MOVIE REVIEW: KILL LIST (2011)


KILL LIST
Sutradara: Ben Wheatley
Inggris (2011)

Review oleh Tremor

Saya memiliki dilema besar dalam menulis review kali ini. Kill List adalah sebuah jenis film yang akan menjadi lebih efektif apabila penontonnya sama sekali tidak memiliki bayangan sedikitpun tentang film ini. Lalu bagaimana saya bisa menulis tanpa perlu merasa bersalah karena saya harus menyinggung setidaknya plot dasarnya? Dan bagaimana saya bisa mengomentarinya tanpa merusak semua kejutan yang sudah dipersiapkan dengan rapih dari film Kill List? Saya sendiri merasa cukup beruntung karena menonton Kill List secara buta. Sebelum menonton Kill List, saya belum pernah membaca sedikitpun sinopsisnya, atau melihat trailer-nya, dan film ini benar-benar memberi saya kejutan yang mungkin tidak akan bisa saya rasakan sensasinya kalau saya punya sedikit saja bayangan sebelumnya. Tapi baiklah, akan saya coba mengantarkan sedikit plotnya, seperlunya saja.

Kill List dibuka dengan adegan pertengkaran rumah tangga antara Jay dan istrinya, Shel. Perdebatan mereka berpusat pada masalah keuangan dimana Jay sudah delapan bulan tidak bekerja, dan tabungan mereka sudah habis. Pasangan suami istri ini memiliki seorang anak laki-laki, Sam, yang tampaknya sudah terbiasa melihat kedua orang tuanya saling berteriak dan mengumpat satu sama lain. Suatu malam Jay dan Shel membuat jamuan makan malam di rumah mereka bersama sahabat mereka berdua, Gal, yang datang bersama pacar barunya yang bernama Fiona. Saat Shel dan Fiona sedang mempersiapkan makan malam, Gal mendekati Jay untuk menyampaikan bahwa ada tawaran pekerjaan dengan bayaran yang cukup besar untuk mereka berdua. Sampai di sini penonton bisa memahami bahwa Jay dan Gal adalah partner kerja di masa lalu. Mereka memang sama-sama mantan tentara. Tetapi di luar karir militernya, mereka juga pernah memiliki pekerjaan lain sebagai satu tim yang anggotanya hanya mereka berdua: pembunuh bayaran profesional. Bayaran dari tawaran pekerjaan ini jelas merupakan jalan keluar yang mudah dari posisi keterpurukan finansial Jay. Tapi Jay menolak tawaran Gal. Saat hidangan sudah siap, mereka berempat mulai terlibat dalam perbincangan hangat di meja makan, hingga pada satu titik Jay dan Shel kembali bertengkar karena Shel menyindir soal Jay yang tidak bisa memberi nafkah keluarga di depan para tamu. Jay kehabisan kesabaran, memporak-porandakan hidangan dan meninggalkan meja makan. Setelah membantu menidurkan Sam, Gal mendekati Jay yang sedang menyendiri di dalam garasi untuk kembali meyakinkannya bahwa suka tidak suka Jay membutuhkan pekerjaan ini. Jay pun akhirnya setuju.

Beberapa hari kemudian, Jay dan Gal pergi menemui klien mereka, seorang laki-laki tua yang misterius dan tampak menyeramkan, dan tentu saja mencurigakan. Dengan ganjilnya lelaki tua itu meminta Jay untuk menandatangani surat kontrak kerja menggunakan darah, dan kemudian menyerahkan uang muka sambil memberikan daftar berisi 3 nama target yang harus mereka bunuh. Siapa orang-orang di dalam daftar ini dan apa yang sudah mereka lakukan hingga pantas untuk mati, sepertinya memang bukanlah hal yang perlu diketahui oleh Jay dan Gal. Mungkin dalam dunia pembunuh bayaran, memang seperti itu cara kerjanya. Mereka hanya perlu mengerjakan tugas secara profesional: memantau dan memperhatikan kebiasaan-kebiasaan targetnya, menentukan waktu dan tempat yang tepat untuk mengkonfrontasi target, membunuh target dengan cepat dan senyap, dan menghilangkan jasadnya. Selesai. Kedengarannya seperti pekerjaan yang sederhana. Namun dalam prakteknya mereka kemudian menghadapi beberapa masalah, dan keganjilan. Akhirnya mereka menyadari bahwa apa yang sedang mereka lakukan mungkin adalah bagian dari sebuah skenario gelap, yang jauh lebih besar daripada sekedar kontrak pembunuhan biasa. Sepertinya saya harus berhenti di sini, karena menuliskan lebih banyak seputar plot-nya justru akan merusak kejutan dalam film ini.

