MOVIE REVIEW: SUPER DARK TIMES (2017)


Super Dark Times
Sutradara:
Kevin Phillips
United States (2017)

Review oleh Tremor

Super Dark Times adalah sebuah film drama thriller debut buatan Kevin Phillips, seseorang yang sebelumnya lebih banyak bekerja sebagai sinematografer film pendek dan iklan, mencoba menjadi sutradara. Tak heran kalau pengambilan gambar, warna dan sudut pandang dalam film ini seringkali tampak artistik, karena ia lebih berpengalaman sebagai sinematografer daripada sebagai seorang sutradara. Namun sebagai sebuah film panjang perdananya, film ini jauh lebih bagus daripada yang saya harapkan.

Bagi mereka yang tumbuh dan mengalami fase-fase ABG-nya di era 90-an, tentu akan ingat bahwa era ini adalah era yang simpel dan menyenangkan. Tidak ada yang namanya telepon genggam, dan satu-satunya cara berkomunikasi dengan teman kita di luar jam sekolah adalah dengan menelpon lewat telepon rumah (atau telepon koin), atau mendatangi rumahnya secara langsung tanpa perlu khawatir apakah mereka ada di rumah atau tidak. Kita bisa bersama-sama melihat-lihat buku tahunan sekolah, jatuh cinta dengan teman di sekolah (dan kakak kelas), bersepeda bersama dengan teman-teman dan membicarakan hal-hal “dewasa”, merasa paling tahu mengenai segala hal, selalu tertantang dengan hal-hal baru, bermain video game, diam-diam menonton film porno walaupun dengan kualitas gambar yang buruk, mencoba hal-hal “nakal” (seperti rokok, misalnya), ingin tampak cool walaupun kadang harus menghadapi bully, dan masih banyak lagi. Era yang tepat untuk tumbuh sebagai ABG yang penuh dengan kenaifan dan kepolosan. Nah, kira-kira seperti itulah suasana di film Super Dark Times. Hanya saja, film ini memiliki setting di Amerika, dimana banyak sekali perbedaan dengan yang kita alami di sini pada era 90-an. Di sana tidak terdapat warung rokok dimana kita bisa diam-diam membeli rokok ketengan, tidak ada tukang parkir yang diam-diam menjual kartu bergambar dewasa pada anak-anak SMP, tidak ada yang bermain ucing-ucingan, dan tidak ada guru kejam yang memukul telapak tangan kita dengan penggaris dan menampari pipi kita kalau kita ketahuan melakukan hal-hal yang tidak seharusnya kita lakukan. Tapi di luar semua perbedaan antara budaya anak 90an Indonesia dan Amerika, kira-kira feel-nya sedikit familiar. Saat menyaksikan film ini, kita akan tahu bahwa kejadian di dalam film ini terjadi pada era 90an.

Zach dan Josh adalah sepasang sahabat karib yang sedang dalam fase “beger”, remaja yang belum matang, alias ABG di tahun 90an. Naif dan polos. Mereka adalah teman sekelas yang selalu bersama walaupun di luar jam sekolah. Bahkan saya yakin mereka sama-sama hafal di luar kepala nomor telepon rumah satu sama lain. Mereka menghabiskan waktu dengan bersepeda, membicarakan tentang teman-teman perempuan mereka, hingga sembunyi-sembunyi menonton film porno. Mereka juga menaruh hati pada teman perempuan yang sama bernama Allison.

Saat Zach dan Josh sedang bermain seperti layaknya remaja seumurannya, secara tidak sengaja mereka bertemu salah satu kawan lama mereka yang bernama Daryl, dan seorang remaja yang berasal dari sekolah lain bernama Charlie. Daryl adalah seorang anak berperangai tidak menyenangkan, seseorang yang sangat menyebalkan dan wajar saja kalau banyak anak yang tidak menyukainya. Namun sebagai kawan lama, Zach dan Josh sudah cukup terbiasa dengan ocehan dan perilaku menyebalkan Daryl, hingga akhirnya mereka berempat mulai lebih sering hang out bersama.

