MOVIE REVIEW: GERALD’S GAME (2017)


GERALD’S GAME (2017)
Sutradara:
Mike Flanagan
USA

Review by Tremor

Wow. Saya tidak menyangka film Gerald’s Game akan sebagus ini. Film ini sendiri diadaptasi dari sebuah novel karangan sang master Stephen King dengan judul yang sama, dirilis pada tahun 1992. Untuk yang belum tahu, Stephen King adalah salah satu penulis besar yang karya-karyanya banyak diadaptasi ke dalam bentuk film dan mini seri TV, sebut saja beberapa karya besar seperti Carrie (1976), The Shining (1980), Children of the Corn (1984), Stand by Me (1986), Pet Sematary (1989), Misery (1990), Salem’s Lot (1979), The Green Mile (1999), It (1990 dan 2017), dan masih banyak lagi. Terlalu banyak untuk disebutkan disini.

Kisah Gerald’s Game berawal dari ide sepasang suami istri yang sudah lama menikah, melakukan perjalanan “bulan madu” akhir pekan dengan harapan menyelamatkan pernikahan mereka dari masalah umum pernikahan: jenuh dan hambarnya kehidupan pernikahan. Mereka ingin menghidupkan kembali api-api romantisme dalam kehidupan pernikahan. Berdua saja mereka pergi menuju sebuah rumah musim panas mungil di pinggir danau yang jauh dari mana-mana dengan rencana: quality time romantis, tanpa gangguan tetangga, tanpa kegaduhan pemukiman dan jauh dari kebisingan perkotaan. Salah satu hal yang juga mereka sepakati tentang perjalanan ini adalah, tentu saja, mencoba bereksperimen dengan hal-hal baru dalam kehidupan seksual, dengan harapan hal tersebut mampu memperbaiki pernikahan mereka. Gerald sang suami, sudah mempersiapkan perjalanan ini sejak jauh hari. Ia menyiapkan stok makanan yang cukup, bahan makanan mewah untuk makan romantis mereka, hingga memberi cuti seminggu pada para pekerja yang biasa menjaga dan merawat rumah tersebut. Gerald tak lupa mempersiapkan sebuah properti khusus untuk “permainan” percintaan mereka, berupa sepasang borgol. Jangan salah tanggap. Walaupun dibuka dengan ide yang kinky, film ini sama sekali bukan film erotis.

Sesampainya disana, Gerald yang sudah berumur cukup tua dan sudah lama merasa tidak percaya diri dengan kejantanannya sendiri, meminum obat keperkasaan Viagra, dan mungkin agak melebihi dosis seharusnya. Sudah berbulan-bulan lamanya kehidupan seksual mereka terasa hampa, jadi wajar saja kalau Gerald cukup bersemangat. Setelah Jessie (istri) merasa siap, ia pun menunggu Gerald di kamar. Gerald masuk ke dalam kamar membawa sepasang borgol. Ini adalah sesuatu yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya dan mereka cukup excited untuk mencoba hal baru tersebut. Kedua tangan Jessie pun mulai diborgol pada sepasang tiang penyangga ranjang. Tanpa disangka, Gerald yang sangat bersemangat pun mulai menjadi liar dan kasar, sampai ke titik dimana Jess tidak merasa nyaman lagi. Jess tidak sanggup meneruskan permainan “percobaan” ini. Setidaknya ia sudah mau mencoba, dan ternyata tidak berhasil. Fantasi Gerald yang tak disangka-sangka merupakan sebuah role-playing pemerkosaan membuat Jess sangat marah dan ia meminta Gerald untuk berhenti dan membuka borgolnya. Apa yang mereka harapkan dari perjalanan ini mendadak berantakan, suasana yang diharapkan bisa romantis berubah menjadi rasa frustrasi, hingga percekcokan mulut kembali terjadi di antara keduanya.

Di tengah ketegangan inilah, tiba-tiba Gerald mendapat serangan jantung dan jatuh tak bernyawa di atas tubuh Jess yang kedua tangannya masih terborgol kuat. Ya, serangan jantung karena penggunaan viagra bukanlah hal baru. Tentu saja Jess berusaha berteriak minta tolong, tapi ia dan penontonpun tahu bahwa usaha tersebut adalah sia-sia, karena kita tahu bagaimana situasinya: ia terjebak di dalam rumah yang jauh dari siapapun juga. Tak akan ada seorangpun yang akan mendengar teriakannya, dan tak akan ada satupun kerabat atau teman yang akan mencari Jess dan Gerald minimal untuk seminggu ke depan. Kinky sex gone wrong.

