MOVIE REVIEW: GOODNIGHT MOMMY (Ich seh, Ich seh) (2014)


GOODNIGHT MOMMY (Ich seh, Ich seh)
Sutradara:
Veronika Franz & Severin Fiala
Austria (2014)

Review oleh Tremor

Goodnight Mommy (yang berjudul asli Ich seh, Ich seh) adalah sebuah film horor psikologis berbahasa Jerman asal Austria yang ditulis sekaligus disutradarai oleh sepasang sineas Austria, Veronika Franz & Severin Fiala. Film ini merupakan debut film layar lebar bagi kedua sutradara tersebut setelah sebelumnya mereka hanya membuat film dokumenter saja. Sebagai sebuah film debut, film ini bisa saya bilang sangat bagus sekali. Kini mereka berdua kembali berduet menggarap sebuah film drama horor  berjudul The Lodge yang tentu saja akan saya tunggu setelah saya menonton Goodnight Mommy.

Terus terang agak sulit bagi saya untuk menuliskan inti cerita dari film Goodnight Mommy ini karena justru plot utamanyalah yang merupakan kekuatan dari film ini. Saya sedikit membayangkan kalau penonton mengetahui sedikit saja “bocoran” plot dari film ini, apalagi ending-nya, tentu pengalaman yang dirasa akan berbeda dengan yang saya rasa. Beruntung saya menonton film ini tanpa melihat trailer-nya terlebih dahulu (walaupun saya pikir trailernya benar-benar bersih dari spoiler), apalagi mengetahui ide ceritanya. Baiklah, suka tidak suka akan saya coba ceritakan sedikit sinopsis pendeknya yang mudah-mudahan bebas dari spoiler.

Film ini bercerita mengenai hubungan antara ibu dan anak. Kalau biasanya hubungan ibu-anak identik dengan kebahagiaan dan cinta yang murni, namun apa yang akan kita temui dalam Goodbye Mommy adalah sebuah bentuk terdistorsi dari apa yang kita pahami selama ini mengenai hubungan ibu-anak. Hal inilah yang membuat ide dalam film ini menjadi “tidak waras” bagi sebagian orang.

Kisah gelap Goodbye Mommy dimulai di sebuah rumah mewah yang terisolasi di pinggir danau, dimana sepasang anak kembar identik yang bernama Lucas dan Elias yang berumur 9 tahun menunggu kembalinya ibu mereka. Sang ibu yang sebelumnya bekerja sebagai seorang pembawa acara di tv lokal, pulang dengan wajah tertutup perban setelah menjalani perawatan bedah wajah. Sejak ibunya pulang untuk menjalani proses pemulihan wajahnya, semua mulai terasa berbeda bagi si kembar. Emosi sang ibu tidak stabil, mudah marah, membuat banyak peraturan baru di rumah, hingga berperilaku dingin kepada anak-anak mereka, terutama pada Lucas. Semua perubahan emosional tersebut adalah kebalikan dari ibu yang mereka kenal sebelumnya. Secara perlahan Elias dan Lucas pun mulai menaruh curiga bahwa perempuan berwajah penuh perban tersebut bukanlah ibu mereka.

Kecurigaan tersebut membuat Elias dan Lukas mulai melakukan “riset” kecil dengan cara membuka-buka album foto lama ibunya, diam-diam melihat acara tv yang dibawakan oleh ibunya di internet, hingga akhirnya mereka yakin kalau perempuan berwajah perban itu bukanlah ibu mereka. Tetapi walaupun si kembar sangat serasi, mereka tidak selalu satu suara. Lukas yakin betul kalau perempuan itu adalah pembohong besar, sementara diam-diam Elias masih sedikit percaya kalau perempuan tersebut adalah ibu mereka. Namun jelas terlihat kalau Lukas adalah anak yang lebih dominan dibandingkan Elias, sehingga Elias pun lebih percaya pada Lukas dibandingkan pada perempuan tersebut. Dirundung rasa tertekan dan kerinduan akan kehadiran sosok ibu yang mereka kenal, akhirnya ide jahatpun muncul. Suatu malam mereka mengikat perempuan tersebut, memintanya memberikan bukti kalau ia adalah ibu mereka yang sebenarnya, hingga menyuruhnya untuk mengaku mengenai keberadaan ibu asli mereka berada. Si kembar melalukan apapun demi mendapatkan kebenaran, hingga ke titik terekstrim dimana Lukas dan Elias mulai menyiksa perempuan tersebut karena tidak berhasil memberikan satu jawaban yang memuaskan mengenai keberadaan sang ibu.

