MOVIE REVIEW: THE REEF (2010)


THE REEF
Sutradara: Andrew Traucki
Australia (2010)

Review oleh Tremor

Setelah sukses dalam film perdananya yang bergenre natural / survival horror berjudul Black Water (2007), sutradara muda asal Australia, Andrew Traucki, kembali membuat film horror dengan genre yang sama. Natural horror sendiri adalah film horror yang menggunakan elemen alami sebagai teror dan unsur kengeriannya. Di luar ilmiah atau tidaknya, elemen alam yang sering digunakan dalam film horror semacam ini umumnya berbentuk hewan, seperti misalnya piranha, beruang, burung, primata, dinosaurus, hingga ular. Kalau dalam film Black Water Traucki menghadirkan kengerian bertahan hidup melawan teror buaya rawa, dalam film The Reef ia menghadirkan hewan klasik yang akan selalu membawa rasa takut tersendiri pada penontonnya: ikan hiu.

Siapa yang tidak kenal dengan hewan satu ini? Memang menggunakan ikan hiu dalam film horror / thriller bukanlah hal baru. Ada banyak sekali variasi film hiu dari mulai yang paling sukses dan paling dikenal orang seperti film Jaws (1975); film sci-fiction Deep Blue Sea (1999); hingga horror hiu kelas B konyol yang kadang cukup menghibur seperti Sharktopus (2010), Sand Sharks (2011), sampai  hiu berkepala 2, 3, dan 5 pun ada dalam seri sequel 2-Headed Shark Attack (2012 – 2017). Dari kesemua film hiu kelas B, adalah Sharknado (2013) yang paling berkesan bagi banyak orang yang hingga kini sudah memiliki 6 film, video game, hingga komiknya sendiri! Kembali pada film horror hiu secara umum, pada kenyataannya, hampir setiap tahun selalu ada film bertema hiu baru yang dirilis, sebut saja beberapa dari yang paling baru seperti The Meg (2018), 47 Meters Down (2017), dan The Shallows (2016). Itu belum termasuk film kelas-B. Namun dari semua film horror hiu yang saya tonton, rasanya The Reef adalah yang paling mengerikan, paling nyata dan paling efektif.

Hiu adalah salah satu unsur terror paling mengerikan di alam yang sama sekali asing bagi manusia, yaitu laut. Beberapa orang selalu membandingkan film-film hiu dengan Jaws, dan saya rasa itu tidak adil, karena Jaws adalah film yang sama sekali berbeda dengan film-film hiu lainnya. Dan tidak sepantasnya Jaws selalu dijadikan sebagai acuan film hiu yang berhasil. Bahkan dalam segi plot, Jaws memiliki penuturan dan cerita yang berbeda dengan kebanyakan film hiu lainnya karena ia lebih menitik cerita mengenai aksi heroik manusia memburu hiu yang telah meneror pantai, dan bukan sebaliknya. Bisa dibilang, rasa ngeri dalam film Jaws mungkin hanya 20% dari keseluruhan film. Dalam Jaws, manusia yang dibantu dengan teknologi dan senjata, memiliki kuasa dan keuntungan lebih dibandingkan hiu, dan itu tentu saja akan membuat penonton merasa lebih lega dan lebih superior dibandingkan hiu. Sementara dalam semacam the Reef, yang terjadi adalah sebaliknya, dimana manusia sama sekali tidak berdaya dalam teritori ikan hiu. Dan itu adalah sebuah kenyataan di alam nyata.

