MOVIE REVIEW : RABID (1977)


RABID (1977)
Sutradara: David Cronenberg
Kanada

Review oleh Tremor

 

Rose dan Hart, sepasang kekasih yang sedang melakukan perjalanan mengendarai motor di daerah pedesaan di Kanada, mengalami kecelakaan cukup fatal saat motor yang mereka kendarai menabrak sebuah mobil. Motor yang sedang melaju dalam kecepatan tinggi itu terlempar ke luar jalan dan mulai terbakar. Hart hanya mengalami beberapa patah tulang, tetapi naas bagi Rose yang mengalami luka bakar cukup parah karena dia terjepit di bawah motor yang terbakar. Beruntung kebetulan tabrakan tersebut terjadi tak jauh dari sebuah resort sekaligus klinik spesialis operasi plastik (oplas) yang cukup mewah bernama Keloid Clinci, Inc. Nama Keloid disini bukan secara langsung mengacu pada kondisi kulit keloid, tapi diambil dari nama sang dokter pemilik klinik tersebut, Dr. Keloid. Seorang dokter spesialis oplas bernama Keloid? Kenapa tidak. Setelah mengetahui perihal kecelakaan tersebut, Dr. Keloid segera memerintahkan ambulans untuk menjemput kedua korban, dan setelah melihat langsung kondisi Rose yang memprihatinkan, ia memprediksi Rose tidak akan bertahan hidup lebih dari tiga jam kalau tidak segera ditangani dan dioperasi. Namun perjalanan menuju rumah sakit terdekat akan memakan waktu lebih dari tiga jam, mengingat klinik ini letaknya cukup jauh dari kota terdekat, Montreal. Dr. Keloid pun akhirnya menyiapkan timnya untuk segera mengoperasi Rose, sekaligus berkesempatan untuk melakukan eksperimen metode baru dalam operasi plastik dimana secara teknis, kulit dan jaringan yang ia ambil dari paha Rose akan diproses terlebih dahulu secara genetik, sebelum kemudian ditempelkan pada wajah dan bagian tubuh lain yang kulit serta jaringannya perlu diperbaiki. Kulit serta jaringan hasil rekayasa genetika tersebut diharapkan akan mampu beradaptasi dan berubah menjadi jaringan bagian tubuh lain secara sempurna. Salah satu dokter yang membantu operasi tersebut sempat tidak sepakat karena mereka belum terlalu tahu apa efek negatif dari eksperimen tersebut. Tapi benar juga kata Dr. Keloid, bahwa kemungkinan Rose tetap hidup pun sangat kecil, Rose tidak akan kehilangan apapun selain nyawanya, dan uji coba ini adalah satu-satunya harapan. Kalaupun terjadi apa-apa, Dr. Keloid pikir mereka bisa tetap memantaunya, dan itu adalah kesempatan untuk mempelajari lebih jauh hasil eksperimen cangkok tersebut. Rencananya Rose akan diharuskan tetap tinggal disana hingga benar-benar pulih. Akhirnya operasi dilakukan, dan pencangkokan kulit serta jaringan hasil rekayasa genetik dilakukan. Selama proses penyembuhan, Rose mengalami koma, dan Hart yang terluka tidak terlalu parah diminta untuk pulang ke Montreal hingga Rose terbangun dari komanya.

