MOVIE REVIEW: IN THE MOUTH OF MADNESS (1994)


IN THE MOUTH OF MADNESS
Sutradara: John Carpenter
USA (1994)

Review oleh Tremor

Siapa yang tak kenal dengan sosok John Carpenter? Ia adalah salah satu sutradara favorit saya yang pernah membuat film-film luar biasa seperti Halloween (1978), The Fog (1980), The Thing (1982), Prince of Darkness (1987), hingga They Live (1988). Dan saya rasa In the Mouth of Madness adalah film hebat terakhirnya. Film ini adalah bagian dari trilogi Apocalypse informal buatan Carpenter yang dibuka dengan The Thing (1982), disusul dengan Prince of Darkness (1987). Ketiga film tersebut tidak memiliki kaitan secara langsung, kecuali pada tema apokaliptiknya: kesemuanya menampilkan protagonis yang harus mencegah terjadinya kiamat dengan plot horor yang berbeda-beda. The Thing lewat alien parasit yang berpotensi menjadikan umat manusia sebagai inang, sementara Prince of Darkness lewat kebangkitan setan dari dimensi lain. Menurut saya, In the Mouth of Madness adalah film yang sangat tepat sebagai penutup trilogi Apocalypse, sekaligus film dengan plot yang paling gila yang pernah Carpenter buat.

John Trent adalah seorang investigator asuransi freelance yang biasa disewa untuk membongkar berbagai upaya penipuan klaim asuransi. Sifatnya yang selalu kritis dan berusaha merasionalkan segala sesuatu membuat ia seringkali berhasil membongkar berbagai klaim palsu. Suatu hari ia disewa oleh kliennya untuk menyelidiki klaim asuransi dari sebuah penerbit buku, Arcane Publishing. Seorang penulis horor yang sedang naik daun bernama Sutter Cane menghilang sejak dua minggu. Arcane Publishing adalah penerbit buku yang memegang hak penuh untuk penerbitan semua buku-buku Cane, dan itulah mengapa Sutter Cane dan karya-karyanya seperti menjadi properti dari Arcane Publishing.  Akhirnya Trent setuju untuk menyelidik hilangnya Sutter Cane. Saat meeting bersama kliennya tersebut, terjadi kerusuhan kecil di toko buku depan cafe tempat meeting berlangsung. Tanpa Trent sadari, seseorang dengan perilaku aneh keluar dari toko buku itu dan mendekati Trent sambil membawa kampak. “Apakah kamu membaca Sutter Cane?” adalah pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Ia nyaris membunuh Trent dengan kampaknya sebelum polisi menembaknya mati.

Dalam film ini, Sutter Cane digambarkan sebagai seorang penulis novel horor yang jauh lebih keren dan sukses dibandingkan Stephen King. Ia sudah merilis beberapa buku horor yang angka penjualannya secara global mengalahkan buku-buku Stephen King. Seperti Stephen King, Cane juga memiliki basis penggemar fanatik-nya sendiri. Buku-buku Cane membuat para pembacanya tergila-gila, terutama buku terakhirnya yang berjudul Hobb’s End Horror. Secara bertahap, mereka yang mengikuti buku-buku Cane memang benar-benar menjadi gila secara harafiah, berperilaku aneh dan mulai membuat kerusuhan di banyak tempat. Apalagi sejak muncul publikasi dan iklan tentang buku terbaru Cane yang akan segera terbit, berjudul In the Mouth of Madness, berkisah tentang kiamat yang dimulai di sebuah kota fiktif bernama Hobb’s End.

John Trent pun mendatangi kantor Arcane Publishing untuk mengorek informasi dan direktur perusahaan tersebut. Di sana ia juga bertemu dengan editor utama buku-buku Cane yang bernama Linda Styles. Perempuan itu menjelaskan bahwa secara berkala Sutter Cane sudah mengirimkan naskah buku In the Mouth of Madness kepada agennya, seorang penghubung antara Cane dengan perusahaan Arcane. Novel terbaru Cane yang sangat ditunggu-tunggu tersebut harus segera dicetak, tetapi tiba-tiba Cane berhenti mengirimkan kelanjutan naskah dan menghilang dua minggu lalu. Arcane Publishing tentu khawatir, karena publikasi In the Mouth of Madness sudah begitu masif, dan para penggemar Cane yang tidak sabar sudah mulai menggila.

