MOVIE REVIEW: EPITAPH (2007)


EPITAPH (Gidam)
Sutradara: Beom-sik Jeong & Sik Jung
Korea Selatan (2007)

Review oleh Tremor

Epitaph adalah semacam film antologi horor asal Korea Selatan yang berisi 3 cerita lepas yang saling bersinggungan (ketiganya melibatkan beberapa lokasi yang sama dalam rentang waktu yang hampir berurutan), tapi tidak benar-benar berkaitan satu sama lain. Film ini dibuka pada tahun 1979 dengan karakter Dr. Park Jung-Nam, seorang profesor tua yang mendapat berita bahwa rumah sakit Anseng, tempat dimana ia pernah magang saat masih menjadi mahasiswa kedokteran dulu, akan dihancurkan. Sambil membuka album foto lama dari masa itu, ia kembali teringat pada empat malam yang pernah merubah hidupnya selama-lamanya. Melalui kilas balik, kitapun dibawa kembali ke RS Anseng di kota Gyeongseong  (nama lama kota Seoul sebelum tahun 1945), Korea Selatan pada tahun 1942 saat Korea masih berada di bawah pendudukan kolonial Jepang.

Kisah pertama melibatkan Jung Nam saat masih muda sebagai mahasiswa magang di RS Anseng. Jung Nam yang cukup dekat dengan direktur rumah sakit tersebut, dijodohkan untuk menikah dengan anak gadis sang direktur. Masalahnya, Jung Nam tidak mengenal calon istrinya. Mereka hanya pernah bertemu satu kali saja saat keduanya masih kecil, sebelum gadis itu pindah ke Jepang kemudian. Wajah calon istrinya saja ia tidak ingat. Wajar kalau Jung Nam tidak terlalu excited dengan ide tersebut. Tapi ia tidak bisa juga menolaknya karena direktur rumah sakit sudah seperti orang tua angkatnya sendiri. Jung Nam juga kelihatannya tidak terlalu menikmati magang di RS. Ia masih belum kuat saat harus membantu proses autopsi, dan juga sedikit ketakutan saat ditugasi menjaga kamar mayat. Tapi rasa takut Jung Nam mulai hilang saat mayat seorang gadis cantik korban bunuh diri dibawa dan disimpan di kamar mayat tersebut. Jung Nam sangat mengagumi kecantikan mayat gadis tersebut dan mulai mengunjunginya setiap malam. Saya tidak ingin menuliskan kelanjutan ceritan pertama ini di sini, yang pasti kisah ini bukanlah kisah necrophilia biasa. Sesuatu yang bersifat supernatural dan berhubungan dengan cinta, mengambil peran cukup besar di dalam segmen ini.

Dilanjut dengan cerita kedua dalam Epitaph yang dimulai saat seorang gadis kecil dengan tubuh penuh darah dibawa ke RS Anseng. Nama gadis itu adalah Asako, dan ia adalah satu-satunya korban selamat dari sebuah kecelakaan mobil yang merenggut nyawa ibu dan ayah tirinya. Ajaibnya, tidak ada satupun luka di tubuh Asako. Ia berteriak-teriak histeris sejak dibawa ke RS, diduga karena mengalami shock. Malam itu juga, Asako mulai didatangi mimpi-mimpi buruk yang sangat mengerikan, dari mulai kedatangan (hantu) ibunya hingga bentuk-bentuk penampakan lainnya. Seorang dokter (bernama Soo-In) di RS Anseng sangat prihatin dengan kondisi mental Asako, yang ia yakini sangat terpukul secara psikologis. Ia yakin mimpi buruk-mimpi buruk Asako datang dari perasaan bersalah dan rasa kehilangan. Dengan tujuan untuk membantu dan simpati dengan Asako, dokter Soo-In mencoba menggali akar permasalahan dari penampakan-penampakan yang Asako lihat, hingga akhirnya terungkap dari mana perasaan bersalah Asako datang. Menurut saya, cerita tentang Asako (cerita kedua) adalah yang paling mengerikan di sisi supernaturalnya, sekaligus paling menarik karena cerita ini mencoba menggunakan konsep yang kurang banyak dieksplorasi dalam film horor asia seperti rasa bersalah dan electra complex (istilah psikoanalisis yang digunakan untuk menggambarkan perasaan romantis tertentu seorang gadis terhadap ayahnya, dan menimbulkan perasaan benci terhadap ibunya. Kalau pada anak laki-laki, istilahnya adalah oedipus complex). Ditambah dengan performa aktris cilik pemeran Asako yang memainkan perannya dengan sangat baik.

