SHRED AND TALK : VINSENSIUS WIDI SULISTYA (SSSLOTHHH & SACREDWITCH)


shred-and-talk-cover-inside

SHRED AND TALK perdana ini kami menghadirkan Vinsensius Widi Sulistya atau yang akrab dipanggil Dede dari SSSLOTHHH dan SACREDWITCH. Di sesi “SHRED” Dede akan memainkan gabungan part-part gitar dari lagu-lagu yang nantinya akan hadir di album ke2 SSSLOTHHH dan EP perdana dari SACREDWITCH. Dan sesi “TALK” Dede akan bercerita tentang album ke2 SSSLOTHHH, project albumnya bersama SACREDWITCH dan pandangan dia terhadap Gigs bersponsor hingga komuntias DIY HC/Punk yang dahulu dia geluti bersama kawan-kawannya.
vinsensius-widi-sulistya

Seperti apa nanti album terbaru SSSLOTHHH dari segi Musik, Lirik, maupun Mood yang akan diciptakan?
Album kedua SSSLOTHH dari segi musik, bisa dibilang penggabungan dari konsep Infinite Fracture dan Phenomenon yang mana kita gabisa lepas dari Neurosis dan Russian Circles, sama ada beberapa pengaruh part-part dari Tool juga cuma ngga massive. Kalo dari segi lirik masih seputar fenomena alam, manusia dan mungkin hal-hal absurd yang pernah kita rasakan. Dan untuk mood, kita mencoba mengcombine dari sisi gelap dan terang ditambah ada nuansa Atmospheric walaupun tidak begitu pekat.

 

Rencana apa saja yang sudah kalian siapkan untuk SSSLOTHHH kedepannya (selain mengeluarkan album baru)?
Belum ada kayanya, sementara kita pengen lebih fokus beresin 2nd album dulu.

 

Dari segi gitar, di album ke 2 ini apa saja yang berbeda dari album-album sebelumnya?
Penempatan riff-riff yang sedikit lebih agresive di beberapa lagu dengan karakter overdrive/distorsi yang lebih berat dari awal sampai akhir. Dan juga ada tambahan layer-layer fill in yang cukup berasa di beberapa lagu.

 

Pencapain apa yang kamu inginkan bersama SSSLOTHHH?
Kalo pencapaian belum kepikiran, kita masih jalan dengan kondisi saat ini.

 

Label rekaman yang kalian pilih untuk album kedua SSSLOTHHH ini siapa dan kenapa?
Untuk label rekaman kita kerjakan sendiri lewat Tribes Records yang mana kita ingin mencoba untuk lebih mandiri dari berbagai aspek terutama untuk masalah basis ekonomi dan operasional si band itu sendiri.

 

Ceritakan tentang project album kamu bersama SACREDWITCH?
Project SACREDWITCH itu bisa dibilang project ego yang konsepnya emang ngga ke pake di SSSLOTHHH. Masalahnya saya disana bermain lebih D-Beat / Hardcore / Punk. Dan memang dari awal karakter bermain musik saya memang sudah seperti itu. Intinya back to basic 🙂

 

Harapan kamu dengan industri dan skena musik di Indonesia khususnya di Bandung?
Harapan untuk kedepannya lebih kreatif jangan monoton, lebih terbuka dengan hal-hal baru, ngga konservatif, ngga egois, dan ngga apriori. Dan yang paling penting jaga attitude di musik itu sendiri.

 

Discography musik kamu sejauh ini?
– Domestik Doktrin – Phundalmental Phun
– Hark! It’s A Crawling Tar Tar – Dor Dar Gelap Communique
– Kontrasosial – (First Album)
– Line drone bass “Pathos” di split vinyl Homicide dengan MC Homeless
– SSSLOTHHH – Infinite Fracture EP
– SSSLOTHHH – Phenomenon
– Sacredwitch – Mersault EP (yang mana akan dirilis dalam waktu dekat ini)

 

Selama kamu bergabung dalam sebuah band kendala-kendala apa saja yang membuat sebuah band itu bubar atau tidak produktif?
Biasanya penyebab bubar yang pernah saya alami kebanyakan dimasalah komunikasi, masalah konsep musik, masalah ide-ide yang ngga sepaham sama masalah ego dari masing masing personil.

 

Gimana pendapat kamu tentang monopoli gigs-gigs bersponsorkan perusahaan besar yang marak akhir-akhir ini dan meredupnya gigs-gigs kolektif di kota Bandung?
Ga ada masalah, kalo mau buat gigs entah itu mau ada sponsornya atau misalkan mau buat acara sendiri ya buat aja. Terus untuk bandnya sendiri sah-sah saja ngga ada yang ngelarang mau dia main di acara/gigs bersponsor atau kebalikannya.