Satu bulan kemudian, Rose terbangun dari komanya. Tanpa diduga, salah satu jaringan hasil cangkok pada tubuh Rose mengalami pertumbuhan yang tidak wajar, menjadi sesuatu yang tak akan pernah terbayangkan sebelumnya, dimana terdapat lubang di bawah ketiaknya yang dapat mengeluarkan semacam daging berbentuk selang dengan ujung menyerupai organ penyengat sekaligus penghisap. Entahlah, saya tidak bisa menjelaskannya karena saya tidak tahu apa namanya. Sepanjang sepengetahuan saya, tidak ada satupun hewan lain yang memiliki organ tubuh seperti itu. Yang pasti, selain perubahan pada salah satu jaringan tersebut, tubuh Rose juga berkembang menjadi haus darah. Haus darah disini bukan dalam artian tersirat, tapi secara harafiah ia haus akan darah manusia. Secara perlahan kita akan menyaksikan bagaimana Rose akhirnya memahami trasformasi tubuhnya sendiri, dimana darah manusia adalah satu-satunya sumber makanan yang bisa ia konsumsi. Sampai di titik ini, hanya Rose seorang yang menyadari sisi gelap perubahan dalam dirinya, termasuk juga soal “organ” barunya. Di permukaan, segalanya dari Rose tetaplah normal. Rose tetaplah Rose yang biasanya. Ia tidak berubah menjadi zombie sinting atau monster yang jelas terlihat ketidaknormalannya. Namun, Rose sadar betul bahwa secara fisik ia merasa menjadi lebih kuat dan agresif, dan ia tidak bisa mengacuhkan perasaan laparnya akan darah manusia. Perlu saya jelaskan, bahwa darah manusia bukan ia hisap melalui mulut seperti umumnya film vampir, tapi lewat “organ tubuh” barunya, dimana ia menyengat korbannya lalu menghisap darahnya lewat organ tubuh yang sama.  Menariknya, kemudian diketahui bahwa Rose bukan hanya sekedar menghisap darah, namun juga menginfeksi virus asing pada para korbannya. Mereka yang Rose hisap darahnya, tidaklah mati. Mereka hanya mengalami pingsan selama beberapa menit, sebelum kemudian bangkit menjadi agak gila, berperilaku agresif mirip zombie dalam film zombie modern, dengan kecenderungan mirip anjing rabies, dan juga haus darah. Agresif, mulut berbusa, dan akan mati setelah menggigit/memakan orang lain. Gigitan itulah yang sekaligus menularkan “virus” aneh tersebut pada lebih banyak orang. Virus yang awalnya disangka sebagai rabies tingkat tinggi tersebut kemudian berkembang menjadi wabah ke seluruh penjuru Montreal, sejak Rose akhirnya kabur dari klinik tersebut dan pergi menuju Montreal dengan cara menumpang-numpang mobil di jalan, dimana kemudian satu persatu  pengemudinya menjadi korbannya.

Rose yang samasekali tidak kehilangan kewarasannya ini, menyadari penuh semua tindakannya. Namun ia tidak bisa mengendalikannya. Ia merasa sangat buruk dan frustrasi dengan kondisi barunya. Tapi Rose hanya ingin bertahan hidup, dan ia tidak dapat memakan makanan biasa. Tubuhnya menolak cairan infus, burger, hingga darah sapi. Hanya darah manusia lah yang membuatnya tidak muntah. Menariknya, kebanyakan dari korban yang ia pilih sejak kabur dari klinik hingga ia tiba di Montreal, adalah para pria hidung belang yang berusaha menggodanya, atau mengambil kesempatan dari Rose, seorang perempuan yang bepergian sendirian di dunia yang dipenuhi lelaki hidung belang.  Sementara itu sejak Rose kabur, terjadi kekacauan yang semakin tidak terkendali di klinik Dr. Keloid. Beberapa orang yang sudah tertular penyakit misterius ini menyerang mereka yang masih sehat, dan terus saling menularkan. Yang terjadi di Montrealpun kemudian tak jauh berbeda. Para pengidap virus misterius ini semakin bertambah, hingga ke level wabah yang tak terkendali dimana akhirnya diberlakukan darurat militer di seluruh Montreal. Pembasmian pun dilakukan oleh militer, karena para pengidap virus ini sangat agresif dan belum diketahui bagaimana cara menghentikan mereka selain dengan cara dibunuh. Inkubasi virus asing ini juga terhitung sangat cepat, hanya dalam hitungan menit, mereka yang tergigit akan berubah menjadi sangat agresif dan mulai menyerang orang di sekitarnya.

 

 

Secara keseluruhan, film ini cukup bagus, walaupun jauh dari sempurna. Rabid adalah film berbajet rendah, diperankan oleh para aktor / aktris dengan kemampuan peran yang seadanya, dan plot yang cukup berantakan. Bajet yang pas-pasan dalam proyek ini pastinya berpengaruh ke banyak hal, termasuk pada special effect yang seharusnya bisa lebih maksimal. Luka bakar Rose saat ia mengalami kecelakaan juga tidak terlihat satu detikpun di dalam film. Ya harap maklum, mungkin bajetnya tidak ada.