Cerita ketiga bercerita mengenai pembunuh berantai yang berkeliaran. Korban pertamanya adalah seorang tentara Jepang yang dibawa ke RS Anseng untuk diotopsi. Dokter Kim In-Young (dibantu Jung Nam muda) adalah seorang dokter perempuan yang melakukan otopsi tersebut, yang hasilnya langsung dilaporkan kepada komandan tentara Jepang setempat. Selang satu malam, terjadi pembunuhan lainnya dengan korban seorang prajurit Korea yang masih sangat muda. Otoritas Jepang mulai kebingungan, karena kini sudah jelas pembunuhan tidak hanya meneror tentara Jepang, tetapi juga tentara Korea. Apa motifnya? Semua korban pembunuhan juga mati dengan cara yang sama, ditusuk berulang kali dengan sangat brutal. Suami dokter In-Young juga seorang dokter sekaligus dosen, bernama Dr. Dong Won Kim. Singkat cerita, Dong Won mencurigai pembunuh berantai yang berkeliaran tersebut adalah istrinya sendiri, Dr. In Young. Semuanya menjadi semakin aneh saat Dong Won mulai menyadari kalau istrinya tidak memiliki bayangan. Hingga sampai ia menemukan (atau lebih tepatnya mengingat) sebuah kebenaran yang mengerikan tentang istrinya, sekaligus tentang dirinya sendiri. Lagi-lagi ini kisah tentang cinta yang dibalut dengan teror dan banyak darah. Film ini kemudian ditutup dengan epilog kembali ke Dr. Jung-Nam tua dengan album foto tuanya, dimana kemudian ia bertemu dengan sebuah sosok dari masa lalunya.

Memang ada banyak adegan seram dalam film ini, terutama penampakan-penampakan di cerita Asako. Tapi bukan hanya itu saja kekuatan Epitaph. Ini adalah salah satu film yang bisa dengan mudah mengecewakan mereka yang mengharapkan film horor asia sejenis Ringu atau Ju-On, karena film ini mengeksplorasi tema-tema yang lebih dalam dari sekedar cerita soal teror arwah pendendam yang gentayangan. Saya rasa Epitaph memang berusaha untuk mengangkat horor asia ke tingkatan baru dan memisahkan dirinya dari film-film standar horor asia. Epitaph adalah kumpulan cerita hantu yang mengeksplorasi tema-tema soal kematian, cinta, rasa kehilangan, tragedi, rasa bersalah, kesendirian, dengan nuansa supernatural dan darah yang bukan hanya dijadikan sekedar bumbu belaka. Ketiga cerita yang ada memang dituturkan dengan cukup baik, namun agak sedikit rumit karena alur cerita yang tidak terlalu kronologis, yang akan dengan mudah membuat bingung siapapun yang menonton tanpa penuh konsentrasi. Ditambah lagi dengan nama-nama karakter yang tidak familiar di telinga kita orang Indonesia. Tapi itu adalah kendala yang selalu saya alami setiap kali menonton film Jepang dan Korea, dibutuhkan effort lebih untuk menontonnya karena otak mendapat pekerjaan ekstra: mengingat nama-nama asing para karakternya. Mungkin itu hanya masalah saya. Dibalut dengan sinematografi yang sangat indah, artistik dan sureal, ditambah dengan atmosfir dan visual yang kadang mengerikan kadang seperti berada di alam mimpi, membuat pengalaman menonton Epitaph rasanya menjadi semakin berkesan. Ini jelas bukan horor asia biasa. Namun film bergaya antologi (kumpulan cerita pendek) seperti ini memiliki sebuah kelemahan yang tak terhindarkan, karena durasi yang relatif pendek di setiap cerita membuat mau tidak mau harus mengorbankan sisi pengembangan karakter setiap tokohnya. Kita tidak memiliki waktu yang cukup untuk benar-benar mengenal setiap karakter, merasakan ikatan tertentu pada mereka hingga merasa simpati. Meski demikian, Epitaph tetap merupakan film yang indah (dan seram) untuk ditonton dan direnungkan, dan tentu saja sangat saya rekomendasikan bagi para penikmat horor asia.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com


Posted at : Fri, 31 May 2019
Category : Review