kuno yang dilakukan oleh nyonya Ganush rupanya bukan hal sepele, karena nyonya Ganush telah membangkitkan setan bernama Lamia untuk mengambil Christine. Selama tiga hari ke depan, Lamia akan meneror Christine, hingga pada hari ketiga setan Lamia akan benar-benar datang menjemput untuk menyeretnya (secara fisik) ke alam neraka. Christine memiliki tiga hari untuk mencari tahu bagaimana cara menghentikan Lamia, dan ia pun mencoba semua cara yang direkomendasikan Rham Jas.

Drag Me To Hell adalah sebuah film horor bagus yang sudah pasti akan menjadi karya horor klasik suatu hari nanti, sama seperti kita melihat The Evil Dead hari ini. Sebelum Drag Me To Hell, terakhir kali Sam Raimi membuat film horror adalah Army of Darkness (1992) yang merupakan film ketiga dalam trilogi The Evil Dead. Absen selama 2 dekade rupanya tidak melunturkan ciri khas Raimi dalam membuat film horror: lucu, menjijikkan dan tentu saja fun. Banyak momen horor yang menjijikkan dan over-the-top dalam Drag Me To Hell. Tapi momen-momen “menakut-nakuti-penonton” dalam film ini meninggalkan rasa yang menyenangkan, bukan rasa tidak nyaman. Kalau kalian ingin merasakan perasaan jijik dan ngeri sambil tertawa bersama teman-teman, tentu saja Drag Me To Hell adalah pilihan yang tepat. Itulah salah satu alasan mengapa film ini bisa saya sebut cukup berhasil sebagai film horor komedi ala Raimi, karena tujuan utamanya bukanlah untuk meninggalkan mimpi buruk, tetapi untuk menghibur penonton. Banyak momen dalam film ini yang juga membuat saya tersenyum. Film ini juga tidak melupakan bagian-bagian komedi yang sangat klasik-Sam-Raimi-banget, ala Evil Dead. Salah satu ciri khas Raimi lainnya yang membuat saya girang saat muncul dalam film Drag Me To Hell adalah desain suara setan yang dipenuhi dengan penggabungan berbagai macam suara dicampur dengan tawa dan jeritan-jeritan gila yang, sekali lagi, Sam-Raimi-Banget. Belum lagi saat salah satu paranormal yang membantu Christine mulai kerasukan, seakan adegan tersebut diambil langsung dari universe-nya The Evil Dead. Bukan hanya itu saja, hampir segala sesuatu dalam film ini memperlihatkan ciri khas Raimi yang klasik, dari mulai dari scoring, title sequence, teks kredit yang retro, desain setan Lamia, hingga sosok nyonya Ganush yang menyeramkan. Senang rasanya mengetahui bahwa Raimi tetap setia pada akar horror-nya, tetap mempertahankan nuansa Evil Dead yang otentik dalam sebuah film yang lebih modern dengan cerita yang sama sekali berbeda. Mungkin satu-satunya hal yang (sayangnya) hilang dari Drag Me To Hell adalah tampilnya Bruce Campbell (pemeran Ash dalam Evil Dead) sebagai cameo. Bayangkan kalau itu terjadi!

Alur cerita film ini sangat sederhana dan mungkin ending film ini bisa ditebak sejak awal bagi kalian yang cukup jeli. Namun untuk sebuah film yang sangat menghibur seperti ini, poin utamanya bukanlah pada tujuan akhir (ending), melainkan perjalanan menuju ke sana. Menonton (dan berteriak) berramai-ramai sangat dianjurkan. Saya ingat perasaan saya waktu pertama kali menonton Drag Me To Hell sepuluh tahun yang lalu. Sungguh menyenangkan saat menyadari bahwa Raimi kembali meramaikan dunia film horor lewat Drag Me To Hell dengan ide yang benar-benar orisinal kala itu, tahun dimana industri film horor sudah mulai dibanjiri dengan film-film horor re-make, re-boot dan sequel yang membosankan seperti re-boot Halloween II milik Rob Zombie, re-boot Friday the 13th, remake The Grudge yang ke-3, The Uninvited (remake dari film korea A Tale of Two Sisters) hingga sequel ke-enam film Saw (bayangkan, 6 film! Sepertinya dua film Saw pertama sudah lebih dari cukup), yang kesemuanya dirilis pada tahun yang sama dengan Drag Me To Hell.

Walaupun dibuat dengan modern dengan setting waktu pada jaman sekarang, namun film ini banyak mengandung unsur nostalgianya, mengingatkan kita pada film-film horor 80-an yang seringkali tampak konyol dan berlebihan, tetapi selalu seru dan menghibur untuk ditonton. Kunci dari menonton film horor semacam Drag Me To Hell adalah, berserah diri, dan kalian akan menemukan sebuah film horor yang bagus. Kalau kalian tetap bersikeras untuk menggunakan logika saat menonton, maka kalian akan melewatkan banyak momen menyenangkan dari film ini sama seperti saat kalian terlalu banyak berpikir dan merenung di dalam sebuah pesta. Lagipula Drag Me To Hell bercerita tentang kutukan gipsi, neraka dan setan berkepala menyerupai kambing, jadi realisme dan logika sama sekali tidaklah diperlukan. Nikmati saja. Satu-satunya komplain minor dari saya dari film ini adalah penggunaan CGI yang sangat kelewat sederhana dan tampak tidak dikerjakan dengan serius. Seandainya Sam Raimi memutuskan untuk lebih banyak menggunakan prostetik dan make-up dalam penggunaan special effect, tentu saja akan lebih baik. Tapi mungkin itu hanya karena selera saya yang berbeda saja, dan saya pun kembali ke saran saya sendiri: nikmati saja.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com

 


Posted at : Fri, 29 March 2019
Category : Review