MOVIE REVIEW: PREMONITION (A.K.A. YOGEN) 2004


PREMONITION (A.K.A. Yogen)
Sutradara:
Tsuruta Norio
Jepang (2004)

Review oleh Tremor

Premonition adalah satu dari enam film yang dirilis dalam seri yang bernama “J-Horror Theater”. Cerita dalam ke-enam film dalam seri tersebut tidaklah saling berkaitan, dan dibuat oleh enam sutradara yang berbeda. Ide mengenai seri “J-Horror Theater” dicetuskan setelah suksesnya film The Ring mengharumkan nama J-Horror di kancah perfilman internasional. Film lain dalam seri ini adalah Infection (2004), Reincarnation (2006), Retribution (2007), Kaidan (2007), dan Kyōfu (2010) dimana kesemuanya adalah film wajib bagi kalian pecinta J-horror. Satu-satunya koneksi dari film-film dalam seri “J-Horror Theater” adalah, semuanya diproduseri oleh Takashige Ichise, seorang produser film yang bertanggung jawab atas suksesnya banyak sekali film horor Jepang mulai dari Dark Water (2002), Shutter (2008), hingga franchise The Ring dan Ju-On.

Premonition yang dalam bahasa aslinya berjudul Yogen disutradarai oleh Tsuruta Norio yang sebelumnya pernah menyutradarai Kakashi (2001) dan Ringu 0 (2004), sebuah prequel dari film the Ring yang menceritakan Sadako semasa hidupnya. Premonition diadaptasi dari manga yang berjudul Kyoufu Shinbun (1973), yang artinya kira-kira adalah “Newspaper of Terror” atau “Koran Teror”, bercerita mengenai seorang pria yang diteror oleh datangnya koran-koran yang isi headline-nya memprediksi masa depan. Namun apa yang tertulis di koran-koran tersebut bukanlah hal-hal biasa, namun berita-berita mengenai kematian yang akan terjadi, dan kesemuanya adalah kematian yang tidak wajar dan tragis. Kecelakaan, pembunuhan, dan lain-lain.

Cerita bermula saat seorang guru sekolah bernama Hideki sedang melakukan perjalanan liburan bersama istrinya, Ayaka, dan anak mereka satu-satunya yang bernama Nana. Sambil menyetir mobil, Ayaka yang riang mengajak dan Nana untuk bernyanyi bersamanya. Namun Hideki sibuk sendiri dengan laptopnya karena harus segera mengirimkan pekerjaannya lewat internet. Karena masa itu belumlah jamannya modem portable, internet pada laptop bisa didapat lewat menyambungkan telepon genggam ke laptop. Namun ada masalah dengan telepon Hideki, hingga ia memohon pada istrinya untuk memutar arah menuju telepon umum terdekat supaya ia bisa mengirimkan pekerjaannya secepat mungkin dan melanjutkan liburan mereka dengan tenang. Jepang adalah gudangnya hal-hal canggih, maka saya tidak merasa heran kalau disana pada tahun 2004, mereka bisa mencolokan kabel dari telepon umum ke laptop untuk mendapatkan koneksi internet.

Saat sedang menunggu proses pengiriman email di sebuah bilik telepon umum pinggir jalan, Hideki menemukan sebuah potongan koran yang sudah lusuh di dalam bilik tersebut. Merasa bosan, iapun iseng membaca potongan koran tersebut. Apa yang ia temukan di dalamnya adalah sebuah berita mengenai kecelakaan lalu lintas yang membuatnya sangat kaget: Sebuah truk menabrak sebuah mobil  yang sedang terparkir ,dengan ciri-ciri yang sama dengan mobilnya, di jalan yang sama dengan lokasinya sekarang. Korban dari kecelakaan maut tersebut adalah seoang balita, bernama Nana, lengkap dengan foto Nana, anaknya, terpampang disitu. Hideki pun merasa sangat kebingungan. Ayaka sempat keluar dari mobil untuk memanggil Hideki, namun Nana masih terkunci sabuk pengaman di dalam mobil mereka yang terparkir di pinggir jalan. Saat Hideki yang masih kebingungan keluar dari bilik telepon untuk mengambil Nana, sebuah truk melesat tak terkendali dan menabrak mobil mereka. Mobil pun terbakar dengan Nana di dalamnya. Potongan koran yang Hideki baca mengenai kematian Nana tidak pernah ditemukan kembali setelah itu, dan hidupnya pun mulai hancur berantakan.