Sampai di titik ini, film ini masih membuat penonton sedikit terombang ambing soal kebenaran mengenai siapa yang sebenarnya jahat. Apakah benar kalau perempuan tersebut bukanlah ibu mereka? Atau memang si anak kembar lah yang mengalami gangguan jiwa? Insecurity dan kepercayaan mungkin adalah tema besar film ini.

Walaupun Goodbye Mommy sedikit mengandung unsur twist , namun saya rasa inti dan kekuatan film ini tidak berpusat pada twist-nya, melainkan pada ide cerita. Dan penggarapan plot hingga menuju klimaksnya pun disusun dengan sangat yang baik. Goodbye Mommy dimulai dengan sangat lembut dan lamban seperti layaknya alunan lagu pengantar tidur, dan kemudian berkembang menjadi sebuah sajian horor penyiksaan yang mungkin akan membuat beberapa orang merasa tidak nyaman. Saya sama sekali tidak merekomendasikan Goodnight Mommy untuk ditonton oleh anak kecil di bawah umur. Adegan kekerasan yang dilakukan oleh sepasang anak kembar dalam film ini samasekali tidak patut dicontoh oleh siapapun, terutama saat semua itu dilakukan pada orang yang diasumsikan sebagai ibu sendiri.

Saya pribadi tidak menyangka kalau Goodnight Mommy bisa se-fucked up ini dengan dibungkus dengan atmosfer yang tenang dan penuh kedamaian. Tapi kalian yang tidak merasa nyaman dengan adegan-adegan sadis tidak perlu khawatir, karena justru inilah hebatnya kedua sutradara film ini. Tanpa perlu memperlihatkan bergalon-galon darah, otak manusia, daging terkoyak atau adegan gore lainnya, beberapa adegan dalam film ini sanggup membuat penonton tercengang dan meringis ngilu sendiri. Tetapi di sisi lain, Goodbye Mommy adalah sebuah film yang juga indah karena sinematografinya sangat cantik, ditambah dengan komposisi yang sangat artistik. Bahkan saat film ini baru berjalan beberapa menit, saya sempat sedikit  curiga kalau Goodnight Mommy adalah sebuah karya film art-house, walaupun ternyata bukan. Beberapa adegan terasa seperti berada di dalam mimpi, membuat penonton mungkin akan sedikit tersesat antara mana yang merupakan khayalan si kembar, mana yang mimpi, dan mana yang benar-benar terjadi. Tanpa perlu terlalu surealis, sepertinya film ini memang sengaja bermain-main dengan pencampuran adukan realita, yang justru sangat baik untuk sebuah film horor psikologis. Satu lagi yang patut saya acungi jempol dari film ini adalah kemampuan acting dari Elias dan Lucas yang luar biasa, mengingat mereka masih sangat kecil untuk berperan sebagai sepasang anak kecil bermasalah. Saya harap mereka berdua ditemani oleh psikolog anak selama proses pengambilan setiap adegan, dan semoga kedua aktor cilik dalam Goodbye Mommy paham betul bahwa semua ini hanyalah permainan peran yang tidak perlu dibawa ke dalam kehidupan nyata.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com

 


Posted at : Thu, 03 May 2018
Category : Review