MOVIE REVIEW: THE HOUSE BY THE CEMETERY (1981)


THE HOUSE BY THE CEMETERY
Sutradara: Lucio Fulci
Italia (1981)

Review oleh Tremor

Dalam beberapa review film yang pernah saya tulis, saya kerap mencantumkan sebuah trilogi informal cult-classic horror yang bernama “Gates of Hell trilogy”, yang berisi 3 film horror buatan sutradara horror legendaris asal Italia, Lucio Fulci. Saya pernah menuliskan 2 review dari 3 film trilogi tersebut. Film pertama adalah City of the Living Dead (1980) yang pernah saya tulis 5 tahun lalu dalam Grym House, blog pribadi saya (berisi review film) yang tidak pernah saya teruskan karena keterbatasan waktu dan energi; sementara film kedua adalah The Beyond (1981), yang pernah saya tulis resensinya tahun lalu untuk website Maternal Disaster. Maka untuk menuntaskan review Gates of Hell trilogy, suka tidak suka saya harus menuliskan review dari The House by the Cemetery (atau dalam bahasa aslinya berjudul Quella villa accanto al cimitero) yang merupakan film penutup sekaligus film terlemah dari keseluruhan trilogi. Perlu dicatat, ketiga film dalam trilogi ini tidaklah saling berhubungan dan bisa ditonton secara acak. Ada sebuah perbedaan mencolok antara The House by the Cemetery dengan dua film sebelumnya. Dalam dua film pertamanya, terdapat satu unsur supranatural yang mengambil inspirasi ala mitos Lovecraft, yaitu adanya sebuah buku sihir yang bisa membuka “pintu” dunia kematian. Sayangnya, buku semacam itu sama sekali tidak ada dalam The House by The Cemetery.

Lucio Fulci, adalah seorang master of gore. Ia bahkan sering disebut sebagai 1 dari 2 Godfather of Gore (dimana “godfather” lainnya adalah Herschell Gordon Lewis, sutradara Amerika.) Durasi adegan sadis buatan Fulci melampaui sebagaimana semestinya sebuah adegan gore, dimana ia terus menyorotkan kameranya pada objek kekerasannya dengan durasi yang cukup lama hingga sampai pada titik ketidaknyamanan tersendiri bagi penonton. Jika ada adegan pembunuhan dalam film buatan Fulci, ia tidak akan langsung menyudahinya. Fulci akan akan menunjukkan proses kematian tersebut kepada penonton secara detail dan perlahan. Lucio Fulci juga adalah seseorang yang sangat senang mengolah atmosfer. Ia memanipulasi cahaya dan bayangan dengan sangat cantik sekaligus mengerikan. Cukup dengan sarang laba-laba, debu dan cahaya senter dalam ruangan bawah tanah yang gelap, ia mampu membuat atmosfer yang jauh lebih angker dan mencekam dibandingkan film-film horror modern yang dilengkapi efek CGI canggih. Fulci tahu betul, kalau atmosfer adalah nyawa dalam genre horor.

Ketika berbicara tentang film-film Lucio Fulci, saya pikir saya harus berusaha objektif agar tidak ada satupun pembaca yang akan merasa “tertipu”, terutama mereka yang mencari film dengan makna yang dalam. Dilihat dari sudut pandang penonton general yang tidak terlalu fanatik terhadap kultur horor, film buatan Lucio Fulci bisa dibilang tidak terlalu bagus. Jadi jangan bandingkan film Lucio Fulci dengan film-film box office seperti the Shinning atau the Exorcist misalnya. Plot dalam karya-karya Fulci seringkali tidak mempedulikan logika dan akal sehat. Tapi siapa yang peduli? Para penggemar horror tidak peduli. Begitu juga dengan Lucio Fulci sendiri yang kelihatannya lebih peduli pada membangun atmosfer dan bagaimana membuat teror shock value. Screenwriting dan kesempurnaan plot adalah nomor kesekian. Mungkin itulah mengapa film-film Fulci memiliki penggemarnya sendiri di berbagai belahan dunia, karena Lucio Fulci membuat film dengan caranya sendiri dan berhasil membangun ciri khasnya sendiri. Nama (dan beberapa filmnya) sudah menjadi kultus dan sudah pasti masuk ke dalam daftar wajib film horror paling berpengaruh di dunia horror. Dan seruan “FULCI LIVES!” bukanlah hal yang asing bagi para penggemar horror dimanapun.

The House by the Cemetery dimulai dengan adegan seorang perempuan muda yang terbangun sehabis bercinta dengan kekasihnya dalam sebuah rumah kosong. Tapi kekasihnya tak ada di sampingnya. Saat ia mencari sambil memanggil-manggil, perempuan itu menemukan tubuh kekasihnya sudah dalam keadaan yang mengenaskan. Ia pun menjerit ketakutan. Tiba-tiba seseorang menikamkan pisau tepat ke bagian belakang kepala perempuan malang itu, hingga ujung pisaunya menembus keluar dari mulut. Ya, itulah Lucio Fulci. Ia senang “memanjakan” para penonton horor dengan adegan-adegan seperti ini bahkan sejak menit pertama.