Secara perlahan film yang pada awalnya tampak sederhana ini bertambah tingkat kompleksitasnya, yang lebih banyak digambarkan lewat imaji-imaji ketimbang lewat dialog atau narasi. Dalam beberapa bagian, Kill List memang banyak menggunakan imaji, mood, gestur dan raut wajah untuk menggambarkan sesuatu, dan bukan menggunakan narasi verbal. Tugas penonton kemudian adalah, menerjemahkan dan menyimpulkannya sendiri. Saya bisa memberi satu contoh tentang bagaimana sutradara film ini menggunakan gestur dan raut wajah, contoh yang (sepertinya) tidak berhubungan langsung dengan ending film ini. Kita tidak pernah diberi tahu secara gamblang tentang apa yang membuat Jay berhenti bekerja delapan bulan yang lalu. Yang kita ketahui kemudian adalah: delapan bulan lalu adalah saat terakhir kali Jay melakukan pekerjaan dengan Gal, dan Kiev (Ukraina) sebagai lokasinya. Jelas sesuatu terjadi di Kiev. Mungkin sekali sesuatu yang buruk dan berhubungan langsung dengan perilaku dan karakteristik Jay. Sesuatu yang tidak ingin Jay ingat-ingat, dan juga yang tidak ingin Gal bahas. Apapun itu, Kiev bagaikan luka lama yang membekas secara psikologis dalam diri Jay, dan menjadi trigger untuk rasa frustrasinya. Konsekuensinya adalah masalah finansial bagi keluarganya, karena ia menolak bekerja. Dalam beberapa bagian film ini kita bisa melihat dan merasakan bahwa ada ketidaknyamanan dan ketegangan tersendiri pada semua orang setiap kali pembicaraan soal Kiev muncul, walaupun kita bisa menduga bahwa mereka tidak bisa berhenti memikirkan soal Kiev. Itu yang saya tangkap. Apapun yang terjadi di Kiev, sebenarnya itu bukan bagian penting yang berhubungan dengan plot utama film Kill List. Kiev hanya penting untuk menjelaskan karakter Jay. Sutradara film ini tidak membuang-buang durasi untuk menyuapi penonton dengan penjelasan narasi panjang soal Kiev. Mungkin beberapa penonton akan terdistraksi dan memikirkan, apa yang sebenarnya terjadi di Kiev? Walaupun tidak signifikan, tapi penonton bisa membuat teorinya sendiri soal Kiev. Seperti itulah kira-kira. Dan penonton seperti ditantang untuk memikirkan juga mengenai apa yang terjadi di akhir film ini. Rangkai semua petunjuk, tanda dan kejadian, lalu simpulkan sendiri, karena tidak akan ada suara narator atau penjelasan tertulis di bagian akhir film untuk menyuapi kalian. Pengalaman menonton yang seperti ini bisa jadi menyenangkan, tetapi bisa juga membuat penonton frustrasi. Itu tergantung dari ekspektasi dan kebiasaan kita. Saya pribadi jarang menaruh ekspektasi pada film yang akan saya tonton, dan ternyata saya sangat menikmati film ini.

Kill List bukanlah film yang berat, tetapi jelas ia adalah sebuah film yang sulit. Pertama, film ini sulit untuk digambarkan, apalagi dikaitkan dengan genre film tertentu. Bagian pertama film ini memberi kesan kalau Kill List adalah sebuah film drama keluarga yang dicampur dengan bumbu drama kriminal. Tetapi ternyata bukan. Bagian tengah film ini memberi kesan kalau ini adalah film action thriller / revenge thriller. Tetapi bukan juga. Kemudian datang bagian terakhir film, yang membelokkan arah film ini menjadi lebih ke arah film horror. Kedua, bagi beberapa orang film ini bisa menjadi sulit untuk ditonton karena kebrutalannya. Terdapat satu atau dua adegan yang bisa dibilang cukup kejam, terutama saat Jay disetir oleh amarah. Perlu dicatat bahwa Jay adalah seseorang yang tempramental dan tidak bisa mengendalikan amarahnya. Dan ia adalah seorang pembunuh berdarah dingin yang tidak akan berpikir dua kali untuk menyakiti orang yang ia benci. Beberapa adegan kekerasan yang diperlihatkan dalam Kill List memang membuat ngilu karena tampak realistis, dan kekerasan seperti itu bukan sesuatu yang menyenangkan untuk ditonton. Dan ketiga, film ini bisa menjadi sulit untuk dipahami karena beberapa bagian yang sengaja dibuat ambigu, terutama ending-nya.

Kejutan adalah salah satu kekuatan film Kill List. Kejutan ini tidak datang tanpa peringatan. Walaupun tidak terlalu mencolok dan tampak seperti sesuatu yang tidak signifikan pada awalnya, sebenarnya sudah banyak detail yang diperlihatkan sejak film ini dimulai, detail-detail yang merupakan petunjuk akan datangnya ending film yang sama sekali berbeda dari yang kita bayangkan sebelumnya. Walaupun harus saya akui, petunjuk-petunjuk itu mungkin hanya akan dipahami oleh mereka yang terbiasa menonton film horror. Kill List bisa jadi memang sebuah film yang menuntut penontonnya untuk lebih berkonsentrasi dan memberi perhatian penuh saat menonton. Jadi, kalau kalian memiliki kebiasaan menonton film sambil bermain gadget, mengobrol atau bersenda gurau, lebih baik tidak perlu menontonnya sama sekali, karena sudah pasti kalian akan kebingungan dengan ending-nya dan tidak menikmati segala prosesnya. Apalagi ending film ini bisa meninggalkan tanda tanya besar di kepala setiap penonton, dan seakan terbuka untuk kesimpulan yang berbeda-beda, bahkan bagi mereka yang menontonnya dengan cermat sekalipun. Sederhananya, kalau ending film ini tidak bisa kalian pahami, mungkin itu karena kalian tidak terlalu memperhatikan sebagian besar detailnya, atau mungkin juga karena kalian tidak memikirkan korelasi dari setiap petunjuk yang diperlihatkan. Dan kalau film ini tidak menggoda kalian untuk membuat teori sendiri tentang apa yang terjadi, mungkin karena Kill List memang bukan jenis film yang kalian suka. Karena Kill list pada akhirnya akan membagi penonton menjadi dua kubu: mereka yang menikmati kejutan perubahan arah plot, dan mereka yang tidak menyukainya.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: [email protected]


Posted at : Thu, 25 July 2019
Category : Review