MOVIE REVIEW : IMPRINT (2006)


IMPRINT
Sutradara: Takashi Miike
USA / Jepang (2006)

Review oleh Tremor

Bagi kalian yang terbiasa menonton film-film ekstrim, nama Takashi Miike tentu sudah tidak asing lagi. Tapi bagi kalian yang tidak mengenalnya, mungkin setidaknya kalian pernah mendengar satu-dua karyanya seperti Audition (1999), Ichi the Killer (2001), Visitor Q (2001), Gozu (2003), One Missed Call (2003), Crows Zero (2007), hingga 13 Assassins (2010). Takashi Miike adalah salah satu sutradara paling produktif asal Jepang. Dia sudah membuat lebih dari 100 judul film, dengan genre yang sangat bervariatif dari mulai film action, gangster, horror, hingga film fantasi untuk anak dan remaja. Sebagian besar karya horor buatan Miike dikenal memiliki beberapa kesamaan: kontroversi, kekerasan ekstrim, gore, darah, bizarre, dan konten yang melanggar tabu.

Takashi Miike memulai karirnya sebagai seorang sutradara lewat industri V-Cinema di jepang, yaitu istilah untuk film-film yang dibuat khusus untuk dirilis langsung dalam bentuk home-video, bukan bioskop. Karena industri V-Cinema tidak memiliki pelarangan-pelarangan yang ketat dan minim penyensoran, maka para pembuat film V-Cinema memiliki kebebasan penuh dalam berkarya. Mungkin Miike menyadari bahwa kontroversi justru memiliki nilai jual. Latar belakang tersebut mungkin bisa sedikit menjelaskan mengapa karya-karya Miike banyak mengandung kekerasan ekstrim dan hal-hal gila lainnya. Lagipula, secara budaya, sepertinya pasar Jepang memang lebih terbuka pada segala bentuk “keanehan”. Buktinya, manga-manga ekstrim ero-guro (yang memadukan tema erotisme dan grotesque) cukup populer dan diterima oleh masyarakat Jepang. Para pembuat (dan penikmat) ero-guro mungkin bisa disebut sebagai psikopat dan dipenjarakan oleh KPAI kalau mereka tinggal di Indonesia, tetapi tidak di Jepang.

Pada tahun 2005, Showtime (channel TV kabel asal Amerika) membeli  hak tayang atas sebuah serial TV antologi khusus horror berjudul The Masters of Horror (2005-2007). Antologi ini dibuat oleh Mick Garris, orang yang juga ada di balik pembuatan antologi horor serupa yang berjudul Fear Itself (2008).  Walaupun Masters of Horror hanya bertahan selama 2 season saja, tetapi antologi ini adalah sebuah harta karun yang sangat berharga bagi para penggemar horor. Sesuai judulnya (Masters of Horror), setiap episode lepas di dalam antologi ini disutradarai oleh para raja horor dari mulai Dario Argento, Stuart Gordon, Tobe Hooper,  Joe Dante, John Carpenter, John Landis, hingga tentu saja, Takashi Miike.

Nah, episode buatan Takashi Miike dalam antologi The Master of Horror, adalah episode yang paling kontroversial. Judul episode tersebut adalah Imprint, yang ditulis oleh Daisuke Tengan, yang juga menulis Audition and 13 Assassins. Imprint seharusnya diputar sebagai episode ke-13 dalam season pertama The Masters of Horror. Namun Showtime kemudian memutuskan untuk tidak menayangkannya sama sekali karena Imprint dinilai terlalu disturbing dan ekstrim melebihi batas kompromi. Imprint juga kemudian dilarang diputar di TV seluruh Amerika. Beruntung, serial The Masters of Horror kemudian dirilis dalam bentuk DVD, dimana episode buatan Miike ikut dirilis tanpa sensor sama sekali. Mick Garris, sang kreator sekaligus produser dari The Masters of Horror, mendeskripsikan episode Imprint sebagai “amazing, but hard even for me to watch… definitely the most disturbing film I’ve ever seen”.

Sebelumnya, saya harus memperingatkan, bahwa film ini bukanlah untuk semua orang, dan sangat tidak saya rekomendasikan kepada kalian yang sudah menjadi seorang ibu. Kalau kalian belum pernah menonton Imprint sebelumnya, saya tidak akan merebut hak kalian untuk menikmati berbagai “kejutan” hingga film ini selesai, karena kejutan-kejutan ini akan sulit untuk dilupakan, disturbing, tetapi (ironisnya) di-shot dengan tone warna yang cantik. Untuk menyelamatkan sisi disturbing dari film ini, saya tidak ingin membagi spoiler apapun dalam tulisan ini.