Poin plus lain dari Rabid adalah, ini merupakan film horor kedua yang ditulis sekaligus disutradarai oleh seseorang yang tidak pernah pergi ke sekolah perfilman: David Cronenberg (film horor pertamanya berjudul Shivers, dirilis pada tahun 1975). Proyek awal Cronenberg seperti Rabid ini tidaklah sia-sia, karena tentu saja banyak pelajaran yang ia dapat. Karir Cronenberg pun semakin meroket di kemudian hari dalam kancah perfilman horor internasional setelah menelurkan film-film horor klasik lainnya seperti The Brood (1979), Scanners (1981), Videodrome (1983), the Dead Zone (1983), dan tentu saja remake dari The Fly (1986). Dan seperti kebanyakan film Cronenberg lainnya, Rabid sangat fun dan menghibur. Dengan menonton Rabid, kita bisa menyaksikan bagaimana awal perkembangan Cronenberg sebagai seorang pembuat film.

Film ini termasuk dalam sub-genre horor body horror (yang memang merupakan ciri khas utama dari David Cronenberg sang sutradara), sekaligus Sci-fi (fiksi ilmiah). Namun sisi “ilmiah” dari film ini hampir tidak ada. Entahlah, saya bukan seorang ilmuwan dan saya tidak ingin memusingkan soal itu mana yang masuk akal dan mana yang tidak. Saya belajar bahwa kunci untuk menikmati sebuah film adalah, tidak perlu memikirkan soal itu terlalu jauh. Duduk dan nikmati saja. Masih soal sub-genre, beberapa orang mungkin akan menganggap film ini sebagai film zombie, walaupun sebenarnya genre tersebut tidak terlalu tepat untuk disematkan pada Rabid. Apa yang menarik dari Rabid adalah, rasanya film ini muncul sebelum era dimana film-film bertema infeksi virus / “zombie” agresif menjadi trend besar di dunia film horor modern (contohnya film-film seperti 28 Days Later, Rec, Cabin Fever, dll). Pada masa Rabid dirilis, belum banyak film horor bertema infeksi virus yang merubah pengidapnya menjadi sangat agresif layaknya zombie. Seingat saya, mungkin hanya film Shivers (yang juga ditulis oleh Cronenberg, 1975) dan The Crazies (besutan George Romero pada tahun 1973) yang sudah mengangkat tema tersebut. Ide mengenai film zombie pada masa itu masih cukup tradisional: mayat hidup yang sudah membusuk, bangkit dari kematian. Tidak terlalu agresif, tapi mereka akan memakanmu. Trend besar di awal era ini malah lebih absurd lagi karena tema zombie sering dicampur dengan tema supranatural / klenik, seperti dapat ditemui di banyak film zombie asal Italia, dan kemudian diadaptasi di Indonesia seperti pada film Pengabdi Setan (1980).

Rabid dirilis pada tahun 1977, namun masih cukup relevan untuk ditonton sekarang. Bayangkan, di kehidupan nyata sekarang sudah semakin banyak virus-virus dan penyakit-penyakit baru yang sebelumnya tidak pernah ada, muncul begitu saja dan menjadi wabah menyeramkan. Siapa yang tidak takut kalau wabah virus asing se-ekstrim film Rabid kemudian bisa benar-benar terjadi di dunia nyata?

Kalau saya diharuskan memilih film horor klasik yang produksinya cukup buruk, namun pantas untuk dibuat remake-nya, Rabid akan masuk dalam daftar tersebut. Film ini pantas mendapatkan penulisan yang lebih baik, pengaturan plot yang lebih rapih, dan tentu saja special effect / make up yang lebih mantap yang saya rasa tidak memerlukan bantuan CGI / animasi komputer samasekali.

 

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film Horror, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat@yahoo.com

 


Posted at : Sat, 21 October 2017
Category : Review