MOVIE REVIEW: TESIS (1996)


TESIS (a.k.a. Thesis)
Sutradara: Alejandro Amenábar
Spanyol (1996)

Review oleh Tremor

Tesis adalah sebuah film thriller misteri asal Spanyol yang ditulis dan disutradarai oleh Alejandro Amenabar pada tahun 1995, dimana pada saat itu ia baru berusia 23 tahun dan masih duduk di bangku sekolah film. Lewat karya debutnya ini, Alejandro langsung memboyong tujuh penghargaan Goya sekaligus (Goya Awards adalah ajang penghargaan yang setara dengan Oscar di Spanyol), termasuk di dalamnya dalam kategori sutradara baru terbaik dan skenario film asli terbaik. Pada tahun-tahun berikutnya, nama Alejandro Amenabar semakin dikenal di dunia internasional lewat beberapa karya lainnya, salah satunya lewat Open Your Eyes (1997) yang kemudian dibuat remake-nya oleh Amerika dengan judul Vanilla Sky (2001), dan The Others (2001), film hantu legendaris yang diperankan oleh Nicole Kidman. Sebagai sebuah karya layar lebar perdana, film Tesis memang bisa dibilang cukup impresif.

Tesis dibuka dengan terjadinya kecelakaan di stasiun kereta bawah tanah, dimana seseorang menabrakkan diri pada kereta yang sedang melintas. Para penumpang kereta diminta untuk turun, tetapi dilarang untuk mendekati atau menonton tubuh korban yang sudah hancur di atas perlintasan kereta. Tapi beberapa orang merasa penasaran untuk melihat langsung kematian dengan mata kepala sendiri, dan seorang gadis yang bernama Angela adalah salah satunya. Walaupun merasa takut, namun keingintahuannya cukup tinggi. Angela sendiri adalah seorang mahasiswi fakultas perfilman yang sedang mengerjakan tesis pascasarjana dengan topik yang tidak umum: kekerasan dalam media audio-visual. Dosen pembimbing Angela yang bernama Prof. Figueroa adalah seorang guru besar yang sangat ramah dan suportif. Sang profesor melihat bahwa Angela sanggup membungkus subjek yang cukup sensitif ini dengan sangat objektif, dan dengan senang hati bersedia untuk membantu Angela dalam merampungkan tesisnya. Tapi Angela kekurangan bahan penelitian. Ia membutuhkan footage-footage berisi kekerasan asli, misalnya rekaman-rekaman yang mungkin saja tidak lulus sensor dalam siaran berita dan semacamnya. Ia tahu di mana kaset-kaset rekaman tersebut mungkin bisa ditemukan, yaitu dalam ruang arsip kampus. Karena seorang guru besar seperti Prof Figueroa memiliki akses penuh dalam ruang arsip, Angela pun meminta bantuannya untuk mencarikan video semacam itu di sana. Walaupun tidak bisa berjanji mendapatkan apa yang Angela butuhkan, tapi Prof. Figueroa setuju untuk membantunya.

Demi menggali lebih dalam topik tesisnya, Angela berkenalan dengan seorang mahasiswa lainnya, seorang pemuda horror-nerd anti-sosial yang banyak menghabiskan waktunya menonton film-film horor eksploitasi dan gore yang bernama Chema. Awalnya Chema tidak tertarik untuk membantu Angela, tapi setelah dibujuk akhirnya ia mau mengajak Angela ke rumahnya untuk melihat-lihat koleksinya. Menurut klaim Chema, ia memiliki beberapa kaset rekaman terlarang yang berisi kematian asli: kumpulan rekaman kecelakaan, eksekusi hukuman mati, dan lain-lain. Mungkin semacam video Faces of Death yang sempat menjadi kontroversi di akhir tahun 70-an di dunia nyata. Angela pun memberanikan menonton video-video tersebut.

