MOVIE REVIEW: COHERENCE (2013)


COHERENCE
Sutradara:
James Ward Byrkit
Amerika (2013)

Review oleh Tremor

Kita semua mungkin mengenal istilah “low-budget”. Sayangnya dalam pemahaman umum, proses produksi “low-budet” sudah terlanjur identik dengan hasil akhir berkualitas rendah. Padahal belum tentu. Film adalah salah satu karya yang sangat mungkin untuk diproduksi dengan bajet minim. Ada banyak cara untuk memangkas biaya produksi sebuah film. Beberapa film mengakalinya dengan cara mengajak aktor/aktris bertarif rendah dan tidak terlalu berbakat, atau juga dengan menggunakan properti dan efek komputer ala kadarnya. Contohnya adalah film-film action dari negeri Ghana, yang walaupun hasil akhirnya tampak menggelikan, tetapi justru menjadi buruan para kolektor film. Tapi apakah produksi film berbajet rendah sudah pasti akan menghasilkan film yang jelek? Memang ada lebih banyak film low-budget yang, kalau menggunakan kacamata umum, bisa dibilang jelek, walaupun toh film-film jelek sekalipun memiliki penggemarnya sendiri. Tapi jawaban dari pertanyaan itu adalah: Tidak selalu. Tantangannya sudah pasti banyak, tapi bukan tidak mungkin untuk dilakukan.

Dibuat dengan bajet sangat rendah (menurut klaim di halaman IMDb, bajetnya hanya $50,000!), film Coherence sanggup menjawab berbagai tantangan. Salah satu caranya adalah dengan mengakali biaya produksi pada set lokasinya yang hanya menggunakan satu lokasi indoor saja. Hampir keseluruhan pengambilan adegan dalam film ini diambil hanya di dalam satu rumah, yang merupakan rumah pribadi sang sutradara dan penulis film Coherence sendiri, James Ward Byrkit. Walaupun Coherence adalah karya panjang pertamanya, tapi Byrkit sanggup membungkus film ini dengan cerdik. Ia tidak membiarkan keterbatasan ruang gerak di lokasi merusak kualitas karyanya, dan ia tidak menjadikan keterbatasan dana sebagai penghalang. Beberapa faktor yang saya rasa cukup signifikan dalam membantu film Coherence memperoleh hasil maksimal ada pada kekuatan ide dasar cerita yang sederhana namun brilian, kemampuan seni peran para pemerannya, serta kesanggupan Byrkit dalam mengeksekusi film. Coherence adalah film dengan bajet murah, tetapi dengan hasil yang tidak murahan. Tapi sayangnya saya tidak bisa menulis terlalu banyak di sini, karena Coherence adalah jenis film yang semakin sedikit kalian ketahui, semakin bagus untuk ditonton. Dan merupakan film yang sangat cocok untuk ditonton lebih dari satu kali. Jadi, di sini saya akan berupaya semampu saya untuk memastikan kalau review kali ini terbebas spoiler.

Delapan orang sahabat berkumpul di sebuah rumah untuk pesta makan malam. Kebetulan malam itu adalah malam yang sama dimana sebuah komet akan melintas tepat di atas bumi. Kedelapan karakter ini adalah sang tuan rumah sendiri, Mike dan Lee, serta para sahabat mereka yang kesemuanya berpasangan: Emily dan Kevin, Hugh dan Beth, serta Amir dan Laurie. Emily, yang dipanggil dengan nama Em, adalah karakter sentral dan satu-satunya karakter yang akan terus kita ikuti di sepanjang film ini. Setelah semuanya berkumpul, Em menceritakan bahwa sesuatu yang janggal terjadi pada ponselnya di tengah perjalanan menuju rumah Mike. Saat sedang berbincang dengan Kevin lewat panggilan telepon, tiba-tiba layar ponsel Em remuk tanpa sebab yang jelas, dan ia kehilangan jaringan. Em lantas menghubungkan fenomena remuknya layar ponselnya dengan komet yang melintas malam itu. Apalagi Em banyak membaca tentang terjadinya berbagai fenomena ganjil di belahan bumi lain di masa lalu saat komet melewati bumi dengan jarak yang cukup dekat dengan bumi. Tapi teman-temannya tidak menanggapinya dengan terlalu serius. Belum.

