MOVIE REVIEW: TERRIFIED / ATERRADOS (2017)


TERRIFIED / ATERRADOS
Sutradara: Demián Rugna
Argentina (2017)

Review oleh Tremor

Jujur saja, saya adalah salah satu orang yang sejak lama mulai berhati-hati dengan film horor bergenre supernatural / paranormal / haunted house. Bukan karena saya tidak suka dengan genre ini, tetapi mungkin karena saya sudah cukup muak dengan film-film horor modern yang mengulang-ulang formula “supernatural” yang sama, seperti contohnya film-film yang berhubungan dengan seri The Conjuring serta para pengikutnya. Saya sungguh bersyukur menonton Aterrados, karena film ini menyadarkan saya bahwa genre ini belum sepenuhnya membosankan. Walaupun film ini juga ikut mengandalkan jump-scare dan efek spesial buatan komputer / CGI seperti umumnya film-film bertema paranormal modern (jump-scare dan CGI adalah dua hal yang tidak terlalu saya minati dari film horor), tapi setelah film ini selesai, tidak banyak komplain yang bisa saya ungkapkan.

Terrified (jangan tertukar dengan film badut penuh darah yang berjudul Terrifier) yang berjudul asli Aterrados, adalah sebuah film horor supernatural dari Argentina, sebuah negara yang sebelumnya berum pernah terdengar namanya dalam industri film horor. Ini adalah pengalaman pertama saya menonton film horor asal Argentina, dan ternyata sama sekali tidak mengecewakan. Untuk sebuah film yang datang dari negara yang tidak memiliki pusat produksi film yang besar seperti Amerika dan India, film Terrified bisa dianggap sebagai sebuah pencapaian yang luar biasa. Film ini adalah karya original yang ditulis dan disutradarai oleh Demián Rugna, dan merupakan karya horor pertamanya. Well done, Mr. Rugna!

Tanpa basa-basi, film ini langsung dibuka dengan beberapa kejadian mengerikan yang terpisah namun saling berkaitan. Kesamaan dari kesemua kejadian ini adalah, para korbannya hidup bertetangga. Di awal film, kita diperkenalkan pada sepasang suami istri, Clara dan Juan yang dibuat bingung dengan adanya suara-suara aneh di dalam rumah mereka. Saat sedang sendirian, Clara mendengar suara-suara yang berbicara padanya dari dalam lubang wastafel di dapur, sementara pada malam hari Juan terus mendengar suara-suara seperti seseorang (atau sesuatu) sedang memukul-mukul dinding rumah mereka. Juan menyalahkan suara di dinding pada tetangga yang bernama Walter yang tinggal tepat di samping rumah mereka. Juan pikir Walter sedang membetulkan rumah, memukul-mukul tembok dengan palu bahkan pada pukul 5 subuh. Pada suatu malam, Juan kembali dibangunkan oleh suara-suara pukulan di dinding saat Clara pergi ke kamar mandi. Ia sangat marah dan mendatangi rumah Walter. Tapi karena Walter tidak juga membukakan pintu, Juanpun mulai berteriak-teriak di depan rumah dan meminta Walter untuk berhenti memukul-mukul tembok. Saat kembali ke kamarnya, lagi-lagi Juan mendengar bunyi pukulan-pukulan. Tapi kemudian bunyi-bunyi tersebut menjadi semakin keras, semakin jelas, hingga ia tersadar bahwa kali ini bunyi-bunyi itu datang dari dinding kamar mandi. Saat ia membuka pintu kamar mandi, Juan melihat sesuatu yang sangat mengerikan terjadi pada istrinya. Belum 10 menit film ini berjalan, dan kita sudah disuguhi dengan kejadian mengerikan pertama yang tidak akan saya gambarkan dalam tulisan ini. Saat itu juga saya mulai menyukai film ini, karena film ini tidak kenal basa-basi sejak awal. Straight to the point pada hal yang kita semua cari dari film horor: scares.

