MOVIE REVIEW: EX MACHINA (2014)


EX_MACHINA
Sutradara: Alex Garland
USA (2009)

Review oleh Tremor

Ex_Machina adalah sebuah film psychological science-fiction thriller gesutan Alex Garland, dan ini adalah film yang ia sutradarai untuk pertama kali. Sebelum Ex_Machina, Alex Garland sendiri lebih dikenal sebagai seorang screenwriter. Beberapa film yang pernah ia tulis diantaranya adalah 28 Days Later (2002) dan Dredd (2012). Ex_Machina adalah film yang brilian. Indah mempesona namun tersimpan kengerian tersendiri di baliknya. Di mata saya, film Ex_Machina memiliki ide dasar yang cukup mengerikan mengenai teknologi, dan bisa saja menjadi kenyataan kalau manusia tidak mengendalikan ciptaannya.

Seorang programer muda bernama Caleb,  memenangkan sebuah undian besar yang diadakan oleh perusahaannya. Hadiah dari undian tersebut adalah menghabiskan satu minggu di rumah mewah milik sang direktur perusahaan, yang bernama Nathan. Mungkin hadiah ini terdengar biasa saja, tapi begitu kita mengetahui ada di mana dan bagaimana rumah sang direktur, tentu saja satu minggu berada di rumah tersebut akan terdengar menyenangkan. Rumah Nathan yang ternyata sangat mewah dan canggih itu berada di atas gunung yang dikelilingi dengan pemandangan luar biasa indah, sungai, air terjun. Sangking kayanya, kesemua pemandangan tersebut juga adalah bagian dari properti sang direktur. Nathan sendiri adalah seorang programmer muda yang hebat, berpengalaman dan sangat jenius. Diceritakan bahwa Nathan adalah penemu dari sebuah search engine super bernama Bluebook, yang merupakan search engine paling populer di seluruh dunia.

Saat Caleb akhirnya bertemu dengan Nathan untuk pertama kalinya, Nathan langsung mengungkapkan hadiah sebenarnya pada Caleb: memperlihatkan dan mendemonstrasikan ciptaan barunya yang sedang ia kembangkan. Namun sebelum itu, Caleb diharuskan menandatangani sebuah surat perjanjian bahwa apa yang Caleb lihat haruslah tetap menjadi rahasia. Nathan meminta Caleb untuk melihat, mengevaluasi dan melakukan tes pada proyek yang sedang ia kerjakan secara rahasia, yaitu sebuah mesin berteknologi artificial super intellegence. Untuk kalian yang tidak familiar dengan istilah ini, Artificial Intellegence (AI) adalah sebuah kecerdasan buatan (artifisial) yang sudah mulai dikembangkan semenjak adanya komputer di dunia nyata. AI bisa dikatakan sebagai kemampuan suatu benda buatan manusia untuk berpikir. AI tidaklah harus berbentuk robot, karena robot hanyalah bentuk luarannya atau casing saja. AI adalah komputer, atau otak, yang bisa saja ditempatkan di dalam mesin berbentuk robot, seperti dalam Ex_Machina.

Kembali ke Ex_Machina, disinilah kita mulai diperkenalkan pada tokoh utama dari film ini, yaitu Ava, sebuah robot berbentuk manusia perempuan yang tampaknya belum benar-benar sempurna secara fisik, namun dengan kecerdasan yang sudah jauh dari sempurna. Nathan meminta Caleb untuk melakukan sebuah tes khusus pada Ava untuk mengetahui apakah AI Ava sudah memiliki kesadarannya sendiri, mampu berpikir logis secara independen dengan sempurna, dan mampu membuat keputusannya sendiri. Caleb yang sangat excited melihat ciptaan bosnya tersebut langsung bersemangat melakukan tes tersebut, yang dijalankan dengan cara berbincang-bincang langsung dengan Ava dalam beberapa sesi tanya-jawab selama ia disana. Tanpa diduga, Ava ternyata sangatlah cerdas dan mampu berkomunikasi dengan sempurtna layaknya manusia. Secara fisik, wajah Ava sangat menarik perhatian Caleb, dan perbincangan dengan Ava membuahkan banyak hasil, termasuk terbentuknya ikatan emosional tersendiri antara Ava dengan Caleb.

