MOVIE REVIEW: IT COMES AT NIGHT (2017)


IT COMES AT NIGHT
Sutradara: Trey Edward Shults
USA (2017)

Review oleh Tremor

It Comes At Night adalah sebuah film thriller / drama yang bertema post-apocalyptic dengan pendekatan psikologis yang dirilis oleh sebuah studio “jaminan mutu” bernama A24. Mengapa saya bilang jaminan mutu? Lihat saja film-film rilisan mereka yang lain seperti  Under the Skin (2013), The Witch (2015), the Blackcoat’s Daughter (2015), Hereditary (2018), dan masih banyak lagi. Menurut saya, apa yang ditawarkan studio A24 adalah film-film horor modern yang brilian yang tidak hanya mengulang-ulang formula standar / generik film horor seperti puluhan film horor modern sampah dewasa ini (seperti film-film horor semacam Conjuring, Annabelle, The Nun dan puluhan film serupa.) It Comes at Night adalah film besutan seorang sutradara yang bisa dibilang baru, bernama Trey Edward Shults, yang sebelumnya cukup menarik perhatian dunia lewat film panjang perdananya, sebuah film drama yang berjudul Krisha (2015).

Film ini menceritakan kisah mengenai sebuah keluarga kecil yang mencoba bertahan hidup pasca peristiwa menyebarnya sebuah wabah misterius yang tidak benar-benar kita ketahui pasti. Bahkan para karakter dalam film ini sepertinya tidak lebih tahu daripada penonton mengenai apa yang terjadi. Tapi kira-kira ada beberapa hal yang cukup jelas: ada wabah virus mematikan dengan efek yang sepertinya mengerikan. Dan tampaknya virus ini telah memusnahkan hampir semua orang. Itu adalah asumsinya. Ketidaktahuan kita para penonton sama dengan ketidaktahuan para karakter dalam film ini, dan itu membuat kita berada di posisi yang secara psikologis sama rapuhnya dengan mereka. Itulah yang kemudian menjadi pintu sang pembuat cerita untuk mempengaruhi emosi penonton.

It Comes At Night dibuka dengan wajah seorang kakek yang sedang sekarat. Sangat jelas ia akan meninggal karena suatu penyakit aneh yang tampaknya sangat menular, karena anak perempuan dari sang kakek, kemudian tampak menggunakan masker gas, masker yang biasa kita lihat dalam film-film mengenai virus, infeksi dan semacamnya. Setelah mereka membunuh sang kakek, Sarah dan suaminya kemudian buru-buru membakarnya.

Fokus film ini adalah keluarga Sarah, suaminya Paul, dan anak mereka yang berumur 17 tahun bernama Travis. Mereka hidup dengan logistik sangat terbatas di sebuah rumah di tengah hutan yang mereka ubah seperti layaknya tempat perlindungan. Untuk alasan keamanan, akses pintu keluar masuk pada rumah itu hanya ada satu, yaitu sebuah pintu berwarna merah (yang akan kita terus lihat dengan perasaan tegang setelahnya) dengan kunci yang hanya dipegang oleh Paul. Semua jendela di rumah merekapun ditutupi kayu, pembagian jatah makanan mereka diatur dengan ketat, dan tidak ada listrik dalam rumah mereka. Tampak jelas bahwa mereka melindungi diri bukan hanya dari wabah saja, tetapi dari sesuatu yang lebih menakutkan, sesuatu yang membuat  Paul menerapkan beberapa peraturan penting: selalu waspada terhadap orang asing, tidak seorangpun boleh pergi ke hutan seorang diri, dan tidak ada yang boleh keluar dari rumah setelah gelap. Bahkan Paul menyiapkan sebuah senapan, untuk berjaga-jaga kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Sebenarnya plot film ini cukup sederhana. Suatu malam, seseorang diam-diam memasuki rumah mereka. Paul menangkap pria ini dan mengikatnya di sebuah pohon, meninggalkannya dan menutup wajahnya dengan karung sambil terus mengontrolnya. Tujuannya adalah untuk melihat apakah pria ini terjangkit virus atau tidak. Pria asing yang diketahui bernama Will tersebut kemudian menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud untuk merampok. Ia pikir rumah Paul adalah rumah kosong dan ia hanya berusaha mencari air bersih untuk keluarga kecilnya: seorang istri dan anak kecil yang menunggunya pulang di rumah. Akhirnya Will menawarkan barter. Ia mengaku memiliki beberapa stok makanan dan siap untuk dibarter dengan air bersih.