Tiga tahun kemudian, Hideki dan Ayaka sudah bercerai. Hideki sangat tertekan karena sejak kecelakaan yang merenggut nyawa Nana, ia selalu mendapatkan kiriman koran dengan prediksi-prediksi pembunuhan dan kecelakaan tertulis di dalamnya setiap hari. Dan kesemua prediksi tersebut selalu benar.  Koran-koran teror. Terlebih lagi ia masih dibayangi perasaan bersalah karena terlambat menyelamatkan Nana, atau karena ia lah yang meminta mereka berhenti di bilik telepon tersebut. Mengetahui hal-hal yang belum terjadi tanpa bisa melakukan pencegahan apapun adalah beban yang sangat berat.

Sementara itu, Ayaka yang ingin mempercayai cerita mantan suaminya mengenai potongan koran yang memprediksi kematian Nana, melakukan risetnya sendiri. Suatu hari saat sedang mewawancarai seorang cenayang yang memiliki kemampuan memprediksi kejadian di masa depan lewat foto-foto kamera polaroid, Ayaka memberanikan diri bertanya mengenai koran teror. Ceyanang tersebut dengan agak ragu memberi sedikit gambaran bahwa koran teror adalah hal yang pernah terjadi sebelumnya pada beberapa orang. Bahkan seorang pria yang bernama Rei Kigata pernah melakukan riset khusus dan membuat buku mengenai fenomena koran teror. Namun kebanyakan dari mereka yang mengaku diteror oleh koran-koran serupa umumnya menghilang.

Malam harinya, Ayaka mendapat panggilan telepon dari si cenayang yang menyuruhnya datang ke rumahnya. Sesampainya di sana, Ayaka tidak menemukan sang cenayang, namun ia melihat beberapa jurnal berisi potongan-potongan koran berisi berita-berita kecelakaan, dan kontak dari Rei Kigata, orang pertama yang melakukan riset mengenai koran teror. Di sebuah ruangan lain, akhirnya Ayaka menemukan si cenayang sudah meninggal, dikelilingi dengan banyak foto polaroid yang betebaran di lantai. Di tangan si cenayang terdapat foto polaroid terakhir yang ia ambil, berisi foto Hideki.

Pada saat yang bersamaan, seorang pembunuh berantai sedang menghantui kota tersebut. Beberapa potongan koran yang Hideki terima selalu menuliskan mengenai korban-korban selanjutnya. Salah satunya adalah muridnya sendiri. Hideki berusaha  mencegah agar hal tersebut tidak terjadi, namun ia selalu terlambat untuk mencegah prediksi dari koran-koran tersebut. Akhirnya di bawah keputusasaan, ia pun menemui Ayaka dan sepakat untuk melakukan pencarian dan riset bersama untuk memecahkan misteri mengenai teror koran tersebut, namun hal-hal yang mereka temui dan ungkap dalam pencarian ini semakin menakutkan bagi mereka.

Ide utama dari Premonition adalah teror, takdir, dan bagaimana beberapa orang yang memiliki “bakat” untuk melihat masa depan dalam artian siapa yang akan mati dan dengan cara apa kematian itu datang. Film ini ditutup dengan apa yang akan terjadi saat mereka yang memiliki “bakat” tersebut berusaha merubah takdir.

Menonton Premonition meninggalkan pengalaman dan perasaan yang agak berbeda bagi saya pribadi, dibandingkan umumnya J-horror lainnya. Film ini memiliki kualitas keganjilan yang saya suka. Bukan keabsurdan visual ala film-film surrealis dan art-house, namun keabsurdan di tatanan ide. Semakin ganjil sebuah cerita horror, kadang bisa membuatnya terasa semakin seram, seperti bisa kita temui di banyak sekali cerita horror tidak wajar buatan Junji Ito atau cerita-cerita rakyat seram dari Jepang. Film-film horor jepang dengan elemen horror yang ganjil seperti Premonition, Cure (1997), dan Pulse (2001) selalu meninggalkan kesan dalam diri saya, jauh melebihi film-film horor hantu jepang biasa. Sudah bukan rahasia umum kalau negara Jepang adalah gudangnya hal-hal aneh dan tidak umum secara budaya dan kebiasaan. Maka, saya bisa berasumsi, beginilah seharusnya horror khas Jepang yang sesungguhnya, ganjil dan tidak umum.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com

 


Posted at : Thu, 05 April 2018
Category : Review