MOVIE REVIEW : INVASION OF THE BODY SNATCHERS (1978)


INVASION OF THE BODY SNATCHERS
Sutradara: Philip Kaufman
USA  (1978)

Review oleh Tremor

Apa jadinya saat orang-orang yang kalian cintai berubah menjadi bukan diri mereka lagi dalam satu malam, dan kalian tidak bisa lagi membedakan mana teman dan mana musuh? Kepada siapa kalian akan percaya? Dan bagaimana cara kalian bisa tahu kalau orang yang kalian percaya tidak akan mencelakai kalian? Apa jadinya kalau di kota besar yang dipenuhi jutaan orang, ternyata kalian benar-benar sendirian? Apa yang akan kalian lakukan jika tiba-tiba kalian merasa terasing di kota yang sangat kalian kenal sejak kecil? Kira-kira seperti itulah bentuk paranoia (yang kemudian dicampur dengan perasaan putus asa) yang diangkat dalam film horror / sci-fi klasik berjudul Invasion of the Body Snatchers ini.

Diangkat dari karya fiksi Jack Finney yang diterbitkan secara bersambung dalam majalah Colliers tahun 1954 berjudul Body Snatchers, novel ini pertama kali diadaptasi ke layar lebar pada tahun 1956 oleh sutradara Don Siegel dengan judul Invasion of the Body Snatchers. Dua dekade kemudian, Phillip Kaufman membuat remake film tersebut dalam versi full color dengan ketegangan dan kengerian yang jauh melampaui versi pertamanya, yang dalam tulisan ini akan saya sebut sebagai Invasion of the Body Snatchers 1978 agar tidak membingungkan. Kaufman menggandeng beberapa aktor dan aktris yang cukup ternama pada masanya seperti Donald Sutherland, Brooke Adams, dan tak ketinggalan Leonard Nimoy (yang sangat dikenal sebagai pemeran karakter Spock dalam beberapa film Star Trek). Adaptasi film dari novel Body Snatchers karya Jack Finney ini tidak hanya berhenti pada versi Phillip Kaufman 1978 saja. Sejauh ini sudah ada empat adaptasi novel Body Snatchers yang pernah dirilis ke layar lebar, dimana dua lagi adalah film yang berjudul Body Snatchers pada tahun 1993 yang dibuat oleh Abel Ferrara, seorang sutradara yang sangat dikenal dalam dunia per-horror-an lewat karyanya yang berjudul The Driller Killer (1979); dan kemudian ada film berjudul The Invasion yang dirilis pada tahun 2007 karya sutradara Oliver Hirschbiegel, dan diperankan oleh Nicole Kidman dan Daniel Craig, yang juga merupakan re-imajinasi dari novel Jack Finney dalam versi yang lebih modern. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Don Siegel, Abel Ferrara dan Oliver Hirschbiegel, dari ke-empat adaptasi layar lebar novel Body Snatchers tersebut, saya rasa Invasion of the Body Snatchers 1978 versi Phillip Kaufman lah yang paling unggul dalam banyak sisi, yang menurut saya pribadi merupakan satu dari beberapa film remake terbaik yang pernah dibuat.

