MOVIE REVIEW: THE BEAST WITHIN (1982)


THE BEAST WITHIN
Sutradara: Philippe Mora
USA (1982)

Review oleh Tremor

The Beast Within adalah sebuah film horror yang diangkat dari novel karya Edward Levy dengan judul yang sama, dan disutradarai oleh Philippe Mora. Di mata dunia perfilman populer, terutama di dalam scene film horror, Mora bukanlah seorang sutradara yang sukses kalau dibandingkan dengan rekan-rekannya seperti Wes Craven atau John Carpenter. Tapi jelas ia memiliki penggemarnya sendiri. Sementara screen-writer dari film ini adalah Tom Holland yang pernah menulis untuk film Psycho 2 (1983), Fright Night (1985) dan Child’s Play (1988).

Film ini dibuka dengan plot yang sangat umum dalam genre horror: suatu malam di pinggiran selatan Amerika pada tahun 1964, sepasang suami istri yang baru saja menikah sedang dalam perjalanan pulang ditemani anjing mereka yang bernama Thor. Di tengah jalanan gelap di tengah hutan, ban mobil yang mereka kendarai terjebak di lumpur. Suka tidak suka, sang suami yg bernama Eli harus kembali ke pom bensin terdekat untuk memanggil mobil derek, meninggalkan Caroline (sang istri) dan Thor di mobil. Saat ditinggal, Caroline membuka pintu agar Thor bisa keluar, karena Thor terlihat sangat gelisah. Singkat cerita, sesuatu yang jelas bukan manusia membunuh Thor dan menyerang Caroline hingga pingsan. Sosok mengerikan itupun memperkosa Caroline yang tak sadarkan diri. Tentu saja Eli yang kembali bersama mobil derek panik saat menemukan Caroline terkapar penuh luka di tanah.

Tujuh belas tahun berlalu, anak mereka yang sudah beranjak remaja bernama Michael terkapar sakit di sebuah klinik kecil. Ada yang salah dengan Michael. Terdapat ketidak seimbangan kimiawi di tubuh Michael. Kelenjar otaknya seakan tumbuh tak terkendali secara tiba-tiba. Sang dokterpun belum bisa memastikan apa penyakit Michael dan bagaimana harus menyembuhkannya. Walaupun penyakitnya sangat misterius, tapi ia yakin kemungkinan besar penyakit ini adalah faktor keturunan. Dan untuk mengungkap misteri penyakitnya, sang dokter berpikir bahwa ia perlu tau lebih banyak mengenai riwayat kesehatan orang tua Michael. Tapi setelah dilakukan tes, kedua orang tua Michael baik-baik saja. Tentu kita tahu apa yang tidak diketahui oleh sang dokter, bahwa Eli bukanlah ayah biologis Michael. Eli yang tidak tenang dengan ide ini, mengamuk, membuat sang dokter kebingungan. Di luar ruangan dokter, Caroline berusaha menenangkan Eli, dan mengingatkan kenyataan pahit bahwa dirinya dulu pernah diperkosa. Selama ini mereka berdua berusaha “melupakan” kejadian buruk itu dengan cara tidak pernah membicarakannya lagi. Namun sekarang mereka menghadapi kondisi yang lebih buruk dari sekedang membicarakannya. Supaya Michael bisa sembuh, mereka harus mencari tahu siapa pemerkosa Caroline.

Demi sang anak, akhirnya Eli dan Caroline berusaha mencari jejak catatan dan berita-berita kriminal lama di kota kecil tersebut untuk melacak dan mencari tahu siapa yang mungkin adalah pemerkosa Caroline. Mereka mendatangi balai arsip setempat, sherif, hingga hakim di kota tersebut. Saat kedua orang tuanya pergi menelusuri jejak si pemerkosa, perilaku Michael semakin aneh dan seperti bukan dirinya sendiri. Setelah mendengar suara-suara di kepalanya, sesuatu yang selama ini tertidur seakan bangkit dalam diri Michael. Iapun kabur dari klinik tempat ia dirawat, berkeliaran, membunuh, dan memakan daging korbannya. Michael seperti seseorang yang sedang kerasukan. Setelah pembunuhan pertamanya, ia ditemukan kebingungan di depan rumah seorang gadis bernama Amanda, dan dibawa kembali ke klinik. Saat dokter memeriksa kondisinya, ternyata kesehatannya membaik, tapi hanya untuk sementara waktu. Tapi kita tahu, memakan daging dan meminum darah manusialah yang membuat kondisinya membaik. Hingga akhirnya malam berikutnya, Michael (atau sosok monster dalam dirinya) yang haus dan lapar akan manusia kembali lepas kendali. Ia kabur dan membunuh lagi. Tidak ada seorangpun yang mencurigainya sebagai pelaku pembunuhan. Apalagi Michael dan Amanda kelihatannya saling jatuh cinta, dan setiap kali Michael berkeliaran di malam hari untuk membunuh, ia selalu berakhir pergi ke rumah Amanda. Jadi semua orang menduga Michael kabur dari klinik karena jatuh cinta.

