MOVIE REVIEW: SEBELUM IBLIS MENJEMPUT (2018)


SEBELUM IBLIS MENJEMPUT
Sutradara: Timo Tjahjanto
Indonesia (2018)

Review oleh Tremor

Saat pertama kali melihat posternya dulu, saya pikir Sebelum Iblis Menjemput  adalah film horor generik bertema hantu LAGI, sebuah tema horor yang dengan subjektif bisa saya bilang cukup membosankan dan tidak menggairahkan lagi. Rasanya sudah lebih dari cukup Indonesia memproduksi film dengan tema hantu dan arwah gentayangan. Dan ternyata saya salah. Sebelum Iblis Menjemput adalah film horor dengan tema kerasukan / haunted house yang dibungkus dengan cukup tidak biasa untuk ukuran film Indonesia.

Indonesia yang masyarakatnya masih sangat percaya pada hal-hal mistis, memang seperti menjadi gudangnya kisah-kisah dan urban legend seram. Dari mulai hantu ambulans, longga, ngeak, gundul pringis, sampai ke si manis jembatan ancol. Kisah-kisah mistis lokal yang memiliki banyak sekali ragam variasi dari berbagai daerah, memang cukup menarik untuk disimak. Tapi tidak semuanya pantas untuk difilmkan layar lebar berdurasi lebih dari 80 menit karena sebagian besar justru sebenarnya menyeramkan karena diceritakan dari mulut ke mulut dengan tidak bertele-tele. Itulah mengapa kebanyakan film horor lokal menjadi tidak efektif, dipenuhi dengan adegan dan dialog tidak penting dan berkesan hanya untuk mengulur-ngulur durasi tayang. Karena Indonesia adalah gudangnya kisah mistis, kemudian para sineas horor lokal tampak menjadi agak “malas” untuk lebih bereksplorasi dan keluar dari genre klise “horor asia” dan tema hantu-hantuan. Jujur, saya pribadi sudah cukup muak dengan film-film horor bertema hantu dari mulai film barat, asia maupun lokal. Tapi rupanya tidak semua sineas lokal seperti itu. Tidak dengan Timo Tjahjanto.

Pertama kali saya mendengar nama Timo Tjahjanto adalah saat saya menonton antologi film horor Indonesia yang berjudul Takut: Faces of Fear (2008) yang dulu sempat diputar secara terbatas (hanya di BlitzMegaplex Jakarta dan Bandung) dalam festival film bernama iNAFFF. Dalam antologi tersebut, duet maut Timo dan rekannya Kimo (keduanya dikenal dengan nama The Mo Brothers) membuat film pendek yang sederhana namun paling berkesan bagi saya dibandingkan film pendek lain dalam antologi Takut. Judulnya adalah Dara. Sepulang dari bioskop usai menyaksikan Takut saat itu, saya masih terus memikirkan betapa menyenangkannya segmen Dara. Rupanya saya tidak sendirian dalam mengapresiasi Dara. Film pendek Dara mendapat respon sangat baik dari para penonton Takut, hingga akhirnya dikembangkan menjadi sebuah film layar lebar dengan judul Rumah Dara (2010). Sayangnya menurut saya Rumah Dara tidak sebagus film pendeknya. Rumah Dara dipenuhi dengan hal-hal klise khas film splatter, dengan plot yang tak kalah klise pula. Kekecewaan terbesar saya dalam Rumah Dara adalah dengan diubahnya karakter si Dara itu sendiri. Tapi soal itu mungkin akan saya bahas di lain kesempatan. Kembali pada Timo Tjahjanto dan The Mo Brothers, sejak menonton film pendek Dara, saya mulai penasaran dengan mereka berdua. Walaupun besar dengan duet Mo Brothers, bukan berarti Timo Tjahjanto tidak bisa membuat film sendirian. Rasa-rasanya Sebelum Iblis Menjemput adalah film horor panjang perdana Timo sebagai sutradara tunggal. Sebelumnya, ia memang sempat menggarap beberapa film pendek seperti sebuah segmen yang diberi judul “L is for Libido” dalam antologi horor komedi internasional yang berjudul The ABCs of Death (2012), serta segmen pendek berjudul “Safe Haven” dalam antologi horor found- footage berjudul V/H/S/2 (2013) yang ia buat bersama Gareth Evans (sutradara Merantau, The Raid, dll).

