MOVIE REVIEW: HORSEHEAD (2014)


HORSEHEAD
Sutradara: Romain Basset
Prancis (2014)

Review oleh Tremor

Bagi saya, dunia mimpi adalah pengalaman yang sangat menarik, layaknya menonton sebuah film dimana diri kita sendiri ada di dalamnya, dengan plot yang seringkali tidak bisa kita pahami. Bagaikan memilih sebuah film secara acak dan buta, kita tidak pernah tahu mau dibawa ke mana alur sebuah mimpi, dan kadang memang tidak ada awal dan akhir yang jelas. Dan sama seperti pengalaman menonton film, sebuah mimpi bisa jadi jelek, biasa saja, atau bagus sekali. Bahkan mimpi buruk pun bisa memberi pengalaman yang jauh lebih menegangkan dan menyeramkan dibanding menonton film horror manapun. Tapi sayang sekali saat kita terbangun dari tidur, biasanya kita segera lupa apa mimpi kita. Hanya sensasi dan “rasa”-nya saja yang masih tinggal sebelum kesadaran kita sepenuhnya kembali. Sejak lama saya selalu tertarik dengan alam mimpi, termasuk di dalamnya fenomena-fenomena seperti mimpi buruk, lucid dreaming dan sleep paralysis (kelumpuhan tidur, eureup-eureup dalam bahasa sunda, atau “ketindihan” dalam anggapan umumnya). Tidak ada yang mistis dalam mimpi buruk, lucid dreaming dan sleep paralysis. Semuanya terjadi karena kita memiliki sebuah organ yang luar biasa rumit: otak. Lucid dream, bisa diterjemahkan sebagai “mimpi sadar” dalam bahasa Indonesia. Mimpi lucid adalah mimpi dimana seseorang sadar bahwa ia sedang bermimpi, dan mampu berpartisipasi secara aktif mengendalikan diri dalam dunia mimpinya itu. Biasanya mimpi lucid terasa lebih nyata dan jelas daripada mimpi biasa. Dan ya, saya dengar bermimpi lucid memang bisa dilatih. Saat mengetahui kalau film Horsehead berfokus pada ide mengenai alam mimpi dan lucid dreaming, saya langsung menontonnya. Lucid dream tidaklah selalu identik dengan mimpi buruk, tetapi dalam sebuah film horor seperti Horsehead tentu saja mimpinya haruslah berbentuk mimpi buruk.

 

Film ini dibuka dengan visual yang menarik sekaligus indah, yaitu sebuah reka ulang dari lukisan klasik karya Henry Fuseli yang berjudul The Nightmare (1781). Bagi kalian yang menyukai lukisan klasik, mungkin sudah tidak asing dengan lukisan tersebut (lihat foto di atas.) Ide film Horsehead dan sosok berkepala kuda dalam film ini jelas terinspirasi dari lukisan itu. Tokoh sentral dalam Horsehead adalah seorang gadis yang bernama Jessica, yang dihantui mimpi buruk yang terus berulang. Dalam setiap mimpi buruknya, selalu muncul sesosok manusia berkepala kuda. Gangguan-gangguan tidur ini mendorongnya untuk mempelajari apa yang film ini sebut sebagai “physiopsychology of dreams,” yaitu soal bagaimana alam mimpi dan alam nyata kita bisa saling bersinggungan. Ia kemudian mempelajari juga sebuah terapi penyembuhan lewat jalan lucid dream, agar Jessica bisa memegang kendali dalam mimpinya. Dalam sebuah buku soal lucid dream yang ia baca, dijelaskan mengenai simbolisme kuda dalam mimpi, dimana kuda menyimbolkan sosok ibu, kematian, dan berhubungan dengan jalan setelah mati menuju alam baka.

