MOVIE REVIEW: THE HUMAN CENTIPEDE 2 (Full Sequence) 2011


 

THE HUMAN CENTIPEDE 2 (Full Sequence)
Sutradara: Tom Six
Belanda / UK (2011)

Review oleh Tremor

Sempat dilarang tayang di seluruh Britania Raya, New Zealand, Australia dan beberapa negara lainnya, serta mendapat rating rendah di IMDb dan Rotten Tomatoes, menurut saya semua itu bisa dianggap sebagai sebuah pencapaian yang cukup membanggakan untuk sebuah film horor. Publik membencinya, kritikus membencinya. Kebanyakan film dengan rating rendah memanglah sampah yang mungkin hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu saja. Tetapi tidak dengan film kedua dari The Human Centipede.  “Aku sangat yakin bahwa dalam 100 tahun ke depan, orang-orang akan masih membicarakan mengenai film-film Human Centipede-ku.”, demikian kata Tom Six, sang sutradara, dalam sebuah wawancara dengan TheGuardian. Kalau Mendengar prediksi tersebut, sayapun diam-diam mulai mempercayainya.

Sebenarnya sudah tidak perlu panjang lebar untuk memperkenalkan seri film ini. Bahkan kalian yang bukan penonton film horor sekalipun mungkin pernah mendengar sedikit tentang The Human Centipede. Minimal kalian pernah mendengar reaksi dari mereka yang sudah menontonnya. Kalau kalian belum pernah menonton atau mendengar tentang film ini, anggap saja kalian cukup beruntung. Dan kalau kalian memutuskan untuk melanjutkan membaca review ini, keberuntungan kalian baru saja hilang.

Film The Human Centipede 2 (Full Sequence) adalah sebuah film horor eksploitasi hitam-putih yang ditulis dan disutradarai oleh seorang sineas asal Belanda bernama Tom Six. Membahas film ini, tidak bisa tidak, harus sedikit mengingat kembali film pertamanya terlebih dahulu. Dalam film pertama The Human Centipede yang dirilis pada tahun 2009, diceritakan tentang seorang dokter bedah gila bernama Dr. Josef Heiter yang memiliki obesesi agak sakit. Ia kemudian menculik 3 orang turis dan melakukan eksperimen pada mereka hidup-hidup. Tentu kalian paham soal sistem pencernaan. Makanan masuk lewat mulut, dicerna oleh tubuh, hingga ampasnya keluar lewat dubur sebagai kotoran. Saya tidak bermaksud untuk menuliskan sesuatu yang jorok, tetapi itulah bahasa bakunya, dan memang begitulah proses manusia mencerna makanan. Nah dalam eksperimen gila Dr. Heiter, ke-tiga turis malang tersebut disatukan di atas meja operasi untuk menjadi satu rangkaian panjang manusia yang pada hasil akhirnya akan hanya memiliki satu mulut (di paling depan), dan hanya satu lubang pengeluaran saja (di paling belakang). Masih belum paham? Sejujurnya saya agak enggan untuk menjelaskan lebih detail, apalagi cukup sulit untuk tetap terdengar sopan dalam menjelaskan hal ini. Tapi ini harus tetap saya lakukan, siapa tahu ada dari kalian yang masih belum mengerti. Oke. Bagaimana cara “menyatukan” tiga tubuh manusia yang Dr. Heiter maksud? Dengan cara membuat 3 manusia tersebut memiliki satu saluran pencernaan panjang yang saling terhubung satu sama lain. Manusia pertama berada di paling depan dan ia memiliki mulut untuk makan. Sementara mulut manusia yang berada pada rangkaian kedua dijahit langsung pada (maaf) dubur manusia di depannya, dan seterusnya, hingga bentuk ketiga turis malang tersebut menyerupai kelabang (centipede), dan disebut The Human Centipede. Dan proses ini dilakukan hidup-hidup pada korbannya karena tujuan utamnya adalah untuk mengobservasi bagaimana kelabang manusia hasil eksperimen ini bisa hidup. Dr. Heiter memberi makan pada mulut pertama, dan memantau bagaimana sari-sari makanan dari tubuh manusia paling depan, bisa terdistribusi sampai ke manusia yang berada di urutan paling belakang. Menjijikan? Tentu saja.

