MOVIE REVIEW: HIDDEN (2015)


HIDDEN
Sutradara: The Duffer Brothers
USA (2015)

Review oleh Tremor

Hidden, sebuah film drama thriller bertema post-apokalips/survival/infeksi, adalah sebuah film feature length perdana dari sepasang sutradara / penulis muda kembar Matt Duffer and Ross Duffer, atau biasa disebut The Duffer Brothers. Sebelum membuat Hidden, mereka hanya membuat beberapa film pendek saja. Kalian yang mengikuti serial sci-fi milik Netflix yang berjudul Stranger Things (2016-sekarang), tentu akan merasa familiar dengan nama Duffer Brothers, karena merekalah yang menciptakan Stranger Things, dan juga turut menyutradarai sebagian besar episodenya. Hidden dibintangi oleh Alexander Skarsgård, yang nama keluarganya mungkin tidak terlalu asing bagi kalian penggemar film remake dari IT (2017). Ya, Alexander adalah kakak tertua dari Bill Skarsgård, sang bintang femonemal yang berhasil memerankan Pennywise the Dancing Clown dengan sangat baik sekaligus menyeramkan. Sejujurnya, agak sedikit sulit untuk mendiskusikan film ini karena saya tidak ingin membeberkan keseluruhan ide dasar,  cerita, kejutan dan elemen lainnya, jadi saya akan tulis seminim mungkin yang saya bisa.

Film ini bercerita mengenai sebuah keluarga kecil yang terpaksa bersembunyi di dalam tempat perlindungan bawah tanah tua setelah terjadi penyebaran virus misterius. Mereka adalah Ray sang ayah, Claire sang ibu, dan anak perempuan mereka satu-satunya bernama Zoe yang masih berumur 9 tahun. Sudah 301 hari lamanya mereka tinggal di bawah tanah saat cerita dalam film ini dimulai. Satu-satunya pintu utama di tempat itu adalah sebuah pintu besi di langit-langit, yang sudah mereka rantai kuat dan tidak pernah mereka buka sejak pertama kali mereka masuk. Pintu tersebut menghadap langsung ke dunia luar yang sudah berubah menjadi seperti neraka apokaliptik yang dipenuhi dengan mahluk / monster misterius yang mereka sebut sebagai Breathers. Ya, breathers adalah salah satu ancaman di luar sana dan merupakan satu-satunya alasan mengapa mereka bertiga harus terus bersembunyi selama ini, karena breathers masih terus memburu siapapun yang masih bertahan hidup dalam persembunyian. Dari situ kita mengetahui bahwa para breathers yang misterius ini bukanlah mahluk pasif seperti zombie yang hanya mengerti makan saja, tetapi mahluk-mahluk yang memiliki tingkat kecerdasan, karena breathers hidup berkelompok dan mampu melakukan perburuan. Zoe sempat bertanya-tanya, apakah mereka bertiga adalah satu-satunya yang masih bertahan, atau masih ada banyak lagi mereka yang bersembunyi dari para breathers di luar sana.

Ada beberapa peraturan sederhana yang mereka buat dan harus mereka patuhi bersama agar mereka tetap aman dari para breathers: Jangan terlalu berisik, jangan pernah lepas kendali, jangan membuka pintu dan jangan pernah berbicara mengenai Breathers.Peraturan ketiga adalah peraturan yang akan mereka langgar kemudian demi bertahan hidup.

Mereka bisa dibilang cukup beruntung karena menemukan sebuah tempat perlindungan yang memang disiapkan untuk hal-hal yang tak diinginkan. Di dalamnya terdapat banyak sekali stok makanan kaleng dan kebutuhan bertahan hidup lainnya saat mereka pertama kali menemukan tempat tersebut. Namun di hari ke-301 ini, stok makanan merekapun mulai menipis. Terlebih lagi saat mereka menemukan bahwa beberapa kaleng makanan sudah digerogoti dan isinya dihabiskan oleh tikus, yang merupakan awal dari semua masalah yang terjadi kemudian di dalam film ini.