Kalau biasanya film bertema invasi alien memperlihatkan peralatan canggih futuristik, teknologi alien, piring terbang, senjata laser, penculikan, dan bentuk makhluk asing yang beraneka ragam, tetapi tidak dengan film ini. Ya, Invasion of the Body Snatchers 1978 adalah sebuah film sci-fi horor bertemakan invasi alien yang tidak biasa. Tanpa pesawat ruang angkasa atau senjata laser pun, para penyerbu bumi tetap berpotensi untuk menghancurkan umat manusia dari dalam, menggunakan penyamaran sempurna berbentuk bunga cantik yang eksotis. Datangnya para penyerbu ini bukanlah melalui piring terbang, melainkan lewat spora-spora ekstraterestrial dari planet sekarat yang jauh di luar angkasa. Spora-spora ini telah melayang-layang melintasi alam semesta, dari satu planet ke planet lain, hingga suatu hari hinggap di Bumi. Spora-spora ini mulai menempel pada tanaman bumi, bercampur dengan air, bermutasi dan bertransformasi menjadi bunga-bunga kecil yang indah. Suatu hari seorang pekerja departemen kesehatan bernama Elizabeth membawa pulang salah satu bunga yang ia petik di jalan. Bunga cantik yang tumbuh keluar dari semacam pod (polong / kantung) ini sepertinya sangat unik dan tidak biasa. Sesampainya di rumah, ia pun membuka-buka buku ensiklopedia bunga miliknya untuk mencari tahu jenis apa bunga itu tepatnya. Namun ia tidak menemukan satupun jenis bunga seperti yang ia petik tersebut dalam bukunya. Elizabeth meletakkan bunga temuannya pada sebuah gelas yang ia letakkan di meja samping ranjangnya, tepat di sisi dimana kekasihnya yang bernama Geoffrey tidur. Suatu pagi Elizabeth melihat perubahan drastis pada perilaku pacarnya yang tiba-tiba berubah menjadi dingin, datar dan seperti tidak memiliki emosi. Ia seperti bukan Geoffrey yang Elizabeth kenal, yang walaupun agak menyebalkan tetapi adalah seorang pria periang. Elizabeth yang mulai dilanda kecemasan akhirnya menceritakan hal tersebut kepada salah satu rekan kerja sekaligus sahabatnya yang bernama Matthew Bennell. Elizabeth yakin bahwa Geoffrey telah berubah menjadi orang lain yang tak ia kenal. Tentu saja ini akan terdengar dramatis bagi siapapun yang mendengarnya. Matthew mencoba mencari penjelasan logis untuk membantu Elizabeth dan menyarankannya untuk bertemu dengan psikiater terkenal Dr. David Kibner yang kebetulan adalah kawan Matthew. Elizabeth tidak gila dan tak tidak sedang dipermainkan oleh perasaan belaka. Ia, dan penonton, tahu betul bahwa ada yang salah dengan Geoffrey.

Ternyata laporan-laporan serupa soal perubahan kepribadian dan perilaku yang ganjil mulai terjadi di seluruh kota layaknya sebuah wabah penyakit. Dalam sebuah pesta, Elizabeth mendengar sendiri seorang perempuan yang histeris ketakutan mengklaim bahwa suaminya bukanlah orang yang sama lagi. Orang-orang di jalanan juga mulai berubah seperti robot-robot tak beremosi, seakan tak memiliki jiwa. Beberapa kenalan dan orang-orang yang Matthew jumpai tampak mulai berubah satu persatu, dan semua perubahannya sama. Elizabeth, Matthew, beserta kedua teman mereka Jack dan Nancy mulai menemukan banyak keanehan dan petunjuk atas apa yang sebenarnya sedang terjadi: saat seseorang tertidur, bunga-bunga misterius yang ditempatkan di dekat mereka akan tumbuh dengan cepat menjadi polong raksasa yang kemudian menelurkan duplikat orang tersebut, sementara tubuh manusia aslinya akan hancur saat proses duplikasi tersebut selesai. Secara fisik, para manusia versi duplikat ini sangat identik menyerupai bentuk aslinya, dari mulai rambut, wajah, suara, ingatan, pengetahuan, hingga bekas luka. Tapi ada sesuatu yang tidak manusiawi dalam perilaku mereka. Walaupun secara fisik memang identik, tetapi mereka seakan kehilangan emosi dan jiwanya. Saat body snatcher mulai mengambil alih kota San Fransisco (dan kemungkinan besar sedang mengambil alih seluruh dunia) dan tidak ada lagi yang bisa dipercaya, Matthew dan teman-temannya harus berjuang keras mencari cara untuk tetap bertahan hidup, dan menyelamatkan umat manusia, walaupun kemungkinan selamat sangatlah kecil.

