MOVIE REVIEW : GHOST STORIES (2017)


GHOST STORIES
Sutradara: Jeremy Dyson, Andy Nyman
Inggris (2017)

Review oleh Tremor

Ghost Stories adalah sebuah film antologi drama psikologis dengan unsur supranatural yang diadaptasi dari pertunjukan drama teater (dengan judul yang sama) yang sangat terkenal di Inggris pada tahun 2010 dan 2011, yang juga merupakan karya dari sutradara dan penulis Jeremy Dyson dan Andy Nyman sendiri. Setelah menonton film ini, saya menjadi sangat penasaran bagaimana Ghost Stories bisa efektif dalam versi panggung teater-nya. Antologi Ghost Stories menyajikan tiga cerita hantu yang berbeda, tetapi menjadi satu kesatuan lewat sebuah cerita utama yang berperan sebagai bingkai-nya. Biasanya “cerita bingkai” dalam antologi horor hanya berperan sebagai pelengkap semata, dan bukan menjadi kisah utamanya. Itulah mengapa antologi Ghost Stories agak berbeda dengan antologi horor pada umumnya. Mungkin contoh terdekat yang terlintas di kepala saya sekarang dari antologi semacam Ghost Stories adalah Trick R’ Treat (2007), dimana cerita bingkainya bukan hanya sebagai pelengkap. Struktur seperti ini memungkinkan tiga kisah pendek yang ada untuk bisa berdiri sendiri, tetapi semuanya berjalan di atas fondasi tematik yang sama. Apa yang membuat Ghost Stories menarik adalah bagaimana film ini membungkus tiga kisah hantu yang berbeda menjadi saling berhubungan lewat kisah ke-empatnya dengan cara yang cukup mengejutkan sekaligus memuaskan, yang mengubah keseluruhan cerita ke arah yang sama sekali berbeda.

Film ini dibuka dengan diperkenalkannya karakter Professor Phillip Goodman, jurnalis investigasi skeptis yang mendedikasikan hidupnya untuk membuktikan bahwa tidak ada hal-hal supranatural di dunia ini, dan semua itu bisa dijelaskan lewat penjelasan psikologis ilmiah dan logika. Ia memiliki sebuah acara reality show TV yang berjudul “Psychic Cheats”, dimana Goodman bersama timnya seringkali mengekspos kebohongan dan penjelasan ilmiah di balik kasus-kasus supranatural. Dibantu dengan berbagai peralatan canggih, seringnya ia berhasil. “Otak melihat apa yang ia ingin lihat” adalah sebuah kutipan yang selalu ia tekankan. Goodman ingin membantu orang-orang agar tidak mudah diperdaya oleh para cenayang penipu. Membongkar kebohongan-kebohongan paranormal memang cita-citanya sejak kecil. Pada tahun 70an, Phillip kecil sering menonton sebuah acara TV yang serupa dengan acara yang sekarang ia jalankan, dibawakan oleh seorang jurnalis investigasi senior yang sangat menginspirasi Goodman, seorang pria yang sama-sama menyangkal fenomena supernatural bernama Charles Cameron. Dalam acara tersebutlah untuk pertama kali ia mendengar kalimat “otak melihat apa yang ia ingin lihat.” Namun Charles Cameron menghilang secara misterius puluhan tahun yang lalu dan tidak pernah ditemukan. Hanya mobilnya saja yang ditemukan, dan seluruh dunia menganggap Cameron telah tiada. Hingga suatu hari, Goodman mendapat sebuah bingkisan berisi undangan yang tak lain dan tak bukan, datang dari pahlawannya di masa kecil, Charles Cameron.

Goodman pun segera mendatangi alamat yang diberikan oleh Cameron, dan menemukan bahwa idolanya tersebut ternyata masih hidup, walaupun sudah sangat tua dan sakit. Pada Goodman, Cameron menyatakan bahwa apa yang ia percaya selama ini ternyata salah. Hal-hal supranatural dan roh jahat ternyata benar-benar ada. Mendengar pernyataannya tersebut, Goodman pikir Cameron sudah tua dan tidak waras lagi, hingga Cameron memberikan setumpuk map berisi 3 kasus terakhirnya yang tak pernah ia bisa ia pecahkan pada Goodman. Cameron memohon pada Goodman untuk melakukan investigasi dan mencari kebenaran pada tiga kasus tersebut.

Kasus pertama adalah tentang seorang penjaga malam bernama Tony Matthews yang bekerja menjaga bangunan tua bekas rumah sakit jiwa khusus wanita. Bangunan tersebut sudah lama kosong dan tidak digunakan lagi. Bisa ditebak, dengan setting seperti ini tentu saja suasananya akan tampak lebih menyeramkan di malam hari. Tony bukanlah orang yang percaya dengan keberadaan hantu, hingga suatu malam ia merasa beberapa gangguan supranatural yang mengerikan, malam yang membuat ia berhenti bekerja sebagai penjaga malam. Sebelum menceritakan kisahnya, Tony tampak sebagai seorang yang sangat ketus, rasis dan tidak menyenangkan. Setelah dibujuk dengan uang, akhirnya Tony bersikap lebih terbuka pada Goodman dan sepakat untuk diwawancara, dan kemudian terbongkar bahwa Tony memiliki masalah berat yang berhubungan dengan keluarganya. Anak perempuan satu-satunya koma sejak beberapa tahun yang lalu, dan istrinya sudah lama meninggal karena kanker.