Apa daya, Clara meninggal dengan penuh luka yang sangat parah, menyisakan Juan seorang diri sebagai satu-satunya saksi mata dan tersangka atas kasus kematian yang tak masuk akal. Suatu hari, di dalam sebuah ruangan yang saya asumsikan sebagai  bagian dari sebuah fasilitas rumah sakit (atau kantor polisi), Juan didatangi 3 orang tua yang tampak sangat ingin membongkar kasus ini. Mereka yakin Juan tidak bersalah, dan apa yang terjadi atas Clara ternyata bukanlah kejadian pertama. Mereka bertiga ingin membantu Juan untuk mendapatkan bukti bahwa Juan benar-benar tidak bersalah. Saat Juan menceritakan kembali kisahnya, rupanya nama Walter tetangganya sudah tidak asing bagi ketiga tamunya. Dari sini, dimulailah kisah mengenai Walter, lewat sedikit flashback yang menceritakan apa yang terjadi atas Walter dan apa yang sebenarnya terjadi di rumahnya sebelum kematian Clara. Walter kesulitan tidur selama berminggu-minggu karena diteror oleh sosok mengerikan setiap malam. Walter meyakini bahwa sosok yang menghantuinya berasal dari kolong tempat tidurnya sendiri. Kolong kasur adalah spot klasik yang akan selalu efektif untuk menakut-nakuti orang, terutama dalam keadaan gelap. Walterpun mulai mencari bantuan cenayang, tetapi tidak ada yang bersedia untuk membantunya, hingga akhirnya ia mendapatkan nomer telepon Dr. Mora Albreck, seorang ahli parapsychology yang memang mempelajari fenomena-fenomena paranormal. Namun Dr. Mora menolak untuk menanggapinya dengan serius sebelum Walter bisa memberikan bukti-bukti kongkrit bahwa apa yang terjadi pada dirinya adalah benar-benar terjadi dan bukan hanya terjadi di dalam kepalanya saja. Untuk mendapatkan bukti, akhirnya Walterpun membeli sebuah kamera untuk merekam apa yang terjadi di kamar tidurnya setiap malam, dan akhirnya ia mendapatkan bukti yang sangat kongkrit (dan mengerikan) untuk dikirim ke Dr. Mora kemudian. Setelah mengirimkan video tersebut, kejiwaan Walter sepertinya semakin terganggu. Ia menjadi seperti seorang petapa gila, tidak pernah keluar rumah, hingga suatu hari seorang anak tetangga yang bernama Nino masuk ke halamannya untuk mengambil bola. Dari balik jendela, Walter berteriak mengusir Nino, membuat Nino ketakutan dan lari ke jalan. Saat itu juga Nino tertabrak bus dan meninggal dunia dengan mengenaskan. Beberapa hari setelah Nino dimakamkan, ibu Nino yang bernama Alicia, dikejutkan dengan suara ketukan (dan cakaran) kecil dari pintu rumahnya. Kisah si kecil Nino menjadi kisah ketiga, yang juga membuka film ini menuju ke sajian utama film ini, investigasi paranormal atas apa yang terjadi di lingkungan tersebut.

Salah seorang mantan kekasih Alicia yang bernama Funes, adalah seorang polisi dengan segudang prestasi dan akan segera pensiun karena masalah kesehatannya. Pada tengah malam, Funes menelpon seorang rekannya yang sangat ia percaya, seorang mantan ahli forensik tua yang sudah lama pensiun bernama Mario Jano. Pada Jano ia mengatakan ada sesuatu hal yang sangat mendesak dan ia meminta Jano untuk bersiap-siap karena anak buah Funes sedang menjemputnya. Rupanya Jano dibawa ke rumah Alicia. Di dalam rumah tersebut terdapat sesuatu yang tidak bisa Funes jelaskan dengan akal sehatnya. Di ruang depan, terlihat Alicia dalam keadaan shock, sementara di ruang makan terdapat mayat si kecil Nino yang sudah kaku dan biru membusuk, duduk di meja makan, dengan segelas susu dan semangkuk sereal di depannya yang disuguhkan oleh ibunya. Jano tidak bodoh. Ia tahu bahwa Alicia tidak mencuri mayat Nino dari kuburan. Alicia percaya Nino kembali ke rumah, dan Jano yakin Alicia tidak berbohong. Terlebih lagi di depan dan di dalam rumah Alicia terdapat banyak jejak kaki Nino yang penuh tanah, beserta jejak tangan-tangan kecil yang juga penuh tanah. Mayat Ninopun memperlihatkan hal yang sama. Jari-jari kecilnya rusak dan dipenuhi tanah, seakan Nino telah menggali kuburnya sendiri dengan tangan selama beberapa hari terakhir. Jano tidak bodoh dan ia bukan seorang skeptis. Hanya saja, ia berpendapat bahwa kadang ada hal-hal tidak masuk akal yang perlu ditutupi, karena akan sangat sulit sekali menjelaskannya dengan logika pada saat otoritas-otoritas hukum yang lebih tinggi mulai terlibat nanti. Jadi, Jano memberikan jalan keluar agar Alicia tidak dituduh mencuri mayat dan dipenjara: menyimpan kejadian ini sebagai rahasia, jangan sampai para tetangga tahu atas apa yang terjadi, dan menguburkan kembali mayat Jano secara diam-diam. Jano juga meminta Fumes supaya kuburan Nino dibeton agar Nino tidak bisa kembali pulang.