Satu persatu kebenaran mulai terkuak mengenai siapa (atau apa) pemerkosa Caroline, dan apa yang terjadi dengan si pemerkosa sebelum kejadian tersebut, dan bagaimana kota kecil tersebut menyimpan banyak rahasia. Namun semuanya sudah terlambat. Monster tersebut seakan sudah benar-benar bangkit kembali, berreinkarnasi di dalam diri Michael, dan siap membalas dendamnya pada penduduk kota tersebut. Kali ini saya tidak akan menutup-nutupi spoiler dari The Beast Within, karena justru bagian akhir dari film inilah bagian terbaik yang membuatnya cukup digemari oleh para penggila film horror. Bahkan foto-fotonya bisa dengan mudah kamu temukan saat kamu melalukan pencarian di google image soal film ini. Michael yang sebelumnya berwujud manusia, kemudian secara perlahan bertransformasi  ke wujud monster. Proses transformasi tersebut mengingatkan saya akan film-film horor bertema werewolf. Sama seperti siapapun yang berubah menjadi werewolf pada bulan purnama, Michael seakan tidak memiliki pilihan lain, dan tidak bisa mengendalikan apa yang “sosok-lain-dalam-dirinya” tersebut ingin lakukan. Transformasi Michael pun tampak penuh rasa sakit dan ketidaknyamanan, mengingatkan saya pada transformasi pada umumnya film werewolf.

Proses transformasi ini mungkin bisa dianggap cukup menjijikan bagi mereka yang tidak terbiasa melihat special effect film horror 80-an, tapi sekaligus menggelikan bagi sebagian orang lainnya. Bagi saya pribadi, proses transformasi Michael menjadi beast ini memang sedikit menggelikan. Tapi menyaksikan scene tersebut membuat saya semakin terpana dengan kemampuan special effect tradisional dalam industri film horror sebelum era efek digital. Terutama saat special effect benar-benar dimaksimalkan dengan penuh passion walaupun bajet produksinya sangat terbatas. Usaha seperti itu perlu diberi penghargaan khusus. Memang special effect-nya tidak sekeren film-film sejenis (dan sejaman) seperti An American Werewolf in London (1981) atau The Thing (1982). Namun rasanya saya tidak boleh membandingkan The Beast Within dengan kedua film tersebut, karena itu tidak adil.

 

The Beast Within adalah sebuah harta karun yang mungkin nyaris terlupakan dalam kultur horror. Film semacam ini memiliki penggemarnya sendiri dan sudah menjadi cult dalam dunia film horror. Menonton film horor klasik yang kelihatannya berbajet rendah, namun memiliki ide yang cukup unik dan orisinil, selalu menyenangkan bagi saya. Sensasinya sedikit mirip dengan sensasi saat menonton film horror Indonesia taun 80-an: acting buruk, jalan cerita tidak jelas, banyak plothole, dan kadang film ditutup dengan mendadak, alias  ngegantung. Hanya saja, kebanyakan film horror indonesia taun 80-an lebih banyak dicampur dengan komedi, dan seakan wajib ditutup dengan penyelesaian yang relijius.

Memang film The Beast Within bukanlah film terbaik dalam genrenya, tapi bukan yang terburuk juga, dan sama sekali bukan film sampah. The Beast Within cukup menghibur untuk ditonton, memiliki beberapa death scene yang memorable, dan tentu saja ditutup dengan proses transformasi yang sangat menyenangkan untuk disimak terutama bagi kalian yang gemar dengan body-horror. Jadi kalau kalian adalah penggila film horror yang selalu bereksplorasi dan ketagihan untuk menonton lebih banyak lagi film horor dari era yang berbeda; dan kalian cukup serius ingin lebih dalam menggali harta karun yang terlupakan dari kultur horor, kalian bisa beri The Beast Within kesempatan untuk mengisi waktu luang kalian.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat@yahoo.com

 

 


Posted at : Thu, 25 January 2018
Category : Review