Tapi rekaman-rekaman yang Angela tonton di kamar Chema tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang Prof. Figuero temukan. Di dalam ruang arsip kampus yang sepi, secara tidak sengaja Prof. Figuero menemukan satu rak penuh kaset video misterius yang tersembunyi dalam sebuah ruang rahasia di ruang arsip. Penasaran dengan isinya, dan takut dipergoki oleh penjaga kampus karena berada di dalam ruangan yang tidak seharusnya, ia buru-buru mengambil salah satu kaset dan membawanya ke ruangan pemutaran film untuk segera menontonnya. Apapun isi kaset itu, pastilah sangat shocking, karena tak lama kemudian Angela menemukan Prof Figueroa sudah tak bernyawa terkena serangan jantung saat tengah menontonnya. Menyadari dosen pembimbingnya meninggal dengan cara seperti itu, Angela segera mengambil kaset video dari mesin pemutar, dan pergi. Angela (dan penonton) mungkin bertanya-tanya, seberapa mengerikan kah sebuah rekaman video hingga dapat menyebabkan serangan jantung pada penontonnya?

Angela tidak cukup berani untuk menontonnya sendirian di rumah. Ia akhirnya memutuskan untuk menyetelnya tanpa mencolokkan kabel-kabel video ke TV, dengan begitu ia bisa mendengarkan rekaman audio-nya terlebih dahulu tanpa perlu melihat isinya. Dari audio-nya saja sudah cukup mengerikan, yaitu suara jeritan-jeritan kesakitan seorang perempuan. Chema yang mengetahui bahwa Angela mencuri kaset yang hilang dari TKP dimana Prof. Figuero meninggal dunia, memaksa agar diperbolehkan untuk menontonnya. Bersama Chema akhirnya Angela (walaupun sambil berusaha menutup mata) melihat langsung isi video tersebut, yang ternyata merupakan sebuah video snuff (rekaman video dokumentasi aksi kekerasan asli yang direkam secara amatir) dimana isinya adalah adegan-adegan komplit dari tindakan penyekapan, penyiksaan, mutilasi hingga pembunuhan terhadap seorang perempuan muda. Semua aksi kejam ini dilakukan oleh sesosok pria bertopeng yang misterius. Chema mengaku bahwa ia mengenali gadis tersebut. Namanya adalah Vanessa, salah satu mahasiswi yang menghilang sejak dua tahun terakhir.

Dari sini mereka berdua memulai investigasi amatiran untuk mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi, serta siapa pembuat video tersebut. Rupanya Vanessa bukanlah satu-satunya gadis yang hilang selama beberapa tahun terakhir. Siapapun pembuatnya, video-video snuff ini jelas berhubungan dengan kampus dimana mereka kuliah. Seseorang (atau sekelompok?) orang di kampusnya memproduksi film snuff sebagai bisnis gelap. Tanpa disadari, hidup Angela mulai berada dalam bahaya. Ketegangan dalam film ini semakin meningkat saat Angela mulai semakin dekat dengan identitas si pembunuh dan pembuat video. Semakin banyak Angela mendapatkan petunjuk baru, semakin ia merasa paranoid terhadap segala sesuatu. Tak seorangpun yang bisa dipercaya, termasuk Chema sekalipun. Angela (dan penonton) dibuat untuk terus menebak-nebak, hingga pada akhirnya ia berhadapan langsung dengan sang algojo dan kekerasan yang sebenarnya.

