MOVIE REVIEW: WHEN ANIMALS DREAM (2014)


WHEN ANIMALS DREAM
Sutradara: Jonas Alexander Arnby
Denmark (2014)

Review oleh Tremor

Berbicara soal film dan negara Denmark, saya hanya ingat pada salah satu sutradara “gila” bernama Lars von Trier, yang banyak menelurkan film-film depresif seperti Antichrist (2009) dan Melancholia (2011). Tentu saja Denmark punya industri filmnya sendiri dan bukan hanya Lars von Trier saja. Tapi tidak semua film Denmark kemudian berhasil mendunia. When Animals Dream, yang dalam bahasa aslinya berjudul “Når Dyrene Drømmer”, adalah sebuah film debut dari sutradara muda bernama Jonas Alexander Arnby. Denmark sendiri adalah bagian dari daratan Skandinavia, dan Skandinavia memiliki banyak sekali cerita rakyat, salah satunya adalah, tentu saja, tentang werewolf.

When Animals Dream dibungkus dengan alur yang lambat dan dan nuansa yang dingin. Film ini berfokus pada Marie, yang tinggal di sebuah desa terpencil di ujung utara Denmark bersama ayah dan ibunya. Pada awal film ini, sang ibu digambarkan menderita disabilitas. Sehari-hari ia hanya duduk di kursi roda, tidak mampu untuk berinteraksi dengan sekitarnya dan hanya memiliki ayah Marie dan Marie yang sepenuh hati mengurusnya. Karakter Marie sendiri digambarkan sebagai seorang gadis remaja pendiam dan pemalu yang sedang berada pada masa puber. Seperti umumnya gadis remaja di masa puber, Marie harus menghadapi masa transisi sebelum menjadi wanita dewasa sepenuhnya, dimana pada fase ini terjadi banyak perubahan pada tubuh dan emosinya karena pengaruh hormon.

Karakter ibu Marie rupanya cukup mengambil peran penting dalam film ini. Walaupun mengalami disabilitas, kita sebagai penonton bisa menangkap ikatan emosional antara sang ibu dengan Marie, dan bagaimana ayah Marie sangat menyayanginya. Penyakit yang dideritanya pun masih misterius bagi kita semua, termasuk bagi Marie.

Marie adalah karakter yang kelihatannya sangat tertutup. Ia tidak banyak bergaul dengan penduduk desa. Padahal, layaknya sebuah desa kecil, seluruh penduduk saling kenal satu sama lain. Marie juga tampak sangat minder, terutama sejak ia menemukan ruam-ruam kemerahan di dadanya. Suatu hari Marie yang ingin membantu perekonomian keluarganya, mendapat pekerjaan di sebuah pabrik pengolahan ikan. Sejak hari pertamanya bekerja, ia menyadari bagaimana semua pekerja disana memandanginya dengan pandangan yang aneh. Hampir semua pekerja di pabrik tersebut bersikap tidak menyenangkan terhadap Marie, kecuali Daniel, seorang nelayan muda yang secara berkala mengantarkan ikan-ikan segar ke pabrik tersebut. Marie dan Daniel kemudian menjadi sangat dekat, hingga libido menguasai Marie dan tak bisa ia kendalikan. Namun libido bukanlah satu-satunya hal yang tidak bisa ia kendalikan, dan perubahan emosional Marie rupanya bukan sepenuhnya dipengaruhi oleh masa pubertas dan hormon.

Suatu hari Marie yang pulang ke rumah lebih awal dari yang ayahnya perkirakan, memergoki bahwa ternyata seorang dokter di desa tersebut sering berkunjung hanya untuk menyuntikan semacam obat penenang pada ibu Marie. Ia menjalani pengobatan yang seakan dirahasiakan dari Marie. Hal ini membuat Marie semakin curiga bahwa ada sesuatu yang dirahasiakan oleh ayahnya.

Seiring berjalannya film, penonton diperlihatkan bahwa perubahan pada tubuh dan emosi Marie semakin tidak wajar. Rambut-rambut halus mulai tumbuh di dada dan punggung Marie. Tidurnya pun sering terganggu dengan mimpi-mimpi yang liar dan haus darah. Marie juga merasakan dorongan agresif yang sedikit demi sedikit bangkit di dalam dirinya, dan tentu saja tidak bisa ia kendalikan. Kalau kalian familiar dengan cerita-cerita werewolf, ini tentu saja adalah ciri umum dari seseorang yang sedang mengalami transformasi menjadi werewolf.  Marie, gadis yang kebingungan menghadapi gejolak-gejolak pubertas, harus menghadapi kenyataan bahwa ia bukan saja sedang mengalami transisi alami untuk menjadi seorang wanita dewasa, namun lebih dari itu, ia mulai bertransformasi menjadi werewolf.

Mulai dari sini, satu persatu rahasia keluarganya mulai terungkap. Sedikit demi sedikit kita mulai paham mengapa sang ayah begitu protektif terhadap Marie, dan mengapa penduduk desa selalu menatap Marie dengan ganjil. Bukan hanya sejarah gelap sang ibu yang sedikit terbongkar, tapi juga kenyataan mengenai apa yang terjadi pada tubuh Marie.

Dengan menarik film ini menggabungkan ide mengenai transformasi pubertas dari seorang gadis menjadi wanita dewasa, dengan transformasi manusia menjadi werewolf. When Animals Dream adalah film yang digarap dengan baik dan serius yang membungkus film bertema werewolf secara berbeda, dan itu adalah hal baik menurut saya. Jujur saja, tema werewolf adalah salah satu sub-genre yang cukup jarang saya tonton. Dari beberapa film werewolf yang pernah saya tonton, saya seperti menangkap bahwa genre ini memiliki ide dan formula yang hampir selalu sama. Namun seperti sudah saya sebut sebelumnya, When Animals Dream adalah film werewolf yang tidak biasa, dan itu sudah cukup menjadi alasan bagi saya untuk mengapresiasi film ini. Kalau biasanya ekspektasi mengenai film werewolf adalah film horror murni dengan banyak darah, When Animals Dream justru menggunakan pendekatan lain, sebuah drama misteri dengan sangat sedikit elemen horor. Bukan berarti film ini jelek. Justru sebaliknya, film ini cukup menyegarkan. Dan saat elemen horor mulai memasuki layar kaca, rasanya lumayan efektif. Tidak terlalu berlebihan, tidak banjir darah dan isi perut, tidak terlalu mengeksploitasi kekerasan, namun tetap terasa cukup menegangkan. Untuk sebuah film yang datang dari negara kecil seperti Denmark, saya rasa When Animals Dream adalah film yang cukup solid.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com

 

 

 


Posted at : Thu, 15 February 2018
Category : Review