Di meja makan, mereka terlibat perbincangan dan diskusi seru tentang banyak hal, hingga di satu titik salah satu dari mereka, Hugh, menyadari kalau layar ponselnya juga remuk. Satu persatu dari mereka akhirnya memeriksa ponsel masing-masing dan mulai menyadari kalau tak satupun dari mereka yang mendapat sinyal. Hugh mulai merasa cemas. Alasannya adalah karena adik Hugh yang merupakan seorang ahli fisika, sebelumnya sudah memberi pesan pada Hugh untuk segera menghubunginya dengan cara apapun kalau terjadi hal-hal tak wajar malam itu saat komet melintas. Kedengarannya cukup serius. Akhirnya Hugh meminta Mike mengecek sambungan internet pada laptopnya, yang ternyata juga terputus. Tak lama kemudian, aliran listrik mendadak padam. Untuk memastikan apakah padam listrik ini hanya terjadi di rumah itu saja atau tidak, mereka pergi ke halaman rumah untuk mengecek, dan mendapati bahwa listrik di seluruh wilayah tersebut memang padam, kecuali pada satu buah rumah di bukit seberang, yang merupakan satu-satunya rumah yang lampunya menyala terang. Hugh yang sudah putus asa merasa sangat perlu untuk menghubungi adiknya, memutuskan pergi ke rumah tersebut untuk meminjam telepon. Ditemani oleh Amir pergi, Hugh pun pergi. Tak lama kemudian mereka kembali dengan keadaan seperti agak terguncang dengan darah mengucur dari dahinya. Mereka pulang dengan rasa shock dan tampak ling-lung, sambil menenteng sebuah kotak misterius. Saat kotak itu dibuka, mereka menemukan sesuatu yang tak masuk akal: potongan-potongan foto mereka sendiri. Kepanikan, kebingungan dan paranoia pun mulai melanda kedelapan sahabat itu. Mereka memaksa Hugh untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang Hugh lihat di rumah yang mereka datangi sama sekali di luar nalar. Paranoia yang tampaknya dirasakan oleh karakter-karakter dalam film ini pun mulai menyebar ke penonton. Kita tahu bahwa ada komet sedang melintas, dan kita tahu semua jaringan telepon dan internet mati. Listrik mati, dan layar ponsel remuk. Tapi apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa ada foto mereka di dalam kotak tersebut? Dan siapa itu yang menggedor-gedor pintu rumah di dalam kegelapan?

Coherence merupakan film thriller sci-fi yang sarat dengan misteri serta momen-momen ala horor psikologis, dan cukup mengasyikkan untuk ditonton. Kita seperti diberi puzzle anomali dan teka-teki yang harus kita pecahkan bersama-sama dengan para karakter dalam film ini. Berbicara soal karakter, setiap bagian komunikasi dan dialog antara kedelapan sahabat dalam Coherence adalah sesuatu yang menarik bagi saya untuk disimak. Menarik, karena ternyata sang sutradara tidak menyediakan naskah dialog untuk dihafalkan oleh para pemerannya sama sekali. Mereka hanya diberi brief mengenai alur utama serta beberapa entry point penting dalam plot film. Artinya, kebanyakan dari isi dialognya dan interaksi antar pemain (terutama dalam dialog di meja makan) adalah hasil dari improvisasi setiap pemerannya dalam memerankan karakter yang sudah ditentukan. Mereka harus sanggup bereaksi dan berinteraksi dengan tepat dalam setiap perbincangan, dan harus sanggup beradaptasi sesuai garis besar plotnya. Dan ternyata performa para aktor dan aktrisnya benar-benar meyakinkan dan tampak natural. Mereka layaknya pasangan dan sahabat dengan chemistry sungguhan, bahkan ketika jalan cerita dalam film iniĀ  mulai mengarah ke hal-hal yang tidak terduga dan memaksa mereka memecahkan teka-teki bersama-sama.

Biasanya film science fiction identik dengan efek-efek komputer super mewah, berhubungan dengan set luar angkasa atau futuristik, menggunakan properti hi-tech dan sebagainya. Tetapi Coherence hanya menggunakan elemen dan properti sederhana. Mungkin itu salah satu alasan lain mengapa biaya produksi film ini cukup rendah, karena tidak diperlukannya efek komputer dan properti yang canggih. Bisa jadi semua properti yang digunakan adalah milik pribadi para cast dan crew-nya sendiri. Jadi, walaupun merupakan sebuah film debut, independen, berbajet rendah, tanpa efek megah, dan tanpa menggunakan naskah dialog, ternyata hasil akhirnya sangat cemerlang. Apa yang membuat Coherence menjadi sangat mungkin untuk dieksekusi secara sederhana namun tetap menarik, bisa jadi karena ada kekuatan pada sisi science-nya. Coherence adalah contoh bagus sebuah film yang berbajet rendah namun bergagasan tinggi, dan saya sangat merekomendasikan film ini bagi para penggemar science fiction manapun, terutama mereka yang tertarik dengan ide-ide tentang eksistensialisme, anomali semesta dan mekanika fisika kuantum. Tapi jangan khawatir, kalian yang awam dengan science sekalipun rasanya akan tetap bisa menikmati jalan ceritanya, karena ide-ide ilmiah yang tampak kompleks dalam Coherence dibungkus dengan struktur dramatis yang sederhana. Mungkin pada awalnya penonton akan mendapati beberapa momen yang membingungkan. Tapi semakin jauh film ini berjalan, semakin kita memahami korelasi setiap detailnya, dan semakin jelas pula tentang apa yang sebenarnya terjadi.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: [email protected]

 


Posted at : Thu, 08 August 2019
Category : Review