Merasa tikus sebagai ancaman keberlangsungan hidup, merekapun berusaha memburu dan membunuh si pencuri makanan tersebut, yang kebetulan terlihat sedang berseliweran di sebuah rak. Saat mengejar tikus yang berusaha kabur ke lubangnya, Ray tak sengaja menyenggol sebuah lampu lentera hingga jatuh dan membakar sebuah meja kayu di salah satu ruangan. Saat api berhasil mereka padamkan dengan susah payah, mereka menyadari adanya masalah baru. Asap dari kebakaran kecil tersebut membumbung langsung menuju lubang udara di langit-langit mereka. Kepanikanpun terjadi saat mereka menyadari bahwa asap yang keluar dari lubang udara tersebut akan memancing para breathers untuk datang, dan ketakutan merekapun menjadi kenyataan.

Di sela-sela film ini, beberapa kali kita diperlihatkan selingan flashback mengenai apa yang terjadi sebelum virus baru saja menjangkit dunia. Dari mulai saat semua kehidupan mereka masih normal dan baik-baik saja, dan keluarga kecil ini masih tinggal di rumah mereka dengan bahagia, hingga pada peristiwa dimana mereka diharuskan kabur dan menemukan tempat perlindungan bawah tanah yang kemudian menjadi rumah baru mereka. Layaknya sebuah puzzle antara apa yang terjadi pada mereka sekarang dengan beberapa selingan flashback tersebut, seiring berjalannya film kitapun akhirnya menyadari sepenuhnya cerita dari Hidden. Kemisteriusan sosok breather pun mulai terungkap sedikit demi sedikit dengan tidak seperti dipaksakan. Saya pribadi sangat suka saat film ini memperlihatkan sosok breathers yang misterius untuk pertama kalinya, karena awalnya penonton hanya akan diperlihatkan bayangan-bayangan sekelibat dengan sepasang mata yang menyala saja. Justru bentuk-bentuk yang tidak terlalu jelas seperti itu terasa lebih mengancam dan menegangkan.

Secara garis besar, Hidden memfokuskan bagian awal dari keseluruhan film pada ketegangan dan ikatan antar para karakternya. Ray adalah seorang ayah yang sangat penyayang dan sosok pelindung, yang selalu berusaha menghibur anak dan istrinya agar mental dan ketabahan mereka untuk tetap bertahan tidak jatuh; Claire sang ibu yang tampaknya adalah ibu yang over-protective dan mudah panik; dan Zoe sang anak yang cukup pemberani untuk anak seumurannya, walaupun dalam film ini Zoe beberapa kali  menangis dan ketakutan, tapi begitulah alaminya anak kecil.

Walaupun film ini berbajet relatif kecil, tapi saya sangat mengapresiasi Duffer Brother karena sudah membuat film dengan sangat maksimal. Bahkan kalian tidak akan merasa kalau film ini berbajet kecil, karena kemampuan Duffer Brother membuat cerita dan alur yang menarik untuk disimak, ditambah dengan kemampuan acting yang baik dari para pemerannya, termasuk pemeran Zoey yang masih berumur 9 tahun. Setelah melihat Stranger Things dan Hidden, sepertinya Duffer Brother memang penulis sekaligus sutradara yang sanggup bekerja dengan para aktor / aktris anak kecil, mampu mendorong mereka untuk melakukan kemampuan terbaik mereka.

Walaupun saya kurang begitu sreg dengan bagian penutup dari film ini karena masih sangat terasa seperti sebuah penutupan film serial tv, tapi saya suka ide keseluruhan dari film ini serta penggunaan sudut pandang yang berbeda dari umumnya film bertema post-apokalips / survival / infeksi. Saya juga cukup puas dengan bagian pengungkapan dan bumbu twist dalam film ini. Saya sangat menikmati Hidden. Sebuah film berbajet terbatas yang cukup solid, efektif dan dikerjakan dengan cerdas dan maksimal, diperankan dan diproduksi oleh orang-orang yang memang bertalenta di bidangnya. Kalau kalian suka film bertema post-apokalips / survival / infeksi, saya pikir kalian akan menikmati film Hidden.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com

 


Posted at : Thu, 15 March 2018
Category : Review