Kasus kedua dalam Ghost Stories adalah tentang seorang remaja laki-laki bernama Simon Rifkind. Pertemuan pertama Goodman dengan Rifkind sudah cukup mengerikan. Rifkind yang tampak tidak waras sejak awal, tampaknya adalah anak yang sangat gugup dan paranoid, dan memiliki hubungan yang tidak sehat dengan keluarganya dan tinggal di dalam rumah bersuasana menyeramkan. Ia sangat terobsesi dengan hal-hal supranatural dan roh jahat sejak kejadian aneh terjadi pada dirinya. Suatu malam, saat mengendarai mobil dalam perjalanan pulang ke rumahnya, ia melewati sebuah jalan sepi di tengah hutan. Dalam perjalanan tersebut, secara tidak sengaja Rifkind menabrak sesosok mahluk aneh. Merasa shock dan ketakutan dengan apa yang ia lihat, Rifkind bergegas melanjutan perjalanan. Di tengah jalan, mesin mobilnya mendadak mati dan ia mulai diteror oleh sosok misterius. Setelah mendengar cerita Rifkind, Phillip Goodman pergi mendatangi hutan tempat kejadian perkara dan ia melihat sebatang pohon tumbang disana. Saat hendak kembali ke mobilnya, Phillip kemudian melihat sesuatu yang mengerikan. Mungkin ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia melihat hal seperti itu. Phillip yang kebingungan tetap berusaha untuk berpikir logis.

Kasus ketiga melibatkan seorang pengusaha milyuner bernama Mike Priddle. Saat ditemui oleh Goodman, Mike sedang bersiap untuk pergi berburu dengan sebuah senapan. Kisah Mike bermula saat suatu malam Mike sedang berada di rumah mewahnya sendirian. Istrinya sedang hamil dan berada di rumah sakit saat itu. Mike dan istrinya sudah menyiapkan satu kamar khusus untuk calon bayi mereka. Sambil menunggu kabar dari rumah sakit, Mike sedang berada di kamar bayi saat sebuah teror supranatural yang tidak dapat ia jelaskan mulai terjadi. Sambil mendengar kisah ini, profesor Goodman kembali melihat sesuatu yang tidak masuk akal dan tak dapat ia jelaskan. Goodman ketakutan sekaligus kebingungan untuk pertama kalinya. Dengan rasa frustasi dan penuh curiga, Goodman kembali menemui Cameron. Ia menuduh bahwa ketiga kasus tersebut adalah kasus palsu, dan si tua Cameron hanya memperalatnya untuk mendapatkan kembali ketenaran di masa tuanya. Tapi Goodman salah besar soal Cameron dan juga soal ketiga kasus aneh tersebut.

Ketiga kasus yang diselidiki oleh Goodman melibatkan orang-orang yang memiliki masalah dalam kehidupan nyata, yang dapat digunakan untuk menjelaskan hantu sebagai trik pikiran atau halusinasi karena kondisi mental tertentu. Otak melihat apa yang ia ingin lihat. Tapi itu juga berlaku untuk Goodman dan kita semua sebagai penonton. Dari sinilah dimulai cerita ke-empat, yang merupakan kisah yang berkaitan langsung dengan Phillip Goodman dan perjalanan hidupnya sendiri, dimana kemudian kita mulai menyadari bahwa kisah terakhir ini sebenarnya sudah dimulai sejak awal film. Kisah final tentang ketakutan, memori dan rasa bersalah, yang mengikat semua cerita hantu dalam film Ghost Stories menjadi satu kesatuan.

Soal kengerian, Nyman dan Dyson sangat memahami bagaimana cara menghantarkan cerita hantu “umum” yang tidak hanya mengandalkan jump-scare, tetapi lebih menonjolkan elemen-elemen seram yang sederhana dan klasik. Pernahkah kalian merasa sendirian di rumah, dalam keadaan gelap, mendengar suara derit tangga yang kalian injak dan merasa ngeri sendiri? Mungkin kalian tidak akan mencoba melihat apakah ada sesuatu di belakang kalian. Tapi bagaimana kalau memang ada sesuatu di sana? Tiga kisah dalam Ghost Stories menghantarkan rasa ngeri yang kira-kira seperti itu, sebuah jenis rasa takut yang sangat universal yang membuat kita semua merinding hanya lewat hal-hal sederhana dan mencurigai setiap pojokan gelap. Aliran listrik yang mendadak mati, suara langkah kaki padahal tidak ada orang lain di dalam rumah, bayangan dalam gelap, penurunan suhu ruangan yang drastis, kesemua itu adalah sebagian dari banyak elemen cerita seram yang akan selalu abadi, dan selalu berhasil membuat seseorang ketakutan. Apa yang dibawa dalam tiga cerita hantu di Ghost Stories memang lebih menjurus pada kengerian atmosfer seperti itu, dimana pojok-pojok gelap terasa lebih menyeramkan dibanding kemunculan hantu itu sendiri, ketegangan yang dibangun secara sugestif yang membuat esensi jump-scare menjadi lebih dari sekedar soal mengagetkan semata. Di tengah trend film horor modern yang hanya mengandalkan darah dan jump-scare yang tidak dibangun, sangat menyegarkan untuk melihat sebuah film horor modern seperti Ghost Stories yang tahu betul bagaimana cara menggunakan elemen-elemen seram yang sederhana dengan efektif, dan ditutup dengan twist yang sama sekali tidak terbayangkan. Pada akhirnya, seperti kata karakter Charles Cameron dan Prof Goodman, otak melihat apa yang ia ingin lihat.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com


Posted at : Fri, 17 May 2019
Category : Review