Kisah mimpi buruk tentang sisi gelap psikologi manusiapun dimulai. Seiring berjalannya waktu, Jess yang dehidrasi  dan terisolasi dari dunia dengan tangan terborgol  pun sedikit demi sedikit sepertinya mulai kehilangan kewarasannya. Jess yang putus asa dan frustrasi pun mulai berdialog dengan dirinya sendiri. Tanpa sadar suara-suara di dalam kepalanya mengambil wujud suami dan dirinya sendiri sebagai lawan bicara. Halusinasi mulai menguasai Jess. Beberapa orang berusaha menyamakan situasi ini dengan kisah-kisah skizofrenik seperti dalam film Fight Club dan Beautiful Mind, tapi apa yang terjadi dengan Jess samasekali bukan (atau belum) kondisi skizofrenia, melainkan tahap awal dari proses mulai terkikisnya kewarasan seseorang. Saya pribadi menangkap situasi ini sebagai suara-suara kecemasan yang tak terhindarkan, sekaligus penanda bahwa kejiwaannya mulai terancam. Trauma masa lalu dan rahasia gelap Jess pun mulai terbongkar sedikit demi sedikit. Ketegangan mulai bertambah saat hari semakin gelap, semakin beragam pula yang Jess lihat di dalam kamarnya. Satu persatu teror dan kengerian mulai menghampirinya. Tapi apakah semua yang ia lihat dan dengar tersebut adalah realita, atau ia mulai benar-benar kehilangan kewarasannya sama sekali? Dan bagaimana usaha Jess melepaskan diri dari kengerian dalam kamarnya, dari belenggu borgol di tangannya, dan juga belenggu masa lalunya? Kita bisa menyaksikan bagaimana perjuangan Jess untuk tetap tersadar, bertahan hidup secara fisik dan psikis di sepanjang film. Berapa lama manusia sanggup bertahan hidup tanpa minum? Apa yang seseorang lihat dalam proses menuju kematian yang terisolasi? Dan apakah yang mereka lihat ternyata adalah sesuatu yang memang nyata?

Film ini sangat cocok untuk kalian yang gemar dengan tema horor psikologis, terutama kalian yang tertarik dan peduli dengan studi psikologi manusia. Tapi kalau kalian adalah tipe penggemar film penuh aksi, adegan kejar-kejaran, banjir darah dan tidak terlalu mempedulikan jalan cerita apalagi dialog, mungkin akan sedikit sulit untuk menikmati film ini, karena selain visual, kekuatan film ini ada pada dialog dan plot. Tapi yah, siapa yang tahu sebelum kalian mencobanya.

Menurut saya, film Gerald’s Game adalah sebuah contoh bagaimana ide cerita dan penulisan sebuah skrip yang solid mampu melahirkan film horor yang efektif tanpa perlu menghadirkan Freddy Krueger, Pennywise, Valak atau Sadako di dalamnya. Kekuatan Gerald’s Game bukan berasal dari adegan-adegan jump-scare yang berlebihan dari pantulan bayangan hantu di cermin, tapi dari atmosfer, penuturan kisah dan kemampuan acting yang pantas diacungi jempol.

Gerald’s Game adalah contoh paling sederhana, murni, sekaligus brilian dari genre psikologikal horor. Saya pribadi adalah salah satu peminat film-film horor psikologis karena menurut saya, dari semua tema film horor yang ada (zombie, post-apokalips, sci-fi, supranatural, dll), tema yang paling mengerikan berangkat dari hal yang paling nyata, sederhana dan dekat dengan kita semua: kewarasan manusia. Kita semua sama-sama rentan dalam hal ini dan bisa “snap” kapanpun kalau kita tidak menjaganya.  Monster paling nyata dan menyeramkan ada di dalam kepala setiap manusia, dan kenyataan bahwa monster tersebut dapat bangkit kapanpun untuk mengambil kendali kepala kita begitu saja, menurut saya itu sudah cukup mengerikan.

Ini bukan kali pertama Stephen King membuat cerita bermodalkan psikologi manusia dan isolasi sebagai ide cerita. Pada tahun 1999 ia juga pernah menulis novel berjudul “The Girl Who Loved Tom Gordon” tentang seorang anak gadis yang berusaha bertahan hidup saat tersesat di dalam hutan selama berhari-hari.

Tambahan: Sebenarnya ini tidak mempengaruhi kekuatan cerita, tapi ada bonus untuk kalian para pembaca buku-buku Stephen King, karena Gerald’s Game mengandung beberapa easter egg yang berhubungan dengan beberapa karya King lainnya. Saya sendiri belum membaca novel Gerald’s Game, tapi saya sangat senang saat salah satu easter egg mengambil referensi dan keterkaitan langsung dengan novel King berjudul “Dolores Clairborne” yang pernah saya baca. Selain itu, ada beberapa easter egg lain yang mengambil referensi dari novel Cujo dan Dark Tower, walaupun hanya disebut sepintas saja.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film Horror, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat@yahoo.com

 


Posted at : Thu, 12 October 2017
Category : Review