MOVIE REVIEW: THE BEYOND (1981)


THE BEYOND
Sutradara: Lucio Fulci
Italia (1981)

Review oleh Tremor

The Beyond (atau dalam bahasa aslinya berjudul L’aldilà) adalah sebuah film horror asal Italia yang dibuat oleh seorang sutradara maestro bernama Lucio Fulci. Nama Fulci sudah tidak asing bagi para penggila horor. Saat berbicara mengenai film horor Italia, menurut saya pribadi, hanya ada tiga nama sutradara yang bisa dibilang sebagai rajanya horor Italia. Mereka adalah Mario Bava, Lucio Fulci dan Dario Argento, yang datang dari tiga era yang berbeda, masing-masing dengan ke-khas-annya sendiri. Namun dari ketiga nama tersebut, menurut saya Lucio Fulci bisa bilang sebagai yang paling cemerlang , nekat dan visioner. The Beyond adalah salah satu buktinya.

Salah satu film yang membuatnya mulai dikenal secara internasional adalah Zombi 2 (1979), sebuah film zombie penuh kekerasan dan jauh lebih tradisional, menjijikan (dan sadis) dibandingkan film-film zombie buatan George Romero. Fulci banyak membuat film horor dengan genre yang bervariatif dari mulai zombie, supranatural, slasher, hingga giallo, dan banyak film Fulci yang kemudian menjadi kontroversi. Beberapa karya besarnya adalah Don’t Torture a Duckling (1972), City of the Living Dead (1980 – ini adalah film Fulci favorit saya. Saya pernah menulis review filmnya di dalam blog personal saya. Silakan email saya kalau kalian tertarik membacanya), The House by the Cemetery (1981), The Black Cat (1981), dan The New York Ripper (1982). Ia juga sempat membuat banyak film non-horor dari mulai film western hingga fantasi. Namun, mari kita kembali ke tema horor. Hampir semua film horor buatannya mengandung kekerasan yang mungkin pada jamannya bisa dibilang cukup ekstrim. Tapi disitulah kehebatan penggunaan special effect prostetik dari film-film tahun 70/80an teruji.

The Beyond adalah film kedua dalam trilogi tematik buatan Fulci yang berjudul “Gates of Hell” trilogy, (film pertama dalam trilogi ini adalah City of the Living Dead dan film ketiganya adalah The House by the Cemetery). Namun ketiga film tersebut bisa ditonton secara terpisah karena memang tidak saling berkaitan satu sama lain.

Ide cerita dari The Beyond sangatlah sederhana, bercerita mengenai sebuah hotel tua yang dibangun di atas satu dari tujuh gerbang mistis menuju dimensi lain: Neraka. Satu saja gerbang tersebut terbuka, maka penghuni dimensi kematian bisa memasuki dunia kita. Dari ide sederhana tersebut, ternyata banyak sekali elemen horor bisa dipergunakan.

Walaupun The Beyond adalah film buatan sutradara Italia, namun latar peristiwa dalam film ini berada di Amerika. Film ini dibuka dengan sebuah flashback kembali ke tahun 1920-an, dimana segerombolan warga yang menyerang sebuah hotel bernama Seven Doors Hotel. Sesampainya di hotel tersebut, mereka langsung menuju kamar 36 dimana mereka menyeret keluar seorang pria bernama Schweick yang dituduh sebagai seorang penyihir yang membawa kutukan pada kota tersebut. Saat digrebek, Schweick sedang melukis sebuah lukisan seram bergambar pemandangan yang sureal dan penuh mayat. Schweick pun dibawa dengan paksa menuju ruang bawah tanah hotel tersebut dimana ia kemudian dipaku hidup-hidup ke dinding. Wajahnya disiram dengan air keras hingga hancur. Kesemua hal tersebut diiringi dengan adegan seorang perempuan yang sedang membaca sebuah kitab kuno bernama Eibon yang menceritakan soal pintu neraka. Jelas sekali referensi dari H.P. Lovecraft di sini karena kitab Eibon sering muncul dalam beberapa novel mitos Cthulhu.

Beberapa puluh tahun kemudian, seorang wanita muda bernama Liza dari New York secara mengejutkan mendapatkan sebuah warisan dari salah satu paman jauhnya yang kaya raya. Warisan tersebut adalah sebuah hotel tua, bekas Seven Doors Hotel. Tentu saja Liza dengan semangat langsung mengurus dan memugar hotel tersebut, dengan rencana membuka kembali hotel usang tersebut. Namun hal-hal ganjil mulai terjadi, dari mulai penampakan hingga beberapa kecelakaan kerja dalam proses pemugaran. Sisi hotel yang paling misterius adalah ruang bawah tanahnya, tempat dimana Schweick pernah dibunuh secara brutal beberapa puluh tahun sebelumnya. Kini, ruang bawah tanah tersebut tergenang air karena diduga ada masalah dengan pipa air yang bocor. Liza pun memanggil seorang tukang ledeng bernama Joe untuk memeriksanya. Namun bukan pipa rusak yang ia temukan, melainkan sosok seram yang langsung membunuh Joe dengan cara yang sangat sadis. Seorang pembantu rumah tangga bernama Martha, yang ikut membantu Liza untuk membersihkan hotel akhirnya menemukan mayat Joe, sekaligus satu mayat misterius yang tiba-tiba muncul dari air: mayat Schweick yang anehnya masih segar, tidak tampak seperti mayat berumur puluhan tahun.