Kisahnya sederhana. Once upon a time, mungkin kira-kira sekitar tahun 1800-an, seorang pria asal Amerika yang bernama Christopher mencari cintanya yang hilang di Jepang. Beberapa tahun sebelumnya, Christoper jatuh cinta dengan seorang pelacur muda bernama Komomo. Ia berjanji akan kembali untuk menjemput Komomo dan membawanya ke Amerika untuk memulai kehidupan baru yang lebih layak. Namun saat Christoper kembali untuk menjemputnya, Komomo sudah terlanjur diperjualbelikan dari satu rumah bordil ke rumah bordil lainnya, dan Christoper kehilangan jejak Komomo. Pencarian tanpa lelah Christoper membawanya ke sebuah pulau lokalisasi prostitusi terpencil yang misterius dan ganjil. Mucikari di tempat itu secara mencurigakan berkata bahwa ia tidak pernah mendengar nama Komomo. Christoper dan kita sebagai penonton tentu saja tahu bahwa pernyataan tersebut adalah bohong. Christoper kemudian “memesan” seorang geisha  untuk menemaninya malam itu, bukan untuk melampiaskan hasrat seksual-nya, tetapi untuk mencari petunjuk mengenai keberadaan Komomo. Geisha tersebut bukan gadis biasa. Kelihatannya ia adalah pekerja seks yang paling tidak laku di lokalisasi tersebut karena memiliki wajah yang cacat dan menyeramkan. Tetapi Christoper tidak peduli. Ia hanya ingin mencari kekasihnya. Dan akhirnya Christoper mendapatkan sedikit titik terang karena gadis (yang tidak disebutkan namanya) tersebut ternyata mengenal Komomo. Namun semua sudah terlambat. Gadis tersebut mengatakan Komomo sudah meninggal. Christoper pun dengan histeris menangisi nasib kekasihnya dan terus mengorek informasi mengenai kematian Komomo pada gadis tersebut. Dibuka dengan kisah mengenai masa lalunya sendiri, sang Geisha berwajah seram akhirnya menceritakan tentang Komomo secara perlahan hingga bagaimana ia meninggal. Namun Christoper merasa kisah itu janggal dan kehilangan beberapa detail. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Christoper pun terus memaksa sang Geisha untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Penuturan kisah dari mulut sang geisha inilah yang kemudian mengisi film Imprint hingga ke ending-nya yang tidak terduga.

Seperti sudah saya sebut sebelumnya, saya tidak akan membagikan spoiler. Tapi setidaknya ada tiga poin disturbing yang terjadi secara terpisah di dalam Imprint yang perlu dicatat. Tenang saja, saya tidak akan memaparkannya dengan detail. Poin pertama adalah sequence penyiksaan. Sequence ini sangat efektif kalau tujuannya adalah membuat penonton segera memalingkan wajah mereka dari layar. Poin ke-dua adalah sesuatu yang bisa kalian lihat dalam kisah masa lalu si geisha berwajah rusak. Rasanya sudah jelas kalau beberapa detail yang Takashi Miike perlihatkan dalam poin ini adalah alasan utama mengapa Showtime kemudian memutuskan untuk tidak menayangkan Imprint sama sekali dalam saluran mereka. Beberapa adegan “selewat” dalam poin ini mungkin terlalu ekstrim bagi sebagian besar penonton. Bukan hanya soal berbagai detail yang dipertontonkan pada penonton saja, tetapi bagaimana hal yang ekstrim dan tabu bagi kebanyakan masyarakat digambarkan dengan “tampak biasa saja” dalam Imprint. Ini mungkin akan meninggalkan perasaan tidak nyaman bagi penonton. Dan poin ke-tiga adalah gambaran mengenai identitas asli sang geisha berwajah seram itu sendiri.

Imprint adalah sebuah film ekstrim jepang yang mungkin tidak akan berani dibuat oleh sutradara lain, selain oleh seorang Takashi Miike. Sulit membedakan apakah Takashi Miike adalah seorang jenius kreatif yang tahu betul bagaimana cara meninggalkan kesan tidak nyaman pada penontonnya, atau ia benar-benar seorang gila yang kebetulan memiliki talenta luar biasa sebagai sutradara?

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com

 


Posted at : Fri, 15 March 2019
Category : Review