Suatu hari, mereka berempat sedang bermain di rumah Josh, dimana Josh menceritakan dengan bangga bahwa kakaknya adalah seorang tentara. Dengan excited merekapun memasuki kamar kakak Josh untuk melihat seperti apa isi kamar seorang anak laki-laki dewasa. Disana, Josh akhirnya memperlihatkan sebuah pedang milik kakaknya, dan mereka memutuskan bermain menggunakan pedang tersebut di luar. Pertengkaran tentu saja merupakan hal yang wajar terjadi di antara anak-anak seumuran mereka, walaupun dengan sahabat sendiri. Saat mereka tengah bermain menebasi dus-dus susu menggunakan pedang, terjadi pertengkaran kecil antara Josh dan Daryl, yang berakhir dengan sebuah kecelakaan tragis. Daryl tertusuk pedang tepat di lehernya. Tentu saja Josh, Zach, Charlie panik setengah mati. Daryl berusaha berlari dari mereka, tetapi malah jatuh tersungkur dan akhirnya meninggal.

Sebagai remaja tanggung dengan emosi dan mental yang sama sekali masih tidak stabil dan belum dewasa, tentu saja mereka bertiga merasa panik dan ketakutan melihat tubuh Daryl yang kaku bersimbah darah. Akhirnya mereka memutuskan untuk menyembunyikan pedang dan jasad Daryl dan berjanji untuk saling menjaga rahasia tersebut. Sebuah keputusan naif dan bodoh yang disebabkan rasa panik merupakan hal yang wajar untuk remaja ABG. Walaupun Charlie baru mereka kenal, ia juga ikut berjanji untuk menjaga rahasia. Namun ia tidak ingin mengenal Josh dan Zach lagi, dan merasa tidak ikut bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Sebenarnya yang paling bertanggung jawab memanglah Josh, namun Zach adalah seorang sahabat sejati hingga ia rela membantu Josh dengan cara apapun, termasuk membantunya membuang sepeda Daryl. Merekapun pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan kacau balau.

Semuanya berubah sejak hari itu. Kejadian tersebut meninggalkan shock dan trauma yang sangat dalam bagi Josh dan Zach. Tentu saja kecelakaan yang mengakibatkan Daryl meninggal secara tragis tidak akan mungkin bisa menjadi sesuatu yang bisa dilupakan begitu saja, apalagi menjadi sebuah rahasia. Saat orang tua Daryl melaporkan bahwa anaknya hilang, rumor mulai berkembang di sekolah mereka dan kepanikan mulai menjangkiti para orang tua. Kekhawatiran, mimpi buruk dan perasaan bersalah terus menghantui Josh dan Zach. Sepasang sahabat ABG yang awalnya menjalani hari-hari remaja mereka dengan wajar dan normal, mulai memasuki sisi kehidupan yang gelap. Sangat gelap. Mulai dari sini hidup mereka pun berubah, kemurnian persahabatan mereka mulai dipertanyakan, hingga akhirnya klimaks film ini ditutup dengan lebih banyak kekerasan dan darah.

Super Dark Times adalah tentang persahabatan, dan bagaimana sepasang sahabat remaja menghadapi tragedi, bagaimana remaja dengan segala kepolosannya harus menghadapi kenyataan yang gelap. Hal tersebut sedikit mengingatkan saya pada cerita-cerita bertema persahabatan dan trauma buatan Stephen King, seperti dalam IT (1990 / 2017) ataupun Stand By Me (1986). Seperti judulnya, cerita dalam film ini memang cukup dark, terutama saat menyadari bahwa anak-anak ini masih berada di fase ABG, fase dimana mereka seharusnya lebih banyak bersenang-senang tanpa perlu banyak khawatir.  Saya tidak sanggup membayangkan kalau harus berada di posisi mereka sebagai remaja tanggung. Film ini menggambarkan perasaan kehilangan, perasaan bersalah, isolasi, keputusasaan, konflik batin, dan amarah remaja. Rasanya seperti Stand By Me pada awalnya, namun tiba-tiba berubah menjadi film semacam Donnie Darko (2001) kemudian.

 

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com

 

 


Posted at : Fri, 01 June 2018
Category : Review