Kemudian, kita diperkenalkan dengan Dr. Norman Boyle, istrinya Lucy, dan putra mereka Bob yang masih berusia 6 tahun. Dr Norman adalah seorang profesor (saya tidak terlalu ingat dalam cabang ilmu apa, tapi itu tidaklah penting), yang sedang meneruskan proyek penelitian salah seorang koleganya, Dr. Petersen. Penelitian itu terhenti karena Petersen meninggal dunia dengan cara mengenaskan: menggantung diri setelah sebelumnya membunuh kekasih gelapnya. Karena proyek inilah keluarga Boyle kemudian pindah dari kota New York ke sebuah dusun dimana Dr. Petersen terakhir kali tinggal untuk mengumpulkan data penelitiannya. Di sana, seorang agen real estate bernama nyonya Giddleson sudah mempersiapkan tempat tinggal untuk keluarga Boyle: sebuah rumah tua di samping kuburan, rumah yang sama yang juga ditempati oleh Dr. Petersen sebelum ia membunuh dirinya sendiri. Nyonya Giddleson juga menjanjikan akan mengirimkan seorang pengasuh untuk menjaga Bob. Tak lama kemudian, datang seorang perempuan misterius bernama Ann datang ke rumah dan mengaku sebagai seorang pengasuh yang dikirim oleh nyonya Giddleson.

Sejak awal film, sebenarnya beberapa kali Bob melihat dan berkomunikasi dengan sosok anak perempuan (yang sepertinya sepantaran dengan Bob) bernama Mae. DI setiap kemunculannya, Mae selalu memperingatkan Bob agar tidak memasuki rumah tua di samping kuburan, terutama ruang bawah tanahnya. Masalahnya, hanya Bob yang bisa melihat Mae. Saat Bob menyampaikan hal itu sejak sebelum kepergian mereka dari New York, tentu saja orang tuanya tidak menanggapi ocehan anaknya dengan serius. Sesampainya di rumah tua itu, Bob mulai lebih sering bertemu dan bermain dengan Mae di kuburan. Kondisi rumah baru keluarga Boyle sangat kotor dan berantakan. Suatu hari saat sedang membereskan rumah, Lucy menemukan pintu menuju ruang bawah tanah tertutup sangat rapat. Hal janggal lainpun mulai terjadi, salah satunya adalah mulai munculnya suara-suara gaduh di dalam rumah di malam hari. Tidak sampai di situ, Lucy juga menemukan sebuah makam di tengah rumah dengan sebuah nama tertulis di atasnya: Freudstein. Apa yang membuat Dr. Petersen kehilangan akal sehatnya, mungkin masih ada di dalam rumah itu. Tidak butuh waktu lama hingga segala sesuatunya berubah menjadi semakin absurd dan mengerikan.

Lucio Fulci dengan tepat membangun misteri di sekitar ruang bawah tanah. Ruang bawah tanah terbengkalai yang gelap memang menyimpan misteri, dan akan selalu menjadi elemen yang efektif dalam sebuah film horor. Contohnya ada banyak sekali, dari mulai kisah The Black Cat-nya Edgar Allan Poe hingga film-film seperti The Evil Dead (1981), The People Under the Stairs (1991), hingga horror modern seperti The Conjuring (2013) dan The Babadook (2014). Film horror dengan elemen ruang bawah tanah mungkin harus menjadi sub-genre tersendiri. Dalam the House by the Cemetery, Fulci membuat kengerian ruang bawah tanah secara maksimal hanya bermodalkan efek-efek sederhana namun brilian: tangga kayu yang berderit, pintu yang terbanting dengan sendirinya, sepasang mata yang mengintip dari kegelapan, sarang laba-laba, potongan-potongan tubuh, mayat berjalan, dan scoring musik yang tepat. Berbicara soal special effect, saya harus memuji penggunaan efek dalam film ini. Ada beberapa adegan gore yang cukup keren, terlihat realistis, dan diperlihatkan dengan sangat gamblang. Kesemuanya dibuat dengan cara prostetik. Salah satu yang mungkin mengagetkan para penonton di tahun 80-an dalam film ini adalah, diperlihatkannya potongan-potongan tubuh anak kecil yang bergeletakan. Mungkin tingkat kesadisan seperti itu lah yang membuat film ini mendapatkan banyak kritik dan sensor di beberapa negara pada saat pertama kali dirilis. Di Inggris, the House by The Cemetery bahkan mendapat klasifikasi “video nasty”, sebuah label terkenal di Inggris pada tahun 80-an yang disematkan oleh badan sensor untuk film-film yang terlampau sadis dan harus dikenai proses penyensoran yang cukup masif kalau memang mau ditayangkan di bioskop. Ada banyak sekali film horror yang dilabeli video nasty dan terkena sensor besar-besaran di Inggris, dan sebagian lainnya bahkan dilarang sama sekali, dari mulai Faces of Death (1978), I Spit on Your Grave (1978), The Driller Killer (1979), Antropophagus (1980), Cannibal Holocaust (1980), The Beyond (1981) hingga The Evil Dead (1981). Mungkin penonton jaman sekarang akan biasa saja melihat kesadisan dalam The House by the Cemetery. Tapi bayangkan menyaksikan film ini saat pertama kali dirilis pada awal 1980an, dimana masyarakatnya belum terpapar terlalu banyak film-film penuh kekerasan.