Suatu hari, Jessica mendapat kabar bahwa neneknya, yang nyaris tak ia kenal, meninggal dunia. Jessicapun diminta pulang ke rumah ibunya di daerah pinggiran Prancis untuk menghormati mendiang sang nenek. Pulang ke rumah bukanlah perkara mudah bagi Jessica karena hubungan dengan keluarganya bisa dibilang cukup buruk. Ia tidak pernah akur dengan Catelyn, ibunya, yang digambarkan sebagai sosok ibu yang tidak suportif dan sesekali tampak seperti tidak menyukai Jessica. Jessica juga tidak pernah diberi tahu mengenai siapa ayah kandungnya sendiri, dan Catelyn tidak pernah mau membahasnya. Catelyn juga menolak untuk memberitahu apa penyebab kematian neneknya. Sejak berada di rumah orangtuanya, Jessica mulai menyadari bahwa ada rahasia gelap keluarga yang mulai sedikit terkuak sejak kematian neneknya. Mimpi-mimpi buruk Jessica juga kembali menghantuinya, lengkap dengan sosok berkepala kuda, ditambah dengan beberapa anggota keluarga Jessica dalam versi yang lebih twisted di dalamnya.

Jessica tahu betul bahwa jasad neneknya masih berada di rumah itu, tepatnya di kamar sebelah dimana Jessica tidur. Hal tersebut merangsang datangnya mimpi-mimpi buruk yang lebih buruk (dan lebih nyata) pada Jessica hingga ia jatuh sakit, demam dan mengigau. Dalam mimpi-mimpi buruknya, Jessica bertemu dengan neneknya, yang seakan ingin menyampaikan petunjuk-petunjuk untuk menguak rahasia gelap soal masa lalu keluarga Jessica yang dirahasiakan oleh Catelyn.  Sebagai seorang pemimpi lucid, Jessica mulai menyadari bahwa ia bisa menyusun potongan-potongan misteri masa lalu keluarganya lewat mimpi. Setelah mempelajari lagi buku mengenai terapi lucid dream, Jessica mulai “membius” dirinya sendiri dengan cairan ether agar tidak sadarkan diri dan terus berkeliaran di dalam alam mimpinya, menggali lebih dalam rahasia gelap keluarganya sambil mempelajari buku-buku catatan yang ditinggalkan oleh mendiang neneknya di alam nyata. Namun mimpi-mimpi buruk Jessica mulai menjadi lebih serius dan lebih supranatural dari yang kita semua bayangkan. Mimpi-mimpinya mulai berdampak secara langsung pada dunia nyata Jessica seperti dalam film Nightmare on Elmstreet, hingga tidak bisa dibedakan lagi mana yang terjadi dalam alam mimpi dan mana yang terjadi di alam nyata, sampai akhirnya ia berhasil menguak masa lalu gelap keluarganya.

Walaupun menggunakan banyak elemen horor, jangan mengharapkan Horsehead sebagai sebuah film horor tradisional. Film ini sepertinya memang dibuat bukan untuk menakut-nakuti penonton. Horsehead adalah penggambaran mimpi buruk yang indah, penuh tabu, janggal, sekaligus sensual, yang bisa menghipnotis para penonton dalam sebagian besar runtime-nya. Kita seakan diajak ke dalam sebuah perjalanan memasuki mimpi buruk dan sisi gelap alam bawah sadar manusia, yang secara ironis digambarkan dengan sangat cantik, penuh warna dan tidak menyeramkan. Tapi di saat yang bersamaan, film ini juga bisa menjadi cukup membosankan bagi mereka yang mengharapkan alur yang jelas dan visual yang tidak terlalu “artsy”. Kita semua tahu, film yang terlalu artistik kadang bisa berubah menjadi membosankan kalau penonton tidak memiliki ketertarikan sama sekali pada sisi artistik visual. Saya sepenuhnya bisa memahami kalau sampai ada penonton yang mengganggap film ini berusaha terlalu keras untuk “berbeda”. Horsehead memanglah sebuah film yang belum tentu bisa dinikmati oleh semua orang. Saya juga bisa membayangkan mungkin beberapa orang akan merasa kebingungan setelah menonton film ini, dan mungkin sebagian lagi tertidur di tengah jalannya film karena plotnya yang agak lambat. Entah mengapa, plot lambat memang seakan menjadi trend dalam film horror beberapa tahun terakhir. Tapi pada dasarnya, plot film Horsehead memang cukup sederhana, bercerita mengenai hal yang juga sederhana, yaitu tentang hubungan antara ibu dan putrinya yang bisa dibilang sama-sama menderita karena sesuatu yang gelap pernah terjadi di masa lalu.