Walaupun Trent bukanlah seorang pembaca buku (apalagi novel horor yang ia anggap sebagai genre picisan), ia tetap pergi ke toko buku untuk membeli semua novel Cane dan mulai membacanya. Ia pikir, investigasi bisa dimulai dari buku-buku Cane, siapa tau novelis tersebut meninggalkan petunjuk. Benar saja, Trent yang cerdik dan teliti akhirnya menemukan potongan-potongan puzzle pada setiap cover buku Cane. Ketika setiap potongan sudah tersusun dengan benar, ia menyadari bahwa apa yang ia temukan adalah sebuah peta. Trent kembali ke Arcane publishing untuk melaporkan penemuannya dan bersama Linda Styles, Trent memutuskan akan pergi ke lokasi yang ditunjukkan oleh peta dalam puzzle tersebut demi mencari Cane beserta sisa naskah In the Mouth of Madness.

Dalam perjalanan mereka mencari Cane, mulai terjadi beberapa kejadian aneh. Secara tidak terduga, perjalanan mereka berakhir di sebuah kota kecil yang tidak ada di dalam peta biasa, dengan nama kota yang hanya eksis dalam novel buatan Sutter Cane: Hobb’s End. Trent dan Styles yang telah membaca semua novel Cane sangat mengenali kota ini dari mulai hotel hingga lokasi sebuah gereja tua yang misterius. Tak hanya itu, mereka pun bisa menebak berbagai detail yang akan mereka temukan disana, karena semuanya tertulis dengan jelas dalam buku-buku Cane. Fiksi dan realita mulai menjadi kabur ketika peristiwa-peristiwa mengerikan dalam novel Sutter Cane benar-benar terjadi. Trent yang berusaha tetap rasional sangat yakin bahwa hilangnya Sutter Cane dan kehadiran kota “fiksi” ini adalah bagian dari skema penipuan rumit yang dirancang oleh penerbit untuk gimmick dan publisitas buku terbaru Cane. Ia berpendapat bahwa para penduduk kota tersebut (yang kesemuanya berperilaku aneh dan sesuai dengan karakter dalam novel-novel Cane) adalah para aktor yang dibayar untuk menakut-nakuti. Trent semakin tertantang untuk membongkar kebohongan tersebut, sementara Linda yakin bahwa semua yang tertulis di dalam buku-buku fiksi Cane ternyata adalah hal yang nyata. Secara perlahan merekapun mulai menyadari bahwa mereka telah dipindahkan ke dalam dunia fiktif Cane, sebuah tempat dimana sesuatu yang sangat tua dan sangat jahat menunggu untuk dilepaskan ke dalam dunia nyata. Semakin dalam Trent menyelidiki, semakin semuanya bagaikan mimpi buruk aneh yang menjelma menjadi kenyataan, dan Trent pun mulai mempertanyakan logikanya sendiri. Akhirnya mereka memang menemukan Sutter Cane di sana, tapi tidak seperti yang mereka bayangkan sebelumnya.

In the Mouth of Madness adalah sebuah penggambaran “kegilaan” paling fantastis yang pernah ada dalam bentuk film. John Carpenter kembali menunjukkan bahwa dengan material yang tepat, ia masih sanggup membuat film horor yang cerdas, mengerikan, brilian, sekaligus menghibur. Semuanya tentang film ini sangat fantastis. In the Mouth of Madness jelas sangat kental dengan tema horor kosmik ala mitos lovecraftian, istilah tema horor yang terinspirasi dari karya-karya HP Lovecraft (seorang penulis horor klasik yang berhasil menciptakan tema khas –lovecraftian- lewat mitos Cthulhu-nya.) In the Mouth of Madness memiliki berlapis-lapis kegilaan, imaji-imaji menakutkan, paranoia, monster-monster lovecraftian, mimpi buruk yang terus berulang-ulang dimana kita tidak bisa bangun darinya, dan membuat kita terus-menerus mempertanyakan mana yang nyata dan mana yang tidak, sebuah pertanyaan yang dihadapi oleh mereka yang berada di ambang kegilaan. Bagi siapapun yang mencari film horor yang tidak biasa, dengan plot gila dan banyak kengerian ganjil, film ini sangat saya rekomendasikan.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: [email protected]

 


Posted at : Thu, 06 June 2019
Category : Review