Saya pribadi memiliki satu masalah dengan film ini, yaitu penggunaan teknik dubbing / sulih suara yang sangat buruk. Film-film Fulci bukanlah satu-satunya film Italia yang di-dubbing dengan bahasa Inggris. Kebanyakan film horror Italia tahun 70-80an memang banyak menggunakan teknik dubbing ulang seperti itu. Walaupun dialog aslinya memang sudah dalam bahasa inggris, entah mengapa kebanyakan film itali di-dubbing ulang oleh para pengisi suara Amerika. Mungkin karena aksen dan dialek orang Itali kurang bisa dipahami saat berbicara bahasa Inggris? Seringnya, dubbing semacam ini tidak terlalu mengganggu saat kita menonton film Italia lainnya, tapi dalam kasus the House by the Cemetery, justru sangat sangat mengganggu karena orang yang mengisi suara untuk Bob, anak laki-laki berumur 6 tahun itu, bukanlah seorang anak kecil, melainkan perempuan dewasa yang berusaha (dengan buruknya) agar terdengar meyakinkan seperti anak lelaki kecil. Hal ini membuat ke-cheesy-an film ini bertambah beberapa poin. Menggunakan orang dewasa untuk mengisi suara anak kecil adalah ide yang buruk. Selain soal plot yang semaunya, penggunaan dubbing yang tak wajar, ada satu masalah lagi dari film ini, yaitu pada scene serangan kelelawar yang justru jadi terlihat lucu. Tetapi saya menyadari, mungkin itu terlihat lucu karena saya menonton dengan kacamata modern. Sama seperti saat kalian menonton film horror Indonesia 80-an yang tampak lucu di banyak bagian, misalnya penggunaan tengkorak yang terbuat dari bahan sterofoam dalam salah satu film Suzanna. Tapi saya yakin adegan itu sangat menyeramkan bagi para penonton Suzzanna di jamannya, terutama mereka yang menonton lewat layar tancap di lapangan terbuka pada malam hari. Semuanya adalah soal sudut pandang, konteks jaman dan wawasan. Hal itu bisa dimaafkan. Hanya teknik dubbing yang buruk saja yang sama sekali tidak termaafkan.

Walaupun bukan film terbaik Fulci, tapi The House by the Cemetery adalah sebuah film yang masih menyenangkan untuk ditonton. Mereka yang sudah pernah menonton karya-karya Fulci lainnya tentu akan mengenali kecenderungan dan pendekatan Fulci dalam membuat film. The House by the Cemetery memiliki masalah besar dengan continuity dan logika, dan itu adalah hal yang biasa untuk film buatan Fulci. Banyak adegan sadis dan menyeramkan dalam film buatan Fulci yang kalau dipikir-pikir, terjadi hanya sebagai shock value semata tanpa ada pengembangan dan kaitannya dengan keseluruhan cerita. Jadi mungkin penonton tidak memerlukan konsentrasi dan daya ingat tinggi. Cukup duduk dan nikmati saja. Fulci hanya ingin membuat penonton merasa tidak nyaman dan ketakutan. Ia tidak membuat film untuk mereka yang senang menggunakan logika dalam menonton. Bagi kalian yang mencari film dengan kisah dan makna tertentu yang mendalam, tentu tidak akan menemukan apa-apa di sini selain mood yang dibuat tidak menentu, suasana angker, dubbing dan dialog picisan, serta gore jahat yang berlebihan, menjijikan dan penuh dengan jeroan. Jadi kalau kalian ingin berkenalan lebih jauh dengan sinema horror Italia 70/80-an ala sang legenda Lucio Fulci, dan kalian pikir kalian adalah orang yang bisa menikmati film tua dengan plot tidak wajar serta percampuran menarik antara tema misteri, rumah hantu / cerita hantu, slasher, mayat hidup, gore, dan tema mistis, tentu saja kalian harus menonton Gates of Hell trilogy, yang ditutup dengan The House by the Cemetery.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: [email protected]

 


Posted at : Fri, 19 July 2019
Category : Review