Di waktu bersamaan, Liza yang sedang pergi menuju kota menggunakan mobil, dicegat oleh seorang perempuan buta bernama Emily di tengah jalan. Emily memperingatkan Liza bahwa membuka kembali Seven Doors Hotel adalah kesalahan besar, dan memintanya kembali ke New York dan melupakan soal hotel tersebut. Emily berusaha meyakinkan Liza, dan akhirnya pada sebuah kesempatan iapun akhirnya berterus terang dan memaparkan kenyataan soal Scwheick dan pintu neraka. Namun Liza tidak mengindahkan peringatan tersebut karena ia tidak percaya pada hal-hal gaib, hingga akhirnya saat ia menginvestigasi sendiri kamar nomor 36, Liza menemukan kitab Eibon dan penampakan Scwheick.

Liza pun meminta bantuan John, seorang dokter muda yang baru ia kenal di awal film. John adalah seseorang yang jauh lebih tidak percaya pada hal-hal mistis, dan iapun berusaha meyakinkan Liza bahwa semua hal mengerikan yang ia lihat dan temui tidaklah nyata, termasuk Emily si gadis buta. Liza pun mulai mempertanyakan kewarasannya sendiri. Tapi tentu saja Liza tidak gila. Semua hal mengerikan tersebut terjadi karena pintu neraka mulai terbuka lagi. Satu persatu orang-orang di sekitar Liza mulai mati dengan cara-cara yang brutal, dan Lucio Fulci membuat penonton menyaksikan semua proses pembunuhan dan kematian tersebut yang ia gambarkan secara perlahan, penuh detail, dalam durasi yang tidak sebentar.

Saya pernah menulis pernyataan ini dalam salah satu review saya yang lain, tapi saya akan tulis lagi disini. Perasaan dan sensasi saya saat menonton film horor Italia tahun 80an adalah perasaan yang sama yang saya rasakan saat menonton film horor Indonesia tahun 80an. Sepertinya para sineas lokal jaman dulu banyak “terinspirasi” dan mengadaptasi mood, atmosfer, hingga ide-ide gila dari film-film horor Italia dari era yang sama. Wajar saja. Pada tahun 80an, tidak banyak orang Indonesia yang bisa mengakses film-film horor dari Italia. Tentu adalah hal yang wajar kalau para sutradara lokal ingin berbagi kengerian yang mereka lihat dari horor Italia, mengadaptasi semua elemen kunci dan memadukannya dengan elemen lokal: sundel bolong, pocong, penggunaan agama lokal dan lain sebagainya.

Special effect dalam film ini mungkin tampak cukup “primitif” bagi mata kita yang sudah terbiasa menyaksikan film-film modern, namun kita tidak bisa menonton film tahun 70-80an dengan kacamata 2020-an. Untuk jamannya tentu saja special effect dalam film ini sudah cukup realistis dan mengerikan. Selain special effect, scoring / lagu pengiring juga adalah hal terpenting dalam film horor, dan elemen ini adalah salah satu hal yang paling saya suka dari The Beyond. Adalah Fabio Frizzi, seorang komposer Italia, yang bertanggung jawab dalam divisi musik yang membuat film ini menjadi lebih seram lewat arasemen scoring-nya. Tak hanya dalam The Beyond, Lucio Fulci sering mempercayakan Fabio Frizzi memegang kendali penuh atas scoring dalam banyak sekali film horor lainnya dari mulai Zombi 2, A Cat in the Brain, Manhattan Baby, dan City of the Living Dead. Dari semua musik film horor klasik, selain John Carpenter, Fabio Frizzi adalah salah satu favorit saya.

Saat kita berbicara soal gerbang neraka, maka semua logika yang kita kenal dalam kehidupan nyata haruslah kita tanggalkan sejenak. Kita tak perlu mempertanyakan dari mana tarantula-tarantula dalam The Beyond datang, misalnya, karena mempertanyakan hal tersebut sama saja dengan mempertanyakan bagaimana bisa ada mayat berjalan dan memangsa manusia. Menyaksikan The Beyond itu seperti menonton ulang sebuah mimpi buruk seseorang, dengan cerita yang sebenarnya sangat sederhana, namun kita akan selalu ingat dengan imaji-imaji yang ada di dalamnya. Kekuatan film ini bukanlah pada plot, tetapi pada sensasinya. The Beyond adalah film buatan Fulci yang paling unik, sebuah film horror murni yang menyuguhi berbagai macam elemen, visual dan sensasi horor yang berbeda. Mata dicongkel, tangan dipaku, zombie, kepala pecah, supranatural, orang dimakan tarantula, lukisan misterius, kamar terlarang dalam hotel tua, pintu neraka, lolongan anjing di malam hari dan masih banyak lagi. Sebuah paket komplit horor. Mari lupakan sejenak logika, dan nikmati mimpi buruk penuh teror persembahan sang master, Lucio Fulci.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com

 


Posted at : Thu, 24 May 2018
Category : Review