MOVIE REVIEW: THE RITUAL 2017


THE RITUAL
Sutradara: David Bruckner
Inggris (2017)

Review oleh Tremor

Lagi-lagi Netflix mempersembahkan sebuah film horor yang layak ditonton. Di tengah dahaga keringnya film horor modern, akhirnya saya menemukan film horor modern yang lumayan bagus dan sangat saya nikmati. The Ritual diadaptasi dari novel karya Adam Nevill dengan judul yang sama dan disutradarai oleh seorang sutradara yang bisa dibilang baru dalam industri film horor, David Bruckner, yang sebelumnya hanya membuat film-film pendek. Beberapa karya lamanya bisa kamu temui dalam antologi horror V/H/S (segmen Amateur Night, 2012) dan Southbound (segmen The Accident, 2015).

Hutan akan selalu menjadi lokasi klasik dan efektif untuk cerita film horor. Dalam kehidupan nyata, hutan yang rapat bisa membuat seseorang tersesat di dalamnya. Hutan juga menyimpan banyak misteri bagi mereka yang tidak terbiasa dengannya. Ketidaktahuan kita atas apa yang ada di dalamnya bisa membuat hutan hampir sama menakutkannya dengan dasar laut. Siapa yang tahu hewan liar apa yang akan kita temui di dalam hutan? Kelompok manusia seperti apa yang tinggal di dalamnya, dan apakah mereka cukup ramah bertemu orang asing? Atau mungkin bukan hanya manusia dengan kebiasaan yang berbeda yang bisa kita temui dalam hutan, tetapi juga sesuatu yang lain, sesuatu yang jauh lebih jahat dan mengerikan? Ide hutan sebagai tempat yang penuh misteri melahirkan banyak film horor dari mulai yang bertema alam liar (The Grey 2011, Black Water 2007); slasher (Hatchet 2006, Wrong Turn 2003); kanibal (Cannibal Holocaust  1980, Green Hell 2017); monster (TrollHunter 2010, Predator 1987); penyakit (Cabin Fever 2002); roh jahat (Evil Dead 1981); hingga penyihir (seperti dalam The Witch 2015 dan The Blair Witch Project  1999). Namun film The Ritual menawarkan sesuatu yang agak sedikit berbeda dari formula standar film horor bersetting hutan. Sesuatu yang tidak bisa saya ceritakan disini kecuali kalian sudah menontonnya sendiri.

Di sebuah bar, sekumpulan sahabat paruh baya yang berencana untuk melakukan liburan bersama sedang mendiskusikan tentang ke mana mereka harus pergi  berlibur. Masing-masing dari mereka memiliki pendapat yang berbeda-beda. Jerman, Belgia, Las Vegas. Mereka menginginkan perjalanan yang berbeda dan sedikit menantang. Hanya satu dari mereka, Rob, yang memberi masukan untuk pergi hiking di utara Swedia. Rob mengutarakan betapa besar keinginannya untuk pergi hiking, karena ia melihat hal tersebut sebagai sebuah tantangan bagi dirinya dan teman-temannya, yang memang tidak terbiasa pergi belibur ke alam bebas. Terutama bagi Dom, salah satu dari 5 sahabat tersebut. Nasib sial ternyata menghampiri Rob saat ia dan salah satu sahabatnya, Luke, terjebak dalam perampokan di sebuah toko minuman sepulang mereka dari bar. Luke sempat bersembunyi di balik rak-rak minuman, sementara Rob harus berhadapan dengan dua perampok. Luke masih menimbang-nimbang mengenai apa yang harus ia lakukan, saat tengkorak kepala Rob akhirnya remuk dihajar pentungan oleh si perampok.

Kematian Rob menghantui Luke dalam bentuk perasaan bersalah dan penyesalan yang biasa datang menghampirinya lewat mimpi buruk. Enam bulan setelah kejadian tersebut, akhirnya ke-empat sahabat ini (Phil, Dom, Hutch, dan Luke) benar-benar pergi ke tempat yang diinginkan oleh Rob, sebagai bentuk penghormatan bagi mendiang sahabat mereka tersebut. Mereka melakukan hiking di jalur utara Swedia yang dingin dan jauh dari peradaban dengan tujuan akhir berupa sebuah pondok. Namun di tengah jalan, Dom, salah satu yang paling manja dari mereka, terjatuh dan mengaku lututnya cidera. Selain itu, kaki Phil pun mulai lecet karena ia memilih sepatu yang salah. Ya, sepertinya mereka memiliki pengetahuan yang minim mengenai kegiatan mendaki dan hiking. Itu adalah sebuah kesalahan fatal. Hutch yang berperan sebagai pemimpin perjalanan, adalah satu-satunya yang sepertinya paling mengerti mengenai pendakian di antara mereka, atau setidaknya, ia bisa membaca peta dan kompas.

