ALBUM REVIEW: SANSKERTA – DRAMATURGI


SANSKERTA ‘Dramaturgi’

April 27th, 2019. Funtech Productions

Technical Death metal

Jujur beberapa tahun belakangan ini, saya semakin jarang ngulik dan mendengarkan album brutal death metal/technical death metal lokal. Sebenarnya secara kuantitas setiap bulannya tidak sedikit rilisan terbaru yang berseliweran dalam katalog new release, entah itu dalam bentuk promo, demo, extended play, ataupun album penuh, tapi rasa penat dan jenuh terhadap death metal yang begitu-begitu saja, membuat saya akhirnya cuek begitu saja terhadap mayoritas rilisan death metal dalam negeri, khususnya ditengah gempuran grup asing yang datang dengan album menyegarkan macam NUCLEUS, GIGAN, ARTIFICIAL BRAIN, hingga HORRENDOUS. Sentimen terhadap karya musisi lokal tersebut hampir saja membuat album pertama dari SANSKERTA lolos dari radar, sempat mencuri perhatian ditahun 2016 silam, dengan dua buah lagu Demo yang juga ikut serta dalam album kompilasi yang disusun oleh
Stillborn Sounds, ‘Sonus Abortivum Vol.II’ bersama grup musik potensial lainya seperti DEVOURED, TRAGEDI KERETA JENAZAH dan COFFINS OF BLOOD. Sayangnya setelah berhasil memantik animo penggiat death metal Indonesia, band asal Kota Bekasi yang didirikan di tahun 2013 ini malah tak terdengar lagi kelanjutanya materinya sampai akirnya ditahun 2019 album full-length pertama mereka dilepas kepasaran.

Dalam album yang bertajuk ‘Dramaturgi’, SANSKERTA masih melanjutkan gaya permainan technical death metal yang mereka usung, dan secara garis besar sembilan lagu (7 buah lagu baru dan dua lagu lama dari ‘Demo 2015’ yang direkam ulang) dalam album ini masih memiliki benang merah yang sama, tentunya pengaruh dari band internasional layaknya OBSCURA, THE FACELESS, DERCEPIT BIRTH hingga grup lokal macam DEADSQUAD, KILLHARMONIC dan REVENGE, masih terasa cukup kental dalam ‘Dramaturgi’, tanpa harus terdengar menjadi derivatif semata. Kalau dibandingkan dengan mayoritas grup-grup lokal yang mengusung technical death metal, kualitas materi yang dipertontonkan dalam ‘Dramaturgi’ perlu di acungi jempol, walaupun cenderung kurang sreg dengan judul albumnya, komposisi yang ada disini bisa dibilang cukup matang untuk kategori album pertama. SANSKERTA juga tidak terjebak hanya sekedar menjadi pengekor influence mereka, tiap-tiap lagu punya aransemen yang cukup variatif dan cenderung progresif, tidak terjebak pada struktur lagu yang itu-itu melulu. Gebukan sang penabuh drum Alamsyah Prastyanto juga patut diperhitungkan, dengan style bermain yang tak hanya mengandalkan blasting monoton saja, ia cukup banyak memasukan fill dan groove yang kreatif dan jangan lupa sang gitaris mandiri Andhika Prasedya juga banyak unjuk gigi dengan riffing yang berbahaya dan tentunya salah satu bagian terbaik album ini, yaitu pada part guitar solo yang memadukan berbagai macam pengaruh mulai dari neo-classical, fusion hingga flamenco. Kontribusi pembetot bass Dwiyana Putra dan vokalis Jati Hadasher juga tak dapat dianggap remeh, keduanya mampu menjaga posisi masing-masing dengan performa yang prima. Walaupun saya berharap mungkin bagian penulisan lirik dan artikulasi vokal di album berikutnya bisa digali lebih dalam lagi.

Dengan materi sebagus ini sudah sepatutnya SANSKERTA mendapat perhatian lebih dari para penggila death metal tanah air, apalagi album ini disokong kualitas produksi yang cukup mumpuni, dibantu oleh tangan dingin Je Aljufri (Apache Music Studio) selaku engineer yang menangani proses rekaman, mixing, hingga mastering, ‘Dramaturgi’ bisa dibilang merupakan salah satu album death metal lokal dengan kualitas produksi paling mutakhir semenjak ‘No Truth Found’ dari Carnivored yang dirilis beberapa tahun lalu, walau cukup disayangkan album sebagus ini, artwork sampul depan-nya bisa dibilang tak terlalu eye-cathing dan malah cenderung bland. Mungkin saja beberapa tahun kedepan bila kwartet ini tetap konsisten untuk merilis album berkualitas dan juga didukung aksi panggung yang beringas, SANSKERTA bisa menjadi the next big thing dalam skena underground Indonesia khususnya di jagad persilatan death metal dalam negeri yang memang sedang membutuhkan darah-darah segar yang mau mendorong batas. (Peanhead)

8.8. out of 10.

Bandcamp: https://sanskerta.bandcamp.com/releases

Facebook: https://www.facebook.com/sanskerta4

 

 


Posted at : Wed, 12 June 2019
Category : Review