ALBUM REVIEW: HAKEN – VECTOR


HAKEN ‘Vector’

Inside Out Music/Sony Music, 26 October 2018

Progressive metal

Semenjak merilis album penuh pertama ‘Aquarius’ pada tahun 2010 lalu dan album sophomore bertajuk ‘Visions’ setahun setelahnya, unit metal progresif asal UK, HAKEN pelan tapi pasti telah berhasil menancapkan taring berbisa mereka dalam belantika musik progresif dunia tanpa harus terdengar sebagai DREAM THEATER worshipper belaka, puncaknya adalah perilisan album ‘The Mountain’ di tahun 2013 yang saya rasa merupakan salah satu album progressive metal terbaik abad ke-21 dan berhasil medapat apresiasi dari berbagai musisi kelas kakap dunia, ‘Affinity’ yang dirilis empat tahun kemudian juga berhasil mengukuhkan posisi HAKEN untuk tetap bertengger dalam kasta atas grup musik prog internasional. Jadi tentu saja ketika kisi-kisi akan segera datangnya album nomor lima keluar, mata dan telinga jutaan pendengar dari seluruh penjuru langsung terarah kembali lagi ke band ini.
Dalam album terbaru ini HAKEN sekali lagi menampilkan sisi yang berbeda, sebagai sebuah grup yang memang dikenal selalu bertransformasi di setiap album, hal tersebut memang sudah lumrah. Apabila ‘Affinity’ punya nuansa kental era 1980’an dengan pengaruh dari YES, ASIA, VAN HALEN sampai soft-rock ala TOTO yang cukup pekat, ‘Vector’ kali ini terdengar lebih heavier dan modern, entah itu dari estetika produksi yang dipegang oleh sound engineer masa kini Adam ‘Nolly’ Getgood (PERIPHERY) ataupun elemen-elemen progressive metal kekinian yang turut di implementasikan dalam proses
penulisan materi lagu yang ada. Hal yang paling terasa jelas adalah semua lagu dalam ‘Vector’ sudah terkontaminasi djent (yang kayaknya meminjam kamus dari rekan selabel mereka CALIGULA’S HORSE) lengkap dengan lagu instrumental penuh breakdown nge-dj0nt ‘Nil by Mouth’ yang gak bakalan tak gamang bila nyasar ke playlist ANIMAL AS LEADERS, selain itu syncopated polyrhythms dan riff-riff staccato model grup-grup progressive metal Skandinavia macam PAIN OF SALVATION dan terutama LEPROUS cukup banyak berserakan disana-sini, dan sepertinya gaya permainan progressive metal DREAM THEATER kali ini juga ikut merangsek masuk, yang bisa jadi efek tur Richard Henshall, Charles Griffiths, Conner Green, Deigo Tejeida dan Ross Jennings Bersama MIKE PORTNOY’S SHATTERED FORTRESS membawakan ‘Twelve Step Suite’ sebelum proses penggarapan album.

Namun untungnya mereka tak cuma asal menginjeksi kan tren musik kekinian kedalam komposisi, hasil akhir dari kombinasi berbagai macam style di racik dengan baik jadi tak terdengar rancu dan masih terdengar seperti HAKEN, namun sayangnya beberapa lagu khususnya dimenit-menit pertengahan masih punya part pamer skill yang cukup bertele-tele dan tak penting , seperti pada bagian tengah ‘Puzzle Box’ dan lagu centrepiece ‘Veil’ yang berdurasi 12-menit, untung nya ‘Vector’ masih bisa terselamatkan dengan lagu pembuka yang cukup funky (‘Good Doctor’) dan lagu slow ‘Host’ yang mengingatkan saya pada momen-momen tenang dari PORCUPINE TREE dan OPETH era 2000’an. Dengan durasi yang paling pendek dari album HAKEN lainya yaitu sekitar 40 menit, ‘Vector’ tak terlalu menyembunyikan banyak detail. Komposisi materinya cenderung one dimensional apalagi kalau dibandingkan dua album sebelumnya, pengaruh djent dengan segala groove dan breakdown nya cukup melelahkan ditelinga walau tak sampai satu jam, belum lagi gaya penulisan ala DREAM THEATER yang sudah agak kurang relevan saat ini malah turut dimasukan, hal tersebut cukup disayangkan mengingat HAKEN dulunya salah satu band progressive metai yang bisa mendapatkan atensi pendengar dan kritikus mainstream tanpa harus terdengar seperti mastrubasi teknik bermain alat musik. ‘Vector’ sendiri memang gak bisa dibilang sebuah ‘flop’, album-nya sendiri emang masih bisa dinikmati, tapi untuk seukuran HAKEN, karya terbaru mereka ini bisa saya bilang ya… Biasa-biasa aja. (Peanhead)
7.0 out of 10.

 


Posted at : Tue, 23 July 2019
Category : Review