MOVIE REVIEW: THE BLACKCOAT’S DAUGHTER (2015)


THE BLACKCOAT’S DAUGHTER (2015)
Sutradara: Oz Perkins
USA / Canada

 

Review oleh Tremor

Sepertinya ada gelombang baru dalam perfilman horor modern, yang mungkin saja suatu hari nanti bisa melahirkan genre tersendiri: film horor dengan suasana gelap, alur pelan, tidak mengandalkan jump-scare sebagai poin utama, memiliki kekuatan atmosfer yang luar biasa, dan memiliki sinematografi yang enak dipandang, seperti yang sebelumnya dapat kita temui dalam film The Witch (2016), dan The Babadook (2014). Dan The Blackcoat’s Daughter adalah salah satunya. Film ini juga mencampur adukan beberapa sub-genre sekaligus, dari mulai psychological thriller, tema kerasukan, hingga tema supranatural. Sangat menarik.

The Blackcoat’s Daughter memiliki dua alur cerita dengan karakter yang berbeda, yang pada akhirnya nanti saling memiliki keterkaitan yang kuat. Alur cerita pertama berfokus pada dua anak perempuan yang tertinggal (atau bisa juga dibilang “terdampar”) di sebuah sekolah asrama katolik khusus perempuan yang bernama Bramford School. Saat liburan musim dingin tiba, satu persatu murid di Bramford School dijemput oleh para orangtua mereka, kecuali seorang anak baru bernama Kat si introvert yang misterius, serta Rose si anak gaul yang ceria. Sama sekali tidak ada kabar dari orang tua Kat soal penjemputan, sementara orang tua Rose akan datang menjemput terlambat satu hari dari yang sudah dijadwalkan, karena dengan sengaja Rose memberi tahu mereka tanggal yang salah. Sang kepala sekolah tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan mereka berdua untuk tinggal beberapa hari lebih lama di asrama tersebut sampai salah satu orang tua dari kedua anak tersebut datang menjemput. Karena Rose adalah murid yang lebih tua umurnya, ia diminta untuk menjaga baik-baik adik kelasnya, Kat. Selain itu, dua biarawati yang tinggal di salah satu bangunan asrama juga akan menemani mereka. Saat sudah ditinggal berdua saja, Rose mulai menakut-nakutin Kat dengan menceritakan tentang rumor yang beredar di antara para murid, bahwa beberapa biarawati disana adalah para penyembah setan. Tapi mungkin hal tersebut bukan hanya rumor belaka, karena kekuatan jahat memang ada dalam Bramford.

Alur cerita kedua dalam film ini menceritakan tentang seorang anak perempuan yang memperkenalkan dirinya sebagai Joan yang kelihatannya sedikit bermasalah dan memiliki trauma tertentu. Tampaknya Joan sedang dalam sebuah perjalanan. Ia terdampar di sebuah pemberhentian bus yang sepi. Lewat gambaran-gambaran yang diperlihatkan kepada para penonton, maka kita mengetahui bahwa Joan yang misterius ini hendak pergi ke Sekolah Bramford. Sepasang suami istri yang merasa iba melihat Joan seorang diri di tengah malam musim dingin akhirnya menawari Joan untuk ikut menumpang dalam mobil mereka. Secara perlahan mulai terungkap sisi gelap dari Joan dan koneksinya dengan apa yang terjadi di Bramford kemudian.

Kedua plot tersebut diceritakan dengan sangat berimbang sepanjang film, memberi waktu pada masing-masing cerita untuk memiliki nafasnya sendiri, hingga pada akhirnya secara perlahan kedua cerita tersebut bertemu menjadi satu tanpa ada kesan dipaksakan sama sekali.

Saya tidak bisa menceritakan plot film ini lebih panjang, atau menuliskan tentang bagaimana pada akhirnya kedua cerita tersebut akan bertemu, dan apa yang terjadi pada para karakter utama-nya. Saya tidak ingin merusak pengalaman menonton kalian dengan membeberkan spoiler disini, walaupun dengan senang hati saya ingin mendiskusikan soal ending dari film ini. Tapi alangkah lebih baik kalau kalian menemukan momen-momen itu sendiri. Bahkan kalau bisa, saya tidak merekomendasikan kalian untuk melihat trailer-nya. Pengalaman menonton film ini akan lebih terasa saat kalian tidak memiliki info dan ekspektasi apapun soal The Blackcoat’s Daughter.

Yang pasti, walaupun alur dalam The Blackcoat’s Daughter ini bisa dibilang cukup pelan, tapi bukan berarti film ini membosankan. Saya pribadi langsung terpaku dengan film ini saat satu persatu hal baru terungkap di dalamnya. Bahkan kalau kalian bukan penyuka film beralur pelan, saya akan tetap merekomendasikan The Blackcoat’s Daughter pada kalian. Minimal coba dulu dan rasakan bagaimana alur pelan bisa sangat efektif dalam film ini. Dalam The Blackcoat’s Daughter kalian akan menemukan kenyataan gelap dan perasaan mencekam justru lewat alur yang pelan, layaknya menemukan potongan-potongan puzzle satu persatu. Dan kekuatan utama dari film ini adalah, atmosfer. Apalagi ditambah dengan musik-musik latar yang layaknya sebuah karya dari musisi semacam Godspeed You! Black Emperor, menambah suasana semakin gelap dan… eerie. Maaf saya tidak bisa menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa indonesia, tapi eerie adalah kata yang paling pas untuk menggambarkan atmosfer yang saya maksud.

Sebagai film perdana dari seorang sutradara sekaligus penulis film baru, menambah alasan untuk mengacungkan lebih banyak jempol bagi The Blackcoat’s Daughter. Sepertinya sang sutradara, Oz Perkins, memang tidak asing dengan budaya horror. Oz adalah anak dari Anthony Perkins yang sangat dikenal perannya sebagai Norman Bates dalam film Psycho (1960). Selain itu, komposer yang bertanggung jawab atas terbentuknya atmosfer gelap dan eerie lewat musik latar dalam Blackcoat’s Daughter tak lain adalah adik dari Oz sendiri yang bernama Elvis Perkins. Ia berhasil menangkap kualitas “kegelapan” kakaknya dan menerjemahkannya ke dalam scoring yang luar biasa mendukung. Saya tidak tahu apakah kuatnya atmosfer dalam film ini karena keduanya memahami betul arti dari rasa kehilangan dan keputusasaan setelah menyaksikan ayah mereka meninggal akibat AIDS dan radang paru-paru, dan ibu mereka, Berry Berenson, meninggal sebagai salah tau penumpang pesawat yang ditabrakkan ke gedung kembar WTC dalam tragedi 9/11 di NY, Amerika. Apapun itu, mereka berdua berhasil mengalahkan duka mereka dengan cara yang sangat positif lewat berkarya.

Sejujurnya saya menyadari bahwa tidak semua orang menyukai film-film beralur pelan. Tapi kalau kamu penggemar horor yang mencari sebuah film yang atmospheric, gelap, dreadful, dengan plot yang tidak biasa, maka mungkin kalian akan menikmati dingin dan gelapnya The Blackcoat’s Daughter.

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat@yahoo.com


Posted at : Thu, 16 November 2017
Category : Review