Kembali ke Sebelum Iblis Menjemput , secara general cerita dalam film ini cukup sederhana. Cerita dibuka dengan seorang laki-laki bernama Lesmana (diperankan oleh sang aktor bad ass Ray Sahetapy) yang membuat perjanjian dengan (saya asumsikan sebagai) iblis lewat seorang dukun perempuan seram yang sepertinya bertugas sebagai “perantara”. Saya tidak pernah menangkap siapa nama perempuan tersebut, dan itu bukan masalah besar. Di sebuah ruang bawah tanah dalam villa milik Lesmana lah dukun perempuan tersebut melakukan ritualnya. Lewat perjanjian dengan iblis ini, Lesmana mengharapkan kekayaan berlimpah. Adegan ritual ini sebenarnya cukup klise dan simpel, tapi sangat efisien menurut saya. Tidak bertele-tele dan memang ditutup dengan cukup keren saat sang dukun yang kerasukan mulai mengambang di udara. Selain sang dukun yang kerasukan, ritual ini juga melibatkan seikat rambut (yang saya tidak tahu persis rambut milik siapa) yang kemudian ditelan oleh sang dukun, simbol semacam pentagram di tanah, darah Lesmana, pembakaran uang, dan kepala kambing. Benar saja, setelah ritual tampaknya selesai, ruang bawah tanah Lesmana mulai berhujankan uang. Dengan rakus Lesmana mengumpulkan uang yang beterbangan tersebut. Sang dukun lalu berpesan, “Pulanglah. Di rumah masih banyak”, kira-kira begitu.

Namun, yang namanya perjanjian dengan iblis, tentu saja ada harga yang harus dibayar. Untuk menghemat waktu dan menghindari dialog yang bertele-tele, kemudian penonton diperlihatkan potongan-potongan kliping koran yang menuturkan perjalanan hidup Lesmana. Tak lama setelah menjadi sukses dan kaya raya, Istri Lesmana meninggal dengan cara tidak lazim, meninggalkan seorang anak perempuan yang masih kecil. Lesmana pun menikah lagi dengan seorang mantan aktris dan pada akhirnya Lesmana mulai bangkrut serta menderita sakit secara misterius.

Anak kandung Lesmana yang bernama Alfi (diperankan Chelsea Islan) tampaknya sudah cukup terbiasa hidup mandiri dan terpuruk sejak kecil. Ia tampak mencopet di sebuah bus kota dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk menjenguk Lesmana. Sesampainya di rumah sakit, dengan terpaksa ia harus berjumpa dengan kedua saudara tirinya: Maya (diperankan Pevita Pearce) dan Ruben (diperankan Samo Rafael), dan juga sang ibu tiri yang bernama Laksmi (diperankan Karina Suwandi). Alfi tidak memiliki hubungan yang baik dengan “keluarga baru” ayahnya ini. Ia bahkan sangat membenci Lesmana. Karena keluarga Lesmana sudah mulai bangkrut dan membutuhkan lebih banyak dana untuk perawatan rumah sakit, Laksmipun ingin menjual aset milik Lesmana. Salah satunya adalah villa tua yang sudah lama tak dihuni, villa dimana Lesmana melakukan perjanjian dengan iblis di ruang bawah tanahnya belasan tahun sebelumnya.

Dihantui oleh bayang-bayang masa kecil saat masih bersama ibu kandungnya, Alfipun pergi mendatangi villa tersebut seorang diri. Disana ia menemukan potongan-potongan kenangan lamanya, bekas ruang tidurnya, serta sebuah piano tua yang sering ibunya mainkan. Tapi ada hal lain yang Alfi temui, yaitu pintu menuju ruang bawah tanah yang sudah digembok, dipaku, dan dipenuhi dengan kertas-kertas mantra. Tak lama kemudian, Alfi harus berjumpa lagi dengan keluarga tirinya yang menyebalkan. Laksmi beserta anak-anaknya (termasuk adik tiri Alfi yang paling kecil bernama Nara) juga datang ke villa tersebut untuk mencari barang-barang dan surat-surat berharga yang bisa mereka jual. Apa yang mereka cari juga mungkin adalah surat kepemilikan rumah dan tanah dari villa tersebut. Walaupun pertengkaran antara Alfi dan keluarga Laksmi semakin meruncing, namun penggeledahan rumah tetap dilakukan. Sebenarnya tidak semua anggota keluarga tiri Alfi menyebalkan. Hanya Laksmi dan Maya yang tampaknya selalu bersitegang dengan Alfi, sementara Nara masih terlalu kecil, dan Ruben justru menginginkan perdamaian di dalam keluarga tersebut.