The Reef memperkenalkan karakter seorang pelaut bernama Luke yang menyambut temannya Matt beserta pacarnya Suzie yang datang dari London, serta adik perempuan Matt yang merupakan mantan pacar Luke yang bernama Kate. Dibantu awak  kapal yang bernama Warren, mereka berempat akan berlayar di kawasan wisata yang paling menarik bagi mereka yang menyukai keragaman dunia bawah laut: Great Barrier Reef. Great Barrier Reef sendiri adalah sebuah kawasan terumbu karang terbesar di dunia di timur laut Australia yang menjadi habitat bagi ribuan spesies mahluk laut yang berbeda, termasuk hiu, dari yang berukuran kecil seperti hiu coral, hingga yang besar seperti hiu harimau dan hiu kepala palu. Namun kemungkinan berjumpa dengan hiu sangatlah kecil karena kawasan ini sangat luas, dan belum tentu hiu memangsa manusia karena makanan bagi mereka begitu berlimpah.

Kembali ke film The Reef, sehabis mengunjungi sebuah lokasi snorkeling, kapal yang mereka kendarai menabrak sebuah karang besar dengan keras di tengah laut lepas, dan terbalik. Terdampar di atas kapal yang terbalik dan menyadari bahwa arus laut mulai menyeret kapal mereka semakin jauh ke arah samudra lepas, mereka mulai memperhitungkan semua kemungkinan buruk yang harus mereka hadapi. Pertama, tentu saja mereka akan mengalami dehidrasi. Itupun kalau kapal tidak keburu tenggelam. Kalaupun kapal mereka tidak tenggelam, kapal mereka sudah pasti akan semakin menjauh dari daratan. Kalau mereka tetap tinggal, kemungkinan untuk selamat semakin kecil. Dihadapi dilema seperti itu, Luke salah satu dari mereka yang paling berpengalaman sebagai pelaut, memberikan satu-satunya ide yang bisa menyelamatkan mereka semua: berenang secara perlahan menuju pulau terdekat yang bernama Pulau Penyu. Tentu saja ide tersebut bukanlah pilihan yang mudah. Apalagi Matt dan kekasihnya Suzie, merasa tidak akan sanggup untuk berenang sejauh itu. Namun mereka sama sekali tidak memiliki pilihan lain. Mereka dihadapi kenyataan pahit bahwa satu-satunya harapan untuk selamat adalah berenang. Setelah mengumpulkan sisa air minum, makanan kaleng dan pelampung stereofoam, akhirnya mereka berempat mulai berenang menuju pulau yang dimaksud. Awak kapal Warren tidak ikut atas kemauannya sendiri. Warren berpikir lebih baik ia tinggal di kapal sambil menunggu datangnya bantuan daripada berjumpa hiu. Kapal tersebut memiliki alat sederhana yang sudah usang untuk mengirimkan sinyal SOS, dan itu adalah harapan satu-satunya bagi Warren. Walaupun Luke sudah meyakinkan bahwa mengirimkan sinyal lemah SOS dari lokasi mereka hanyalah membuang waktu karena mereka sangat jauh berada dari pulau utama, dan tidak berada di perlintasan pesawat terbang, tapi tidak ada yang bisa memaksa Warren. Lagipula, Luke pikir mereka bisa mengirimkan bantuan untuk menjemput Warren sesampainya mereka di pulau Penyu. Namun perjalanan mereka menuju pulau Penyu jauh dari yang mereka harapkan.

Kalau kalian menyaksikan trailer dari The Reef, kalian akan mengetahui pasti kelanjutan alur cerita ini. Dalam perjalanan yang berat tersebut, diam-diam seekor hiu putih besar (great white shark) terus mengikuti mereka, dan mulai memangsa mereka satu persatu. Memang tidak ada yang dirahasiakan dalam film the Reef. Idenya sangat sederhana: sekelompok manusia yang terdampar di laut lepas diteror oleh hiu. Itu saja. Straight to the point. Tidak ada twist ending atau aksi kepahlawanan. Nilai lebih dalam film The Reef sama sekali bukan soal plot penuh kejutan, tapi dari caranya menuturkan sebuah kisah serangan hiu yang tragis dan menegangkan. Film ini menggambarkan ketidakberdayaan dan ketiadaan harapan, dan mampu membuat penonton ikut tidak berdaya. Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan saya lakukan kalau saya harus mengalami kejadian serupa. Apalagi kalau harus menyaksikan satu persatu teman dimangsa begitu saja di depan kita, dan tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan mereka. Kadang film seperti ini jauh lebih menyeramkan dibandingkan film hantu manapun.