 

Ok, saya mengenal kamu sebagai salah seorang penggiat etos DIY di skena HC/Punk di kota Bandung, dan saat ini gimana pandangan kamu tentang itu?
Untuk saat ini dan beberapa tahun ke belakang saya sudah ngga update perkembangannya sampai sejauh mana, soalnya saya pribadi dari tahun 2007 hingga saat ini sudah disibukan dengan rutinitas pekerjaan. Jadi otomatis sudah ga terlalu into the scene lagi. Cuman saya sering melihat ada beberapa aktifitas kebanyakannya gigs sih itupun hanya sebatas tau lewat medsos saja.

 

Diluar bahasan tentang SSSLOTHHH dengan Sludge Metal nya, kalau berbicara tentang HC/Punk tidak bisa hanya membicarakan musik saja, ada etos disana, ada sikap juga yang harus diambil, bagaimana pendapat kamu tentang band-band HC/Punk saat ini?

Saya kurang tau juga issuenya udah sampe mana, soalnya sekarang ngga terlalu ngikutin juga.

 

Bagaimana kamu menyikapi ketika sekarang kamu bersama SSSLOTHHH kalian bermain di gigs-gigs yang bersponsorkan perusahaan besar katakanlah perusahaan Rokok?
Ga ada masalah, sejauh formatnya masuk dengan kita, kondisinya pun nyaman dengan kita, ya main saja. Lagian saya pribadi udah ngga ambil pusing, saya disini hanya ingin bermain musik ketemu temen-temen baru, sharing pengalaman dan memperluas networking. That’s all, ngga ada isme or embel-embel yang dibawa.

 

Hmmm, melihat fenomena HC/Punk di komunitas, saya melihat tidak jauh dari kasus Sunni vs Syiah dll, beberapa mengklaim yang itu bukan ini, yang itu bukan itu, ini harusnya begini, masa ini kaya gitu, dll. Bagaimana pendapat kamu tentang fenomena tersebut?
Kalo menurut saya entah yang lain ya, Hardcore/Punk itu ga ada satu difinisi yang pasti, lakukan aja apa yang kamu mau dan realisasikan. Kalo dibilang seperti konflik dari pernyataan pertanyaan ini ya memang betul udh kaya fanatisme beragama saja. Masing-masing masih banyak yang mengklaim bahwa dirinya yang paling benar, paling original. “We have better things to do” daripada ngurusin yang kaya beginian.

 

Gitaris favorit sepanjang masa dan kenapa?
Bill Kelliher dari Mastodon, kenapa? soalnya saya suka style bermain gitar dia yang agresive, berat, moody, kompleks, tapi ga begitu rumit.

 

Lagu apa yang pertama kamu ulik sampai beres?
NOFX – Linolleum

 

Influence band yang sampai sekarang paling mempengaruhi dalam bermusik?
Neurosis dan Cult Of Luna

 

Satu hal yang bakalan membuat kamu berhenti bermain musik?
Ketika saya sudah tak bernyawa.

 

Satu lagu terfavorit yang mendefinisikan kamu?
Ga ada, terlalu banyak lagu favorit.

 

Band lokal yang paling kamu gasuka?
Apa ya?

 

Ok, satu lagi. Tentang mensupport Band kesukaan dengan membeli rilisan fisik, datang dan beli tiket ketika nonton gigs, atau membeli merchandisenya itu masih bisa diharapkan tidak? dengan gencarnya gempuran aplikasi-aplikasi digital, maraknya merchandise bajakan dan konser gratis?
Kalo untuk di Indonesia kesadaran membeli rilisan fisik atau membeli tiket aga sulit untuk kebanyakan dari beberapa masih mental gratisan. Mereka tidak tahu upaya si band itu sendiri dalam meng-create musik. Mulai dari cost latihan, beli equipment, cost recording include mixing mastering sampe jadi rilisan fisik. Bisa dibilang generasi dulu dan sekarang masih sama saja lebih suka yang instan-instan tanpa menghargai jerih payah si band itu sendiri. Tapi itu semua balik lagi ke pribadi masing masing individu. Yang bener-bener support juga ada cuman presentasenya mungkin ga significant.

 

Video dan Interview oleh Vidi Nurhadi


Posted at : Wed, 09 November 2016
Category : Interview, Music, Shred And Talk