Setelah menimbang-nimbang dan yakin bahwa Will bukan orang jahat, Sarah menawari Will sekeluarga untuk ikut tinggal bersama, dengan alasan semakin banyak orang di dalam rumah, akan semakin kuatlah mereka, dan akan semakin mudah untuk bertahan hidup apabila ada kelompok manusia lain berusaha merampok mereka. Apalagi ia tidak tega mendengar bahwa Will memiliki seorang anak yang masih sangat kecil. Akhirnya Paul mengantarkan Will pulang ke rumahnya untuk menjemput keluarga kecilnya. Dari sinilah cerita kemudian berkembang menjadi sebuah konflik antar manusia yang bisa berujung fatal. Dari sini saya tidak akan menceritakan lebih jauh lagi, karena menonton film merupakan sebuah pengalaman yang harus dirasakan sendiri.

Mari kita bicarakan sensasi dari film ini. Tanpa adanya listrik, beberapa sudut dalam rumah mereka menjadi sangat gelap di malam hari. Ini jelas membangun suasana yang sangat menegangkan. Cahaya yang ada hanya berasal dari lentera dan penerangan minim lainnya. Para karakter dalam film ini takut akan gelap, membuat kita ikut merasakan rasa takut tersebut. Mata penonton akan ikut sedikit meneliti ke sudut-sudut gelap ruangan di rumah mereka, khawatir ada sesuatu di situ. Yang membuat lebih seram lagi adalah, karena kita tidak tahu apa “sesuatu” tersebut. Ini seperti menjadi bagian dalam sebuah eksperimen sosial mengenai menularnya rasa takut dan mencekam walaupun kita tidak melihat monster sekalipun. Saya memberi apresiasi pada sang sutradara karena berhasil menghantarkan pengalaman tegang lewat hal-hal sederhana seperti itu. Bahkan derik kayu dalam rumah tersebut bisa kita dengar. Dan bukan hanya di sudut-sudut gelap di dalam rumah saja, siang haripun sama saja. Saat beberapa karakter dalam film ini pergi ke hutan, kita seakan khawatir akan ada orang bersenjata menyergap mereka, atau manusia mutan, atau zombie, atau monster. Ketidakpastian.

Film ini dibuka dengan suasana tenang yang sedih dan depresif, lalu ditutup dengan atmosfer yang kira-kira sama, meninggalkan perasaan keputusasaan. Bermodalkan setting dan cast yang minimalis, film ini berhasil menjadi sebuah karya psikologikal yang memiliki momen-momen menyeramkan sekaligus beberapa kejadian yang menyesakan dada. Selain itu, ada juga kejadian dalam film ini yang cukup membuat penonton ikut merasakan sebuah penyesalan yang mendalam. Kesia-siaan dan tidak adanya harapan.

Paranoia, kekacauan emosi, ketidakpastian, ketidaktahuan, rasa frustasi, rasa tidak nyaman, keputusasaan, dan rasa curiga adalah apa yang menjadi kekuatan film ini. Menonton “It Comes At Night” layaknya berada dalam mimpi buruk seseorang, menyaksikan semua yang terjadi tanpa bisa berbuat apa-apa dan terbangun dengan perasaan gamang dan meninggalkan banyak pertanyaan yang tidak bisa kita cari jawabannya, karena tentu saja kita tidak bisa berinteraksi dengan mimpi buruk.

Saya pribadi sangat menikmati sensasi yang saya rasakan setelah menonton film ini. Sesuatu yang tidak biasa, namun sangat gelap, dan frustating pada beberapa hal. Tapi memang sepertinya tidak semua orang bisa menikmati film ini. Itu tergantung dari bagaimana ekspektasi kita sebelum menontonnya. Kalau boleh jujur, judul film ini memang cukup menjebak dan membuat penonton berekspektasi. Penonton akan mencoba menerka dan menunggu munculnya sosok “It” dalam judul film ini yang tidak kunjung datang. Jadi, saran saya, jangan menonton film ini dengan ekspektasi akan melihat monster mutan. Jangan tertipu dengan judulnya, karena “IT” pada judul film ini benar-benar mengacu pada sesuatu yang sangat misterius yang bahkan cukup misterius bagi para karakter dalam film ini sendiri. Lagipula bukan itu fokus cerita dalam film ini. Film ini juga bukan tipe film yang menawarkan “jawaban” dan penjelasan mengenai apa yang terjadi di luar rumah, karena sekali lagi, bukan itu intinya. Ini bukan film monster / zombie dengan aksi tembak-tembakan dan kejar-kejaran seperti 28 Days Later dan semacamnya. Jadi bagi kalian yang ingin mencari keseruan bertemu zombie, hantu, monster, atau apapun yang kalian pikir soal “It” dalam judul ini, mungkin film ini bukan untuk kalian. Lagipula, siapa yang butuh monster, saat rasa takut mampu membuat manusia menjadi monster itu sendiri?

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com

 

 


Posted at : Thu, 31 January 2019
Category : Review