Di luar rumah Alicia, Jano mengenali seorang perempuan tua yang sedang melihat-lihat rumah yang berada di seberang jalan: rumah Walter.  Perempuan tersebut adalah Dr. Mora Albreck yang datang untuk membantu Walter setelah meyakini bahwa video yang Walter kirim adalah asli, namun rumah Walter sudah seperti tidak berpenghuni. Jano mengenal sosok Dr. Mora karena ia sering datang ke seminar-seminar Dr Mora, dan memiliki ketertarikan yang sama: fenomena-fenomena supernatural. Dengan penuh semangat Jano mengajak Dr. Mora masuk ke dalam rumah Alicia untuk memperlihatkan mayat Nino. Pada titik ini, plot Aterrados mulai menyatukan ketiga kisah tadi dengan sangat baik. Dibantu dengan polisi Funes yang bersenjatakan pistol, Dr. Mora, Jano, dan seorang paranormal kenalan Dr Mora yang bernama Rosenstock, bergabung menjadi sebuah tim investigasi paranormal untuk menyelidiki lebih jauh soal gangguan-gangguan tak masuk akal yang terjadi pada ketiga rumah tersebut. Dan mereka bertiga inilah yang mendatangi Juan pada awal film.

Salah satu hal yang saya suka dari Aterrados adalah, sosok menyeramkan dan haus darah dalam film ini bukanlah sosok “hantu” atau “setan” biasa seperti dalam film-film supernatural pada umumnya. Jujur saja apa yang membuat saya merasa bosan dengan film horor bergenre supernatural / paranormal / haunted house adalah, saya sudah muak dengan karakter-karakter hantu pendendam dan penuh kebencian seperti Valak dan sejenisnya, atau karakter-karakter “demon” seperti sosok berwajah merah dalam seri Insidious. Apalagi kalau sudah ditambah dengan backstory klise soal masa lalu gelap sang hantu, dan lain sebagainya. Bukan apa-apa, tapi kisah-kisah seperti itu sudah sampai ke titik fatal bagi saya: membosankan. Kadang hal-hal jahat dan mengerikan tidak memerlukan alasan dan latar belakang, dan kalau dituturkan dengan baik akan jauh lebih menyeramkan dibandingkan film haunted house biasa. Aterrados menjadi cukup menyegarkan untuk sebuah film dalam genre ini, karena ia mengingatkan kembali kepada kita semua bahwa gangguan supernatural tidak selalu harus berujung pada “hantu jahat”, tetapi bisa juga karena hal lain. Dalam beberapa hal, Aterrados sepertinya mendapat pengaruh kuat dari kisah-kisah cosmic horror ala lovecraftian (bagi kalian yang tidak mengenal istilah ini, maaf untuk kali ini saya tidak ada energi lebih untuk menjelaskan apa itu lovecraftian dan siapa itu Lovecraft. Silakan cari tahu sendiri). Film Aterrados dieksekusi dengan sangat baik, dengan plot yang tidak berbelit-belit. Dialog-dialognya cukup efisien dan tidak bertele-tele. Sang sutradara benar-benar mengerahkan semuanya dan tidak menyisakan kesempatan untuk penonton duduk dengan nyaman. Bahkan hampir semua jump-scare dalam film ini tidak terasa berlebihan, sangat efektif dan dihantarkan dengan atmosfer yang dibangun dengan sangat baik. Itulah yang banyak orang lupa soal jump-scare, bahwa ia harus dibangun terlebih, bukan hanya sekedar mengagetkan saja. Kalau soal mengagetkan, film komedi sekalipun juga bisa melakukannya. Tetapi mempersiapkan “mood” sebelum momen mengagetkanlah yang membutuhkan kecakapan tersendiri. Itu juga merupakan pelajaran yang bisa didapat dari film ini, bahwa penggunaan jump-scare bukanlah sebuah jaminan kalau sebuah film horor itu buruk. Soal plot, walaupun dibuka dengan tiga kisah yang berbeda, tapi penonton tidak akan dibuat bingung karena kita akan menyadari sejak awal bahwa ketiga kisah tersebut memang saling berkaitan. Saya pikir Aterrados yang penuh dengan scene mengerikan tanpa henti ini sangat berpotensi untuk menjadi pelopor dalam industri film horor Argentina. Semoga saja film ini bisa menjadi pintu gerbang untuk lebih banyak film-film mengerikan lainnya dari Amerika Latin.