Alfi yang kemudian memutuskan untuk menyendiri, akhirnya masuk ke bekas ruang kerja ayahnya dan menemukan benda-benda misterius di sana. Masa lalu dan rahasia gelap Lesmana mulai terbuka di depan mata Alfi. Setelah mempelajari benda-benda tersebut, Alfi hendak mengabarkan penemuannya kepada Ruben. Terutama soal kecurigaannya mengenai mengapa ruang bawah tanah disegel oleh Lesmana. Namun semua sudah terlambat, karena di waktu yang bersamaan, Ruben sedang membuka paksa pintu menuju ruang bawah tanah villa. Dan kekuatan gelap dan jahat pun terbebas dari penjara bawah tanahnya. Mulai dari sini, keadaan semakin kacau. Dari mulai Laksmi dan Maya yang kesurupan, hingga kembalinya sosok sang dukun perempuan yang sudah menyerupai iblis. Anak-anak Lesmana kemudian mau tidak mau harus bersatu untuk bertahan dari kekuatan jahat yang ingin menagih “hutang” Lesmana.

Terlepas dari plot yang klise, serta ending yang kurang “nendang” dan terasa seperti kehabisan ide tentang bagaimana cara menutup film ini, saya bisa bilang bahwa Sebelum Iblis Menjemput  adalah sebuah film yang cukup bagus dengan pendekatan yang tidak biasa untuk ukuran film horor lokal. Sebuah film kerasukan lokal tanpa adanya unsur reliji dan sosok orang “pintar” adalah hal yang cukup menyegarkan bagi saya. Bagi kalian para penggila film horor, tentu tidak akan merasa asing dengan beberapa unsur dalam film ini: rumah tua di tengah hutan, kekuatan jahat yang tidak sengaja terbebas setelah sekian lama dipenjara dalam ruang bawah tanah, kerasukan masal yang penuh dengan kesadisan dan darah, serta melibatkan iblis yang mengkonsumsi “jiwa”. Melihat unsur-unsur tersebut, saya sendiri langsung teringat pada satu nama saja: Sam Raimi, seorang sutradara horor asal Amerika. Saya sangat yakin bahwa memang ada pengaruh yang sangat kental dari beberapa film Sam Raimi dalam Sebelum Iblis Menjemput, terutama 2 film pertama Evil Dead (1981 dan 1987) dan sedikit Drag Me to Hell (2009). Tidak, saya tidak bilang bahwa Sebelum Iblis Menjemput  adalah hasil menjiplak, karena memang berbeda. Terinspirasi dan terpengaruh bukan berarti menjiplak. Dengan senang hati saya berasumsi bahwa sebagian nyawa dari film ini adalah homage dari Timo Tjahtanto untuk Sam Raimi. Dan itu keren menurut saya. Sudah saatnya penonton film Indonesia diperkenalkan pada dunia film horor supernatural yang lebih luas daripada tema hantu dan arwah gentayangan yang membosankan. Dan Timo Tjahjanto berhasil mengambil satu langkah lebih maju dalam industri film lokal yang masih terus berkutat dengan dunia hantu. Timo memilih sesuatu yang lebih jahat, yaitu iblis.

