MOVIE REVIEW: THE EYES OF MY MOTHER (2016)


THE EYES OF MY MOTHER
Sutradara: Nicolas Pesce
USA (2016)

Review oleh Tremor

Mengetahui bahwa The Eyes of My Mother adalah sebuah film original perdana garapan sutradara muda (27 tahun), Nicolas Pesce, tentu saja membuat saya terkesima. Saya harus mengakui, kadang saya beranggapan bahwa film perdana dari seorang sutradara adalah film uji coba, eksperimental, dimana sang sutradara masih perlu lebih banyak belajar untuk membuat karya yang lebih baik lagi. Tapi, film semacam The Eyes of My Mother membuktikan bahwa dugaan saya tersebut tidaklah selalu benar. Dan tidak hanya menyutradarai saja, Nicolas Pesce juga menulis dan mengedit film ini. Durasi The Eyes of My Mother bisa dibilang cukup pendek, hanya 76 menit (sudah termasuk credit title), tapi durasi tersebut cukup efektif menurut saya, karena tidak ada basa-basi atau percakapan tidak penting di dalamnya.

The Eyes of My Mother adalah sebuah film hitam-putih yang dibagi ke dalam tiga babak, dimana setiap babak menggambarkan perkembangan tentang seorang perempuan perempuan bernama Francisca. Pada babak pertama, kita diperkenalkan dengan Fransisca sewaktu masih kecil dimana ia hidup di lingkungan peternakan terpencil bersama ayah dan ibunya. Sang ibu memberi banyak pelajaran mengenai ternak pada Fransisca, termasuk fakta bahwa “konstruksi” mata sapi memiliki banyak kesamaan dengan mata manusia. Kemudian iapun mengajari banyak hal lain pada Francisca, termasuk bagaimana cara mengeluarkan bola mata dari kepala sapi. Jangan kaget dulu. Ibu Francisca yang merupakan keturunan Portugal, pernah menempuh sekolah medis disana. Ia mengatakan bahwa di Portugal, orang berlatih bedah pada sapi, bukan pada manusia seperti yang biasa dilakukan di Amerika. Walaupun pelajaran yang didapat terdengar sadis untuk dibagi pada seorang anak kecil, tapi mungkin saja sang ibu sedang mempersiapkan Fransisca untuk menjadi dokter di kemudian hari. Suatu hari, saat di rumah hanya ada mereka berdua saja, dan Francisca cilik sedang bermain di halaman depan rumahnya, datanglah seorang pria yang perilakunya cukup janggal. Sepertinya ia adalah seorang salesman, hanya saja kebetulan salesman adalah seorang psikopat.

Setelah menodongkan pistol dan berusaha menyekap Fransisca dan ibunya, terjadi lah percekcokan. Sang ibu yang berusaha melindungi anak semata wayangnya pun meninggal dengan sadis di tangan sang psikopat yang membunuhnya di bathtub. Saat ayah Fransisca datang, ia menyaksikan bagaimana si salesman psikopat masih asik memukuli sang ibu yang sudah tidak bernyawa dengan gagang pistolnya, sambil tertawa-tawa. Entah sudah berapa lama ia memukuli sang ibu. Dan Fransisca harus menyaksikan semua itu dengan penuh shock.

Dan kita tahu bahwa trauma masa kecil, bisa menentukan perkembangan karakter seorang anak, bahkan sangat mungkin untuk menjadi gila sekalipun. Dari sini, sepertinya sulit bagi saya untuk terus membicarakan plot film ini tanpa membeberkan sedikit spoiler. Ohya, harap diingat bahwa mereka tinggal di peternakan yang jauh dari manusia lainnya. Tentu saja situasi yang digambarkan dalam film ini adalah sebuah lingkungan tanpa polisi, tanpa hukum formal, tanpa tetangga. Kembali ke plot, setelah sang ayah mengubur istrinya, iapun menyekap si salesman psikopat di semacam lumbung kosong di area peternakan mereka, dan membiarkannya tetap hidup dengan kondisi dirantai, tanpa mata, tanpa lidah.  Selama beberapa tahun kemudian, Fransisca “memelihara” pria tersebut, terus menyuapinya makan agak pria tersebut tidak mati. Pria tersebut sepenuhnya ada di bawah kekuasaan Fransisca, bahkan hingga ayah Fransisca meninggal di usia tuanya. Bertahun-tahun pria tersebut hidup dengan rantai, tanpa bisa berteriak dan melihat apapun. Silakan bayangkan sendiri kalau kalian ada di posisi tersebut.

Fransisca yang semakin terpukul selepas kematian sang ayah, kini tinggal sendirian, dan sepertinya ia semakin gila dan mulai terobsesi dengan beberapa hal yang cukup sadis dan mengganggu. Apalagi Fransisca sangat kesepian. Sampai disini saya tidak ingin membeberkan lebih banyak spoiler lagi. Yang pasti, masih banyak hal terjadi dalam film ini selepas ayahnya meninggal.

Isolasi, adalah salah satu unsur penting dalam sebuah film horor. Rasa mencekam tidak akan muncul saat kita mengetahui bahwa ada tetangga sang korban yang bisa dimintai tolong, atau ada polisi yang bisa diandalkan. Lihat saja film-film semacam Texas Chainsaw Massacre dan semacamnya. Hal buruk yang terjadi di tempat terpencil, sangatlah buruk. Teror yang dirasakan oleh sang korban bukan saja dari kenyataan bahwa mereka disekap oleh orang gila, tapi karena mereka tidak bisa mendapat pertolongan dari siapapun.

Jangan khawatir, film ini bukanlah film gore atau festival penuh darah dan isi perut. Saya bahkan menduga, pemilihan warna hitam putih dalam film ini mungkin karena sang sutradara ingin membungkus kekejaman agar tampak lebih elegan. Setidaknya, kita tidak perlu melihat darah dalam warna aslinya. Selain itu, bagaimana sang sutradara menggambarkan beberapa adegan yang tidak mengenakan tampak indah, mungkin akan membuat penonton akan merasa sedikit bingung dan terganggu dengan diri mereka sendiri.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat@yahoo.com


Posted at : Thu, 04 January 2018
Category : Review