Namun kemudian ada kabar tidak mengenakkan dari Hollywood mengenai film Aterrados, bahwa Guillermo Del Toro akan memproduseri proyek remake dari film ini. Seperti kita ketahui, Hollywood sepertinya sangat senang me-remake film-film horor bagus dari negara lain (yang mereka sebut sebagai foreign movie). Mungkin karena penonton film di Amerika tidak terbiasa menonton menggunakan subtitle, atau malas menonton film dengan bahasa yang asing bagi mereka. Entahlah. Saya pribadi sangat menyayangkan proyek-proyek remake semacam ini, terutama dalam dunia film horor. Film horor dari negara yang berbeda-beda selalu memiliki ke-khas-annya tersendiri. Bukan hanya di segi bahasa saja, namun juga soal kultur setempatnya. Ambil contoh film-film asia, yang saya pikir tidak akan pernah bisa “di-barat-kan”, atau film horor skandinavia dengan latar yang dingin, sendu dan depresif  yang mungkin tidak akan bisa “di-Amerika-kan”. Bukannya membuat dunia film horor menjadi semakin beragam dengan budaya dan bahasa yang berbeda-beda, para pengusaha perfilman di Hollywood seakan hanya ingin membuat kultur horor menjadi homogen dengan satu bahasa saja: bahasa Inggris-Amerika, dan membungkusnya dengan hanya satu kultur: Amerika. Tidak selalu film horor, tetapi ada banyak sekali film-film “foreign” bagus yang kemudian dibuat ulang “versi Amerika”-nya, seperti Låt den rätte komma in asal Swedia (di-remake menjadi Let The Right One in); Ju-On, Ringu hingga One Missed Call asal Jepang; film infeksi keren [Rec] asal Spanyol; hingga film action balas dendam Oldboy yang sangat Korea Selatan itupun ikut di-remake. Belum lagi proyek remake Akira ke bentuk live action versi Amerika (Neo-Tokyo diubah menjadi Neo-Manhattan. LOL) yang kabarnya akan diproduksi. Menurut saya pribadi, bentuk remake semacam ini (membuat ulang demi pasar Amerika) adalah jenis remake dengan kasta paling rendah dari semua film remake yang ada. Film lama yang kemudian dibuat remake masih bisa saya terima daripada bentuk remake “demi pasar Amerika”. Apa jadinya kalau film horor Amerika dibuat remake versi India oleh Bollywood? Tentu saja akan menjadi bahan olok-olokan. Tetapi mengapa tidak sebaliknya? Saran saya untuk film-film remake semacam ini: tonton film aslinya saja.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com

 

 


Posted at : Thu, 28 February 2019
Category : Review