Tapi tenang. Walaupun terdengar brutal, film pertama dari The Human Centipede tidaklah se-vulgar film keduanya. Itu kalau kamu terbiasa menonton film horor. Film centipede pertama memang terdengar menjijikkan, tapi sebenarnya hanya pada tataran ide dan imajinasi penonton saja. Film tersebut bisa dibilang “soft” dibandingkan dengan apa yang orang perkirakan sebelum menontonnya, tidak terlalu graphic dan saya pribadi tidak akan memasukkannya ke dalam kategori “torture porn”. Setidaknya proses operasi yang penuh darah sama sekali tidak diperlihatkan. Saya pikir, seorang penonton horor yang merasa ingin muntah saat menyaksikan film Human Centipede pertama, adalah korban dari imajinasinya sendiri. Lagipula kalau dipikir-pikir, Dr. Heiter adalah seorang dokter bedah yang mengikuti prosedur pembedahan. Setidaknya ia tidak lupa untuk membius para korbannya sebelum kemudian “disatukan” dengan peralatan bedah yang steril. Masalahnya hanya satu: ia gila. Mungkin semua faktor tersebutlah yang membuat banyak penggemar horror gore sedikit kecewa dengan film pertama ini. Sebuah film dengan konsep menyatukan beberapa manusia menjadi serangkai human centipede tentu saja cukup “menggoda” bagi para penikmat film gore. Ekspektasi mereka menjadi cukup tinggi dengan berharap akan melihat adegan-adegan operasi penggabungan manusia. Dan mungkin, kekecewaan para penonton film horor terhadap The Human Centipede pertama jugalah yang membuat Tom Six kemudian membabi buta dalam film keduanya, seakan menampar para penggemar film horor sambil berkata, “Kalian ingin film sadis dan vulgar? Oke ini dia, dan mari kita lihat apakah kalian sanggup melihatnya.” Sedikit catatan: saya tidak akan membahas film ketiga dari The Human Centipede, karena film tersebut adalah film komedi berselera sangat rendah (yang menurut saya sangat buruk dan sama sekali tidak perlu ditonton). Saya pikir, lewat film ke-tiganya tersebut Tom Six seakan ingin berkata “Baiklah, maafkan saya, saya hanya menggodamu lewat The Human Centipede 2. Silakan tonton ini dan berhentilah menangis”.

Walaupun sudah sangat banyak yang menulis mengenai The Human Centipede 2, saya tetap memutuskan untuk menulis tentang ini karena rasanya ada begitu banyak hal yang ingin saya ungkapkan. Sebelumnya, saya harus tegaskan sekali lagi kalau film ini sangat tidak direkomendasikan bagi kalian yang tidak menyukai hal-hal menjijikkan dan sadis. Kalian merasa ingin muntah saat memasuki sebuah WC umum yang kotor? Merasa gusar saat membayangkan cabut gigi? Merasa ngilu membayangkan tempurung lutut pecah? Jangan tonton film ini.