Karena Dom mengaku tidak akan sanggup berjalan kaki lebih lama lagi, akhirnya mereka mengambil jalan pintas yang bukan jalur seharusnya, agar perjalanan mereka bisa lebih cepat. Itu adalah sebuah keputusan nekat bagi mereka yang tidak memiliki wawasan yang cukup mengenai pendakian, survival dan navigasi. Bermodalkan kompas dan peta, akhirnya mereka memasuki kawasan hutan, dengan harapan bisa memotong jalan dan menghemat waktu. Mereka memperkirakan akan bisa mencapai pondok tujuan mereka dalam beberapa jam saja. Namun, tentu saja, ini film horor, dan memasuki hutan dalam film horor bukanlah pilihan yang bijak.

Di tengah perjalanan dalam hutan, mereka dikagetkan dengan sebuah bangkai rusa yang ditancapkan di atas pohon dengan isi perut terburai. Darahnya masih menetes, menandakan bahwa rusa tersebut baru saja dibunuh. Posisinya yang aneh membuat mereka yakin bahwa ini bukan ulah binatang liar. Hari semakin gelap saat mereka memasuki hutan lebih dalam, dan akhirnya hujan badai menghambat perjalanan mereka sampai akhirnya mereka menemukan sebuah gubuh tua yang terbuat dari kayu. Luke melihat beberapa simbol aneh di batang pohon dekat dengan gubuk. Luke juga mendengar suara-suara aneh dari dalam hutan sekitar mereka. Namun teman-temannya tidak menghiraukannya. Karena hujan semakin besar dan tidak ada waktu untuk membangun tenda, maka merekapun memutuskan untuk berteduh di dalam gubuk yang kelihatannya sudah lama tak berpenghuni tersebut. Poin kedua dalam film horor: jangan memasuki gubuk kosong di dalam hutan.

Di dalam gubuk tersebut mereka menemukan simbol-simbol yang sama dengan yang ada di pepohonan. Dan di dalam salah satu ruangan, mereka menemukan semacam patung berhala berbentuk manusia tanpa kepala yang terbuat dari akar dan kayu, serta tanduk rusa sebagai tangannya. Mungkin kita orang asia yang percaya hal-hal mistis akan kabur dan memilih hujan-hujanan di luar. Namun mereka berpendapat bahwa mungkin itu adalah bagian dari agama pagan masyarakat sekitar.

Saya teringat pada cerita yang saya dapat dari salah satu sahabat saya di Swedia, bahwa banyak orang yang tinggal menyendiri di hutan-hutan skandinavia, dan kebanyakan dari mereka kemudian kehilangan kewarasan akibat isolasi dan panjangnya musim dingin disana. Enam bulan penuh dalam setahun tanpa melihat sinar matahari bisa merusak kewarasan.

Kembali ke film The Ritual, akhirnya mereka memutuskan untuk tidur agar bisa melanjutkan perjalanan keesokan paginya. Luke, yang merupakan karakter utama dalam film ini kembali diserang mimpi buruk berupa memori meninggalnya Rob di tangan perampok. Namun mimpi buruk malam itu lain dari biasanya. Ia terbangun dari mimpi buruknya dengan kondisi berdiri di luar gubuk dengan luka di dadanya di pagi hari. Tak lama kemudian terdengar suara Hutch menjerit ketakutan dari dalam gubuk. Masing-masing dari mereka dihampiri mimpi buruk malam itu. Hutch terbangun ketakutan dengan celana basah oleh air kencingnya sendiri, sementara Dom terbangun gemetar ketakutan di pojok ruangan sambil memanggil-manggil nama istrinya. Yang paling mengerikan adalah Phil, yang terbangun telanjang sambil berlutut di depan patung berhala misterius, seakan ia sedang menyembah patuh tersebut. Ada yang tidak beres dengan gubuk dan hutan tersebut. Rasa takut mulai menghampiri mereka. Namun suka tidak suka mereka harus melanjutkan perjalanan di dalam hutan karena sudah terlambat bagi mereka untuk kembali ke titik awal mereka berangkat.

Saya harus berhenti bercerita disini karena saya tidak ingin membocorkan rasa tegang dan kengerian selanjutnya dari film ini. Saya pribadi menonton the Ritual tanpa mengetahui plot dan sinopsisnya sama sekali, dan saya sangat menikmati setiap kejutan dan pengungkapan yang ada, serta menerka-nerka ke arah mana inti cerita dalam film ini. Saya berharap kalian juga bisa merasakan apa yang saya nikmati dari film ini. Tahun 2018 baru berjalan beberapa bulan, dan sejauh ini saya rasa The Ritual adalah film horor terbaik yang saya tonton tahun ini. Pemilihan lokasi yang sangat mendukung, cast yang solid, karakter dan interaksi antar karakter yang diperankan dengan baik, ide cerita yang menarik, dan penantian akan pengungkapan yang dikemas dengan sangat baik menjelang film ini berakhir, membuat film ini sangat pantas untuk kalian tonton.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com

 


Posted at : Thu, 29 March 2018
Category : Review