Beberapa kekurangan Sebelum Iblis Menjemput menurut saya, salah satunya adalah: film ini menjadi terasa terlalu barat. Unsur-unsur yang digunakan hampir semuanya sangat “horor barat.” Dari mulai simbol-simbol seperti pentagram, penggunaan boneka voodoo, sosok “demon” berkepala kambing, hingga konsep ruang bawah tanah yang sepertinya kurang cocok untuk sebuah rumah di tengah hutan hujan yang berada di dalam iklim lembab dengan curah hujan yang tinggi seperti Indonesia. Maksud saya, kepala kambing tidak pernah identik dengan iblis pada pandangan masyarakat Indonesia. Contohnya, seseorang yang tidak familiar dengan imaji-imaji satanik barat, tidak akan memahami apa hubungannya kepala kambing dengan kekuatan jahat. Padahal, menurut saya, unsur-unsur minor tersebut mungkin bisa diadaptasi ke dalam bentuk lain yang lebih terasa Indonesia. Tapi mungkin kita harus berbicara soal pasar penontonnya juga. Kalau film ini memang ditujukan untuk pasar internasional, maka tentu saja unsur-unsur yang saya sebutkan tadi memang akan terasa lebih efektif, walaupun mungkin akan terasa “usang” bagi penonton horor internasional. Hal-hal yang sudah disindir dengan sangat brilian dalam film The Cabin In The Woods (2012), ada dalam Sebelum Iblis Menjemput . Kekurangan lain yang sangat ingin saya tulis adalah, make-up “setan” sang dukun perempuan ketika ia sudah berubah karena kerasukan terasa sangat berlebihan, yang justru tidak membuat sang dukun tampak menyeramkan di mata saya. Bahkan dalam beberapa scene, ia tampak menggelikan dengan deretan gigi tajamnya. Hal tersebut sangat saya sayangkan, karena sosok sang dukun yang menjadi karakter jahat sentral di film ini seharusnya memiliki make-up yang paling menyeramkan dari semuanya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, sang dukun perempuan menjadi kalah menyeramkan dibandingkan dengan wajah Laksmi saat ia kerasukan, atau perubahan ekspresi wajah ibu kandung Alfi saat kekuatan jahat menggunakannya untuk menyerang Alfi.

Sebelum Iblis Menjemput juga diwarnai dengan beberapa adegan kekerasan penuh darah, seperti kepala yang lepas dan palu menancap di kepala. Namun, rasanya masih kurang sadis untuk ukuran seorang Timo Tjahjanto. Kalau kalian sudah menonton film full-action penuh kekerasan buatan Timo Tjahjanto yang berjudul The Night Comes For Us (2018) dan segmen pendek L is for Libido dalam antologi horor komedi internasional The ABCs of Death (2012), tentu kalian akan yakin bahwa seorang Timo Tjahjanto mampu lebih brutal, lebih sakit dan lebih sembarangan dibandingkan apa yang ia perlihatkan dalam Sebelum Iblis Menjemput. Saya tidak kenal dengan beliau, tapi kalau saya adalah seorang Timo, saya akan berusaha sekeras tenaga untuk membuat Sebelum Iblis Menjemput jauh lebih brutal dibandingkan remake The Evil Dead (2013) sekalipun, karena seorang Timo pasti mampu melakukannya. Saya juga membayangkan betapa kerennya kalau karakter Laksmi berbicara sangat kotor saat ia kerasukan, seperti karakter Regan MacNeil dalam film The Exorcist (1973), misalnya. Atau mungkin scene-scene kematian yang lebih brutal lagi dari sekedar kepala yang lepas begitu saja. Tapi saya menyadari kendala apa yang mungkin menahan Timo untuk memaksimalkan kebrutalannya. Sebelum Iblis Menjemput dirilis dan diputar di bioskop Indonesia, diawasi oleh badan sensor, dan ditonton oleh para penonton Indonesia yang mungkin tidak semuanya sanggup mengapresiasi karya yang terlalu sadis dan kasar. Kompromi tidak terhindarkan karena pasar lah yang kemudian berbicara. Sementara itu The Night Comes For Us dan L is for Libido memang dirilis untuk pasar internasional, membuat ia memiliki kebebasan yang lebih longgar sampai-sampai bisa memasukan belasan ekspresi makian “ngentot” dalam The Night Comes For Us dan membawa tema yang tabu bagi masyarakat Indonesia dalam L is for Libido.

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com

 


Posted at : Thu, 07 February 2019
Category : Review