The Human Centipede 2 menceritakan tentang seorang sakit jiwa bernama Martin Lomax yang sangat terobsesi dengan film The Human Centipede. Ya, asumsinya adalah Martin Lomax hidup di alam yang sama dengan kita semua, dimana Dr. Josef Heiter hanyalah sebuah karakter fiksi dari sebuah film horor murahan berjudul The Human Centipede, yang kemudian dirilis dalam bentuk DVD. Tapi ada yang salah dari Martin Lomax. Ia menonton DVD The Human Centipede layaknya seseorang normal yang menonton film Interstellar dan dokumenter Cosmos berulang kali hingga mulai terobsesi dengan antariksa dan astrofisika. Martin menganggap Dr. Heiter sebagai inspirasi sekaligus pahlawannya. Ide fiksi sang dokter gila soal kelabang manusia begitu mempesona Martin. Dan karena Dr. Heiter dianggap “gagal” dalam film yang Martin tonton, ia memiliki obsesi untuk menyelesaikan apa yang dimulai oleh Dr. Heiter: membuat kelabang manusianya sendiri. Tidak tanggung-tanggung, Martin ingin membuat rangkaian kelabang manusia yang lebih panjang menggunakan 12 manusia hidup. Kalau kita biasanya mencoba membuat sesuatu dipandu dengan video tutorial di Youtube, Martin Lomax juga memiliki panduannya sendiri: Sebuah map berisi catatan dan kliping seputar film The Human Centipede, serta sebuah DVD The Human Centipede yang hampir setiap malam ia tonton berulang kali, kadang sambil masturbasi. Sudah tidak perlu dijelaskan lebih jauh betapa sakit jiwanya Martin. Masalahnya adalah, walaupun fiktif, setidaknya Dr. Heiter itu adalah seorang dokter bedah, yang memiliki latar belakang medis, pengetahuan anatomi yang mumpuni, dan juga peralatan steril lengkap dengan meja operasi yang proper. Sementara Martin Lomax? Ia hanya seseorang dengan gangguan jiwa yang bekerja sebagai penjaga parkiran malam dan tidak memiliki latar belakang medis sama sekali. Hanya satu modal yang dimiliki oleh Martin: obsesi. Jadi bisa ditebak kemana arah ceritanya. Lomax pun menyewa sebuah gudang kotor dan mulai menculik korban-korbannya hingga terkumpul 12 orang (termasuk seorang perempuan hamil, dan satu orang aktris utama dari film Human Centipede yang ia tonton). Dengan peralatan seadanya yang ia kumpulkan dari rumahnya, Martin berniat menyelesaikan apa yang gagal diselesaikan oleh pahlawan idolanya: membuat kelabang manusia yang mampu hidup, full sequence! Operasi amatir tanpa bius terhadap 12 manusia hidup-hidup, beralaskan lantai di sebuah gudang yang kotor, dengan menggunakan perkakas yang saya yakin tidak dicuci terlebih dahulu, dilakukan oleh seorang sakit jiwa sekaligus keterbelakangan mental yang tidak memiliki pengetahuan anatomi sama sekali. Lengkap sudah. Film ini tidak meninggalkan sedikit pun ruang untuk berimajinasi mengenai bagaimana Lomax merealisasikan fantasinya, karena kita akan diperlihatkan semuanya dengan terang-terangan dan vulgar. The Human Centipede 2 sama sekali tidak “sesopan” film pertamanya. Tom Six seakan sudah membuat daftar panjang berisi semua unsur visual yang di-tabu-kan dalam dunia perfilman dan masyarakat, dan dengan sengaja melanggarnya satu persatu. Ironisnya, layaknya karya fotografi hitam putih karya fotografer handal, cinematografi hitam putih dalam film ini cukup memukau. Namun itu sama sekali tidak mengurangi kebrutalan yang penonton saksikan. Kita tetap dipaksa untuk melihat darah, muntah dan kotoran manusia yang bercipratan pada lensa kamera.

Tidak heran kalau film ini kemudian dilarang tayang di banyak negara. Di satu sisi, film ini sangat cerdik dan brilian dalam hal membuat penontonnya terpukul. Di sisi lain, film ini memang bukan untuk semua orang. Sejauh ingatan saya, film The Human Centipede 2 adalah satu-satunya film fiksi horor yang membuat saya merasa tidak nyaman setelah selesai menontonnya sebagai orang dewasa. Jujur saja, film-film yang seringkali di-cap sebagai film “sakit” dan penuh kesadisan seperti A Serbian Film (2010), seri Guinea Pig asal Jepang yang kontroversial (80-90-an), Cannibal Holocaust (1980), hingga Grotesque (2009), rasanya biasa saja dan tidak meninggalkan sensasi semenjijikkan The Human Centipede 2 bagi saya. Biasanya rasa seram dan tidak nyaman saat menonton sebuah film torture porn ikut hilang seiring dengan berakhirnya sebuah film. Tidak membekas. Tapi berbeda dengan Human Centipede 2. Mungkin karena kekuatan dari The Human Centipede 2 bukanlah hanya pada adegan-adegan sadis yang bikin ngilu (dan jijik) semata, tetapi perpaduannya dengan atmosfer yang dibangun sejak awal. Warna hitam putih sepanjang film, penggambaran brilian pada karakter sinting Martin Lomax yang diperankan dengan sangat baik, ditambah dengan obsesinya yang di luar akal sehat. Bahkan sebelum kita sampai ke adegan-adegan sadis dalam Human Centipede 2, kita sudah dibuat tidak nyaman duluan hanya dengan melihat Martin Lomax memandangi “buku konsep”-nya sambil setengah telanjang. Seperti itulah bagaimana atmosfer ketidak-nyamanan dibangun, membuat penonton menjadi sangat rapuh secara psikologis, dan dengan efektif diserang lewat adegan-adegan ekstrim dan vulgar kemudian. Kita terlebih dahulu dibawa begitu dekat dengan sosok Martin Lomax, hingga titik dimana kita tidak merasa nyaman dengannya. Itulah mengapa saya merasa sangat jijik dengan karakter ini, tetapi juga mengapresiasi pemerannya. Saya tidak akan sanggup kalau harus duduk bersama dengan Martin Lomax dalam satu ruangan yang sama. Melihat tatap matanya saja sudah menimbulkan perasaan tidak nyaman, apalagi kalau ia sampai menatap sambil tersenyum.