Hal lain yang menarik dari The Reef adalah, karena film ini berdasarkan pada kisah nyata mengenai serangan hiu yang terjadi di pesisir Townsville, Australia, pada 25 Juli 1983.  Satu-satunya orang yang selamat dalam kejadian itu adalah seorang penangkap udang bernama Ray Boundy. Dalam penuturan kisahnya, kapal yang ia gunakan untuk mencari udang bersama dua rekannya, Dennis dan Linda, terbalik di tengah laut lepas. Mereka berusaha untuk berenang menggunakan barang-barang yang bisa digunakan dari kapal mereka seperti styrofoam kotak udang dan papan surfing untuk berenang menuju daratan terdekat. Tidak ada jaket pelampung di kapal! Hal ini cukup mengejutkan bagi saya. Saya pikir tidak adanya jaket pelampung dalam film The Reef merupakan sebuah plot-hole, namun rupanya hal yang sama juga terjadi di kisah aslinya. Saat hari mulai malam, seekor hiu mulai mendekati mereka bertiga dan memangsa Dennis pada jam 8 malam. Hiu yang sama kembali mendatangi mereka pada dini hari dan memangsa Linda. Sejak kapalnya terbalik, Ray Boundy terombang-ambing di laut lepas selama satu setengah hari hingga akhirnya ia berhasil diselamatkan menggunakan helikopter setelah ia mencapai sebuah daratan karang. Kisah nyata yang sangat mengerikan.

Menurut saya, di luar sedikit bumbu drama asmara antara Luke dan Kate (yang sebenarnya samasekali tidak penting dalam cerita ini), The Reef adalah salah satu film hiu terseram dan paling menegangkan yang pernah saya tonton. Film ini berhasil menggambarkan betapa tidak berdayanya manusia di hadapan hiu. Diperkuat dengan penggunaan kamera yang ditempatkan di dalam air di hampir sepanjang film, membuat seakan penonton ikut berenang bersama ke-empat karakter dalam film ini, dan ikut tidak berdaya. Dalam beberapa adegan, saya bahkan ikut menahan nafas dan terus ikut mencari-cari dimana hiunya berada.

Plot film The Reef ini bisa dibilang sedikit mirip dengan film Open Water (2003), yang bercerita mengenai sepasang kekasih yang sedang melakukan wisata scuba diving di laut lepas, diserang oleh hiu setelah tertinggal dari rombongannya. Walaupun sama-sama terinspirasi dari kisah nyata, tapi cerita dalam film Open Water murni terkaan semata, alias fiktif. Dalam kisah nyata yang menginspirasi Open Water, tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi dengan sepasang kekasih tersebut karena tubuh mereka tak pernah ditemukan, dan tidak ada saksi mata. Sementara kisah nyata di balik film the Reef, memiliki dasar lebih yang lebih kuat karena kisah menyeramkan ini benar-benar meninggalkan seorang survivor yang bisa menceritakan apa yang terjadi atas teman-temannya.

Film hiu yang dikemas dengan baik seperti The Reef akan mampu membuat seseorang untuk sedikit paranoid saat berenang di lautan lepas. Apalagi kalau dasar lautnya sudah tidak terlihat lagi. Hanya kegelapan di bawah kaki kita dan tidak ada yang bisa kita pijak lagi. Walaupun sebenarnya persentase ikan hiu membunuh manusia itu sangat kecil dibandingkan manusia membunuh hiu, bahkan hingga kini beberapa spesies hiu sudah hampir punah karena ulah sang predator tak berhati, tapi hiu dalam film sudah identik dengan predator tanpa rasa ampun.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com

 


Posted at : Thu, 24 January 2019
Category : Review