Caleb adalah seorang yatim piatu yang masih single. Hal ini membuat perasaannya pada Ava menjadi semakin bercampur aduk. Apa yang Caleb rasakan mengenai Ava berkembang menjadi sebuah rasa simpati yang sangat dalam, hingga ke perasaan yang mungkin setara dengan jatuh cinta.

Mulai dari titik ini, agak sulit untuk tidak menuliskan sedikit spoiler. Sesi tanya jawab antara Caleb dengan Ava semakin hari semakin hangat dan personal, hingga akhirnya Caleb merasa iba dan ingin membebaskan Ava dari “penjara” buatan Nathan, yaitu ruangan dimana Ava tinggal.  Seumur hidupnya sejak Ava diciptakan, ia tidak pernah keluar dari ruangan itu. Perlahan Caleb melihat bahwa Nathan adalah “tuhan” yang kejam bagi Ava. Suatu hari, Ava bertanya, apa yang akan terjadi pada dirinya kalau ia dianggap gagal pada tes yang sedang dilakukan oleh Caleb? Disinilah semua kekacauan dimulai, dan semua kenyataan pahit mulai terbongkar satu persatu di hadapan Caleb.

Apa yang mengerikan dari film ini terletak pada ide dasarnya: bagaimana kemungkinan di masa yang akan datang teknologi yang diciptakan oleh manusia akan memiliki kemampuan melampaui manusia itu sendiri. Dan melihat perkembangan AI pada jaman sekarang, tentu saja hal tersebut sangatlah mungkin terjadi.

Fitur pengenalan wajah pada kamera HP kita; sugesti auto-tag pada orang yang tepat pada Facebook; sistem algoritma dalam media sosial; google map, siri, permainan catur pada komputer, google home, bot dalam video game, sistem captcha menggunakan foto yang di-generate, semua itu adalah bentuk AI yang paling sederhana yang ada di sekitar kita sehari-hari. Namun tentu saja perkembangan teknologi tidak berhenti hanya pada Siri. Banyak programer dan ilmuwan dunia yang terus mengembangkan dan menyempurnakan AI agar bisa menjadi lebih independen suatu hari. Indipenden dalam artian, mesin-mesin tersebut akan mampu berpikir untuk dirinya sendiri, memiliki respon alami terhadap sekitarnya, mampu bereaksi dan berinteraksi dengan tepat, mampu mengambil keputusan sendiri dan melakukan sesuatu (sesuai kapasitasnya) tanpa adanya campur tangan manusia. Mesin-mesin yang berubah menjadi seperti mahluk hidup. Inilah yang dinamakan Artificial Super Intellegence. Para ilmuwan sekarang ini sudah mengembangkan mobil tanpa supir, drone tanpa remote control, CCTV yang mampu mengenali wajah hingga semua data pribadi sang pemilik wajah, hingga robot-robot cerdas untuk berbagai kebutuhan, dari mulai kebutuhan rumah tangga hingga militer. Tidak hanya itu, robot-robot juga didesain untuk memiliki ketahanan dan kesempurnaan fisik yang luar biasa. Namun apa jadinya kalau teknologi seperti ini menjadi lebih cerdas dan lebih picik dari manusia? Atau teknologi jatuh ke tangan yang salah?

Berbicara mengenai perkembangan mesin dan AI, mungkin saat masih kecil saya akan membayangkan R2-D2 dan C-3PO. Namun sekarang saya membayangkan Skynet (Terminator), mesin-mesin dari The Matrix, HAL 9000 (Space Oddysey), dan tentu saja Ava dari Ex_Machina,. Saya tidak bermaksud untuk menyebarkan paranoia tentang teknologi yang semakin canggih, tapi film-film sci-fi semacam ini seakan menjadi sebuah prediksi akan bahayanya teknologi yang tak terkendali. Kalau kalian pernah menonton Animatrix, sejarah pemberontakan mesin-mesin Skynet dalam the Terminator, atau mengikuti serial Black Mirror, tentu kalian akan paham maksud saya. Artificial Intellegence akan menjadi hal yang mengerikan saat kecerdasan dan kekuatan fisiknya sudah berada di luar kendali manusia.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat@yahoo.com

 


Posted at : Thu, 18 January 2018
Category : Review