MOVIE REVIEW : THE CANAL (2014)


THE CANAL
Sutradara: Ivan Kavanagh
Irlandia (2014)

Review oleh Tremor

Untuk sebuah film kecil, The Canal cukup mengesankan. Hal pertama yang bisa saya tulis tentang The Canal adalah, film ini lumayan mengejutkan bagi saya karena saya tidak berharap The Canal akan semenariknya ini. Saat memutuskan untuk menonton The Canal, saya tidak memiliki pengetahuan dan ekspektasi apapun. Melihat trailer-nya pun tidak. Ternyata film ini cukup menegangkan daripada yang saya perkirakan sebelumnya, apalagi dengan posternya yang sangat-biasa-saja dan tampak seperti film horor hantu generik, menjadikan The Canal satu dari banyak kasus langka “don’t judge a film by its poster.

David dan Alice adalah sepasang suami istri yang tampak bahagia, terlebih lagi Alice sedang hamil anak pertama. Mereka pun membeli rumah impian mereka, sebuah rumah di lingkungan yang asri di dekat kanal. Lima tahun kemudian, berbagai hal aneh mulai terjadi. Semuanya berawal dari sebuah roll film lama milik polisi yang harus David tinjau sebagai bagian dari pekerjaannya sebagai seorang pengarsip film nasional. Rekaman tersebut berisi dokumentasi polisi soal kejadian pembunuhan brutal yang terjadi pada tahun 1902, dimana seorang perempuan dibunuh oleh suaminya sendiri dengan sangat kejam, dan mayatnya ditemukan di dalam kanal. Perlahan ia pun mulai menyadari bahwa kekejaman tersebut terjadi di rumah dimana ia dan keluarganya sekarang tinggal. David pun menceritakan hal tersebut pada Alice, dan tampaknya Alice tidak menanggapinya dengan serius. Walaupun dikaruniai seorang anak laki-laki yang menggemaskan yang bernama Billy, pernikahan mereka tampak tidak begitu bahagia lagi sekarang. David juga melihat beberapa hal mencurigakan dari diri Alice dan ia cukup yakin bahwa Alice memiliki selingkuhan. Dibakar rasa penasaran dan cemburu, suatu hari David diam-diam membuntuti Alice. Benar saja, di luar tempat kerja Alice, David melihat istrinya bertemu dengan seorang pria yang bernama Alex. David terus membuntuti mereka berdua hingga diam-diam menyelinap ikut masuk ke dalam kediaman Alex, dimana ia terpaksa melihat keduanya sedang bercinta. David pun dibakar amarah. Ia memungut sebuah palu yang kebetulan tergeletak di dekatnya, dan terus mengintip dari balik ruangan. Tapi David tidak membunuh mereka berdua. Ia pun pergi meninggalkan rumah Alex, dan membuang palu tersebut di kanal. Hampir kehilangan kesadaran, David pun masuk ke sebuah WC umum untuk muntah. Di tempat ini, dalam kondisi setengah sadar (dan mungkin juga mulai setengah tidak waras), David mulai melihat seorang pria asing mengerikan yang mengintip dari balik pintu WC, membisikkan sesuatu kepada David sebelum akhirnya ia benar-benar kehilangan kesadaran.

Keesokan harinya, Alice belum juga pulang ke rumah. Meskipun mungkin saja perselingkuhan Alice sudah dimulai sejak lama, tapi ia selalu pulang ke rumah. Karena ritme film ini tidak bertele-tele, David yang khawatir akhirnya melaporkan hilangnya Alice ke polisi. Di tengah proses investigasi, polisi pun menemukan fakta bahwa benar Alice memiliki kekasih, bernama Alex, dan Alice hilang tepat di malam mereka berdua terakhir kali berjumpa (dan bercinta): malam dimana David memata-matai Alice. Alex memiliki alibi yang kuat, sehingga polisi mencoret nama Alex dari kemungkinannya sebagai tersangka penyebab hilangnya Alice. David tidak sepenuhnya jujur pada polisi. Ia berpura-pura tidak tahu bahwa istrinya selingkuh. Bahkan ia tidak menceritakan kalau ia membuntuti istrinya di malam Alice hilang. Dari awal, polisi memang tampaknya mencurigai David sebagai penyebab hilangnya Alice, karena (menurut polisi), kebanyakan pelaku kasus pembunuhan istri adalah suaminya sendiri, terlebih lagi kalau ada “bumbu” perselingkuhan di dalamnya. Tapi  David yakin betul bahwa ia tidak membunuh Alice.