Cara film ini membungkus plot memang cukup menarik karena Horsehead adalah jenis film di mana estetika visual menjadi kekuatannya. Sinematografi adalah bagian terbaik dari film ini. Ingat, sebagian besar adegan dalam Horsehead diceritakan dalam alam mimpi Jessica, jadi sangat masuk akal kalau film ini memang harus dibungkus dengan visual yang surreal dan enigmatik. Selain Altered States (1980) dan Jacob’s Ladder (1990), rasanya tidak banyak film psychological horror yang mampu menggambarkan ulang suasana mimpi buruk dan halusinasi secara efektif. Saya pikir, Horsehead adalah salah satunya. Secara visual, film ini memang cukup menakjubkan sejak adegan pembuka hingga akhir, dengan pengaruh fotografik yang kuat dari film-film horror Italia, dari mulai penggunaan close-up mata hingga cahaya-cahaya berwarna kuat seperti yang Dario Argento lakukan untuk yang mengatur atmosfer tertentu. Ditambah lagi dengan musik atmosferik sebagai scoring-nya, menjadikan beberapa adegan dalam film ini layaknya sebuah video klip musik yang menghipnotis. Banyak sekali adegan di dalam film ini yang saya pikir cocok untuk dijadikan visual latar panggung band-band atmosferik. Menonton Horsehead rasanya seperti terjebak dalam halusinasi selama 90 menit. Saya pribadi tidak bisa memutuskan apakah saya menyukai atau membenci film ini. Yang saya tahu, saya tidak menyesal dan tidak merasa membuang waktu saya setelah menontonnya. Kalau kalian tertarik untuk melihat sebuah film horor yang berbeda dari biasanya, tentu saja kalian perlu coba untuk menonton Horsehead.

Horsehead memang bukan sebuah film yang sempurna. Salah satu hal yang tidak saya sukai dari film ini, dan tidak termaafkan menurut saya, adalah penggunaan dubbing yang sangat buruk pada suara Winston, karakter berpakaian pendeta yang Jessica temui dalam setiap mimpinya, dimana suaranya terdengar seperti tokoh antagonis super jahat dalam film kartun atau video game. Menurut saya, karakter suara yang digunakan Winston sangat berlebihan dan merusak atmosfer film Horsehead yang sudah dibangun sedemikian rupa. Dari segi ide cerita, mengambil gambaran-gambaran dari “ketindihan”, lucid dream, hingga ide-ide psikologi menarik Carl Jung dan Freud, film ini sebenarnya memiliki potensi yang sangat mungkin bisa dikembangkan dengan lebih baik lagi. Film ini jelas bukan film hiburan ringan. Tapi bukan berarti film ini juga adalah film berat yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

Sedikit fun fact bagi para penggemar film horor, pemeran Catelyn (ibu Jessica) adalah Catriona MacColl, seorang aktris yang pernah membintangi trilogi Gates of Hell: City of the Living Dead (1980), The Beyond (1981), dan House by the Cemetery (1981) buatan raja horor Italia, Lucio Fulci. Sangat menyenangkan melihat MacColl berperan sebagai seorang ibu yang bermasalah di dalam film ini.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: [email protected]

 


Posted at : Thu, 04 July 2019
Category : Review