Walaupun saya menontonnya seorang diri (karena partner saya kemudian menyerah di tengah film dan meninggalkan ruangan), tapi rasanya The Human Centipede 2 lebih cocok untuk ditonton beramai-ramai bersama teman-teman dekat. Setidaknya cara itu lebih fun. Kita bisa tertawa bersama saat salah satu dari teman kita merasa ingin muntah. Mungkin inilah satu-satunya hal “menyenangkan” dari The Human Centipede 2. Kalau dipikir-pikir, mungkin gelak tawa bisa jadi merupakan sebuah mekanisme spontan untuk menghadapi ketidaknyamanan yang kita rasakan. Itu juga yang beberapa kali pernah saya temui dalam ruang bioskop saat menonton sebuah film horor yang kebetulan mengerikan, dimana ada saja penonton menyebalkan yang berusaha “melucu” dan mencoba menjadi pusat perhatian. Bisa jadi, itulah cara beberapa orang untuk mengatasi ketidak-nyamanan, dengan membuat distraksi yang menawarkan rasa aman: gelak tawa. Dalam salah satu contoh reaction video yang saya sertakan di bawah, kalian bisa melihat bagaimana sekumpulan anak muda menghadapi film The Human Centipede 2 dengan canda tawa sambil kadang berkomentar; menciptakan distraksi-distraksi agar memiliki alasan untuk memalingkan mata dari layar tv. Seiring berjalannya film, frekuensi tawa mereka mulai berkurang, digantikan dengan ekspresi-ekspresi jijik pada akhir-akhir video. Tapi mungkin cara-cara itulah yang membuat mereka tampak menikmati momen fun bersama teman-teman, dan berhasil melewati film ini hingga selesai.

The Human Centipede 2: Full Sequence. Saya sendiri memiliki perasaan yang tidak pasti dan campur aduk mengenai film ini. Ada perasaan enggan untuk menonton kedua kalinya. Satu kali rasanya cukup. Ada beberapa adegan yang memang menggelikan, namun itu membuat saya merasa sangat berdosa. Beberapa adegan lainnya seperti meninggalkan seonggok daging buah durian menyangkut di tengah tenggorokan saya (sebagai informasi, saya tidak suka buah durian.) Tapi di sisi lain, saya juga menyukai cara film ini membuat banyak penonton merasa ngilu dan jijik. The Human Centipede 2 yang menjijikkan ini, bisa dijadikan sebagai pengingat bahwa kadang sebuah film horor seharusnya mampu menimbulkan perasaan tidak nyaman yang membekas, walaupun tidak harus menggunakan cara se-ekstrim The Human Centipede 2. Film ini bisa saya sebut sebagai film horor yang cukup berhasil. Ia sama sekali tidak menghibur, dan berpotensi meninggalkan perasaan tidak nyaman pada penonton setelahnya. Bukankah sensasi seperti itu yang diam-diam kita cari dari film horor?

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com

 

 

 

 


Posted at : Thu, 14 February 2019
Category : Review