Akhirnya pencarian Alice membuahkan hasil. Suatu hari polisi yang menyisir di aliran kanal menemukan mayat Alice. Otopsi tidak memperlihatkan adanya luka bekas kekerasan, dan penyebab kematian Alice adalah karena tenggelam. Ia pun dinyatakan meninggal karena kecelakaan, dengan asumsi mungkin Alice terpeleset dan jatuh ke dalam kanal. Tapi David tidak puas dengan itu. Walaupun David adalah seorang skeptis di awal film, tapi sejak film ini dimulai hingga ke momen ditemukannya mayat istrinya, ia sudah banyak melihat (dan mendengar) berbagai hal-hal aneh dan misterius. Tak lama setelah pemakaman istrinya, ia pun memulai investigasinya sendiri dan mulai menemukan fakta bahwa pembunuhan brutal pada tahun 1902 bukanlah satu-satunya kekerasan yang pernah terjadi di rumahnya. Hingga ia menempati rumah itu, selalu ada kejadian pembunuhan kejam yang dilakukan oleh penghuni rumah itu. Perlahan David mulai percaya bahwa ada kekuatan supernatural yang jahat di rumah yang mereka tinggali tersebut, dan kekuatan tersebutlah yang membunuh Alice. Keadaan mulai semakin mencekam dan menegangkan saat kekuatan jahat tampaknya mulai memburu David dan anaknya Billy.

Mulai dari sini kita akan mengikuti David yang terus diterror oleh kekuatan supernatural, dan memasuki skenario klise film horor seputar “aku tidak gila, ini adalah ulah roh jahat!”, dan tentu saja tidak ada seorangpun yang mempercayai David. Suara-suara dan sosok yang David lihat bisa jadi memang hanya ada di kepala David, atau mungkin juga tidak. Apapun itu, bagi orang-orang terdekat David, akan sangat sulit untuk mempercayai bahwa kekuatan supernatural adalah pembunuh Alice. Ia baru saja kehilangan istrinya, tak lama setelah mendapat fakta bahwa istrinya berselingkuh. Cukup masuk akal kalau semua orang di sekitar David akan menganggap bahwa ia hanya sedang sangat terpukul karena kesedihan mendalam, mengalami nervous breakdown dan trauma pasca kehilangan seseorang yang sangat ia cintai.

Saya tidak akan menceritakan lebih jauh lagi plot dari The Canal karena hal tersebut akan merusak “perjalanan” film ini hingga pada akhirnya. Tetapi bisa saya gambarkan sedikit, bahwa semakin banyak David menyelidiki kejadian aneh di rumahnya, semakin ia kehilangan akal sehatnya. Dan tentu saja semakin banyak ia menemukan fakta baru, semakin orang-orang di sekitarnya akan terancam bahaya. Pertanyaannya adalah, apakah semua ini nyata terjadi, atau David memang benar-benar gila? Menonton The Canal membuat kita hampir merasakan ikut kehilangan kewarasan bersama David. Misteri dalam film ini mungkin memang soal apakah David membunuh istrinya, atau hantu lah yang melakukannya? Apakah David benar-benar gila, atau semua ini benar-benar terjadi? Dan apakah kegilaan itu menular? Namun semua pertanyaan tersebut bukanlah hal penting lagi, karena semua jawabannya toh akan sama menakutkannya.

Dalam banyak aspek, film ini memang jelas menggunakan unsur psikologis yang sangat kuat, yang dicampur dengan sedikit elemen supranatural. Mungkin penggabungan kedua unsur tersebutlah yang membuat film ini menjadi cukup menarik. Apa yang saya suka dari film ini adalah, setiap ada kekuatan gaib yang terlibat dalam sebuah adegan, kita tidak akan benar-benar melihatnya. Minimal seperti itulah yang terjadi di dua pertiga awal film ini. Semuanya tampak sangat sugestif, sekelibat, tidak utuh dan tersembunyi seperti bayangan. Hal ini semakin memperjelas ketidakpastian bagi kita para penonton, kembali ke persoalan apakah yang kita tonton ini hanyalah gambaran ketidakwarasan David semata atau bukan. Tetapi secara teknis, justru “penampakan“ yang samar seperti itu bisa menjadikan sebuah film horror terasa lebih mencekam dibanding kalau kita diperlihatkan sesosok setan secara terang-terangan.

Sebenarnya plot The Canal cukup sederhana, mudah ditebak ke mana arahnya, dan banyak menggunakan elemen horor yang sudah tidak asing bagi penonton horror. Memang film ini bukanlah film yang 100% sempurna. Rasanya memang tidak ada film yang seperti itu di dunia ini. Ide dasarnya pun sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru. Ide sugestif tentang rumah jahat yang mempengaruhi penghuninya sudah bisa kita temui seperti dalam The Shining (1980), dan skenario “apakah ia benar-benar gila, atau hantu benar-benar ada” bisa kita temui di banyak film lainnya. Cara beberapa “penampakan” muncul di (menjelang) akhir film ini juga mengingatkan saya pada “penampakan” ala film-film hantu asia. Namun film ini memperlihatkan bagaimana sebuah film horor eropa sanggup mengadaptasi pendekatan ala horor Asia dan Amerika ke dalam film mereka dengan caranya sendiri, dan berhasil tetap menjadi dirinya sendiri tanpa terlihat seperti film horor Asia ataupun Amerika. Kekuatan The Canal memang terletak pada eksekusinya yang baik dan cara film ini membangun karakter dan atmosfernya untuk penonton, menjadikannya sebuah film horor psikologikal yang sangat pantas untuk ditonton. Secara pribadi saya sangat TIDAK menyarankan kalian untuk melihat trailer-nya sebelum kalian menonton The Canal, karena seperti posternya, trailer The Canal benar-benar buruk.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com

 

 

 


Posted at : Thu, 04 April 2019
Category : Review