Kalau dalam versi layar lebar tahun 1956 latarnya adalah sebuah kota kecil pinggiran, dalam remake ini Kaufman memindahkan paranoia dan pusat serangan alien ke latar kota metropolis dengan segala hingar bingar populasinya, San Fransisco. Menurut saya, kota besar dengan semua kesibukannya adalah latar yang sangat tepat untuk menggambarkan keterasingan dan kesendirian. Tak perlu adanya spora alien datang pun kebanyakan manusia sibuk di kota besar sudah saling terasing dan mudah menaruh curiga satu sama lain. Invasion of the Body Snatchers 1978 sanggup membuat penonton merasa paranoid hanya dengan menontonnya saja. Tidak ada pahlawan, aksi kepahlawanan dan pertempuran yang epik dalam film ini. Bahkan bumbu “cinta” dalam film ini bisa dibilang cukup minim dan, kalau dipikir-pikir, agak sedih. Saya sendiri sangat menyukai chemistry yang terbangun sangat kuat antara Matthew dan Elizabeth di sepanjang film ini, dari mulai momen-momen Matthew menghibur Elizabeth, momen-momen tertawa bersama, saling menggoda, hingga momen-momen Matthew merasa khawatir setengah mati soal Elizabeth. Walaupun jelas mereka berdua tampaknya saling jatuh cinta, tetapi mereka tidak pernah menjadi pasangan dalam artian yang sebenarnya. Dan mengapa film ini cukup efisien sebagai film horror, mungkin karena ia mengandalkan ketakutan paling mendasar dalam diri manusia, yaitu perasaan putus asa, kecurigaan dan paranoia dalam menghadapi ancaman yang tidak terlihat, yang sebenarnya mungkin hanya ada di benak saja. Invasion of the Body Snatchers 1978 yang sangat meresahkan ini menjadi sebuah pelajaran berharga tentang bagaimana seharusnya film horor dibuat tanpa perlu sosok monster sama sekali. Dua pertiga pertama dari film ini dipersiapkan untuk pembentukan karakter dan sejak awal sudah memperlihatkan tanda-tanda peringatan bahwa ada sesuatu yang buruk (dan semakin buruk) sedang terjadi. Walaupun kemudian film ini banyak memperlihatkan hal-hal mengerikan, dan mungkin menjijikkan bagi beberapa orang, tapi sang sutradara Kaufman sepertinya adalah seorang penyabar. Ia tidak tergesa-gesa dalam memperlihatkan hal-hal mengerikan, seperti misalnya saat proses penduplikasian manusia terjadi di film ini, tetapi justru membangun atmosfernya terlebih dahulu. Philip Kaufman melakukan pekerjaan yang mengagumkan di sini sebagai sutradara. Menggunakan sudut kamera yang aneh dan menarik, ia memastikan setiap bidikan dalam film ini memiliki sesuatu yang disturbing: dari mulai sorotan tatapan kosong orang-orang asing di jalanan, hingga bayangan-bayangan yang panjang dan gelap ala film noir.

Sedikit trivia, hal lain yang menarik untuk dicatat dari Invasion of the Body Snatchers 1978 adalah munculnya beberapa cameo. Pertama adalah Philip Kaufman sendiri yang muncul sebagai seorang pria yang mengetuk-ngetuk booth telepon umum yang sedang digunakan Matthew. Lalu ada Michael Chapman, director of photography film ini yang berperan sebagai pesuruh di kantor tempat Elizabeth dan Matthew bekerja. Dalam rangka menghargai film Invasion of the Body Snatchers versi asli, Kaufman juga mengajak sutradara Don Siegel film tersebut berperan sebagai cameo, sebagai seorang supir taksi yang menjebak Elizabeth dan Matthew. Tak ketinggalan, pemeran utama film Invasion of the Body Snatchers 1956 yang bernama Kevin McCarthy juga kebagian peran cameo sebagai seorang pria yang histeris di jalanan hingga menabrak mobil yang dikendarai oleh Matthew. Dan yang terakhir adalah aktor Robert Duvall yang sangat dikenal di dunia perfilman berkat perannya memerankan Tom Hagen dalam trilogi The Godfather. Ia muncul di awal film hanya sekitar 2-3 detik sebagai seorang pendeta yang duduk di atas ayunan. Entahlah, saya pribadi menyukai cameo seperti saya menyukai easter egg dalam video game.

Apa yang bagi saya menarik dari film ini adalah, kalau dilihat dari sudut pandang alien, apa yang mereka lakukan sama sekali tidaklah jahat. Mereka tidak membantai manusia hingga bersimbah darah dengan kekerasan lewat invasi ala militer, dan mereka juga tidak mengangankan kekuasaan. Mereka hanya melakukan apa yang naluri dan insting instruksikan pada setiap mahluk hidup, bahwa salah satu fungsi dari hidup itu sendiri yaitu survival: beradaptasi dan menghindari kepunahan spesies, seperti halnya rumput liar yang tumbuh di tengah-tengah kebun bunga. Tujuan alien dalam film ini adalah untuk bertahan hidup di planet baru, meneruskan kehidupan, sehingga nasib spesies manusia yang malang tiba-tiba menjadi hal yang kurang penting.

 

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com

 


Posted at : Thu, 21 March 2019
Category : Review