Film Tesis memiliki sebuah tesis: tak peduli seberapa baiknya perilaku seseorang, tanpa disadari manusia memiliki ketertarikan pada berbagai bentuk kekerasan dan kematian. Di lubuk hati yang terdalam, kita ingin melihat kekerasan, melihat mayat secara langsung, atau juga ingin tahu lebih banyak tentang kasus-kasus pembunuhan. Persoalannya bukan pada soal merasa takut atau tidak, tapi pada rasa penasaran. Kalau dipikir-pikir, mungkin hal ini ada benarnya juga bagi sebagian orang. Saya tahu beberapa kawan saya yang senang menonton video-video kekerasan di youtube, dari mulai rekaman-rekaman maling yang dihakimi massa, video orang saling baku hantam di jalanan, hingga rekaman kecelakaan lalu lintas. Topik tentang rasa penasaran untuk melihat mayat dengan mata kepala sendiri juga bukanlah hal baru. Stephen King bahkan pernah menuliskan ide serupa dalam sebuah novella berjudul The Body pada tahun 1982, yang kemudian diadaptasi dalam bentuk film dengan judul Stand By Me (1986). Lalu bagaimana dengan ketertarikan manusia terhadap hal-hal yang berhubungan dengan pembunuhan? Ada banyak sekali buku, film hingga serial dokumenter tentang para pembunuh berantai, psikopat, dan pembunuh massal. Serial dokumenter The Ted Bundy Tapes di Netflix bukanlah dokumenter pertama yang sukses menceritakan tentang bagaimana seorang psikopat melakukan aksinya, dan apa yang mungkin ada di dalam kepala mereka. Kita bisa menonton berbagai dokumenter soal Albert Fish, John Wayne Gacy hingga Jeffrey Dahmer. Foto wajah Charles Manson bahkan menjadi foto yang mungkin sama terkenalnya dengan foto ratu Elizabeth. Dan untuk apa sebuah produsen action figure lokal yang bernama GoodGuysNeverWin membuat mainan para pembunuh tanah air, dari mulai Robot Gedek hingga Ryan Jombang, kalau tidak ada yang tertarik untuk mengoleksinya? Akui saja, banyak dari kita memang memiliki ketertarikan pada hal-hal seperti ini.

Berangkat dari “tesis” itulah, film Tesis kemudian menekankan hubungan antara hasrat terhadap kekerasan dengan media. Karakter Angela bisa jadi mewakili banyak orang. Ia memiliki keinginan terpendam yang tak tertahankan untuk menonton bentuk kekerasan, baik dalam bentuk nyata maupun fiksional. Di dalam film Tesis, beberapa kali kita bisa melihat Angela memalingkan wajahnya saat ada adegan kekerasan di depan mata, tetapi rasa penasaran telah memberi keberanian pada Angela untuk sedikit mengintip. Topik yang ia pilih untuk tesis akademiknya juga memberikan lebih banyak alasan bagi Angela untuk mencari dan menyaksikan sebanyak mungkin kekerasan. Film kemudian diakhiri dengan beberapa orang pasien rumah sakit yang sedang menonton TV, dimana mereka ingin melihat sendiri seperti apa isi film snuff yang menjadi perbincangan berita nasional. Angela bukanlah satu-satunya orang yang diam-diam ingin melihat kekerasan.

Walaupun film ini melibatkan pembunuhan sadis dan rekaman snuff, tapi sebenarnya Tesis relatif aman untuk ditonton bagi kalian yang tidak terlalu suka melihat darah, karena film ini memang bukanlah film semacam itu. Bahkan adegan-adegan sadis seperti pembunuhan dan mutilasi dalam film snuff yang Angela dapatkan sama sekali tidak diperlihatkan. Tetapi kadang apa yang tidak kita lihat sering kali bisa menjadi lebih menyeramkan daripada apa yang kita lihat. Dan kecerdikan sang sutradara sanggup membangun suasana ngeri hanya lewat lampu merah kamera yang berkedip-kedip di dalam gelap, tanda bahwa kamera sedang melakukan perekaman. Saya pribadi cukup menikmati film ini dan merekomendasikannya bagi siapapun yang suka jenis film dimana penonton dibuat terus menebak-nebak siapa dalang dari sebuah aksi kejahatan tanpa harus melihat langsung kebengisan sang pembunuh.

 

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138[email protected]

 


Posted at : Thu, 11 July 2019
Category : Review